LOGINMarlon mulai menyimpulkan kalau Andhika memang punya niat terselubung dari pertanyaan dan keinginan yang diajukannya, sepertinya dia ingin tahu sekali secera keseluruhan proses pembuatan yellow pill, adakah dia ingin menyabotase proyek ini ataukah dia ingin mengetahui secara keseluruhan pembuatan obat ini untuk kepentingan tertentu? Entah lah... batin Marlon memikirkan setelah rapat perdana pra proyek dilaksanakan.“Kecurigaan Papa semakin tebal pada Om-mu itu, Marlon, sepertinya dia ingin menguasai resep pembuatan obat pneumonia ciptaanmu ini,” ungkap Sugalih saat dia duduk berdua di ruang rapat bersama Marlon setelah semua peserta sudah keluar meninggalkan ruangan.“Iya, Pah, aku juga memikirkan hal yang sama,” jelas Marlon.“Berarti resep obatmu ini jangan sampai bocor ke tangan siapa pun, karena bisa dimanfaatkan penggunaannya,” tegas Sugalih mengingatkan menantu kesayangannya agar berhati-hati, Marlon pun kembali mengiyakan keinginan bapak mertuanya.Saat Marlon dan Sugalih kelua
Saat Marlon dan Erinka bergembira bisa menggaet Rafael untuk bekerja sama dengannya, sebaliknya Jasmin merasa sangat kecewa atas pembatalan sepihak kontrak kerja sama yang dilakukan oleh perancang busana kenamaan itu. Benny pun yang mengetahui hal tersebut tidak dapat berbuat banyak, tentu saja dia merasa tidak dihargai dan tak dipandang atas pembatalan itu. Saat bertemu dengan ayahnya dia langsung bercerita mengenai kejadian tidak menyenangkan yang sedang dialaminya.“Mengapa akhir-akhir ini ada saja masalah yang timbul pada kami berdua, Yah, setelah penyerangan yang dilakukan Walfred, sekarang Rafael yang sudah menandatangani kontrak kerja sama malah membatalkan secara tiba-tiba hanya dengan sebuah pesan whatsapp, akibatnya sekarang Jasmin merasa bad mood, mengurung diri di kamar,” jelas Benny mengadu pada ayahnya yang baru saja sampai rumah setelah menyelesaikan urusan di luar kantor bersama klien.“Ayah sangat tahu apa penyebabnya Rafael membatalkan kerjasamanya denganmu,” ucap Ad
“Bagaimana Pak Beno, apa Bapak sudah siap menerima hukuman yang Bapak inginkan sendiri?” tanya Marlon sambil tersenyum ke arah Beno yang yang masih menunduk. Tanpa berkata apa-apa, Beno langsung berlutut di hadapan Marlon, sontak semua mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak enak untuk didengar.“Ayo pukul aku sekarang...” ucap Beno meminta Marlon untuk segera melakukan hukuman padanya.Marlon membalas ucapan Beno dengan tersenyum lalu, dia menyentuh bahu lelaki itu.“Bangun lah, Pak, ini saja bagiku sudah cukup,” ucap Marlon sambil menepuk-nepuk bahu Beno agar berdiri.“Tidak, Pak Marlon, kamu harus memukulku berkali-kali sebanyak yang kamu inginkan, ayo lakukan lah...” balas Beno yang tidak ingin menggagalkan rencana berikutnya yang sudah diaturnya untuk membalas kekalahannya pada Marlon.“Enggak usah, Pak... enggak ada gunanya juga, kan? Bapak berlutut seperti ini saja sebenarnya aku merasa tidak nyaman melihatnya, apalagi sampai memukul Bapak, tidak mungkin aku melakukannya. Ayo
“Apa syarat yang kamu inginkan?” tegas Marlon pada Beno yang sepertinya tidak ingin menerima kekalahan pertaruhan dengannya.“Apa gunanya mengundang seorang designer kalau hanya untuk datang ke sini, rasanya setiap orang di sini pasti bisa melakukannya, ya tentu saja harus ada embel-embel keluar modal sedikit,” ucap Beno coba menyindir Rafael, hingga membuatnya bertambah kesal.“Lama-lama Bapak ini menjengkelkan juga ya? Sekali lagi aku tegaskan, aku ke sini karena aku menginginkannya dan aku bukan orang yang bisa dipengaruhi dengan uang. Paham kamu...!” tegas Rafael merasa sangat emosional berhadapan dengan orang seperti Beno yang berotak dangkal itu.“Oke... oke... tenang dulu Kak Rafael... biarkan aku selesai bicara dulu,” ucap Beno coba menenangkan Rafael. “Jadi maksudku, aku baru mengaku kalah pertaruhan dengan Marlon dan bisa menerima dengan tangan terbuka dirinya sebagai Technical Advisor kalau Kak Rafael mau menandatangani kontrak kerjasama dengan departemen garmen perusahaan
“Eh kamu, Galih, bikin aku kaget saja?” ucap Andhika menyadari adiknya sudah berada di belakangnya, tentu saja dirinya merasa tertangkap basah, namun dia berusaha tenang menghadapinya dan sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutannya.“Mau apa Kak Ndik masuk ke ruangan Ayah? Bukankah Ayah sedang meeting di luar kantor?” tegas Sugalih menatap penuh curiga pada kakaknya.“Jangan berpikiran macam-macam, dong, Galih... aku hanya ingin membereskan ruangan Ayah, kamu kan tahu sendiri sekarang aku karyawan bawahan. Kerja ku kan sekarang serabutan, apa saja yang disuruh Ayah pasti akan aku kerjakan, termasuk menyikat closet di ruang kerjanya,” jelas Andhika mencari-cari alasan, Sugalih pun langsung mempercayainya.“Oh iya, tadi aku sudah ketemu menantumu, Marlon, aku cukup kaget melihat perubahan dirinya dan dia juga punya attitude yang sangat baik, saat berpapasan denganku dia sangat ramah, bahkan baru beberapa menit saja ngobrol dengannya, aku bisa merasakan kalau menantumu itu orang yang c
“Aku datang ke sini, karena diundang oleh kawanku, Marlon, katanya hari ini hari pertamanya bekerja di perusahaan megah ini sesuai namanya Megah Hardiyata,” ucap Rafael menjelaskan kehadirannya. “Walaupun belum lama mengenal Marlon, aku langsung bisa melihat kalau dirinya adalah orang selalu optimis dan bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Jadi, Bapak dan Ibu sekalian, percaya kah kehadiran Marlon di perusahaan MHG ini akan membuat nama perusahaan Anda akan bertambah besar dan terus berkembang dari waktu ke waktu,” tambah Rafael untuk mendukung Marlon agar diterima dengan baik bekerja di kantor barunya.“Kak Rafael, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Erinka yang berdiri di samping Rafael.“Iya, silakan saja Erin, ada apa?” balas Rafael sambil menengok ke arah Erinka di samping kirinya.“Sebenarnya suamiku meminta Kak Rafael datang ke sini sebenarnya atas desakan Pak Beno yang ingin bertaruh dengan Marlon, karena dia underestimate dengan kemampuan Marlon bekerja di MHG dan dia ber
“Kenapa makan sedikit sekali, Pah?” tanya Marlon melihat Sugalih menelungkupkan sendok dan garpunya saat Marlon dan Erinka sedang lahap-lahapnya menikmati cap cay seafood buatan Kemala.“Papa sudah kenyang, Nak,” ucap Sugalih beralasan, padahal yang sebenarnya, konsentrasinya hanya terfokus pada pr
“Bagaimana acara reuni tadi, Nak, apa banyak teman-teman Erin yang hadir?” tanya Sugalih setelah Marlon mengurungkan niatnya membersihkan lantai.“Lumayan banyak, Pah, kata Erin hampir semua temannya hadir,” jelas Marlon lantas duduk di kursi di samping ayah mertuanya itu.“Apa diantara mereka ada
“Siapa mereka?” tanya Kemala saat Marlon dan Erika menapakan kaki di teras rumahnya.“Hmm..., teman-teman di reuni tadi, Mah?” jawab Erinka.“Lalu kenapa kamu menumpang mobil Alphard temanmu? Malah mobilmu sendiri dibawa orang lain,” tegas Kemala langsung mengintrogasi Erinka dan Marlon.“Erm, tadi
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia







