MasukJuned, Seorang Pria kampung yang baru saja di-PHK di sebuah Pabrik tempat ia bekerja. Karena hal itu, kehidupan Juned serta kerja kerasnya selama ini tak lagi terlihat dan di anggap. Setelah mengetahui Istrinya yang bekerja di kota malah pergi bersama Sang Mantan Kekasihnya, Juned memilih untuk menyusul Istrinya ke kota dan bekerja sebagai Supir Pribadi dari Seorang Wanita Karier yang tinggal dengan anak sematawayangnya. Perantauannya tak mudah ketika ia harus mengabdi kepada Sang Majikan dan melayani setiap tugas yang diberikan. Bahkan Tugas yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi Sang Majikan di saat ia juga harus menemui Sang Istri.
Lihat lebih banyakJuned menatap kosong selembar surat PHK di atas meja kayu yang mulai kusam. Bayangan wajah istrinya dan suara Desi yang penuh nyinyir kembali melintas di benaknya.
Denting notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya pada sebuah pesan gambar dari temannya. Matanya membelalak melihat foto Desi yang sedang mendorong troli belanja bersama Andre di sebuah minimarket. Rahang Juned mengeras. Sudah enam bulan istrinya bekerja di Jakarta. Namun, ia tak menyangka kalau foto itu diterima. Foto yang dikirimkan supir di rumah majikan istrinya membuatnya naik pitam. Jari Juned bergetar saat meneruskan foto tersebut ke nomor W******p istrinya untuk meminta penjelasan. Ia menunggu dengan perasaan tidak keruan sampai status pesan tersebut berubah menjadi biru. "Ini maksudnya apa, Des?" tanya Juned melalui pesan singkat. Tak butuh waktu lama, balasan dari Desi muncul dengan nada yang sangat ketus dan seolah tanpa dosa. "Apa sih! Aku diajak belanja doang buat keperluan nyonya!" balas Desi di layar ponsel. Juned memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya karena dikhianati seperti ini. Ia segera membalas pesan itu untuk mengingatkan statusnya sebagai suami yang sah. "Tapi Des, aku ini kan suamimu," balas Juned lagi. “Andre mantan kamu, kan?” Desi tak menjawab. “Sejak kapan Andre di Jakarta?” Desi tidak berhenti menyerang, ia justru mengirimkan balasan yang jauh lebih menyakitkan hati Juned. “Bukan urusan kamu! Aku disini tuh kerja! Gausah pikir aneh-aneh!” "Kamu nggak becus nyari duit! Segala kena PHK! Bikin malu aku aja!" bentak Desi lewat pesan tersebut. “Masih mending aku kerja di Jakarta!” “Mau makan darimana kalau gak ada duitnya!” Juned melempar ponselnya ke kasur dan memilih untuk mengakhiri perdebatan yang hanya menguras emosinya itu. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar bisa berpikir lebih jernih. "Sabar, Juned. Pasti ada jalan lain," batinnya sambil menyalakan keran air. Baru saja selesai berpakaian, ponsel Juned kembali berdering nyaring menampilkan temannya di layar. Teman senasibnya. "Ned, gue ada lowongan jadi supir di Jakarta. Lu kan bisa nyetir, mau nggak?" tanya Wahyu dari seberang telepon. Mendengar tawaran itu, semangat Juned yang sempat padam kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Juned tersenyum girang, pasalnya ia memang butuh uang. Meskipun belum memiliki anak dengan Desi, bukankah ia juga harus membahagiakan istrinya segera? Belum lagi hatinya kian tak tenang istrinya tak pulang-pulang. Bisa sekalian jemput istrinya pulang kan di Jakarta? Benar. Juned mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa seolah baru saja mendapatkan napas baru di tengah himpitan masalah. Ia merasa tawaran kerja ini adalah jawaban tuhan setelah istrinya sendiri mencampakkannya begitu saja. "Akhirnya ada jalan keluar juga," gumam Juned sambil mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas. Juned memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya dengan gerakan cepat. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat untuk istrinya sebelum benar-benar meninggalkan rumah kontrakan mereka. "Aku mau kerja ke Jakarta," tulis Juned singkat di layar ponselnya. “Tunggu aku bawa kamu pulang.” Ia langsung menyampirkan tas ke bahu dan berjalan menuju jalan raya tanpa mempedulikan apakah pesannya akan dibalas atau tidak. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meski baru saja dihina oleh istrinya sendiri. “Akan aku buktikan, Desi." gumam Juned sambil menaiki bus jurusan kota. Setelah perjalanan memakan waktu seharian, bus akhirnya berhenti di terminal kota yang tampak sangat ramai dan bising. Juned segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor calon majikannya yang diberikan oleh temannya. "Selamat malam, Bu. saya Juned yang ingin bekerja menjadi supir. Apa saya bisa datang malam ini atau tunggu besok pagi saja?" tanya Juned dengan nada bicara yang sangat sopan. Di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar memberikan jawaban yang membuat hati Juned merasa sedikit lega. Ternyata calon majikannya tidak keberatan jika ia langsung datang ke lokasi pada malam itu juga. "Datang saja malam ini, saya ada di rumah kok," jawab suara wanita tersebut dari balik telepon. Juned langsung mencari pengemudi ojek yang sedang mangkal di pinggir terminal untuk mengantarnya sesuai alamat. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai hidup barunya di kota besar ini. "Pak, ke alamat ini ya. Tolong agak cepat sedikit," ucap Juned sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan peta lokasi. Juned berdiri mematung di depan gerbang tinggi yang menjulang, menatap bangunan megah di hadapannya dengan rasa tidak percaya. Ia menekan bel di samping pagar beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pintu utama. "Kamu Juned ya? Silahkan masuk," ucap wanita itu seraya membukakan pagar. Juned terpana melihat sosok di depannya yang mengenakan daster tipis mewah dengan lekuk tubuh yang sangat jelas terlihat. Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya namun tetap melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Juned memejamkan matanya, ingat dirimu Juned! Wanita itu berjalan dengan anggun membelakangi Juned, membiarkan aroma parfumnya memenuhi ruangan yang mereka lewati. Ia sesekali menoleh sedikit untuk memastikan supir barunya itu tidak tertinggal jauh di belakang. "Dari kampung jam berapa, Ned?" tanya Wanita itu tanpa menghentikan langkahnya. Juned berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar sambil matanya tetap tertuju pada pinggul Wanita itu yang bergoyang pelan. "Dari jam sembilan, Nyonya," jawab Juned dengan nada bicara yang sopan. "Hmmm.. Jauh juga ya." Jawab Wanita itu sambil menoleh ke arah Juned. Mereka tiba di ruang tamu luas yang diisi dengan perabotan mahal. Wanita itu mempersilahkan Juned untuk duduk di salah satu sofa empuk sementara ia sendiri mengambil posisi tepat di hadapan Juned. "Silakan duduk," ucap Ratna sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Juned segera meletakkan tas ranselnya di lantai dan duduk dengan posisi yang sangat kaku di ujung sofa. "Baik, Nyonya. Terima kasih," sahut Juned pelan. "Nama saya Ratna, saya pemilik rumah ini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang. Juned mengangguk sambil berusaha menjaga pandangannya agar tetap sopan meski daster tipis itu terus mengalihkan fokusnya. "Tugasmu di sini antar jemput saya dan anak saya, Maudy," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Di rumah ini hanya ada saya dan Maudy, anak saya. Mbak bebersih rumah dan masak cuma di siang hari. Tugasmu disini antar jemput kami dan melayani semua kebutuhan kami," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Jadi, kamu harus memastikan kalau tubuhmu selalu dalam kondisi bugar dan ... kuat."Juned melangkah pelan menaiki satu per satu anak tangga, mengawasi setiap sudut dengan waspada sebelum membuka pintu kamar Ratna. Pintu berderit halus ketika ia mendorongnya perlahan, dan pandangannya langsung tertuju pada sosok Ratna yang rupanya sudah lelap tertidur di balik selimut tipis. Dengan langkah sepelan mungkin, Juned berjalan mendekati lemari kayu di sudut ruangan untuk mengambil baju gantinya. Ia sempat menghentikan gerakannya saat selimut Ratna sedikit tersingkap, lalu merapikan kain itu hingga menutupi bahu mulus sang wanita kesayangannya. "Tidur yang nyenyak ya, Na..." bisik Juned amat lirih, nyaris tak bersuara. Pria itu memiringkan tubuhnya, menunduk perlahan untuk mendaratkan satu kecupan hangat di kening Ratna yang tenang. Usai mengusap rambut Ratna lembut, Juned melangkah mundur jinjit keluar kamar, menutup pintu tanpa suara, lalu bergegas turun kembali menemui Nayla di bawah. Begitu melangkah turun ke lantai bawah, Juned mendapati Nayla sudah berdiri di depan
Juned tak bisa lagi menolak, ia mengikuti langkah Ratna mendekati ranjang empuk di tengah ruangan. Begitu Juned merebahkan diri, Ratna perlahan merayap turun, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan.Jemari lentiknya mengusap lembut paha Juned sebelum akhirnya bibir dan mulutnya yang hangat menyapa kejantanan pria itu secara manja. Sentuhan ritmis nan lihai dari Ratna seketika menyengat saraf-saraf Juned, membuatnya memejamkan mata erat-erat."Nghh... Na..." gumam Juned tertahan, jemarinya meremas kuat sprei di bawahnya demi meredam gejolak hasrat dan sensasi nikmat yang mendadak membakar seluruh tubuhnya.Ratna menyandarkan dahinya di dada bidang Juned sejenak, mengumpulkan napasnya yang memburu sebelum akhirnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia perlahan bergerak naik, memanjat tubuh Juned hingga duduk pas tepat di atas pangkuan pria itu.Jemari lentik Ratna yang gemetar bergerak cermat, mengarahkan pusat kehangatannya tepat di atas jantan Juned yang menegang kera
Juned mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat, berdeham pelan untuk memecah keheningan yang makin menyudutkannya. "Siang nanti saya mau antar Nayla pulang dulu ke rumah..." ujar Juned dengan nada berat, mencoba mengalihkan pembicaraan dari tawaran sepihak itu.Ratna terkekeh tipis seraya mengibaskan tangannya santai, menepis keraguan di wajah pria di sampingnya. "Ya enggak apa-apa dong, justru makin bagus kalau kamu pulang dulu sekalian izin langsung sama istrimu dan mertuamu di sana."Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, melipat tangan di dada dengan ketenangan yang dominan. "Apalagi alasannya sudah jelas, Nayla kan memang mau menuntut ilmu dan kuliah di kota ini, masa iya mereka tega melarang?" tambah Ratna lagi dengan ulasan senyum yang makin mantap.Ketakutan yang sejak tadi menyelimuti dada Nayla seketika sirna mendengarkan pembelaan telak dari Ratna. Gadis itu refleks memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap Juned dengan binar mata yang memancarkan pendar lega lua
"Jadi... kamu tidur di sini sama adik iparmu, Ned?" tanya Ratna dengan nada datar, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan seprai di samping paha Juned yang kini sudah terduduk bersandar kaku di kepala ranjang."I-iya... Kamu kok enggak bilang kalau udah pulang?" sahut Juned gagap, meremas selimut tebal yang menutupi dada hingga batas lehernya demi menyembunyikan keringat dingin yang mendadak menetes.Ratna menghembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di dada seraya berpaling. Pandangan matanya yang dingin merayap perlahan, mengunci sosok Nayla yang berdiri kaku di dekat pintu dengan jemari saling bertautan erat dan wajah yang kian pucat pasi."Siapa nama kamu?" tanya Ratna, meneliti penampilan Nayla dari ujung rambut hingga daster tipis yang melekat di tubuh gadis itu."N-Nayla, Bu..." jawab Nayla terbata-bata, merapat ke kusen pintu seolah ingin menghilang ditelan tembok."Kamu lagi ngapain tadi di dapur?" cecar Ratna tanpa mengalihkan sorot matanya yang sarat nada intimid
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak