LOGINSatrio hanyalah anak kuli panggul dengan kemeja lusuh yang terbiasa dihina. Di kampus tempatnya berkuliah, ia adalah bayangan si miskin yang tak terlihat. Namun, garis takdirnya berubah di lantai 9 gedung Shine Group. Sebuah liontin giok misterius pemberian sang Presdir, Aizar Surya Prambudi, jatuh ke tangannya. Benda itu bukan sekadar perhiasan, ia adalah magnet yang menarik segalanya: kekuasaan, keberuntungan, dan wanita yang selama ini hanya bisa ia puja dari jauh. Kini, Satrio bukan lagi pemuda yang dipandang sebelah mata. Tapi, sanggupkah ia mengendalikan kekuatan mistis yang mulai membakar gairah wanita-wanita di sekitarnya? Ataukah ia akan sepenuhnya tenggelam menjadi sang pemikat yang kehilangan hati nurani?
View MoreDebu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, menatap bus antar-kota yang sesekali lewat menuju pusat keramaian.
"Lihat itu si Satrio," bisik Bu Darmo pada tetangga sebelahnya saat mereka berpapasan di pasar desa. "Anak kuli tani saja gayanya mau kuliah di kota. Paling-paling cuma jadi gelandangan di sana. Harusnya dia tahu diri, orang tuanya saja makan susah, kok mau sok-sokan gaya orang kaya."
Satrio mendengar itu. Ia meremas tali karung di pundaknya hingga ujung jarinya terasa perih, namun ia tidak menoleh. Hinaan bukan hal baru baginya. Teman-teman sebayanya yang memilih merantau menjadi buruh kasar sering mengejeknya saat nongkrong di pos ronda.
"Kuliah itu buat orang yang punya duit, Rio! Lo mau makan apa di Jakarta? Makan buku? Mending ikut gue ke pelabuhan, jelas dapet duitnya," ujar salah satu temannya sambil tertawa meremehkan.
Malam itu, di dalam rumah berdinding bambu yang hanya diterangi lampu temaram, Satrio duduk di hadapan kedua orang tuanya. Di atas meja kayu yang sudah reot, terdapat sebuah amplop kumal berisi uang hasil tabungan bertahun-tahun ayahnya sebagai kuli panggul dan ibunya yang berjualan jamu keliling.
"Bapak dan Ibu cuma punya ini, Rio," suara ayahnya berat, penuh kelelahan namun ada binar kebanggaan. "Ibu tidak ingin kamu seperti kami. Kamu pintar, gurumu bilang kamu anak paling tekun. Pergilah ke kota, kejar mimpimu jadi ahli komputer itu."
Ibu Satrio mengusap kepala putranya dengan tangan yang kasar karena kerja keras. "Jangan dengerin apa kata orang, Nak. Mereka bisa menghina kemiskinan kita, tapi mereka tidak bisa mencuri semangatmu. Ibu akan selalu mendoakanmu di setiap sujud Ibu."
Air mata Satrio hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pengorbanan ini sia-sia. Dengan hanya membawa satu tas ransel berisi beberapa potong pakaian dan laptop bekas yang ia beli dari hasil kerja serabutan, Satrio melangkah keluar dari desa.
Saat kakinya menginjak terminal bus yang bising dan asing, ia tidak merasa takut. Ia hanyalah pemuda desa yang lapar akan keberhasilan. Ia tidak peduli jika dunia memandangnya sebelah mata karena penampilannya yang bersahaja. Ia punya kegigihan yang tidak dimiliki orang lain.
Setibanya di kota, Satrio berhasil menembus gerbang Universitas Nasional (UNAS), kampus impian yang selama ini hanya ia lihat di brosur kumal. Namun, euforia itu segera berbenturan dengan kenyataan pahit. Di hari pertama orientasi, Satrio berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang tampil modis dengan ponsel terbaru dan kendaraan mewah. Sementara itu, Satrio hanya mengenakan kemeja putih lusuh yang kerahnya sudah mulai menguning dan sepatu kets yang solnya hampir lepas.
"Lihat tuh, anak baru dari planet mana? Bajunya bau matahari banget," bisik seorang mahasiswi sambil menutup hidung saat Satrio lewat.
Tak ada seorang pun yang mau duduk di sebelahnya di kantin. Tak ada grup seangkatan yang mengajaknya bergabung. Satrio menjadi sosok yang "tak terlihat" sekaligus sasaran empuk pandangan sebelah mata. Saat kerja kelompok, ia seringkali dikucilkan karena dianggap tidak akan sanggup iuran untuk sekadar nongkrong di kafe mahal.
Namun, Satrio tidak membiarkan hatinya patah. Setiap kali rasa rendah diri menghampiri, ia teringat wajah ibunya yang memeras jamu dan punggung ayahnya yang membungkuk memikul padi.
"Kalian boleh nggak lihat aku sekarang, tapi kalian bakal liat namaku di daftar lulusan terbaik nanti," batinnya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sering melorot.
Hidup di kota ternyata jauh lebih mahal dari dugaannya. Kiriman uang dari desa yang dikirim ibunya hanya cukup untuk membayar uang kuliah semesteran. Untuk bertahan hidup, Satrio membuang rasa malunya jauh-jauh. Di siang hari, ia adalah mahasiswa IT yang tekun di barisan kursi paling depan. Di malam hari, ia berubah menjadi buruh cuci piring di sebuah warung tenda pinggir jalan atau buruh angkut di pasar induk hingga dini hari.
Terkadang, ia hanya makan satu kali sehari dengan menu nasi putih dan kecap agar bisa membayar biaya kosan petak yang sempit dan pengap. Di kamar itulah, dalam kelelahan yang luar biasa, Satrio tetap menyalakan komputer bekasnya, belajar bahasa pemrograman secara otodidak hingga matanya merah.
Tiga tahun kemudian, kegigihan itu membuahkan hasil, indeks prestasinya selalu sempurna. Dosen-dosen mulai mengenali namanya bukan karena penampilannya yang sederhana, melainkan karena logikanya yang tajam dalam memecahkan algoritma rumit. Hingga akhirnya, berkat rekomendasi salah satu dekan yang kagum pada kerja kerasnya, membawanya menjadi mahasiswa tingkat akhir yang berhasil mendapatkan kesempatan emas: program magang di Shine Group, sebuah perusahaan elektronik dan properti raksasa di pusat kota.
Satrio tetaplah Satrio yang polos dan jujur, sampai akhirnya takdir membawanya ke lantai 9, tepat di hadapan seorang pria bernama Aizar, sosok berpengaruh dari keluarga miliarder yang membuat banyak wanita tak bisa menahan godaan tatkala melihat pesona dalam dirinya. Pertemuan itulah akan mengubah garis hidup Satrio dan mengakhiri masa-masa penghinaannya selamanya.
Penyatuan tubuh yang membara di atas balkon terbuka itu akhirnya mencapai puncaknya yang dahsyat. Di bawah siraman sinar bulan, baik Satrio maupun Ayunda sama-sama mereguk kenikmatan tertinggi yang menghentak seluruh kesadaran mereka. Napas keduanya memburu, bersahut-sahutan dengan deru angin malam yang berembus kencang di ketinggian lantai tiga puluh. Ayunda terkulai lemas di dalam pelukan Satrio, tubuh seksinya yang berkeringat tampak gemetar, sepenuhnya kehabisan tenaga setelah dihantam gelombang kepuasan yang luar biasa."Sama nikmatkah seperti di kamar mandi tadi, Satrio?" tanya Ayunda sekadar memastikan sambil menatap wajah Satrio yang masih memangku dirinya. "Aku lebih menikmati di dalam air tadi," jawab Satrio singkat.Setelah beberapa saat menenangkan diri dan merapikan kembali jubah mandi mereka, Satrio melangkah kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap pulang. Meskipun tubuhnya masih dilingkupi rasa lelah yang teramat sangat, Ayunda dengan berat hati merelakan Satrio perg
Tidak hanya berhenti di atas ranjang master bedroom, pesta gairah itu berlanjut ke dalam bathroom. Di bawah guyuran air hangat shower dan di dalam rendaman bathtub yang bertabur bunga, keduanya kembali menyatu dalam lingkaran nafsu yang kian memuncak.Di dalam air yang dipenuhi kelopak bunga aneka warna, Ayunda merayap di atas tubuh Satrio yang bersandar di tepi bathtub. Keduanya kemudian mengawali saling memagut bibir, sementara tangan Ayunda menyentuh milik Satrio di dalam air yang sudah menegang penuh. Perlahan tapi pasti, milik Satrio dibimbing menuju kehangatan miliknya. Satrio sampai memejamkan mata merasakan sensasi miliknya perlahan memasuki gerbang kewanitaan Ayunda di dalam air."Nikmat sekali rasanya..." gumam Satrio hingga mulutnya terbuka.Ayunda mulai duduk di atas milik Satrio sambil bergerak seirama dengan kecipak suara air di dalam bathtub. Detik berikutnya, Satrio memegang pinggul Ayunda, lalu menggerakkan tubuh ramping wanita itu ke atas ke bawah dengan gerakan yan
Satrio merebahkan tubuh seksi Ayunda di atas hamparan kelopak mawar merah. Di bawah temaram lampu kamar yang diatur remang-remang, Ayunda kini telah terbaring sepenuhnya di atas ranjang tanpa mengenakan selembar benang pun. Kulitnya yang mulus dan dirawat mewah tampak berkilau indah, sangat kontras dengan merahnya kelopak mawar yang mengelilingi lekuk tubuhnya. Sepasang matanya yang sayu menatap lurus ke arah Satrio, memancarkan binar pemujaan yang teramat dalam dari seorang wanita yang seluruh jiwa dan raganya telah tak berdaya ditaklukkan.Satrio Berdiri kokoh di sisi ranjang master bed yang megah itu, Satrio membalas tatapan Ayunda dengan sorot mata yang penuh kendali dingin. Perlahan dan tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dari sepasang mata Ayunda yang menatapnya penuh harap, Satrio mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu untuk menyambut malam panjang mereka.Pertama, ia menanggalkan jas hitam mewahnya dengan gerakan yang tenang dan penuh wibawa. Kain jas mahal itu ia
Malam telah larut ketika sedan mewah hitam metalik milik Satrio memasuki area parkir khusus sebuah gedung apartemen pencakar langit di kawasan elite di tengah kota. Satrio keluar dari mobil, melangkah mantap menuju lobi privat yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Tangannya meraba saku jas, mengeluarkan sebuah kartu nama tipis berwarna emas yang berkilau di bawah sinar lampu. Di atas kartu mewah itu, tertera nama Ayunda beserta nomor unit penthouse teratas yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang kaya raya.Satrio melangkah masuk ke dalam lift. Jemarinya menekan tombol menuju lantai paling atas. Selama lift bergerak naik dengan cepat tanpa suara, Satrio meraba dada di balik kemejanya. Liontin giok pemikat itu terasa menghangat, berdenyut pelan seolah ikut merasakan gelombang hasrat dan kepasrahan dari jiwa wanita yang sedang menunggunya di atas sana.Ting!Pintu lift terbuka langsung menghadap pintu masuk penthouse milik Ayunda. Saat pintu besar itu terbuka, Satrio disambut ol
"Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den
Godaan demi godaan dari para wanita di kafe itu mulai bermunculan secara bergantian, membuat telinga Adirah terasa panas. Beberapa remaja di meja sebelah kanan sengaja tertawa kencang sambil berulang kali melirik Satrio, bahkan salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan sapu tangan ke lantai dekat
"Luar biasa... Rio, kamu..." Tante Inet seolah kehilangan kata-kata. Ia berlutut di depan Satrio, tangannya yang dingin perlahan meraih dan menggenggam milik Satrio. Ia belum pernah melihat milik lelaki yang begitu gagah dan menegang kuat seperti milik Satrio, apalagi dalam jarak sedekat ini. Getar
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.