登入Hari demi hari berlalu di kantor Divisi Pemasaran, namun situasi bukannya membaik, justru kian meruncing. Rasa malu dan frustrasi Tasya yang terus-menerus ditekan oleh jajaran direksi akibat performa kerjanya yang pas-pasan, membuat tingkat stresnya melonjak drastis. Dan seperti biasa, Silvy-lah yang menjadi samsak abadi untuk menampung seluruh kekesalan itu.Kian lama, tindakan Tasya pada Silvy makin keterlaluan dan di luar batas kewajaran seorang profesional. Tasya tidak lagi sekadar memaki atau mengritik pekerjaan administrasi Silvy. Ia mulai memperlakukan janda muda itu layaknya seorang pembantu pribadi di rumahnya sendiri.Bukan hanya urusan pekerjaan kantor yang ia timpakan, tetapi juga urusan-urusan pribadi Tasya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan job desk seorang Sekretaris Regional. Mulai dari menyuruh Silvy mengantre membeli menu makan siang dietnya yang berada di luar gedung, mencuci cangkir kopi bekas lipstiknya, hingga memesankan taksi online untuk teman-tem
Setelah keheningan yang mencekik itu berlangsung selama beberapa saat, Bayu akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Ketegangan di dalam ruangan itu sedikit mengendur, namun kewibawaan yang terpancar dari sosok sang Pemilik Modal tetap membuat atmosfer terasa begitu menekan.Bayu mengalihkan pandangan tajamnya dari Tasya, lalu beralih menatap Silvy yang sejak tadi duduk dengan posisi tegak. "Kalian berdua boleh kembali ke ruangan kalian. Saya hanya menerima hasil kerja yang nyata mulai hari ini. Dan jangan bawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan!” tegas Bayu pada kedua karyawan barunya itu.Bayu sengaja mengatakan hal itu karena di balik hubungan kerja mereka, Tasya dan Silvy pernah punya masalah pribadi dengan dirinya maupun keluarganya.Tasya bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Silvy. Begitu pintu jati besar ruang kerja Bayu tertutup di belakang mereka, Tasya seolah baru saja mendapatkan kembali pasokan oksigennya. Namun, rasa lega itu dengan cepat b
Mobil sedan mewah milik Bayu membelah jalanan ibu kota yang mulai padat pagi itu. Sepanjang perjalanan, seulas senyuman tipis tidak pernah benar-benar luntur dari wajah sang Komisaris Utama. Ingatan tentang wajah panik Maudy yang menggemaskan dengan rambut acak-acakannya tadi pagi menjadi suntikan energi tersendiri sebelum ia memasuki medan pertempuran korporasi.Begitu mobil berhenti di depan lobi utama perusahaannya,suasana di sekeliling Bayu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu kakinya memijak lantai marmer lobi, senyuman hangatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi kaku, dingin, dan penuh wibawa yang menjadi ciri khasnya."Selamat pagi, Pak Komisaris," sapa beberapa staf keamanan dan resepsionis yang langsung berdiri tegak dan menunduk hormat.Bayu hanya mengangguk kecil tanpa menghentikan langkah tegapnya menuju lift eksekutif. Hari ini adalah hari penentuan bagi divisi pemasaran regional yang baru, dan Bayu tahu betul, bidak-bidak catur yang sengaj
Mendengar gombalan maut pagi-pagi dari suaminya, Maudy hanya bisa mematung dengan wajah yang memerah sempurna, mirip seperti kepiting rebus. Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang karena panik kesiangan, kini berubah ritme menjadi debaran yang jauh lebih mendebarkan di dalam dada."Mas Bayu…! Masih pagi, lho. Jangan mulai deh. Katanya tadi mau berangkat kerja?" Seru Maudy dengan suara pelan, tangannya yang semula mendorong dada bidang Bayu kini beralih meremas kemeja bagian dalam jas suaminya.Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum usil justru terbit di wajah tampannya. Alih-alih melepaskan Maudy untuk bersiap-siap, lengan kokoh sang Komisaris Utama malah semakin merapat, menempelkan tubuh mereka tanpa jarak. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Maudy, membiarkan embusan napas hangatnya membuat bulu kuduk istrinya meremang."Memang mau berangkat kerja. Tapi melihat istriku secantik ini dengan rambut berantakan... rasanya mengajukan izin cuti s
Cahaya matahari pagi mendadak menyelinap di sela-sela gorden kamar yang sedikit terbuka, memantulkan berkas sinar keemasan yang menari di atas ranjang yang masih berantakan. Bayu sudah berdiri tegap di depan cermin besar. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, namun sang Komisaris Utama sudah tampil sangat rapi dan gagah dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Aroma parfum maskulinnya yang segar dan mahal seketika memenuhi penjuru kamar, kontras dengan keheningan pagi yang damai.Di atas kasur, Maudy perlahan mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa luar biasa remuk dan lelah—efek dari pergulatan panas semalam yang mereka lakukan berkali-kali hingga menjelang subuh. Namun, begitu matanya menangkap sosok sang suami yang sudah rapi, wangi, dan sedang membetulkan letak jam tangan mewahnya, Maudy seketika tersentak kaget.Bagaikan disengat listrik, Maudy langsung bangkit berdiri dari kasur hingga selimut sutranya merosot."Mas Bayu! Astaga, Mas... jam berapa ini? Maaf, Mas! Aku benar-benar mi
Jika di dua sudut kota lainnya suasana malam itu begitu pekat oleh amarah dan ambisi yang terluka, maka di kediaman Bayu dan Maudy yang tercipta justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Kamar tidur utama milik sepasang pengantin baru itu diselimuti oleh kehangatan yang menenangkan. Pendingin ruangan yang berhembus pelan berpadu sempurna dengan aroma terapi lavender yang menenangkan.Di atas ranjang berukuran king size, Bayu sedang bersandar pada kepala tempat tidur yang empuk, sementara Maudy berada di dalam dekapannya. Kedua lengan kokoh Bayu melingkar protektif di pinggang istrinya, sementara jemari lentik Maudy iseng memainkan kancing piyama suaminya. Mereka sedang menikmati sisa malam, berbagi tawa rendah setelah seharian menghadapi ketegangan dunia korporasi."Mas, kamu benar-benar keterlaluan tadi siang. Aku sampai harus menggigit bibir bagian dalamku sendiri supaya tidak tertawa di sebelahmu,” bisik Maudy, tawanya kembali pecah secara halus mengingat ekspr
Suasana di ruangan itu yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat mencekam, seolah oksigen di dalamnya mendadak menipis. Bayu berdiri mematung, menatap asistennya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia mengira kata-kata tegasnya soal pernikahan dan masa kecil dengan Maudy akan menjadi palu g
Setelah meninggalkan kediaman Ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk, Bayu segera memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian: rumah Maudy. Meski tadi Maudy melepasnya dengan senyuman tenang, Bayu tahu bahwa di balik ketenangan itu, Maudy pas
Langkah kaki Bayu yang biasanya terdengar tegas dan penuh wibawa di lorong kantor, kini terdengar berat dan terseret. DIa melangkah gontai, seolah-olah setiap ubin marmer yang dia pijak adalah beban yang harus dia angkat. Pikirannya masih terpenjara pada meja kafe tadi, pada suara dingin Lyra yang
Rio merasa geram. Namun dia tidak punya pilihan. Dia segera memacu mobilnya menuju apartemen Lyra. Setibanya di sana, sia menemukan Lyra sudah menunggunya di balkon, menatap pemandangan kota dengan gaun sutra yang melambai ditiup angin. Tanpa basa-basi, Rio langsung berdiri di hadapannya."Gimana







