Share

Bab 302

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-06-01 17:35:42

Keesokan harinya, dii dalam ruangan Alena, koper-koper besar sudah berdiri berjajar di dekat pintu, menjadi penanda bahwa beberapa jam lagi kehidupan Pradipta dan putrinya di kota itu akan segera berakhir untuk selamanya.

​Alena duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah deretan koper tersebut. Matanya masih tampak sembap dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Rasa malu, hancur, dan penyesalan yang mendala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 394

    Bayu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah yang terasa lebih ringan, meski beban tanggung jawab di pundaknya kini bertambah berkali-kali lipat. Kabar dari Dokter OBGYN masih berdengung di telinganya bagai sebuah keajaiban yang nyata. Empat janin, Empat calon buah hati akan hadir di hidupnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu ruang rawat eksklusif tempat Maudy dirawat.​Begitu pintu terbuka, pandangan Bayu langsung tertuju pada ranjang. Di sana, Maudy sudah bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang sedikit lebih segar berkat cairan infus yang mengalir. Di sampingnya duduklah sang Ibu yang menemani.​Rupanya, begitu mendengar kabar Maudy dilarikan ke rumah sakit, sang ibu langsung bergegas datang tanpa memedulikan hal lain.​"Mas..." panggil Maudy lirih, senyum tipis terukir di bibirnya yang masih agak pucat.​Ibu Maudy menoleh, lalu segera bangkit berdiri dengan raut wajah penuh kecemasan seorang ibu. "Bayu... bagaimana kata dokter? Apa y

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 393

    Keesokan paginya, sebelum fajar benar-benar menyingsing, keheningan di kamar utama kediaman Bayu dan Maudy pecah oleh suara langkah tergesa-gesa. Maudy kembali terserang morning sickness, namun kali ini kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan daripada hari-hari sebelumnya.​Tidak sekadar mual biasa, Maudy terus memuntahkan cairan lambung hingga tubuhnya lemas tak bertenaga. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya, dan pandangannya mulai berkunang-kunang akibat rasa pusing yang teramat hebat.​Melihat sang istri yang nyaris pingsan di pelukannya di lantai kamar mandi, kepanikan melanda Bayu. Tanpa membuang waktu untuk bersiap-siap ke kantor, Bayu langsung menggendong tubuh lemas Maudy, membawanya masuk ke dalam mobil premium mereka, dan melesat membelah jalanan fajar menuju rumah sakit terbaik di kota.​Sesampainya di rumah sakit, Maudy segera dilarikan ke ruang tindakan dan langsung dipasangi infus untuk mengganti cairan tubuhnya yang habis dikuras. Dokter spesialis k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 392

    Maudy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bayu, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Kehangatan dekapan itu perlahan-lahan mengikis rasa sesak dan cemas yang sejak siang menggelayuti pikirannya. Di bawah redupnya lampu kamar, Maudy merasa beruntung memiliki suami yang selalu bisa menjadi benteng penenang di setiap badai yang datang.​Namun, di belahan kota yang lain, malam yang tenang justru terasa membakar di dalam kediaman keluarga Heru. Angin malam yang berhembus pelataran seolah tidak mampu mendinginkan suasana di dalam ruang keluarga mereka yang mendadak diselimuti ketegangan baru.​Tasya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya kasar. Wajah ceria yang ia pamerkan semalam kini runtuh total, digantikan oleh raut masam, bibir yang mengerucut penuh amarah, dan binar mata yang memancarkan kekecewaan yang teramat mendalam. Ia melempar tas kerjanya ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.​Heru dan istrinya yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 391

    Siang itu berjalan dengan sangat lambat bagi Maudy. Setelah panggilan telepon dari ibunya terputus, ia hanya bisa duduk termenung di tepi ranjang. Dadanya masih terasa sesak, dan air mata yang sempat membasahi pipinya kini telah mengering, meninggalkan rasa hangat yang tidak nyaman.​Meskipun hatinya bergejolak hebat dan jemarinya sangat gatal untuk segera menghubungi Bayu, Maudy menahan diri kuat-kuat. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas nakas.​”Tidak, Maudy. Jangan telepon Mas Bayu sekarang,” ucap Maudy mengingatkan diri sendiri.​Maudy tahu betul bahwa hari ini Bayu kembali ke kantor dengan agenda yang sangat padat, termasuk menstabilkan gejolak di antara para pemegang saham akibat penundaan rapat kemarin. Ia tidak ingin menjadi beban pikiran baru bagi suaminya di tengah jam kerja. Kandungannya yang masih sangat muda juga menjadi alasan mengapa ia harus pandai-pandai menata emosi. Akhirnya, Maudy memilih untuk menarik napas dalam-dalam, mengelus perutnya yang masih rata,

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 390

    Setelah hampir dua jam mengobrol dan menikmati teh hangat serta camilan yang disajikan oleh Ibu Maudy, Heru dan istrinya akhirnya berpamitan untuk pulang. Pertemuan yang begitu hangat itu seolah-olah berhasil mengikis dinding es yang selama bertahun-tahun ini membentang di antara kedua keluarga.​Ibu Maudy mengantarkan kakak kandungnya dan sang kakak ipar hingga ke teras depan rumah. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah wanita paruh baya itu, merasa bahwa hari ini adalah awal yang baru bagi hubungan persaudaraan mereka yang sempat renggang.​Namun, tepat sebelum Heru melangkah keluar dari pagar halaman, pria itu menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menatap sang adik dengan raut wajah yang kembali diselimuti kesenduan yang teramat meyakinkan.​"Oh ya, Dik," panggil Heru lembut, suaranya terdengar begitu tulus di bawah semilir angin siang. "Ada satu hal lagi yang ingin Mas sampaikan sebelum kami pulang."​Ibu Maudy menghentikan langkahnya di undakan teras, menatap sang kakak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 389

    Rencana licik yang disusun di ruang keluarga Heru semalam kini mulai digerakkan. Pagi itu, atmosfer di kediaman Heru tampak sibuk. Tasya sengaja berangkat ke kantor lebih awal agar tidak menimbulkan kecurigaan, sementara Heru dan istrinya bersiap-siap dengan pakaian yang rapi namun tidak terlalu mencolok, sengaja dirancang untuk membangun kesan ramah dan bersahaja.​Tujuan mereka hanya satu: kediaman Ibu Maudy.​Sejak Maudy dan Bayu resmi menikah, Ibu Maudy memang memilih untuk tetap tinggal sendirian di rumah lama peninggalan mendiang suaminya. Rumah itu penuh dengan kenangan, dan ia merasa lebih tenang berada di sana. Meskipun Maudy dan Bayu berkali-kali membujuk, bahkan memohon agar dirinya ikut tinggal bersama di mansion megah mereka, Ibu Maudy tetap bersikeras menolak.​Alasannya sederhana dan sangat mulia; ia tidak ingin mengganggu kebersamaan serta privasi pasangan pengantin baru tersebut. Di samping itu, baginya sangat sayang jika rumah penuh kenangan itu dibiarkan kosong tak

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status