LOGIN1. Meski rindu ini terus datang menyapa, aku masih berharap untuk bisa melepaskan rindu ini. Denganmu aku tahu, bahwa bahagia ternyata sesederhana ini Ah.. menghirup harum petrikor di tengah Musim hujan yang sejuk ini mengembalikanku akan kenangan tiga tahun lalu. Sudah selama itu tapi rasanya masih melekat dalam benakku. Gadis manis dengan surai coklat dan mata hazelnya menghantui pikiranku. Entah magic apa yang ia lakukan padaku aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tak tau berapa lama aku duduk di cafe Moidef, disebelah meja yang di atasnya terdapat 3 cangkir kosong yang tadinya berisi kopi pagi ini, kalau ada dia pasti dia akan memarahiku. Aku tersenyum mengingat itu. Tak ingin terlarut dalam angan, aku segera melihat jam di tangan ku yang telah menunjukkan angka tiga . Ah... jam tiga di musim hujan. Jam tiga. Aku dan dia. Di tengah sejuknya udara sehabis hujan turun. Tak ayal ingatanku kembali pada kilas masa lalu. Surabaya, 15 desember 2017 "Ayo tambahin kecepatannya dong...!" Teriak nya.
View More“Kamu butuh seseorang untuk mengajarimu hal itu.”
“Saya rasa tidak perlu. Hal seperti itu tidak perlu banyak teori, kan?”
“Perlu. Untuk pemula seperti kamu harus tahu bagaimana cara untuk memulai semuanya. Bukan sekedar ciuman dan membuka pakaian saja.”
Ashley mengernyitkan dahi. Secara sekilas apa yang dijelaskan Noel tentang beberapa aturan sebelum bercinta memang terdengar sangat sederhana.
“Dimana saya butuh seseorang yang bisa mengajari saya bagaimana caranya having sex? Justin? Saya tidak ingin terlihat sangat pecundang saat bersamanya nanti,” kata Ashley bergidik sendiri.
“Kamu tahu bedanya having sex dan making love, Ash?” tanya Noel dengan kening berkerut.
Ashley menggeleng dengan wajah polosnya. Noel mengulum senyum dan tentu saja sekretarisnya yang terlalu lugu tentang dunia dalam kamar itu tak tahu perbedaannya.
“Saya pikir sama saja,” imbuh Ashley.
“Having sex, kamu melakukan aktifitas sex tanpa ada foreplay. Sementara itu making love, kamu harus menjalin intimacy terlebih dahulu,” jelas Noel.
Ashley mengangguk paham. Terus terang saja dia baru kali ini tahu perbedaan antara dua hal yang dia pikir sama saja artinya yaitu bercinta di atas ranjang.
“Lalu … orang seperti apa yang cocok untuk membantu saya?” tanya Ashley lagi.
“Siapa aja, terserah. Asalkan cowok itu bisa melatih kamu bagaimana berciuman, bercumbu dan lain-lain. Setelah latihanmu sempurna, kamu bisa langsung meninggalkannya,” jawab Noel dengan tenang.
Ashley menelan ludahnya. Ia segera menggelengkan kepala dan membuang jauh-jauh pikiran yang ingin memanfaatkan salah satu lelaki tak bersalah. Memanipulasi perasaan seseorang tentu saja hal yang sangat tidak terhormat untuk gadis perawan sepertinya.
“Thanks, but no thanks,” ucap Ashley putus asa. “Sepertinya benar-benar tidak usah. Saya bisa googling atau bertanya pada yang berpengalaman seperti anda dan Anna,” lanjutnya pasrah.
Noel sudah bisa menebak kalau Ashley tetap akan menolak sumbangan idenya. Gadis yang selama ini hanya berciuman dari mulut ke mulut tanpa permainan lidah yang intens itu pasti lebih senang di cap sebagai gadis pornophobia.
Noel menarik napas panjang terlebih dahulu kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Ugh, baiklah … kalau begitu biar aku saja yang menjadi teman latihanmu.”
Mata dan mulut Ashley langsung membulat tak percaya. “PAK NOEL?!”
“Iya. Kenapa memangnya? Kamu takut kalau pada akhirnya tidak bisa lepas dariku?” tanya Noel dengan senyum miringnya.
***
Hari itu, William duduk sendirian di sebuah café kecil di pinggiran kota. Dia memperhatikan setiap orang yang masuk, berharap bisa melihat wajah Keyza. Sampai tiba-tiba, pintu café terbuka dan ada seorang wanita yang masuk. William hampir tidak percaya pada matanya sendiri. Itu adalah Keyza!Keyza tersenyum lebar ketika dia melihat William. Dia berjalan ke meja tempat William duduk dan duduk di depannya. William terkejut dan bahagia melihatnya. Hatinya berbunga-bunga, seperti melihat matahari kembali bersinar setelah hujan lebat."Keyza! Aku tidak bisa percaya!" serunya dengan suara bergetar, dihiasi dengan raut wajah bahagia.FlashbackDi sebuah malam yang cerah di teras rumah Keyza, William dan Keyza duduk bersama di bawah langit berbintang, menikmati kebersamaan mereka setelah hari yang panjang.William memperhatikan ekspresi wajah Keyza yang tampak sedikit serius, dan dia bertanya dengan lembut, "Keyza, apa yang ada di pikiranmu? Kamu terlihat sedikit khawatir."Keyza menarik napa
“Sama, kok. Ya udah, aku mau lanjut keliling perpustakaan.” Ijinku karena memang yang menjaga perpustakaan adalah Mida sepertinya.Mida mengangguk. Namun, saat aku berdiri ingin melangkah ke dalam perpustakaan, Mida mencegahku. “Eh tunggu, tunggu dulu, Kak Will. Kakak udah nggak apa-apa, ‘Kan? Nggak perlu di panggilin ambulans?” tanyanya dengan nada khawatir.Aku sedikit tertawa karena tingkahnya yang pasti khawatir takut dimarahi Bi Em, padahal Bi Em tidak galak, hanya mungkin sedikit diberi pencerahan yang akan memakan waktu sangat lama. “Hehehe … Nggak apa-apa, kok. Saya juga nggak akan bilang ke Bi Em kejadian hari ini.”“Hufffttt … untunglah,” ujar Mida lega. “Silahkan masuk, Kak. Banyak buku baru, loh …, tapi saya disini aja ya, Kak? Soalnya mau lanjutin cerita ini dulu.” Mida menunjuk buku novel bersampul astronaut yang berdiri di atas laut.“Oke,” ja
Aku menggeser tubuhku, untuk mempersilahkan tuan putri duduk di sebelahku. “Coba lihat ini deh, Mida! Lagi ada kumpulan mahasiswa yang lagi ngadain bazar di sekitar sini. Tapi kita bisa beli secara online, loh. Coba lihat buku-buku yang mereka jual!” ucap gadisku sambil menunjukkan hpnya pada Mida yang awalnya tidak tertarik, tetapi berubah tertarik saat mendengar kata ‘Buku’ dan langsung menarik hp Keyza untuk dia amati lebih jauh. Gadisku tampak senang karena berhasil menarik perhatian lawan bicaranya. “Eh iya beneran bagus ada cerita fabelnya … ayo ayoo beli,” ucap Mida sambil menggandeng tangan gadisku, aku yang sedikit tidak rela ada orang lain yang menyentuh tangan gadisku, padahal aku saja yang baru berpacaran dengannya sangat jarang menyentuh tangannya. Aku menarik tangan gadisku agar lepas dari genggamannya. “Ayo pulang!” ajakku pada Keyza sambil menarik ranselku. Cemburu karena perhatiannya tidak lagi terpusat padaku. “Eh
Aku kembali duduk saat bibi Em menghidangkan sajiannya. Oh iya kenapa aku dan gadisku memanggil Bibi Em, itu karena semua anak di panti ini memanggil bibi Em, ibu, jadi aku dan gadisku untuk memanggil bibi Em, bibi, dan tentu ini sudah di setujui bibi Em."Silahkan di minum, Nak," ucap Bibi Em mempersilahkanku untuk minum."Terimakasih Bi Em." Aku meneguk segelas teh yang disuguhkan pada ku. Aroma melati sempat sekilas tecium indra penciumanku sebelumaku meneguk tehnya."Sudah lama sejak kalian berdua tidak kemari, awalnya anak-anak panti sangat sedih karena kehilangan sosok kakak-kakak yang mengajak mereka bermain dan belajar. Tapi untung saja, beberapa minggu kalian tidak kemari, ada orang baru yang menghibur hati anak-anak di sini dengan mengajak mereka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore