Mencari Identitas Pria di Kamarku

Mencari Identitas Pria di Kamarku

last updateÚltima atualização : 2026-08-04
Por:  AppelhijauAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Classificações insuficientes
7Capítulos
15visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Tiga tahun setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, hidup Sera berubah selamanya. Sejak saat itu, telinganya tak hanya mampu mendengar suara manusia, tetapi juga suara para arwah yang belum menemukan kedamaian. Salah satunya adalah Lio, sosok misterius yang selama setahun terakhir terus mengikutinya. Hanya Sera yang mampu mendengar suaranya. Sebelum menghilang selamanya, Lio memiliki satu permintaan: membantu mengungkap identitas dan alasan mengapa ia masih terjebak di dunia ini. Segalanya berubah ketika Sera bertemu Felio, mahasiswa baru yang wajahnya begitu mirip dengan Lio. Pertemuan itu menyeret mereka ke dalam misteri yang menghubungkan masa lalu, kematian, dan rahasia yang telah lama tersembunyi. Di balik sikap dinginnya, Felio menyimpan kemampuan yang sama mustahilnya—ia mampu mendengar suara hati manusia. Di tengah pencarian itu, Dean cinta pertama Sera kembali hadir dan mengusik perasaan yang selama ini ia pendam. Akankah Yukata berhasil mengungkap kebenaran di balik semua suara yang ia dengar, atau justru kehilangan seseorang yang paling berarti?

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1 Pertemuan pertama

Bab 1

“Berisik banget, nggak bisa diam?!” ucap Sera tegas sembari menoleh ke sebuah kursi kosong di sampingnya.

Semua ini bermula dari tragedi tiga tahun lalu—kecelakaan bus maut yang hampir merenggut nyawanya dan memaksa Sera berada dalam kondisi mati suri selama berhari-hari. Saat terbangun dari ambang kematian, dunia Sera tak lagi sama. Ia dapat mendengar suara-suara yang seharusnya tidak ia dengar, yaitu suara hantu.

Beberapa mahasiswa lainnya melirik aneh ke arahnya. Sadar akan sorotan mata itu Sera meminta maaf dengan malu segera. Ia tersadar kini tengah berada di ruang kelas guru Lee.

Pria itu mengatakan bahwa namanya adalah Lio. Hampir setahun berlalu ia mengikuti Sera untuk meminta bantuan. Nyatanya hantu akan kehilangan ingatannya di dunia sebelum ia mati. Namun anehnya kenapa hantu itu tau namanya Lio?

“Aku sudah bilangkan, namaku Lio. Percayalah! Di sini, di tanganku ada gelang dengan tulisan nama itu. Ayolah bantu aku sekali saja.”

Benar, di tangan kirinya melekat sebuah gelang kulit yang tertuliskan namanya di sana, namun beberapa bagian tampak tidak terlihat sehingga jika dibaca hanyalah Lio saja.

Sera melanjutkan tulisannya dan memandang ke arah Dosen Lee yang tengah menerangkan kuliahnya hari ini.

Pintu ruangan itu di ketuk beberapa kali hingga akhirnya Dosen Lee dan juga mahasiswa yang berada di dalam ruangan itu melirik ke arah pintu masuk. Seorang pria dengan kemeja hitam dan tas sandang masuk ke dalam ruangan.

“Saya minta maaf Bu, saya terlambat.” Dosen Lee meletakan laser pointernya dan membetulkan letak kacamatanya.

“Kamu masuk di kelas saya?” tanya Dosen Lee, pria itu mendekati meja Dosen Lee dan menjelaskan alasannya terlambat.

“Iya, Bu. Saya masuk di kelas Anda. Saya terlambat karna mencari ruangan ini. Saya belum terlalu hapal ruangan di sini.”

“Ah… apa kamu mahasiswa transfer dari Fakultas Seni itu?” pria itu mengangguk.

Dosen Lee kemudian mengambil absen yang baru saja ia bawa dan mencari nama mahasiswa itu.

“Felio?” tebak dosen Lee.

Pria itu menganggukkan kepalanya. “Benar, Bu.”

“Oke, duduklah. Karna kamu mahasiswa transfer dan saya juga yakin kamu belum sepenuhnya mengetahui daerah di kampus ini maka saya tidak mengeluarkanmu hari ini.” Ucap Dosen Lee pada Felio.

Felio, mahasiswa transfer dari Fakultas Seni ini pindah ke Fakultas Bisnis. Kepindahannya tentu saja bukan tanpa alasan, ibunya Nyonya Ran memintanya untuk fokus pada perusahaan yang didirikannya, sehingga Nyonya Ran meminta Felio untuk pindah dari fakultas pertama ia kuliah.

Sera hanya melirik sekilas pria itu yang duduk di kursi belakangnya.

Lio sangat terkejut dengan mahasiswa transfer yang baru saja ia lihat. Bagaimana tidak, wajah dan nama mereka benar-benar mirip. Ia kemudian duduk di sebelah mahasiswa itu, ia melihat setiap detail lekuk wajah mahasiswa itu. Wajah mereka benar-benar sama dan juga namanya tidak ada bedanya.

Lio kemudian mendekati Sera dan berkata bahwa dirinya mirip dengan Felio, mahasiswa transfer yang duduk di belakangnya.

“Sera, wajah mahasiswa baru itu mirip banget denganku. Apa aku merenkarnasi menjadi orang lain? Tolong dengarkanlah aku kali ini saja. Aku yakin dengan penglihatanku wajahku dan dia sama. Bagaimana bisa itu terjadi? Atau apa sebelum aku mati aku mempunyai kembaran? Tapi sepertinya tidak. Lalu kenapa wajah dan namanya begitu mirip denganku. Sera, apa kau mendengarku? Aku benar-benar yakin kali ini. Dia Felio dan aku Lio, hah… digelang ini hanya tertulis Lio.” Sera meremas penanya kesal. Hantu Lio itu selalu saja menganggu konsentrasi.

“Sepertinya kuliah kita sampai di sini saja, kita lanjutkan dengan kuis materi tadi. Saya harap kuliah singkat ini dapat kalian mengerti dan bermanfaat,” seru Dosen Lee di depan ruangan seraya merapikan bekas-berkas dan juga laptopnya.

“Ya, jangan bertele-tele. Kau tau aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau maksud!” teriak Sera saat itu juga.

Gadis itu memang tidak benar-benar melihat hantu Lio tapi ia dapat merasakan bahwa pria yang sudah mati itu duduk di sampingnya.

Dosen Lee dan mahasiswa yang berada di kelas itu sontak melihat ke arah Sera dan gadis itu baru tersadar bahwa suara yang ia keluarkan terlalu keras.

“Ah… bagaimana ini?” batin Sera.

Felio, mahasiswa transfer yang berada di sampingnya hanya tersenyum miring melihat tingkah lakunya.

“Mahasiswi Sera, pintu keluar ada di sebelah sana!” ucap Dosen Lee tegas.

Sera menghela napasnya dalam. Kali ini Dosen Lee mengeluarkannya lagi. Ia kemudian membereskan bukunya dan keluar dari ruangan itu.

“Apa kau puas sekarang?” tanya Sera kesal dengan tetap berjalan dan memandang ke arah depan.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuyarkan konsentrasimu. Hanya saja mahasiswa baru itu benar-benar mirip denganku, percayalah!”

Sera menoleh ke arah sampingnya lagi dan matanya mengarah ke udara walaupun sebenarnya Sera tidak dapat melihat bentuk rupa hantu yang sudah mengikutinya satu tahun yang lalu.

“Ya! Sudah kubilangkan, jangan ikuti aku jika ada kelas! Dan sekarang aku tidak mendapatkan nilai kuis. Apa kau mau bertanggung jawab jika aku mengulang lagi kelas pilihan itu? hah!” teriak Sera.

Lagi dan lagi gadis itu kembali tak dapat mengontrol volume suaranya. Beberapa masiswa yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya. Semua orang memang tak dapat melihat wujud asli Lio, hanya Seralah yang dapat mendengarkan suaranya.

Gadis itu kemudian melekatkan earphonenya ke telingannya dan menghidupkan musik dengan volume tinggi.

“Hah, kenapa dia susah sekali mendengarkan aku?” ujar Lio dan kemudian kembali mengikuti kemana Sera pergi.

•••

Sera, kembali mendorong troli yang berisikan kumpulan buku yang baru terbit bulan ini. Ia bekerja di salah satu toko buku terbesar di kotanya ini berkat sahabatnya, Rena.

Sera menghela napasnya dan menatap novel penulis kesukaannya yang baru saja terbit. Ia menyentuh novel itu dengan wajah senduh. “Kapan aku ya bisa menulis sepertinya,” gumam Sera.

Gadis itu kemudian melirik sekali lagi ke arah luar toko itu. Hujan tampaknya semakin deras. “Aku lupa bawa payung hari ini.”

“Apa kau masih lama? Kalau begitu aku pulang dulu, ya?”

Sera mendengus kesal dengan suara pria yang sejak tadi menunggunya bekerja. Sebenarnya mereka tidak tinggal bersama hanya saja memang hantu pria itu terus saja mengikutinya hingga seakan-akan apartement yang disewa Sera milik mereka bersama.

“Terserah, aku sudah lelah meladenimu hari ini,” balas Sera tanpa menatap ke arah Lio yang kini tengah berdiri di samping troli bukunya. Dalam satu langkah Lio sudah menghilang layaknya api yang ditiup dan kemudian menjadi asap hitam.

“Permisi.” Sera menoleh ke arah suara.

Seorang pria dengan sweater abu-abu itu berjalan ke arahnya. Gadis itu menoleh dan melihat pria itu seperti pernah melihat wajahnya.

“Apa kau tau dimana tempat buku motivasi karya Mark Manson?” tanya pria itu.

“Buku Mark Manson? Kau bisa mencarinya di rak bagian D baris ke 9.”

Pria itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi ke arah yang di tunjuk Sera. “Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, siapa ya?”

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
7 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status