FAZER LOGINTiga tahun setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, hidup Sera berubah selamanya. Sejak saat itu, telinganya tak hanya mampu mendengar suara manusia, tetapi juga suara para arwah yang belum menemukan kedamaian. Salah satunya adalah Lio, sosok misterius yang selama setahun terakhir terus mengikutinya. Hanya Sera yang mampu mendengar suaranya. Sebelum menghilang selamanya, Lio memiliki satu permintaan: membantu mengungkap identitas dan alasan mengapa ia masih terjebak di dunia ini. Segalanya berubah ketika Sera bertemu Felio, mahasiswa baru yang wajahnya begitu mirip dengan Lio. Pertemuan itu menyeret mereka ke dalam misteri yang menghubungkan masa lalu, kematian, dan rahasia yang telah lama tersembunyi. Di balik sikap dinginnya, Felio menyimpan kemampuan yang sama mustahilnya—ia mampu mendengar suara hati manusia. Di tengah pencarian itu, Dean cinta pertama Sera kembali hadir dan mengusik perasaan yang selama ini ia pendam. Akankah Yukata berhasil mengungkap kebenaran di balik semua suara yang ia dengar, atau justru kehilangan seseorang yang paling berarti?
Ver maisBab 1
“Berisik banget, nggak bisa diam?!” ucap Sera tegas sembari menoleh ke sebuah kursi kosong di sampingnya. Semua ini bermula dari tragedi tiga tahun lalu—kecelakaan bus maut yang hampir merenggut nyawanya dan memaksa Sera berada dalam kondisi mati suri selama berhari-hari. Saat terbangun dari ambang kematian, dunia Sera tak lagi sama. Ia dapat mendengar suara-suara yang seharusnya tidak ia dengar, yaitu suara hantu. Beberapa mahasiswa lainnya melirik aneh ke arahnya. Sadar akan sorotan mata itu Sera meminta maaf dengan malu segera. Ia tersadar kini tengah berada di ruang kelas guru Lee. Pria itu mengatakan bahwa namanya adalah Lio. Hampir setahun berlalu ia mengikuti Sera untuk meminta bantuan. Nyatanya hantu akan kehilangan ingatannya di dunia sebelum ia mati. Namun anehnya kenapa hantu itu tau namanya Lio? “Aku sudah bilangkan, namaku Lio. Percayalah! Di sini, di tanganku ada gelang dengan tulisan nama itu. Ayolah bantu aku sekali saja.” Benar, di tangan kirinya melekat sebuah gelang kulit yang tertuliskan namanya di sana, namun beberapa bagian tampak tidak terlihat sehingga jika dibaca hanyalah Lio saja. Sera melanjutkan tulisannya dan memandang ke arah Dosen Lee yang tengah menerangkan kuliahnya hari ini. Pintu ruangan itu di ketuk beberapa kali hingga akhirnya Dosen Lee dan juga mahasiswa yang berada di dalam ruangan itu melirik ke arah pintu masuk. Seorang pria dengan kemeja hitam dan tas sandang masuk ke dalam ruangan. “Saya minta maaf Bu, saya terlambat.” Dosen Lee meletakan laser pointernya dan membetulkan letak kacamatanya. “Kamu masuk di kelas saya?” tanya Dosen Lee, pria itu mendekati meja Dosen Lee dan menjelaskan alasannya terlambat. “Iya, Bu. Saya masuk di kelas Anda. Saya terlambat karna mencari ruangan ini. Saya belum terlalu hapal ruangan di sini.” “Ah… apa kamu mahasiswa transfer dari Fakultas Seni itu?” pria itu mengangguk. Dosen Lee kemudian mengambil absen yang baru saja ia bawa dan mencari nama mahasiswa itu. “Felio?” tebak dosen Lee. Pria itu menganggukkan kepalanya. “Benar, Bu.” “Oke, duduklah. Karna kamu mahasiswa transfer dan saya juga yakin kamu belum sepenuhnya mengetahui daerah di kampus ini maka saya tidak mengeluarkanmu hari ini.” Ucap Dosen Lee pada Felio. Felio, mahasiswa transfer dari Fakultas Seni ini pindah ke Fakultas Bisnis. Kepindahannya tentu saja bukan tanpa alasan, ibunya Nyonya Ran memintanya untuk fokus pada perusahaan yang didirikannya, sehingga Nyonya Ran meminta Felio untuk pindah dari fakultas pertama ia kuliah. Sera hanya melirik sekilas pria itu yang duduk di kursi belakangnya. Lio sangat terkejut dengan mahasiswa transfer yang baru saja ia lihat. Bagaimana tidak, wajah dan nama mereka benar-benar mirip. Ia kemudian duduk di sebelah mahasiswa itu, ia melihat setiap detail lekuk wajah mahasiswa itu. Wajah mereka benar-benar sama dan juga namanya tidak ada bedanya. Lio kemudian mendekati Sera dan berkata bahwa dirinya mirip dengan Felio, mahasiswa transfer yang duduk di belakangnya. “Sera, wajah mahasiswa baru itu mirip banget denganku. Apa aku merenkarnasi menjadi orang lain? Tolong dengarkanlah aku kali ini saja. Aku yakin dengan penglihatanku wajahku dan dia sama. Bagaimana bisa itu terjadi? Atau apa sebelum aku mati aku mempunyai kembaran? Tapi sepertinya tidak. Lalu kenapa wajah dan namanya begitu mirip denganku. Sera, apa kau mendengarku? Aku benar-benar yakin kali ini. Dia Felio dan aku Lio, hah… digelang ini hanya tertulis Lio.” Sera meremas penanya kesal. Hantu Lio itu selalu saja menganggu konsentrasi. “Sepertinya kuliah kita sampai di sini saja, kita lanjutkan dengan kuis materi tadi. Saya harap kuliah singkat ini dapat kalian mengerti dan bermanfaat,” seru Dosen Lee di depan ruangan seraya merapikan bekas-berkas dan juga laptopnya. “Ya, jangan bertele-tele. Kau tau aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau maksud!” teriak Sera saat itu juga. Gadis itu memang tidak benar-benar melihat hantu Lio tapi ia dapat merasakan bahwa pria yang sudah mati itu duduk di sampingnya. Dosen Lee dan mahasiswa yang berada di kelas itu sontak melihat ke arah Sera dan gadis itu baru tersadar bahwa suara yang ia keluarkan terlalu keras. “Ah… bagaimana ini?” batin Sera. Felio, mahasiswa transfer yang berada di sampingnya hanya tersenyum miring melihat tingkah lakunya. “Mahasiswi Sera, pintu keluar ada di sebelah sana!” ucap Dosen Lee tegas. Sera menghela napasnya dalam. Kali ini Dosen Lee mengeluarkannya lagi. Ia kemudian membereskan bukunya dan keluar dari ruangan itu. “Apa kau puas sekarang?” tanya Sera kesal dengan tetap berjalan dan memandang ke arah depan. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuyarkan konsentrasimu. Hanya saja mahasiswa baru itu benar-benar mirip denganku, percayalah!” Sera menoleh ke arah sampingnya lagi dan matanya mengarah ke udara walaupun sebenarnya Sera tidak dapat melihat bentuk rupa hantu yang sudah mengikutinya satu tahun yang lalu. “Ya! Sudah kubilangkan, jangan ikuti aku jika ada kelas! Dan sekarang aku tidak mendapatkan nilai kuis. Apa kau mau bertanggung jawab jika aku mengulang lagi kelas pilihan itu? hah!” teriak Sera. Lagi dan lagi gadis itu kembali tak dapat mengontrol volume suaranya. Beberapa masiswa yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya. Semua orang memang tak dapat melihat wujud asli Lio, hanya Seralah yang dapat mendengarkan suaranya. Gadis itu kemudian melekatkan earphonenya ke telingannya dan menghidupkan musik dengan volume tinggi. “Hah, kenapa dia susah sekali mendengarkan aku?” ujar Lio dan kemudian kembali mengikuti kemana Sera pergi. ••• Sera, kembali mendorong troli yang berisikan kumpulan buku yang baru terbit bulan ini. Ia bekerja di salah satu toko buku terbesar di kotanya ini berkat sahabatnya, Rena. Sera menghela napasnya dan menatap novel penulis kesukaannya yang baru saja terbit. Ia menyentuh novel itu dengan wajah senduh. “Kapan aku ya bisa menulis sepertinya,” gumam Sera. Gadis itu kemudian melirik sekali lagi ke arah luar toko itu. Hujan tampaknya semakin deras. “Aku lupa bawa payung hari ini.” “Apa kau masih lama? Kalau begitu aku pulang dulu, ya?” Sera mendengus kesal dengan suara pria yang sejak tadi menunggunya bekerja. Sebenarnya mereka tidak tinggal bersama hanya saja memang hantu pria itu terus saja mengikutinya hingga seakan-akan apartement yang disewa Sera milik mereka bersama. “Terserah, aku sudah lelah meladenimu hari ini,” balas Sera tanpa menatap ke arah Lio yang kini tengah berdiri di samping troli bukunya. Dalam satu langkah Lio sudah menghilang layaknya api yang ditiup dan kemudian menjadi asap hitam. “Permisi.” Sera menoleh ke arah suara. Seorang pria dengan sweater abu-abu itu berjalan ke arahnya. Gadis itu menoleh dan melihat pria itu seperti pernah melihat wajahnya. “Apa kau tau dimana tempat buku motivasi karya Mark Manson?” tanya pria itu. “Buku Mark Manson? Kau bisa mencarinya di rak bagian D baris ke 9.” Pria itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi ke arah yang di tunjuk Sera. “Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, siapa ya?”Hari berikutnya, jam di dinding menunjukkan tengah malam lewat beberapa menit ketika Sera menyalakan lampu kamarnya yang remang-remang. Tenggorokannya terasa sangat kering dan gatal. Dengan mata yang setengah terpejam, ia keluar dari kamar untuk mengambil segelas air minum di dapur. Namun, baru dua langkah menapak di ruang tengah, bulu kuduknya langsung meremang. Tidak ia sangka ruangan di luar kamarnya bahkan jauh lebih dingin daripada di dalam. Udara malam menebar sensasi beku yang menusuk hingga ke tulang. Sera menyeret kakinya yang dingin ke arah dapur kecil yang terletak persis membelakangi ruang tamu. Ia meraih gelas kaca, mengisinya dengan air mineral suhu ruangan, lalu meminumnya hingga kandas. Segelas air dingin itu pun berhasil mengikis rasa haus yang menyiksa. Sera berbalik untuk masuk kembali ke dalam kamarnya yang hangat. Namun, ketika tangannya baru menyentuh gagang pintu, pandangannya tak sengaja berbelok menoleh ke arah sofa cokelat tua
“Sepertinya, sebelum mati kau bukan orang yang cukup terkenal. Banyak nama Felio di sini, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mirip denganmu. Bagaimana ya? Aku harus mencari informasimu dari mana lagi?” Setelah menyetujui permintaan Lio beberapa hari yang lalu, Sera pun menyempatkan diri untuk meluangkan waktu istirahatnya yang berharga demi mencari informasi tentang pria itu. Jemarinya yang pegal bergerak pelan di atas keyboard laptopnya, sementara tatapannya terus bergulir menatap barisan layar yang menyilaukan. Memang tidak ada bukti yang cukup kuat untuk melacak jejaknya. Hanya sepenggal nama tanpa marga, yang tentu saja menyulitkannya setengah mati untuk menyelidiki siapa sebenarnya sosok di hadapannya ini. “Apa ada sesuatu lagi di tubuhmu yang bisa dijadikan informasi?” tanya Sera tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Tidak ada. Aku hanya mengenakan seragam serba putih dan juga gelang kulit yang sudah terlihat lusuh,” balas Lio pelan. Sosok hantu itu m
“Ayah,” lirih Sera. Krematorium yang berisikan abu ayahnya itu sudah terletak di dalam lemari kaca sejak tiga tahun yang lalu. Satu buket bunga mawar yang ia bawa tadi sudah terletak di dalamnya. Figura yang berada di dalam lemari kaca itu memperlihatkan dirinya, ibunya dan ayahnya yang masih tersenyum bersama. Sera menyentuh figura itu dan kembali meneteskan air mata. Sera masih mengingat dengan jelas, ia memaksa ayahnya untuk menonton festival kembang bunga di tahun baru yang diadakan di Seoul. Mereka yang tinggal di Busan pun harus menempuh sekitar empat jam perjalanan untuk sampai ke Seoul dengan menggunakan bus. Sera menuangkan segelas soju[2] di gelas plastik dan menaruhnya di antara keramik krematorium dan figura. Ia kemudian memberikan salam seraya membungkukkan badannya. Matanya menoleh ke arah samping lebih tepatnya melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat sendu dan terdiam menatap figura di dalam lemari kaca itu. Hampir setiap tahun ia melihat bibi itu. Mungk
“Bibi!” teriak Sera. Ia seperti kehilangan malunya. Bagaimana bisa hutang yang ia simpan selama ini bisa beber pada orang asing yang ia akui sebagai sepupunya itu. Felio mengambil secarik kertas dan pena pada bibi Jin. Bibi itu semakin kebingungan ia butuh uang sekarang bukan kertas dan pena. “Tulis nomor rekeningnya, nanti aku transfer.” Bibi Jin hampir menganga ketika Felio mengatakan akan menstransfer uang itu padanya melalui rekening. Rupannya pria yang mengaku sebagai sepupu Sera itu tidak hanya tampan tetapi juga kaya raya. Karna sebagian besar penyewa apartemennya selalu membayar cash tanpa melalui rekening. “Apa? Fel, bisa membayarnya. Bibi jangan tulis apapun di sana!” “Ini.” Bibi jin dengan cepat memberikan kertas dan pena itu kembali kepada Felio dengan beberapa digit nomor rekeningnya yang tertera di atas kertas itu. “Kuharap kau dengan cepat mengirimkannya. Jika besok aku tidak menerima uang itu, maka Sera kau harus membereskan apartemenmu.” Bibi Jin kemudian pergi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.