LOGIN"Nggak ada, Pak. Hanya pengen tahu saja. Penasaran soalnya," jawab Maria lugas."Oke. Kalau begitu saya keluar dulu." Lelaki itu bangkit dari duduknya lantas melangkah ke arah pintu utama.Maria mengalihkan perhatian pada ponselnya yang berpendar. Ada panggilan masuk dari sang suami.🖤LS🖤Dua bulan kemudian ....Maria memperhatikan Ibrahim yang sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Tawa renyah anak-anak itu memenuhi aula panti. Hari Sabtu Maria selalu datang ke panti. Sedangkan khusus hari ini Rangga harus masuk kantor. Ada hal urgent yang tidak bisa ditinggalkan.Bu Halimah mendekat lalu duduk di sampingnya. "Aisyah, apa Nak Zein nggak pernah mengirimkan pesan padamu?""Nggak pernah, Bu."Wanita berhijab lebar itu menghela napas pendek, gurat cemas tampak di wajah sepuhnya. "Sudah setengah tahun Nak Zein nggak pernah datang berkunjung ke panti. Kira-kira ada apa ya dengan Nak Zein?""Saya juga nggak tahu, Bu," jawab Maria lirih. Ia juga tidak berani mengirim pes
Semua orang tampak tidak menyangka. Daerah yang selama ini dikenal relatif tenang dan kondusif, ternyata menjadi sarang persembunyian mafia kelas kakap dengan jaringan yang begitu rapi."Benar-benar di luar dugaan, ya. Kita nggak pernah mengira ada sindikat sebesar itu di sini," ujar salah seorang staf administrasi yang di-iyakan oleh yang lain."Tahu nggak, kata sepupuku yang rumahnya dekat sana, malam kemarin terasa mencekam. Sebab beberapa kali terdengar tembakan karena mereka melawan.""Oh, ya?""Iya. Pokoknya orang-orang pada kaget malam itu."Percakapan terus bergulir di jam istirahat itu. Di kubikel kerjanya, Maria mendengarkan percakapan mereka dengan hati yang kian gelisah. Jemarinya yang memegang berkas kasus, terasa sedikit dingin. Fokusnya buyar. Pikiran Maria terus berputar-putar pada satu nama. Zein. Padahal akal sehatnya berulang kali mengingatkan bahwa belum tentu Zein terlibat dalam tugas berbahaya malam itu. Kota ini luas dan intel tidak hanya diisi oleh satu orang.
MARIA- 61 FotoMalam kian merayap sunyi. Setelah memastikan Maria dan Ibrahim tertidur lelap di kamar, Rangga menemani kedua orang tuanya yang duduk di ruang tengah sedang menonton televisi. Sisa ketegangan akibat insiden labrakan di parkiran mal tadi siang masih menyisakan hawa tidak enak di antara mereka."Ibu jadi khawatir sama Maria dan A'im, Ngga. Setelah melihat kelakuan ibunya Tamara tadi. Mereka ini orang-orang nggak waras. Ibu takut mereka nekat melakukan hal buruk untuk nyakitin Maria dan anakmu." Bu Hasna menatap Rangga dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.Rangga mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan sang ibu. "Ibu tidak perlu khawatir berlebihan. Rangga jamin Maria dan A'im akan baik-baik saja.""Kamu harus segera cari rumah baru yang aman buat mereka. Pindah dari kontrakan ini secepatnya." Pak Ali ikut menimpali dengan suara beratnya. "Iya, betul itu, Ngga," sahut Bu Hasna cepat. Wanita sepuh itu menatap anaknya lebih lekat. "Tamara yang kelakuannya kaya
Mendengar ancaman itu, Bu Hasna justru tersenyum, sama sekali tidak gentar. "Silakan. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, Bu Arsi. Perbuatan buruk pada akhirnya akan kembali berupa keburukan pada diri sendiri. Kamu pikir anak saya akan takut dengan ancaman murahanmu itu? Rangga nggak pernah takut kehilangan pekerjaannya, karena kamu pun tahu, kalau itu bukan satu-satunya sumber penghasilan anak saya." Bu Arsi seketika terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Wajahnya pias. Memang benar. Ia juga tahu kalau Rangga punya kebun cengkeh. Harta orang tuanya juga bernilai fantastis. Dan dua orang tua di depannya ini, meski berpenampilan sederhana, tapi mereka kaya raya. Bukan seperti dirinya yang glamor tapi palsu. "Seenaknya saja kamu bilang A'im itu entah anak siapa. Maria nggak seperti anakmu. Cobalah berkaca pada diri sendiri. Bisa-bisanya kamu mempertanyakan Ibrahim. Tanyakan pada dirimu sendiri, Tamara itu anak siapa? Ayo, jawab! Apa jelas bapaknya siapa. "Sebenarnya saya nggak in
"Ma, jangan. Kita yang akan malu nanti." Tamara menatap tajam sang mama. Kemudian mengedarkan pandangan. Suasana di foodcourt sangat penuh pengunjung siang itu. Akhirnya Bu Arsi terpaksa kembali duduk, meski dadanya kembang kempis menahan geram. Sepanjang sisa waktu menghabiskan makan, wanita itu berulang kali melempar tatapan sinis yang beberapa kali bentrok dengan tatapan tenang dan tegasnya Bu Hasna. Rangga yang menyadari ketegangan itu langsung berbisik kepada keluarganya. "Abaikan saja mereka, Bu. Tidak usah dipedulikan, mari kita lanjutkan makan." "Itu Tante jahat yang malah-malah sama Bunda," ujar Ibrahim lagi. "A'im, jangan bilang Tante jahat lagi, ya. Tante itu nggak jahat." Maria memberikan penjelasan. Anaknya memang tidak boleh dilibatkan dengan permasalahan orang dewasa. "Memangnya ada apa?" tanya Pak Ali penasaran karena ucapan cucunya. Anak kecil itu sangat polos. Nalurinya mengatakan telah terjadi sesuatu, makanya Ibrahim bisa berkata begitu. Akhirnya Rangga
MARIA - 60 Bumerang "Kakung, Uti!" teriak Ibrahim kegirangan. Suara bocah itu menggema di teras rumah. Ia melompat-lompat senang begitu melihat siapa yang melangkah masuk dari pintu gerbang pagar."A'im, Sayang." Bu Hasna langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan wajah berbinar penuh rindu. Ibrahim berlari dan menghambur ke dalam dekapan hangat Mbah Utinya. Kemudian beralih ke Pak Ali dan langsung minta gendong. Tangannya memeluk erat sang kakek."Assalamu'alaikum," ucap Bu Hasna."Wa'alaikumsalam." Rangga dan Maria mencium tangan kedua orang tua mereka. Rangga juga menyalami sopir andalan bapaknya dan mempersilakan masuk. Pak Ali dan Bu Hasna datang membawa banyak oleh-oleh untuk anak dan cucunya. Serta beberapa kardus besar berisi keperluan harian yang sengaja disiapkan untuk disumbangkan ke panti asuhan."Maaf, rumah berantakan, Bu," ucap Maria seraya membenahi jilbab instan yang dipakainya buru-buru tadi. "Nggak apa-apa, Maria. Kalau punya bocah rumah memang ngga
Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u
Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m
Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat
"Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d







