Compartir

MJM 152

last update Fecha de publicación: 2026-07-18 09:42:01

MARIA

- 58 Aku Maria

Langkah kaki Tamara terasa begitu berat, tapi tetap memaksa melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka. Sepasang matanya terkunci rapat pada sosok yang pernah dan sampai sekarang masih merajai isi kepalanya. Rangga Faturrahman.

Gemuruh di dalam dadanya laksana badai yang siap meruntuhkan apa saja. Dengan dagu terangkat dan senyum penuh percaya diri yang dipaksakan, ia berdiri tepat di hadapan mereka. "Assalamu'alaikum," ucapnya mengalihkan perhatian sepasang suami istr
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (9)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
haaaa Maria membatin ni Tamara mau manasi apa gimn ya.dikira q gak tau apa ya..haaa..Mlah ntr km yg Bakaln terkaget2 Lo tm.bisa pingsan km tmara
goodnovel comment avatar
Adfazha
Tamara senjata mkn tuan nih niat hati mw memprovokasi eh mlh dy yg terprovokasi lom tau aja dy klo Maria udh khatam siapa dirimu Tamara sang mantan madu yg tak tau malu hahaa siapa2 mati kutu klo tau dy Maria mantan madumu
goodnovel comment avatar
Nurmila Karyadi
hhhhh....niat mau manasin eeh malah terbakar............
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Mencari Jejak Maria   MJM 160

    Mendengar ancaman itu, Bu Hasna justru tersenyum, sama sekali tidak gentar. "Silakan. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, Bu Arsi. Perbuatan buruk pada akhirnya akan kembali berupa keburukan pada diri sendiri. Kamu pikir anak saya akan takut dengan ancaman murahanmu itu? Rangga nggak pernah takut kehilangan pekerjaannya, karena kamu pun tahu, kalau itu bukan satu-satunya sumber penghasilan anak saya." Bu Arsi seketika terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Wajahnya pias. Memang benar. Ia juga tahu kalau Rangga punya kebun cengkeh. Harta orang tuanya juga bernilai fantastis. Dan dua orang tua di depannya ini, meski berpenampilan sederhana, tapi mereka kaya raya. Bukan seperti dirinya yang glamor tapi palsu. "Seenaknya saja kamu bilang A'im itu entah anak siapa. Maria nggak seperti anakmu. Cobalah berkaca pada diri sendiri. Bisa-bisanya kamu mempertanyakan Ibrahim. Tanyakan pada dirimu sendiri, Tamara itu anak siapa? Ayo, jawab! Apa jelas bapaknya siapa. "Sebenarnya saya nggak in

  • Mencari Jejak Maria   MJM 159

    "Ma, jangan. Kita yang akan malu nanti." Tamara menatap tajam sang mama. Kemudian mengedarkan pandangan. Suasana di foodcourt sangat penuh pengunjung siang itu. Akhirnya Bu Arsi terpaksa kembali duduk, meski dadanya kembang kempis menahan geram. Sepanjang sisa waktu menghabiskan makan, wanita itu berulang kali melempar tatapan sinis yang beberapa kali bentrok dengan tatapan tenang dan tegasnya Bu Hasna. Rangga yang menyadari ketegangan itu langsung berbisik kepada keluarganya. "Abaikan saja mereka, Bu. Tidak usah dipedulikan, mari kita lanjutkan makan." "Itu Tante jahat yang malah-malah sama Bunda," ujar Ibrahim lagi. "A'im, jangan bilang Tante jahat lagi, ya. Tante itu nggak jahat." Maria memberikan penjelasan. Anaknya memang tidak boleh dilibatkan dengan permasalahan orang dewasa. "Memangnya ada apa?" tanya Pak Ali penasaran karena ucapan cucunya. Anak kecil itu sangat polos. Nalurinya mengatakan telah terjadi sesuatu, makanya Ibrahim bisa berkata begitu. Akhirnya Rangga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 158

    MARIA - 60 Bumerang "Kakung, Uti!" teriak Ibrahim kegirangan. Suara bocah itu menggema di teras rumah. Ia melompat-lompat senang begitu melihat siapa yang melangkah masuk dari pintu gerbang pagar."A'im, Sayang." Bu Hasna langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan wajah berbinar penuh rindu. Ibrahim berlari dan menghambur ke dalam dekapan hangat Mbah Utinya. Kemudian beralih ke Pak Ali dan langsung minta gendong. Tangannya memeluk erat sang kakek."Assalamu'alaikum," ucap Bu Hasna."Wa'alaikumsalam." Rangga dan Maria mencium tangan kedua orang tua mereka. Rangga juga menyalami sopir andalan bapaknya dan mempersilakan masuk. Pak Ali dan Bu Hasna datang membawa banyak oleh-oleh untuk anak dan cucunya. Serta beberapa kardus besar berisi keperluan harian yang sengaja disiapkan untuk disumbangkan ke panti asuhan."Maaf, rumah berantakan, Bu," ucap Maria seraya membenahi jilbab instan yang dipakainya buru-buru tadi. "Nggak apa-apa, Maria. Kalau punya bocah rumah memang ngga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 157

    "Sayang, tolong bicara sesuatu. Jangan diam seperti ini," bisik Rangga parau, menatap lekat sepasang mata istrinya. "Mas minta maaf. Percayalah, Tamara hanyalah masa lalu yang sudah selesai sejak lama. Tidak ada lagi ruang untuknya di hidupku." Rangga gusar dengan diamnya Maria. Padahal saat menghadapi Tamara tadi mereka begitu kompak.Maria menghela napas panjang. "Aku hanya lelah, Mas. Menghadapi wanita yang sama dan persoalan yang sama berulang kali."Mendengar keluhan jujur itu, Rangga semakin merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Ia memandang wajah Maria, menatap lekat-lekat bibir istrinya yang ranum, kemudian mengecupnya dengan kelembutan yang dalam dan penuh perasaan."Mas minta maaf," ucap Rangga di sela-sela kecupannya. Suaranya berat sarat akan emosi dan rasa khawatir. "Tapi tolong, jangan biarkan wanita itu merusak kedamaian kita sekarang ini. Mulai detik ini, kita tidak usah memedulikannya lagi. Dia tidak punya kuasa apa pun ata

  • Mencari Jejak Maria   MJM 156

    Tamara yang duduk di sebelah mamanya hanya bisa menggeleng lemah. Suaranya terdengar serak dan pasrah. "Enggak, Ma. Anak laki-laki itu wajahnya persis sekali seperti Rangga. Garis mukanya, matanya, senyumnya, semuanya jiplakan Rangga." Meski kecewa, Tamara tidak bisa membohongi hal itu. Ibrahim memang duplikatnya Rangga.Bu Arsi mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, wajahnya memerah karena geram. Ingat wanita lemah bernama Maria yang dulu didatangi dan dimintanya untuk meninggalkan Rangga. "Di mana mereka tinggal?" desis Bu Arsi.Tamara tidak menjawab. Ia mengabaikan pertanyaan mamanya, lalu merebahkan kepalanya di punggung sofa dengan tubuh yang teramat lemas. Energi di dalam tubuhnya seolah telah terkuras habis. Sejak pulang kerja sore tadi, perutnya belum masuk makanan sama sekali. Rasa lapar itu tertutup rapat oleh rasa perih yang teramat pekat di hulu hatinya.Pandangan Tamara menatap kosong ke langit-langit rumah. Ingatannya mendadak melompat jauh ke beberapa tahun lalu, ke

  • Mencari Jejak Maria   MJM 155

    MARIA- 59 Sudah Selesai Mata Tamara memanas, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar mengaburkan pandangannya. Kenyataan sore ini terasa amat pahit, menghantam ego dan harga dirinya hingga hancur berkeping-keping. Di hadapannya, ia melihat Maria berdiri dengan begitu tenang.Bisa-bisanya mereka kembali bersatu sebagai suami istri setelah semua badai yang terjadi. Dan yang paling mengoyak hati Tamara adalah fakta bahwa Maria telah melahirkan anak dari Rangga. Sebuah anugerah yang dulu gagal ia dapatkan."Rupanya kamu juga mengejar lagi mantan suamimu, Maria," desis Tamara dengan tatapan yang memancarkan rasa tak terima yang teramat sangat. Suaranya bergetar, sarat akan kecemburuan dan kebencian."Dia tidak mengejar, tapi aku yang mengejarnya dan memohon supaya dia mau kembali bersamaku," potong Rangga tegas.Seketika jawaban itu membuat dada Tamara semakin panas membara seperti disiram bensin. Pria yang dulu begitu ia puja, kini terang-terangan membela rivalnya tanpa

  • Mencari Jejak Maria   MJM 58

    Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u

  • Mencari Jejak Maria   MJM 42

    Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m

  • Mencari Jejak Maria   MJM 40

    Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat

  • Mencari Jejak Maria   MJM 37

    "Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status