Share

MJM 7

last update publish date: 2026-05-30 10:22:42

MARIA

- 7 Di Persimpangan

"Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal.

Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan kecupan di pipinya. "Mama ke Surabaya, Mas. Ada urusan butik. Kenapa sih, wajahnya ditekuk begitu? Loh, rahangmu kenapa lebam." Tamara menyentuh rahang suaminya yang membiru.

Rangga melepaskan tangan istrinya lalu duduk di sofa. Tidak menjawab pertanyaan itu.

"Kenapa Mama menemui Maria dan berani datang ke rumah orang tuaku?" tanya Rangga tajam.

Senyum di wajah Tamara memudar, digantikan oleh gurat keterkejutan. "Mama menemui orang tuamu? Setahuku Mama hanya bilang ingin bicara dengan Maria untuk memberi sedikit pengertian."

"Apa maksudnya? Kenapa sebelum pergi tidak mengajakku bicara lebih dulu. Bagaimana kalau bapak mendengar dan drop lagi? Kamu tahu kondisi bapakku, kan?" Rangga menatap istrinya. Apa mungkin Tamara tidak tahu kalau mamanya mendatangi rumah orang tuanya?

Mata Tamara mulai berkaca-kaca sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan dramatis. "Mas, Mama hanya khawatir padaku. Pada bayi ini. Kami nggak mau anak ini lahir tanpa status yang jelas. Apa aku salah kalau ingin kepastian? Tiap kali Mas kami ajak bicara, nggak pernah ada keputusan."

Biasanya isak tangis dan elusan di perut itu merupakan senjata pamungkas yang meluluhkan Rangga. Namun malam ini untuk pertama kalinya, Rangga merasakan jengah. Dia teringat tatap kecewa ibunya dan Maria yang terluka kemarin malam.

Tamara ini sebenarnya sosok mandiri yang ia puja, wanita karir yang begitu pengertian dan lembut. Seorang kekasih yang dicintainya. Namun Tamara terlihat berbeda sekarang. Ada ambisi yang egois di balik air matanya. "Apakah selama ini aku salah menilainya?" batin Rangga. Mereka sudah kenal lama, kan? Mereka pasangan yang saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Meski dalam kondisi terpisah jarak saat kuliah dulu.

"Aku harus pulang. Besok aku ke sini lagi untuk bertemu Mama," kata Rangga setelah setengah jam dalam diam. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya.

"Mas, jangan!" Tamara merengek sambil memegang lengan Rangga. "Aku takut sendirian. Aku sudah muntah beberapa kali seharian ini."

"Ada sepupumu di kamar sebelah, kan? Dia biasa menemanimu," potong Rangga.

"Bayi ini ingin papanya ada di sini." Tamara terus merayu dengan air matanya.

Rangga menarik napas berat. Ia mengalah dan menemani Tamara hingga wanita itu terlelap pada pukul sepuluh malam. Namun Rangga tetap gelisah. Kemudian ia bangkit dan pamitan pada adik sepupunya Tamara.

Rangga memacu mobilnya membelah malam menuju Kediri. Jalanan yang lengang membuatnya sampai di rumah tepat pukul 23:05.

Saat pintu rumah terbuka, Rangga langsung disambut seseorang yang tengah membaca Al Qur'an, terdengar dari satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala terang.

Rangga mematung di balik tembok pembatas ruang tengah. Dari posisinya ia bisa melihat ke dalam ruang salat. Maria masih mengenakan mukena putih, duduk bersimpuh menghadap Al-Qur'an di atas rekal kayu. Beberapa kali Rangga mendengar satu ayat yang dibaca berulang-ulang. Itu sering dilakukan Maria untuk membenarkan bacaannya. Biasanya Rangga yang akan menyimak dan membenarkan.

Lama Rangga berdiri di sana. Hatinya perih. Menyakitkan melihat wanita yang ia khianati justru sedang bercakap-cakap dengan Tuhannya disaat ia baru saja melarikan diri dari kerumitan yang ia ciptakan. Ada rasa berat yang mendadak menghimpit paru-parunya. Haruskah semua ini berakhir?

Dengan langkah pelan Rangga masuk kamar. Segera berganti pakaian, mengambil wudhu, lalu kembali menghampiri Maria dan duduk di depan istrinya.

Maria terkejut. Ia menutup mushafnya setelah membaca tashdiq. Shadaqallahul 'adzim. Tak mengira suaminya kembali ke rumah. Biasanya kalau sudah lewat jam sembilan malam tidak pulang, sudah jelas Rangga ke rumah istri mudanya. "Mas, pulang?"

"Teruskan, Maria. Kenapa berhenti?" ucap Rangga pelan. "Biar kusimak."

Maria menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dulu dia senang sekali mengaji bersama, tapi malam ini rasanya berbeda. "Sudah malam. Mas, butuh istirahat. Wajahmu terlihat lelah sekali."

"Sudah lama kita tidak mengaji bersama," gumam Rangga, matanya menatap Al-Qur'an di depan Maria.

"Nggak apa-apa. Lagipula nanti kegiatan mengaji bersama ini akan berhenti sama sekali setelah kita bercerai."

Kalimat itu seperti hantaman godam di dada Rangga. Perih dan menusuk hingga ke ulu hatinya.

"Maria, jangan bicara begitu," suara Rangga parau sambil memandang Maria.

Wanita itu menarik napas panjang, menatap suaminya dengan mata yang menyimpan luka. "Ini yang akan kita hadapi. Selama ini hampir setiap hari aku selalu takut kehilanganmu. Setiap Mas nggak pulang, aku nggak bisa tidur. Bukan hanya karena Mas bersama Tamara, tapi aku khawatir terjadi apa-apa di perjalanan."

Mendengar itu dada Rangga terhentak. Maria menarik napas panjang. "Aku selalu takut, kalau kamu nggak ada terus aku bagaimana. Tapi setelah aku rela melepaskanmu dan kita akan berpisah, aku nggak merasa takut lagi. Aku sudah merelakan semuanya. Setelah ini aku nggak punya hak untuk takut, karena Mas nggak punya kewajiban untuk pulang padaku lagi.

"Kita akan berpisah baik-baik. Dan mungkin kita bisa bertemu lagi sebagai saudara di momen-momen tertentu. Pas ada acara di rumah ibu, di rumah Mas Radit, atau disaat lebaran." Maria berhenti sejenak. "Atau disaat aku nanti menikah lagi, entah dengan siapa." Senyum getir menghiasi wajah wanita itu.

Rangga menelan saliva dengan susah payah. Dadanya terasa perih. Ia merasakan gerimis hebat di dadanya. Sesak itu kini benar-benar menghimpitnya. Ia memandang wajah Maria. Wajah yang menunjukkan ketenangan, tapi justru itu yang membuatnya resah. Ketenangan seorang wanita yang sudah berdamai dengan rasa sakitnya.

"Maria, aku minta maaf. Hubungan ini tidak harus berakhir begini. Kita masih bisa membicarakannya," suara Rangga bergetar.

"Apa lagi yang mau dibicarakan, Mas. Mamanya Tamara sudah menuntut hak anaknya. Mas Radit dan Ibu sudah memberiku restu untuk membuat pilihan. Dan aku sungguh merasa berat menjalani hubungan begini. Cukup dua tahun saja. Aku ingin mencari kebahagiaan lain.

"Mari kita berpisah secara baik-baik. Kita ikuti prosesnya hingga orang lain dan kerabat tahunya kita sudah selesai. Setelah itu Mas Rangga bisa bebas mengenalkan Tamara dan anak kalian pada keluarga dan orang-orang. Lama kelamaan Bapak dan Ibu pasti luluh melihat cucunya." Maria bisa bicara dengan nada tenang dan stabil. Tapi yang sebenar hatinya berdarah-darah. Dia sedang menguatkan dirinya dengan susah payah.

Rangga semakin gelisah. Di tengah kemelut ini, ia merasa takut kehilangan. Selama ini terlalu terlena dengan kesabaran Maria yang dianggapnya tak akan pernah berujung. Tamara juga tenang-tenang saja seperti yang disepakati selama ini. Tapi kabar kehamilan itu telah mengubah segalanya.

"Mungkin ada yang salah dengan diriku, hingga di tahun ketiga pernikahan ini, aku nggak bisa memberimu anak. Tapi Tamara bisa. Selamat, kamu akan menjadi seorang ayah, Mas." Maria tersenyum getir sambil memandang suaminya.

Hati Rangga rasanya kian tercabik-cabik. Padahal mereka sudah bersama semenjak masih kanak-kanak. Berpisah setelah dirinya kuliah di Malang. Itu pun tiap pulang bisa bertemu. Usia mereka terpaut jarak lima tahun. Namun kenapa baru sekarang matanya melihat betapa hebatnya seorang Maria.

"Kita bisa periksa ke dokter. Aku akan mengantarmu."

Maria menggeleng. "Nggak. Sudah terlambat. Sudah ada Tamara yang akan memberimu anak. Untuk kita, sebentar lagi akan berakhir. Siang tadi aku sudah menghubungi pengacara. Aku minta agar prosesnya dipercepat."

Rangga terkejut. "Kamu serius?"

"Ya, aku sudah bertemu pengacara." Maria mengangguk tanpa ragu.

Rangga tertegun. Ia ingin marah, kenapa Maria tidak memberinya kesempatan seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak bisa. Ia hanya bisa menatap Maria yang mulai menyimpan Al-Qur'annya. Dan menyadari bahwa sang istri sudah melangkah jauh di depannya. Meninggalkan Rangga yang kini justru membeku di persimpangan jalan dalam kekalutan yang dibangunnya sendiri.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Imas Dewiningsih
cerita yang mengandung bawang...... bagus maria lembut tapi tegas
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
syukurlah si maria sdh waras dan utk si rangga, selamat menikmati penyesalanmu.
goodnovel comment avatar
Magda
semoga setelah cerai maria ketahuan klw sedang hamil anak rangga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   MJM 111

    "Dia orang pertama yang menolong dan menguatkan saya saat berada di titik paling terpuruk dan hancur saat saya baru tiba di Malang. Saya merasa sedih, Bu. Karena di antara orang-orang baik yang selama ini ada di sekitar saya, hanya Mas Zein yang sampai hari ini belum tahu kalau saya sudah memutuskan untuk rujuk dan kembali bersama Mas Rangga.""Kamu bisa mengirim pesan, Aisyah."Maria menggeleng. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hanya waktu itu saja Zein mengirimkan pesan. Setelah itu tidak ada lagi. Maria tidak benar-benar tahu siapa Zein ini, jadi khawatir nanti kalau mengganggunya. 🖤LS🖤"Bunda, cepat mandikan A'im. A'im mau tunggu Papa di depan!" seru anak berumur tiga tahun itu dengan ketidaksabaran yang menggemaskan. Dia baru selesai disuapi sarapan oleh Maria. Kemarin malam mereka sudah sampai di Kediri. Dijemput oleh orang kepercayaannya Pak Ali. Maria pun kenal dengan lelaki yang sering mengantar bepergian orang tua angkatnya itu.Setelah didandani de

  • Mencari Jejak Maria   MJM 110

    Apalagi sekarang karier Rangga melesat bagai meteor. Bisa jadi sepulang dari Jepang nanti, posisi Rangga dipastikan akan naik kelas menjadi General Manager.Dalam kondisi kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tamara akhirnya meraih ponselnya lalu menghubungi sang mama."Aku nggak bisa menghubungi Rangga, Ma. Sekretarisnya tadi sore begitu judes saat kutanya. Dia malah memperingatkanku supaya jangan mengganggu Rangga," keluh Tamara dengan kesal.Di seberang telepon Bu Arsi terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mendesak. "Tam, dengarkan Mama. Makanya sejak kemarin Mama bilang apa? Ikuti saja saran Mama. Kamu datangi rumah orang tuanya Rangga, lalu pura-pura hamil anak Rangga. Cuma itu satu-satunya cara instan buat mengikat dia lagi sebelum masa iddahmu habis.""Nggak mungkin, Ma," bantah Tamara."Kenapa nggak mungkin? Tinggal pakai hasil tes palsu, beres," seru Bu Arsi gemas."Mama nggak tahu bagaimana Rangga," teriak Tamara frustrasi. "Dia itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 109

    MARIA- 44 Sah"Mas, kalau memang nggak memungkinkan dan terlalu ribet, sebaiknya aku dan A'im nggak usah ikut ke Jepang saja. Toh, dua bulan lagi Mas juga sudah selesai training-nya," kata Maria dengan nada tenang saat menerima telepon dari Rangga malam itu. Setelah Rangga menceritakan beberapa kendala ketika hendak membawanya dan Ibrahim ke Jepang.Rangga sengaja menghubungi Maria kembali setelah putra kecil mereka sudah tidur. Supaya bisa ngobrol dengan lebih leluasa."Kamu jangan khawatir soal itu, Maria. Kebetulan aku punya kenalan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini. Dia akan membantu mencarikan sewa apartemen harian yang nyaman untuk kamu dan A'im selama di Jepang nanti. Yang dekat dengan apartemen tempatku tinggal sekarang ini."Maria menghela napas. "Tapi sayang sekali dengan uangnya. Sudah berapa banyak biaya yang harus Mas keluarkan hanya untuk membawa kami ke Jepang selama beberapa hari. Mulai dari tiket pesawat, sewa tempat tinggal, biaya hidup di sana hingga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 108

    Tiga belas tahun menikah, Pak Pradipta belum dikaruniai momongan. Makanya dia juga sayang pada Ibrahim. Kalau anak itu sakit, ia memberi kebebasan pada Maria untuk tidak masuk kerja atau bekerja dari panti. Istrinya ada sedikit masalah dengan indung telurnya. Untuk itu susah untuk mengandung. Pernah mencoba bayi tabung, tapi justru hampir merenggut nyawa istrinya. Itu bukan alasan bagi Pak Pradipta untuk meninggalkannya. Meski ingin sekali punya anak kandung. Sebab sekarang ia merawat anak dari adik iparnya yang sudah berusia enam tahun. "Baiklah, Aisyah," ucap Pak Pradipta akhirnya sambil mengangguk-angguk pasrah. "Saya akan selalu mendukung apa pun keputusan terbaikmu. Tapi saya harap kamu benar-benar mempertimbangkan matang-matang sebelum resmi rujuk nanti. Jangan sampai kamu sakit hati lagi."Andai saja saya punya saudara laki-laki yang masih single, saya ingin menjodohkanmu dengannya."Maria tersenyum dibalik cadarnya. Pak Pradipta juga memandangnya sambil tersenyum. Lelaki itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 107

    "Duh, A'im Papa kangen sekali," gumamnya.Bayangan Ibrahim seketika menjelma di pelupuk mata. Rangga tersenyum mengingat momen manis saat anak itu memeluk lehernya erat-erat di bandara, juga kenangan lucu saat pertama kali Ibrahim mendekatinya di panti dengan memakai sandal yang terbalik. Kerinduan itu begitu menyiksa menjadi satu dengan rasa cemas yang tak berkesudahan tentang Maria. Ia teramat takut jika benteng pertahanan Maria goyah dan wanita itu akhirnya memilih menerima lelaki lain selama dirinya berada di seberang lautan.Rangga mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal sementara yang disediakan oleh perusahaan. Kamar bertipe 1K dengan luas 25m² itu terasa sangat sunyi. Karena ia seorang manajer, perusahaan Jepang tempatnya bernaung memang sangat memuliakan fasilitas dan privasinya. Apartemen ini sudah dilengkapi dapur mini, kamar mandi prefab, kulkas, kasur, mesin cuci, microwave, hingga rice cooker. Semua biaya sewa ditanggung penuh oleh kantor.Bahkan Rangga memil

  • Mencari Jejak Maria   MJM 106

    MARIA- 43 Indonesia-Jepang Ibrahim duduk bersila di atas kasur, menatap lekat layar ponsel yang terpasang di tripod depannya. Wajah Rangga terpampang jelas di sana melalui panggilan video. Ibrahim terlihat bahagia sekali, senyumnya melebar hingga matanya menyipit."Papa, kapan pulang?" tanya Ibrahim dengan nada yang menggemaskan.Rangga yang berada di seberang sana terkekeh pelan, meski gurat rindu di matanya tidak bisa disembunyikan. Baru seminggu pergi, tiap hari kalau di telepon, Ibrahim bertanya kapan ia pulang. "Masih agak lama, A'im. Tapi dengar Papa, ya. Nanti begitu Papa pulang ke Indonesia, Papa akan langsung mengajak A'im dan Bunda pergi ke Jepang. Naik pesawat. Kita liburan ke sini. A'im, mau kan?""Mau mau," jawab Ibrahim antusias sambil menggut-manggut. Bocah itu langsung menoleh ke arah Maria yang duduk di sampingnya sambil merapihkan cadar. Kemudian baru menampakkan diri di layar ponsel. "Bunda, nanti kita ikut Papa, ya?"Melihat sang bunda hanya diam dan menatapnya l

  • Mencari Jejak Maria   MJM 1

    MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da

  • Mencari Jejak Maria   MJM 69

    "Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 66

    "Sementara kamu sendiri pernah berada di posisi mereka. Bagaimana kamu bisa benar-benar sembuh dan bangkit kembali, kalau setiap hari makananmu adalah trauma-trauma yang serupa? Ibu takut, pekerjaan itu justru akan mempertebal traumamu dan membuatmu sulit melangkah maju."Kalimat Bu Halimah telak m

  • Mencari Jejak Maria   MJM 65

    MARIA- 29 Jalan-jalan "Ulfa, panggilin Mbak Aisyah dan A'im, ya. Bilang kalau Pak Rangga datang." Bu Halimah menyuruh seorang anak kelas lima SD untuk memanggil Aisyah, setelah wanita itu mempersilakan Rangga masuk ke ruang tamu panti."Ya, Bu," jawab Ulfa terus berlari ke arah belakang."Mas Ran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status