Share

Ke kantor

Penulis: Mommy_Ar
last update Tanggal publikasi: 2025-12-19 17:28:58

Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Yudha, tenang, rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka seakan menegang.

Sontak Wilona memundurkan tubuhnya sampai hampir menabrak sandaran kursi. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah baru saja dikejar sesuatu yang tak kasat mata.

“O—Om… hehhee… Om bercanda, kan?” suaranya terdengar gugup, tawa kecil yang dipaksakan keluar sebagai tameng.

Tangannya refleks mencengkeram ujung meja, seakan butuh pegangan agar tidak benar-benar tumbang.

Yudha menyipitkan mata, memperhatikan reaksi Wilona dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Begitu kalimat itu keluar dari bibir Yudha, nadanya tegas tanpa memberi ruang bantahan.

“Sudahlah, habiskan sarapanmu. Saya antar ke kampus.”

Wilona langsung mengangguk cepat, refleks seperti anak sekolah yang takut dimarahi guru.

Tidak ada protes, tidak ada manyun. Ia buru-buru menyuapkan sisa makanannya, meski pipinya sedikit menggembung karena terlalu cepat mengunyah.

Yudha hanya melirik sekilas, lalu menggeleng pelan melihat tingkah Wilona yang selalu saja ceroboh tapi entah kenapa menggemaskan.

Tak lama kemudian, mereka bersiap. Wilona mengganti pakaiannya dengan pakaian kampus seadanya jeans dan kaos. Celana milik Eve sedangkan untuk atasan Wilona memakai milik Yudha.

Sebenarnya ada baju milik Evelyn, tapi baju milik Eve begitu kecil, ketat dan tipis.

Yang mana membuat Wilona sedikit rishi karena menurutnya terlalu seksi.

Di perjalanan menuju kampus, mobil Yudha melaju tenang. Tidak ada percakapan berarti, hanya musik pelan mengalun.

Wilona beberapa kali melirik ke samping, memastikan laki-laki itu tidak sedang menatapnya lagi dengan ekspresi “aneh” seperti tadi pagi. Jantungnya masih belum sepenuhnya normal.

Sesampainya di kampus, Wilona turun dengan tergesa. Ia sempat melambaikan tangan kecil sambil tersenyum canggung.

“Makasih, Om,” ucapnya cepat, lalu berbalik pergi sebelum rasa malunya kambuh.

Yudha memperhatikannya sebentar dari balik kemudi, lalu melanjutkan perjalanan ke kantor dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Belum jauh melangkah, Wilona langsung dicegat dua sosok yang sangat dikenalnya.

“ASTAGA WIL!!” teriak Tika nyaris lompat. “Kamu semalem dibungkus om-om!”

Beberapa mahasiswa lain menoleh, membuat Wilona spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“TI—KA!” desisnya panik.

Vera tertawa sambil menepuk bahu Wilona. “Gimana rasanya, Wil? Kayaknya ganteng loh dia. Berapa ronde?’’

Wilona mendengus kesal, pipinya memerah. “Kalian tega banget ya! Temen dibungkus malah ditinggal aja!”

Ia memeluk tasnya erat, wajahnya dibuat sedramatis mungkin seolah korban kejahatan besar.

Vera langsung melipat tangan di dada. “Biarin kepala kamu biarin! Kami itu udah berusaha semaksimal mungkin buat mencegah, tapi kamunya yang menggatal sama itu om-om. Kita tarik, kamu balik lagi. Kita larang, kamu senyum-senyum.”

Tika mengangguk cepat. “Betul! Kamu bahkan nyebut namanya sambil ketawa-ketawa, Wil.”

Wilona terdiam. Ingatan samar semalam kembali menyeruak sedikit, tapi cukup untuk membuat telinganya panas.

“Ckckck… sudahlah,” katanya akhirnya, mengibaskan tangan. “Aku ada kelas pagi. Aku duluan!”

Belum sempat dua sahabatnya membalas, Wilona sudah berlari kecil menuju gedung fakultas, meninggalkan mereka di belakang.

Tika memandang punggung Wilona yang menjauh. “Lah, kita ditinggal lagi!”

Vera menyeringai, matanya menyipit penuh rencana. “Biarin. Nanti kita sidang dia. Lengkap. Detail. Tanpa ampun.”

Tika terkekeh setuju.

**

Beberapa hari kemudian, Wilona berdiri di depan lemari kamarnya sambil memandangi sebuah kemeja berwarna abu-abu gelap yang terlipat rapi di tangannya.

Kemeja itu milik Yudha.

Kemeja yang ia pakai malam itu malam yang sampai sekarang masih sering muncul di kepalanya tanpa permisi, lengkap dengan rasa malu yang selalu menyusul setelahnya.

“Duh… masa iya sih aku pura-pura lupa,” gumam Wilona pelan. “Bisa-bisa Om Yudha mikir aku sengaja nyimpen.”

Akhirnya, dengan tekad sederhana: mengembalikan dan selesai, Wilona mengambil kunci mobil.

Awalnya ia berniat mengantar ke apartemen Yudha. Tapi dua hari berturut-turut, apartemen itu selalu kosong. Lampunya mati, tidak ada tanda-tanda Yudha pulang. Beberapa pesan singkat yang Wilona kirim juga hanya dibaca, tanpa balasan.

Jadi, dengan sedikit ragu dan rasa sungkan yang mulai muncul, Wilona memilih datang langsung ke kantor.

Gedung perusahaan Yudha berdiri megah di tengah kawasan bisnis. Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya matahari siang, membuat Wilona mendadak merasa kecil.

“Oke Wilona,” katanya menyemangati diri sendiri. “Cuma ngembaliin baju. Abis itu pulang.’’

Namun, langkahnya tetap terasa canggung saat ia melangkah masuk.

Beberapa pasang mata sempat melirik. Bukan karena ia mencolok tapi karena Wilona jelas bukan karyawan di sana.

Hoodie pastel, jeans, dan ransel kecil di punggungnya kontras dengan setelan formal orang-orang yang berlalu-lalang.

Setelah bertanya ke resepsionis, Wilona diarahkan ke lantai eksekutif. Dan di sanalah ia berdiri sekarang di depan ruangan Yudha.

Pintu kaca buram dengan tulisan CEO – Yudha Pranata terasa… intimidatif.

Wilona menarik napas, lalu menyapa pria berkacamata yang berdiri tak jauh dari pintu, jelas seorang asisten.

“Hay, Om. Maaf… Om Yudha-nya ada nggak?” tanya Wilona sopan, suaranya sedikit ragu.

Dirga terdiam sejenak. Tatapannya bergeser, tidak langsung menjawab.

“Wilona ya?” ucapnya akhirnya, seolah memastikan sesuatu.

“Iya,” Wilona mengangguk cepat. “Kenapa?”

Dirga tampak bingung. Wajahnya jelas menunjukkan keraguan, seakan sedang menimbang apakah ia harus bicara atau tidak.

“E-emm… Pak Yudha—”

“Kenapa, Om?” Wilona spontan memotong, rasa penasarannya langsung melonjak. “Om Yudha kenapa?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   TAMAT

    Malam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 228

    Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 227

    Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 226

    Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 225

    "Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 224

    "Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Stefi

    Udara pagi di tempat itu begitu berbeda dari hiruk-pikuk kota.Tak ada suara klakson. Tak ada gedung tinggi. Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu pepohonan, suara burung, dan gemericik air dari sawah yang membentang luas sejauh mata memandang.Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di ping

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kebohongan Olla

    Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Ancaman

    Ola bersedekap tangan di dada. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya lurus ke depan, menembus dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan bergerak seperti barisan semut yang tak pernah berhenti. Semua tampak normal. Ha

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Keraguan & kebahagiaan

    ‘’Baiklah, biarkan saja, kamu bisa pergi,. Nanti uangnya akan ku tranfers!’’‘’Baik Nona, terimakasih!’’ Panggilan itu berakhir dengan cepat setelah Evelyn menyuruhnya pulang. Namun, ponsel di tangannya kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.Yudha tidak ke kantor.Lalu… di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status