Home / Romansa / Mengejar Cinta Puteri Bangsawan / Bab 3. Siapa Gerangan Pemiliknya

Share

Bab 3. Siapa Gerangan Pemiliknya

Author: Enday Hidayat
last update Petsa ng paglalathala: 2024-05-24 23:41:46

Lesmana membuka mata dengan wajah basah oleh keringat, helaan napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Di dahinya terlihat butiran keringat yang mengalir turun membasahi pelipis. Matanya masih terpejam seolah ingin mempertahankan sisa bayangan yang baru saja hilang, namun usahanya sia-sia.

Ia menggeleng perlahan, seolah berusaha mengusir kabut tebal yang menutupi pandangan batinnya. Terasa berat sekali untuk sekedar mencari tahu siapa gerangan pemiliknya.

Benda pusaka itu kini tergeletak tenang di atas meja kayu tua.

“Tertutup cahaya putih,” ucap Lesmana lirih, suaranya terdengar parau sehabis berjuang melawan sesuatu yang tak kasat mata.

Sudah hampir satu jam ia duduk bersila, memusatkan seluruh tenaga dan pikiran untuk menembus tabir yang melindungi identitas pemilik benda itu. Namun yang terlihat hanyalah cahaya putih menyilaukan, seolah menjadi tembok kokoh yang tidak bisa ditembus.

Lesmana akhirnya menghela napas panjang, ia merasa seluruh tenaganya terkuras habis. Ia sudah menyerah sejak tadi; jika bukan karena permintaan mendesak dari sahabat lamanya yang sudah lama tidak bertemu, ia tidak akan memaksakan diri sampai sejauh ini.

“Sulit sekali menembus cahaya itu,” lanjutnya sambil mengusap keringat di dahi dengan lengan baju.

Arjuna yang duduk di hadapannya memandang dengan tatapan antara khawatir dan rasa ingin tahu yang mendalam. Ia merasa kasihan melihat Lesmana yang tampak seperti orang baru pulih dari sakit berat.

Jelas terlihat bahwa sahabatnya itu seolah kalah dalam pertarungan ilmu batin, sehingga sulit sekali membuka tabir penerawangan untuk melihat asal-usul kujang itu. Barangkali ayahnya memiliki ilmu yang sangat tinggi, atau mungkin ia memiliki guru spiritual yang sangat sakti sehingga sengaja menutup segala akses pandangan orang lain demi melindungi dirinya dari gangguan kompetitor bisnis atau niat jahat orang-orang yang menginginkan kekayaannya.

Namun dalam hati, Arjuna menyimpan pandangan yang berbeda. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan hal-hal yang berbau klenik, indigo, atau kemampuan paranormal. Baginya, kebenaran hanya bisa dilihat dan dibuktikan dengan akal sehat.

“Aku lebih percaya pada apa yang terlihat secara nyata,” pikirnya. “Banyak hal di dunia ini yang belum bisa dilihat atau dipahami dengan ilmu pengetahuan, tapi bukan berarti harus percaya pada hal-hal gaib yang tidak memiliki bukti. Jadi buat apa bersusah payah melihat apa yang tidak terlihat, jika akhirnya justru membuat pikiran bingung dan lelah?”

Melihat Lesmana yang mulai terlihat pucat, Arjuna akhirnya menepuk bahu sahabatnya itu pelan. “Sudahlah, jangan dipaksakan. Kalau memang belum saatnya terlihat, biarkan saja. Terima kasih banyak atas bantuan dan usahamu hari ini.”

Lesmana mengangguk perlahan, lalu menjulurkan tangan untuk mengambil kujang emas di meja. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin, ia kembali merasakan getaran halus yang menjalar hingga ke siku.

“Kujang ini seolah bernyawa,” ucapnya sambil mengembalikan benda itu ke Arjuna. “Yang membuatku heran, energi yang dipancarkan terasa sangat aneh. Bukan energi yang menenangkan layaknya pusaka biasa, melainkan semacam beban berat yang menyelimuti, seolah menyimpan luka dan amarah yang terpendam sangat lama.”

Arjuna hanya tersenyum samar tanpa menunjukkan rasa percaya. Kujang yang bentuknya biasa saja dibilang bernyawa, gerutunya dalam hati. Kalau benar ia sakti, pasti lamaranku kepada Citrangada sudah diterima dengan senang hati, bukan ditunda-tunda.

Bagi Arjuna, kujang ini justru tidak memberikan keberuntungan apa-apa. Ia tidak bisa menolong dirinya keluar dari masalah hidup, malah kini jadi sumber kerisauan baru. Identitas pemiliknya yang gelap membuatnya seperti membawa bom waktu yang entah kapan akan meledak.

Arjuna jadi curiga, jangan-jangan Lesmana hanyalah cenayang yang pandai drama demi konten. Semua yang dikatakannya hanya trik semata, ilmunya kosong, ia hanya memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk terlihat hebat.

Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah bermodel unik itu, Ulupi mengemukakan usulnya. “Aku punya beberapa kenalan lagi. Barangkali mereka bisa membantu melacak jejak kujang itu.”

Arjuna melirik sekilas dengan wajah kurang antusias sambil menginjak gas mobil sedikit lebih dalam. “Mereka juga punya akun medsos dan podcast? Kalau iya, aku kira mereka lebih pandai berakting di depan kamera daripada memiliki kemampuan nyata. Ilmunya nol, tapi mulutnya sangat lantang.”

Ulupi tersenyum menanggapi itu. “Jangan negatif dulu. Aku percaya kalau kujang emas itu benar-benar memiliki kekuatan sakti, Lesmana saja tidak sanggup menembus pertahanannya, benda itu bukan barang biasa.”

“Yang jelas, kujang ini sudah menimbulkan masalah besar bagiku,” jawab Arjuna keki.

“Masalah apa maksudmu? Kamu kan tinggal menyimpannya dengan aman dan menunggu sampai pemiliknya datang mencari. Kenapa harus susah payah melacaknya sendiri? Seolah-olah kamu orang yang paling baik di dunia ini,” kata Ulupi dengan tatapan bingung.

Arjuna sengaja menyampaikan versi cerita yang berbeda kepada Ulupi agar wanita itu tidak mengetahui niat sesungguhnya. Sebenarnya, ia bukan hanya ingin mengembalikan barang temuan semata, juga ingin melacak jejak ayah kandungnya yang menghilang sebelum ia lahir.

“Jujur saja, kujang ini jadi beban pikiran karena harganya sangat fantastis di pasaran,” kilah Arjuna mencari alasan. “Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Sungguh di luar logika mengapa sebongkah logam yang dibentuk sedemikian rupa bisa memiliki harga setinggi itu.”

Namun di dalam hatinya, ada pertanyaan yang jauh lebih gelap dan mengerikan. Mereka tidak boleh tahu kalau kujang emas ini bukan sekadar pusaka, melainkan satu-satunya petunjuk yang tersisa tentang sosok ayahnya yang misterius. Ia sempat berpikir konyol, “Apakah kujang ini yang telah menghamili ibuku?”

Pikiran-pikiran aneh sempat bermunculan. Bagaimana kalau kujang ini sebenarnya adalah jelmaan siluman? Mungkin dulu ia datang menolong ibunya di saat terdesak, setelah tugasnya selesai, ia kembali ke wujud aslinya.

Arjuna belum pernah mendengar cerita tentang siluman yang berwujud kujang. Rasanya mustahil, namun kejadian demi kejadian membuatnya mulai ragu dengan logikanya sendiri.

Keraguan itu semakin menjadi kenyataan saat mereka mendatangi orang yang mengaku memiliki kelebihan batin.

“Tobaaat! Jauhkan benda ini dariku!” teriak seorang cenayang bertubuh gempal dengan kepala botak, sambil memegang dahinya yang berdarah karena tergores gagang kujang. Dengan wajah pucat pasi, ia segera melemparkan benda itu seolah menyentuh bara api. “Ia ingin mencelakai diriku!”

Padahal dari sudut pandang Arjuna, pria itu sendiri yang tidak hati-hati hingga gagang kujang menghantam kepalanya. Aneh sekali alasannya.

Mereka juga menemui seorang cenayang muda yang baru memegang kujang itu beberapa detik, tiba-tiba terhempas mundur seperti ditarik gaya magnet raksasa, lalu jatuh tergolek dan pingsan seketika.

“Jangan-jangan ini hanya drama agar terlihat hebat?” pikir Arjuna, namun melihat keringat yang membasahi seluruh tubuh pemuda itu terlalu nyata untuk sekedar akting.

Yang paling parah terjadi pada pertemuan terakhir:

“Bawa pergi segera kujang setan yang kau bawa itu! Kau ingin melihatku mati di sini?” hardik cenayang tua yang mengenakan jubah tebal.

Pada saat ia mengucapkan kata-kata itu, kujang yang sedari tadi ia genggam erat tiba-tiba terlepas, menjatuhkan tempat dupa yang ada di meja. Bara api yang membara langsung tumpah dan menyentuh ujung jubahnya, sehingga kain itu terbakar. Arjuna yang duduk di dekatnya terkena percikan api dan tangannya mengalami luka bakar ringan.

Merasa dirinya juga terkena dampak kecerobohan orang itu, Arjuna tidak bisa menahan emosinya. “Bapak saja kurang hati-hati! Jangan menyalahkan bendanya! Kalau hanya memegang kujang saja tidak becus, apa gunanya mengaku sebagai orang yang berilmu?”

Hampir saja terjadi pertengkaran hebat jika Ulupi tidak segera berdiri dan menarik lengan Arjuna untuk segera keluar dari ruangan itu.

Sepanjang perjalanan pulang, Arjuna masih merasa kesal mendengar kujang kesayangannya disebut benda terkutuk.

“Kalau pusaka yang nilainya ratusan miliar ini dibilang setan, lalu apa sebutan yang pantas untuk mereka yang meminta bayaran ratusan ribu tapi malah membuat keributan?” gerutunya jengkel.

“Bagaimana bisa kau punya kenalan orang-orang yang bertingkah seperti orang tidak waras begitu?” tanyanya pada Ulupi. “Kujang emas ini dibilang setan, terus mukanya yang garang dan menakutkan itu disebut apa?”

Ulupi hanya tertawa kecil melihat reaksi Arjuna.

“Kamu kelihatan lucu sekali kalau sedang marah begini,” ucapnya lembut.

Arjuna tertegun sejenak, merasa heran. Bagaimana bisa Ulupi menyebutnya lucu saat sedang marah? Padahal selama ini wanita lain, wanita yang tidak pernah merasakan keganasannya di ranjang, sering bilang ia adalah pria yang dingin, kaku, dan datang dari kutub utara yang tak pernah tersentuh matahari.

Terlalu lama ia menjauh dari masa lalunya, sampai-sampai ia lupa bagaimana cara menyalakan api cinta di hatinya. Bahkan Citrangada, sering mengeluh kedinginan berada di dekatnya karena sikapnya yang terlalu tertutup.

“Kamu juga lucu kalau berbicara seenaknya,” balas Arjuna. “Sudah kubilang, kau membawaku ke orang-orang yang pandai berakting.”

“Bukankah itu membuktikan satu hal?” ujar Ulupi tenang. “Mereka benar-benar tidak mampu mengendalikan energi yang dipancarkan kujang itu. Kalau ini hanya drama, tidak mungkin mereka sampai mengorbankan tubuh dan harga diri mereka. Sekarang terbukti, ilmu Lesmana jauh lebih tinggi dibandingkan mereka.”

“Jadi maksudmu, aku harus mengakui kekalahan dan percaya sepenuhnya pada kekuatan supranatural?”

“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak datang ke sini dengan niat buruk sebagai mantan. Seharian ini aku membantumu, belum pernah aku menghabiskan waktu sepanjang ini bersama calon suami orang lain,” jawab Ulupi sambil menatap lurus ke jalan raya.

Arjuna terdiam. Ia sadar bahwa hubungan mereka dulu berakhir karena kesalahannya sendiri. Rasanya tidak pantas untuk membuka kembali cerita yang sudah lama selesai. Baginya, tidak ada jilid kedua untuk kisah cinta yang sudah berlalu; hanya akan menjadi pengkhianatan terhadap pasangan mereka saat ini.

“Kenapa dalam setiap pertemuan kau selalu menyebut kata mantan?” tanya Arjuna dengan wajah serius. “Seolah ingin mengingatkan diriku pada masa lalu. Masa SMA memang masa yang paling indah, tapi terlalu berbahaya jika dihidupkan kembali, karena aku sulit menolak."

Percakapan mereka terhenti saat mobil melaju melewati sebuah hotel bintang lima yang megah di pinggir jalan.

“Berhenti sebentar!” seru Ulupi tiba-tiba.

Arjuna menginjak rem dengan kaget, lalu memandang Ulupi dan mengeluh. “Baper deh."

“Yang baper siapa? Lihatlah ke sana. Sepertinya aku mengenali mobil itu. Bukankah itu milik Wisnu?”

“Calon suamimu itu?” tanya Arjuna sambil mengatur posisi kendaraan agar bisa melihat jelas ke arah pelataran hotel.

Ulupi memandang ke pelatarah lobi dengan tak percaya, sedangkan Arjuna duduk membeku dengan tangan memegang kemudi. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

“Calon suamiku sedang check in sama siapa?” tanya Ulupi dengan suara nyaris tercekik.

Arjuna menjawab dengan datar menahan rasa sakit yang sempat mencuat, “Calon istriku.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 96. Kemesraan Terpanas

    Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 95. Percuma Keluar Keringat Bertarung

    Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 94. Jadi Raja Sungguh Enak

    Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 93. Kutunggu Janjimu

    "Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 92. Bermasalah Dengan Perempuan Cantik

    Dara Hiti melompat ke udara dan berguling beberapa kali lalu mendarat di dekat Arjuna. Dara Hiti bertanya untuk memastikan, "Kau serius?" Arjuna balik bertanya, "Bukankah kau sudah menyatakan bersedia jadi wanita penghibur? Alangkah baiknya ada pembuktian terlebih dahulu." Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru kalau ingin menguji diriku dengan melepas kegadisan ku. Siapa pikirmu yang sudi menolak permintaan ksatria tertampan di muka bumi?" Srikandi perang membentak Arjuna, "Siapa kau? Jangan meminta Dara Hiti untuk melakukan perbuatan yang dikecam para dewata! Empat Iblis Hitam bukan ditakdirkan untuk dirimu!" "Nah, aku menginginkan dirimu jadi budak nafsu sahabatku!" "Raja Langit pasti murka! Aku lebih-lebih!" Kong keluar dari arena pertarungan dengan jungkir balik di udara, lalu berdiri di hadapan Arjuna. Dengan bahasa isyarat Kong bertanya, apa maksud Arjuna meminta srikandi perang menjadi budak nafsu? Ia menolak memberi pertunjukan spektakuler secara gratis

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 91. Tidak Tahu Berterima Kasih

    Arjuna memuji kecerdikan Dara Hiti memancing emosi srikandi perang. Ia memanfaatkan dirinya untuk mengeksploitasi suasana. "Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi guifei," kata Arjuna pelan. "Kau kira segampang itu berdusta padaku." Arjuna sebenarnya menginginkan Empat Iblis Hitam jadi istri Kong. Barangkali kerelaan mereka jadi istri akan membebaskan dewa kelamin dari kutukan. Satu-satunya cara untuk membebaskan kutukan abadi dengan membuat murka pencipta kutukan itu, di mana terjadi perkawinan manusia dengan binatang. Dewi cinta pasti didesak untuk mencabut kutukannya. Kong bukan pembangkang Raja Langit, ia terjebak situasi akibat kelalaian istrinya. "Ironis sekali," keluh Arjuna. "Dewi cinta sibuk mengatur asmara di bumi tapi asmaranya sendiri ambyar." Kong berusaha keluar dari situasi rumit dengan cara biasa di bumi tapi luar biasa di langit. Ia mencoba memahami situasi lewat asmara dewi lain. Kong terlibat cinta segitiga dengan dewi kelamin, dan banyak berbuat sk

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 86. Mencari Keringat Cinta

    Empat Iblis Hitam siap menjalankan perintah Arjuna untuk membebaskan tawanan wanita di kastil selatan. Mereka juga bersedia memenuhi permintaan ksatria itu untuk jadi istri kingkong. "Barangkali sudah takdir kami," kata Dara Hiti. "Aku menganggap ucapanmu adalah lamaran bagi kami." Arjuna terkejut

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 84. Otaknya Sedikit Bergeser

    Arjuna berkelebat maju. Pedang mustika manik meliuk-liuk mengincar titik kelemahan Kalapati, tokoh sakti istana itu berusaha menangkis dengan celurit. Trang! Trang! Bunga api berhamburan dari bentrokan senjata, mewarnai siluet kebiruan dan kemerahan laksana kembang api. Kalapati terkejut merasaka

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 81. Sudah Ada Yang Mendahului

    Dara Hiti berkata, "Aku harus mempercayai teman seperjalanan. Maka itu aku bercerita kepadamu." Setelah bertemu dengan penghubung nanti, mereka akan melakukan perjalanan ke Jepara. Arjuna mencari pintu dimensi untuk pulang ke masa depan, Dara Hiti mencari rumah untuk tinggal sebagai warga J

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 1. Anak Cinta Satu Malam

    "Aku tidak tahu siapa bapakmu!" Dewi Priti sudah habis kesabaran menghadapi pertanyaan Arjuna sejak TK hingga sekarang sudah menjadi CEO. Arjuna hampir setiap hari bertanya sewaktu TK karena melihat teman-temannya diantar jemput ayahnya, sedangkan ia diantar jemput ibunya. Sekarang persoalan sema

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status