MasukArjuna membiarkan Ulupi merekam kejadian itu. Ia merasa tak perlu menangkap basah mereka. Bikin keributan di tempat umum bukan kebiasaannya. Selama ini ia selalu menjaga sikap, mengendalikan emosi, dan membiarkan bukti bicara dengan sendirinya.
Melihat Citrangada berdiri di lobi hotel berbintang itu bersama seorang pria yang tidak dikenalnya, jantungnya sempat berdegup kencang, namun ia segera menenangkan diri. Jika kejadian ini sebuah kesalahan, maka waktu akan membuka kebenaran tanpa perlu pertengkaran yang membuat malu kedua pihak. "Aku pulang naik taksi. Terima kasih ya." Ulupi turun di depan hotel. Arjuna pergi ke kantor. Menenangkan pikiran dalam kesendirian lebih baik baginya ketimbang menunggu mereka check out. Sepanjang perjalanan, matanya memandang lurus ke jalan raya, pikirannya melayang ke mana-mana. Ada rasa perih yang menyelinap di dada, tapi di sisi lain ada keyakinan bahwa Citrangada bukan perempuan yang mudah tergoda. Ia mengenal calon istrinya cukup lama, cukup untuk tahu bahwa harga dirinya jauh lebih tinggi daripada sekedar 'cinta sesaat' di sebuah hotel. Sesampainya di ruang kerja yang luas dan bergaya modern, Arjuna melonggarkan dasi dan duduk dengan lesu di kursi kulit yang empuk. Di atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati tua, ia mengeluarkan sebilah kujang emas yang disimpan dalam kotak kain beludru hitam. "Kujang ini seperti ada chemistry denganku," gumam Arjuna. "Aku merasa ada sesuatu yang sangat kuat setiap kali aku memandangnya." Pusaka kuno itu selalu dibawa ke mana ia pergi, ia berharap dapat bertemu dengan pemiliknya. Sejak menerima dari ibunya, benda itu telah menjadi pusat pikirannya; sebuah teka-teki yang belum juga menemukan jawaban. Bagaimana kujang bernilai ratusan miliar sampai tertinggal di kamar hotel? Apakah ayahnya seorang pejabat penting sehingga buru-buru pergi karena kuatir tertangkap tim OTT? Pikiran itu sering menghantui tidurnya. Ayahnya menghilang tanpa kabar, dan kujang ini jadi satu-satunya benang merah yang mungkin bisa membawanya pada jejak keberadaan sang ayah. "Ibu mendesak agar kujang ini dijual saja," keluh Arjuna. "Ia menganggapnya benda sial yang membawa keraguan dan kekhawatiran." Ada tawaran menggiurkan dari kolektor kelas kakap dari negeri jiran, ia bersedia membayar hingga tujuh ratus miliar rupiah; jumlah yang cukup untuk mengamankan masa depan keluarga selama beberapa generasi. Ibunya menginginkan Arjuna melupakan bapaknya dan mengakhiri pencarian sia-sia. Menurutnya, jika ayahnya masih hidup dan menginginkan pulang, ia pasti sudah kembali. Jika tidak, maka lebih baik membuka lembaran baru tanpa bayang-bayang masa lalu yang tak pasti. "Bagiku, kujang emas ini bukan sekedar harta tak ternilai," ucap Arjuna. "Aku ingin menjadikannya pengganti sosok ayah, sehingga perlu dipertahankan sampai akhir hayat. Aku merasa seolah-olah ayah berada di dekatku, seolah-olah harapan untuk bertemu belum sepenuhnya padam." Telepon internal di meja berbunyi. Ia menekan tuts penerima, lalu terdengar suara sekretaris lewat pengeras suara: "Maaf mengganggu, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu." "Hari ini tidak ada jadwal menerima tamu," jawab Arjuna datar, matanya masih terpaku pada ukiran rumit di gagang kujang. Ia sedang tidak mau diganggu. Pikirannya lagi kacau, terbagi antara rasa curiga terhadap apa yang dilihatnya siang tadi, dan desakan ibunya untuk menjual benda pusaka itu, serta persiapan acara lamaran yang tinggal menghitung hari. "Tamu itu bilang ada urusan penting dan mendesak, Pak. Apa diminta datang lain kali?" tanya sekretarisnya dengan ragu. Arjuna berpikir sejenak, lalu menghela napas panjang. "Ya sudah, antar ke ruanganku." Ia segera menyimpan kujang emas ke dalam kotak dan memasukkannya ke laci meja lalu dikunci. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan masuk seorang perempuan cantik jelita dengan dandanan sangat modis, berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri. "Bagaimana sekretarismu sampai tidak mengenali aku?" gerutu Citrangada sedikit kesal, matanya menatap Arjuna dengan tajam. "Aku merasa seperti tamu asing di kantor ini." Arjuna tersenyum samar, berusaha mencairkan suasana. "Siska baru dua hari di ruangan itu, pengganti sementara sekretarisku yang sedang cuti hamil. Kau kan bisa langsung masuk tanpa perlu dipanggil. Aku tidak mau diganggu untuk tamu biasa, bukan calon istri." "Aku tidak mau dibilang mentang-mentang," jawab Citrangada sambil duduk di kursi di hadapannya. "Lalu apa urusan penting dan mendesak itu?" tanya Arjuna langsung ke inti permasalahan. Ia menganggap peristiwa di lobi hotel berbintang itu bukan peristiwa penting dan mendesak, ia berniat meminta penjelasan saat makan malam nanti, tapi Citrangada lebih dahulu datang. Arjuna percaya mereka berada di hotel itu bukan untuk kepentingan syahwat. Terlalu murah harga kesetiaan Citrangada jika ia jatuh hati pada orang lain dalam waktu singkat. Ia mengira kedatangan calon istrinya untuk membahas lamaran yang tinggal beberapa hari lagi. Arjuna sendiri sebenarnya ingin mengusulkan penangguhan waktu, mengingat keadaan ayahnya yang belum ditemukan dan hatinya yang masih diliputi awan gelap. "Aku perlu menjelaskan mengenai kejadian siang tadi. Aku ada pertemuan dengan kolega, dan pria yang bersamaku adalah wakilku, Wisnu Pratama." Arjuna mengangkat alisnya. "Bagaimana Ulupi sampai tidak mengenali dirimu dan langsung merekam kejadian itu?" "Kamu juga tidak mengenali Wisnu," balas Citrangada tenang. "Ulupi tidak pernah bertemu denganku sebelumnya. Makanya ia melihat aku sebagai pelakor, lalu merekamnya begitu saja." "Lalu Ulupi mencak-mencak padamu?" tanya Arjuna penasaran, membayangkan bagaimana kekacauan yang terjadi saat itu. "Justru sebaliknya, Wisnu yang marah-marah pada Ulupi karena merasa direkam tanpa izin," jawab Citrangada. Arjuna semakin heran. "Kok bisa begitu? Apakah Wisnu merasa dipermalukan dengan rekaman itu?" "Wisnu curiga kalian berdua masih memiliki hubungan khusus. Aku baru tahu dari dia kalau Ulupi itu mantan terindah," ujar Citrangada, matanya menatap tajam sampai terasa menusuk hati. Namun Arjuna sudah biasa dicurigai perempuan, bukan hanya calon istri, sehingga ia tidak merasa tersinggung berlebihan. "Sedikit-sedikit dikaitkan dengan masa lalu," kata Arjuna santai. Ia sangat tertutup dengan cerita hidupnya yang telah lewat. Baginya, mengungkap mantan di depan calon istri hanya akan menciptakan suasana yang kurang nyaman. Ia merasa hal itu tidak adil, mengingat setiap kali Citrangada bercerita tentang masa lalunya, ia hanya mendengarkan tanpa banyak bertanya atau mencurigai. "Jadi Ulupi sengaja datang dan mengaku jalan bersamamu sepanjang pagi untuk membuktikan sesuatu?" tanya Citrangada. "Mungkin ia hanya berusaha jujur sama pasangannya sendiri," jawab Arjuna mengelak. "Dalam kasus ini, jujur dan bodoh kelihatannya samar." Ulupi seperti cari perkara dengan mengaku pergi bersama mantan. Barangkali maksudnya ingin memancing perasaan cemburu, atau justru ingin membangkitkan masa lalu. "Aku kira Ulupi bukan orang yang bodoh," bela Citrangada tenang. "Ia hanya tidak mengerti mengapa berkeliling kota berjam-jam hanya untuk mencari jejak sebuah benda tua bernama kujang emas." Arjuna tertawa kecil, namun tawanya terasa getir. "Berarti akulah yang sebenarnya bodoh. Sebab aku punya kesempatan untuk menjual kujang itu dengan harga terakhir tujuh ratus miliar rupiah, namun aku menolaknya." Citrangada memandang kaget, matanya terbelalak. "Kujang macam apa sampai bernilai setinggi itu? Seolah-olah bukan sekedar logam mulia biasa." Tanpa menjawab langsung, Arjuna membuka kembali laci meja, mengeluarkan kotak beludru, dan membukanya perlahan sehingga kujang emas terlihat jelas di bawah cahaya lampu ruangan. Citrangada seolah tidak tertarik pada keindahan atau nilai materinya. Ia hanya memandang sekilas, lalu menatap wajah Arjuna dengan pandangan yang lebih dalam. "Apa kujang ini sangat bermasalah bagimu sampai menyita seluruh waktu dan pikiran hanya untuk mencari tahu siapa pemiliknya?" tanyanya lembut. "Aku sekedar mengingatkan, kesempatan kamu tinggal empat hari lagi." "Jadi menurutmu, jika aku melewati batas waktu itu, aku tidak ada kesempatan lagi?" tanya Arjuna dengan suara yang berat. "Papiku merasa dipermainkan kalau kau mengulur-ulur waktu terus tanpa alasan yang jelas," jawab Citrangada jujur. Ia tahu ayahnya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi janji dan kesepakatan. "Aku tidak mengulur-ulur waktu," bantah Arjuna. "Hanya saja ada hal yang belum selesai kutangani." "Kenapa ayahmu belum pulang juga dari luar negeri sampai sekarang?" tanya Citrangada dengan tatapan menyelidik. Kehadiran ayah Arjuna adalah syarat tak tertulis dalam perjanjian dua keluarga. Arjuna terdiam sejenak. Ia merasa perlu menyampaikan sebuah kebohongan yang mungkin akan mempertaruhkan cintanya sendiri. "Ayahku sebenarnya tidak setuju dengan pilihanku. Ia merasa belum mengenal keluargamu cukup baik, jadi ia memilih tetap tinggal di luar negeri dan tidak bisa hadir untuk saat ini." Berita itu sangat menampar hati Citrangada. Ia terdiam, mencoba mencerna makna kalimat itu. Sulit mengerti ada orang tua yang secara terang-terangan menolak mengangkatnya sebagai menantu. Padahal ia memiliki latar belakang yang baik, pendidikan tinggi, dan usaha yang terus berkembang; memenuhi semua kriteria dalam standar masyarakat. "Aku sedang berusaha melobinya dengan segala cara," kata Arjuna pelan, matanya menatap lekat ke dalam mata perempuan itu. "Sebab aku sudah terlanjur sayang padamu, aku tidak ingin melepaskan apa yang sudah kita bangun selama ini." Ada kesejukan yang menerpa hati Citrangada yang sempat gersang dan kecewa. Arjuna sangat pandai menemukan kata-kata yang tepat untuk menghibur dirinya. Ia mengangguk perlahan, mencoba memahami posisi pria itu. "Apakah ada calon lain yang ditawarkan ayahmu untuk menggantikan aku?" tanyanya kemudian, suaranya sedikit bergetar menahan rasa cemas. Arjuna menghela napas, lalu menjawab asal saja, "Ada. Namanya Rara Ireng, pengusaha properti dan perhiasan dari negeri jiran." Citrangada terkejut, seolah tak menyangka bahwa sosok yang dianggap bisa menggeser posisinya adalah perempuan itu. Wajahnya berubah sedikit pucat, namun ia segera menguasai diri. "Kau kenal dia?" tanya Arjuna melihat reaksinya yang tidak wajar itu. Citrangada mengangguk perlahan, pandangannya menerawang ke luar jendela kaca memandang ke arah kota yang sibuk. "Aku baru saja mengadakan pertemuan bisnis dengannya siang tadi, yang kau lihat itu. Malam ini, dijadwalkan untuk menandatangani perjanjian kerja sama."Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...
Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan
Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu
"Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti
Dara Hiti melompat ke udara dan berguling beberapa kali lalu mendarat di dekat Arjuna. Dara Hiti bertanya untuk memastikan, "Kau serius?" Arjuna balik bertanya, "Bukankah kau sudah menyatakan bersedia jadi wanita penghibur? Alangkah baiknya ada pembuktian terlebih dahulu." Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru kalau ingin menguji diriku dengan melepas kegadisan ku. Siapa pikirmu yang sudi menolak permintaan ksatria tertampan di muka bumi?" Srikandi perang membentak Arjuna, "Siapa kau? Jangan meminta Dara Hiti untuk melakukan perbuatan yang dikecam para dewata! Empat Iblis Hitam bukan ditakdirkan untuk dirimu!" "Nah, aku menginginkan dirimu jadi budak nafsu sahabatku!" "Raja Langit pasti murka! Aku lebih-lebih!" Kong keluar dari arena pertarungan dengan jungkir balik di udara, lalu berdiri di hadapan Arjuna. Dengan bahasa isyarat Kong bertanya, apa maksud Arjuna meminta srikandi perang menjadi budak nafsu? Ia menolak memberi pertunjukan spektakuler secara gratis
Arjuna memuji kecerdikan Dara Hiti memancing emosi srikandi perang. Ia memanfaatkan dirinya untuk mengeksploitasi suasana. "Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi guifei," kata Arjuna pelan. "Kau kira segampang itu berdusta padaku." Arjuna sebenarnya menginginkan Empat Iblis Hitam jadi istri Kong. Barangkali kerelaan mereka jadi istri akan membebaskan dewa kelamin dari kutukan. Satu-satunya cara untuk membebaskan kutukan abadi dengan membuat murka pencipta kutukan itu, di mana terjadi perkawinan manusia dengan binatang. Dewi cinta pasti didesak untuk mencabut kutukannya. Kong bukan pembangkang Raja Langit, ia terjebak situasi akibat kelalaian istrinya. "Ironis sekali," keluh Arjuna. "Dewi cinta sibuk mengatur asmara di bumi tapi asmaranya sendiri ambyar." Kong berusaha keluar dari situasi rumit dengan cara biasa di bumi tapi luar biasa di langit. Ia mencoba memahami situasi lewat asmara dewi lain. Kong terlibat cinta segitiga dengan dewi kelamin, dan banyak berbuat sk
"Celaka!" Arjuna terduduk lemas di kursinya. Matanya memandang kosong kepada Citrangada yang pergi ke toilet. Nasib baik seolah tak berpihak padanya. Padahal ia menyebutkan nama yang sekiranya tidak dikenal, ternyata jadi rekan bisnis Citrangada. "Kenapa aku bilang Rara Ireng pilihan ayahku?" Ra
Lesmana membuka mata dengan wajah berkeringat, kelihatan berat sekali untuk mencari tahu siapa pemilik kujang emas. "Tertutup cahaya putih." Lesmana sudah menyerah dari tadi kalau bukan permintaan sahabat lamanya. "Sulit sekali menembus cahaya itu." Arjuna merasa kasihan melihat kondisi Lesm
Arjuna bingung. Ibunya sudah mencari ke seluruh kota di negeri ini, bahkan sampai jauh ke pelosok, ayahnya tidak ditemukan. Orang-orang kepercayaan ibunya sampai sekarang belum berhenti mencari pria eksekutif itu dengan modal sketsa wajahnya. Dalam bingungnya, Arjuna pergi menemui arkeolog terken
"Aku tidak tahu siapa bapakmu!" Dewi Priti sudah habis kesabaran menghadapi pertanyaan Arjuna sejak TK hingga sekarang sudah menjadi CEO. Arjuna hampir setiap hari bertanya sewaktu TK karena melihat teman-temannya diantar jemput ayahnya, sedangkan ia diantar jemput ibunya. Sekarang persoalan sema







