MasukKeheningan mewarnai ruang kerja Arjuna, hanya terdengar bunyi detak jam dinding yang tergantung di dinding berpanel kayu. Di balik meja kerja yang luas dan rapi, Arjuna tampak memegang gagang telepon internal dengan jari yang sedikit menegang. Ia sedang mengadakan percakapan dengan sekretarisnya.
“Ada orang masuk saat aku pergi ke basement?” tanya Arjuna, suaranya menyembunyikan rasa was-was yang mulai merayap. “Tidak ada, Pak. Sejak Bapak keluar sampai sekarang, tidak ada satu orang pun yang melewati depan ruangan ini,” jawab sekretaris dari seberang saluran, terdengar yakin. Arjuna meletakkan gagang telepon, lalu menatap laci meja besar di sebelah kanannya. Ia menghela napas panjang, diikuti rasa sesal yang menyelimuti hatinya. "Seharusnya kujang emas aku simpan di brankas saja," gumamnya. "Tapi di laci ini juga seharusnya aman." Barang itu sudah disimpan rapi di laci rahasia dengan kunci yang hanya ia pegang sendiri, dan kini lenyap tanpa bekas. Ia memeriksa kembali bagian depan dan samping laci, tidak ada goresan, tidak ada tanda paksa, tidak ada satu pun kerusakan yang terlihat. Seolah-olah laci dibuka dengan cara yang paling rapi dan dikunci lagi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Segera ia membuka akses ke sistem pemantauan gedung melalui layar laptop. Jari-jarinya bergerak cepat memutar rekaman kamera pengawas yang dipasang di koridor, pintu masuk ruangan, bahkan lorong sebelah. Ia menontonnya berulang kali, memperlambat laju gambarnya, memeriksa setiap detik sejak ia meninggalkan ruangan menuju basement hingga ia kembali. Tidak ada satu sosok manusia pun yang terlihat masuk atau keluar dari ruang kerjanya. “Sungguh aneh,” gumam Arjuna, matanya masih terpaku pada layar yang kini kembali ke tampilan langsung. “Apa mungkin ada pencuri masuk lewat kaca gedung ini?” Beberapa hari terakhir, ada pekerja dengan tali pengaman di sisi luar gedung, melakukan perbaikan dan penggantian sealant pada bingkai kaca. Kaca-kaca itu tebal dan tertutup rapat. Bagaimana mungkin seseorang bisa membongkarnya, masuk ke dalam ruangan, mengambil barang, lalu memasang kembali kaca itu dengan rapi hingga tidak ada bedanya dengan kondisi semula. "Mereka mungkin pencuri profesional," pikir Arjuna. "Orang-orang yang sudah terlatih melakukan hal semacam ini, bisa membongkar dan memasang kembali kaca hanya dalam hitungan menit, tanpa meninggalkan bekas yang terlihat." Pikirannya terhenti saat gawai di meja berdering. Nama ibunya tertera di layar. Arjuna mengangkatnya dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya. “Kok lama sekali di ruang kerjamu? Sudah hampir sore, kamu belum datang juga,” suara ibunya terdengar lembut namun menyimpan rasa ingin tahu. Arjuna terdiam sejenak sebelum menjawab lirih, “Kujangnya hilang, Bu.” “Apa?” Teriakan kaget ibunya terdengar jelas dari seberang sambungan, cukup keras hingga membuat Arjuna menjauhkan alat komunikasi itu sedikit dari telinganya. “Bagaimana bisa sampai hilang?” “Sewaktu aku mengantar Citrangada ke basement parkir tadi, kujang itu aku simpan di laci rahasia lalu dikunci. Sekarang aku buka kembali, sudah tidak ada lagi di tempatnya,” jelas Arjuna dengan suara tertekan. Keberadaan kujang emas sudah membuatnya merasa terbebani sejak hari ia menerimanya. Ia tidak akan sepanik ini jika barang itu hilang setelah urusan selesai, kujang itu menjadi kunci dari sebuah rahasia besar yang selama ini membayangi hidupnya. Bagi Arjuna, kujang emas bukan sekedar benda pusaka yang bernilai ratusan miliar. Kujang itu satu-satunya bukti yang tersisa untuk mengetahui siapa ayah kandungnya. Jika bukti itu lenyap, maka kesempatan untuk mengungkap kebenaran itu pun tertutup. Rasa curiga merayap masuk ke dalam benaknya. Apakah ibunya dan Datuk Cakil sudah membuat kesepakatan secara diam-diam? Mungkin mereka sepakat untuk mengubur dalam-dalam kisah cinta satu malam yang menyebabkan dirinya lahir ke dunia, dengan ganti rugi tujuh ratus miliar. Dan kujang emas jadi alat tukar dari kesepakatan itu. Jika benar demikian, maka hilangnya benda itu bukan lagi sekedar kasus pencurian biasa, tapi bagian dari rencana untuk memastikan rahasia masa lalu tidak pernah terungkap ke permukaan. Dengan perasaan yang makin bingung, Arjuna kembali mengangkat telepon internal dan memanggil sekretarisnya. “Tolong tanyakan pada kepala bagian keamanan, apakah ada jadwal layanan pembersihan hari ini, terutama untuk ruang kerjaku.” “Baik, Pak. Tapi saya rasa tidak ada, karena pintu ruangan Bapak berada tepat di depan meja saya, jadi saya pasti tahu jika ada orang yang masuk atau keluar,” jawab sekretaris dengan yakin. “Nyatanya barang berharga di dalam ruanganku hilang,” kata Arjuna kesal, lalu menutup sambungan. Ia berdiri dan melangkah ke dinding kaca. Matanya mengamati lima orang pekerja yang masih tergantung di tali pengaman, sibuk menggosok dan meratakan lapisan perekat pada bingkai kaca. Mereka terlihat biasa saja, mengenakan seragam kerja yang sama, berkonsentrasi penuh pada tugasnya. Tidak ada satu pun yang terlihat mencurigakan. "Mereka pasti sangat ahli jika benar pelakunya," gumam Arjuna. "Namun benda seberat kujang emas tidak mungkin disembunyikan di tubuh mereka. Pasti ada orang lain yang sudah menunggu di bawah untuk segera mengamankannya." Pintu ruangan terbuka. Dewi Priti masuk bersama Datuk Cakil dan pengacaranya. “Aku yakin pasti ada maling yang masuk ke ruang kerjamu,” kata Dewi Priti setelah duduk di kursi tamu. “Padahal keamanan di lantai direksi ini sudah diatur sangat ketat. Ada petugas jaga di pintu lift dan di tangga darurat selama dua puluh empat jam, jadi mustahil ada orang asing yang lewat tanpa diperiksa.” “Aku sudah memeriksa rekaman kamera pengawas berkali-kali, tidak ada satu orang pun yang masuk ke ruangan ini sejak aku keluar tadi,” jawab Arjuna bingung. “Tapi faktanya kujang emas sudah tidak ada lagi di laci.” “Siapa saja yang memegang kunci cadangan untuk laci mejamu?” tanya Dewi Priti. “Tidak ada, selain kepala bagian keamanan, dan kuncinya dikeluarkan untuk keperluan darurat saja,” jawab Arjuna. “Kau sudah memanggil kepala keamanan untuk memeriksa keadaan ini?” “Sekretarisku sedang menghubunginya. Jujur saja, aku tidak mencurigai pegawai sendiri. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keberadaan kujang itu,” jelas Arjuna. Datuk Cakil yang sejak tadi hanya mendengarkan, kini membuka suaranya. “Bagaimana dengan pekerja yang sedang memperbaiki kaca di luar? Apakah ada kemungkinan mereka mengetahui sesuatu?” “Mereka pasti sering melihat ke dalam karena bekerja di depan ruangan ini. Tapi apakah mereka memiliki keahlian sedemikian rupa hingga bisa masuk, mengambil barang, lalu keluar lagi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?” “Boleh aku tahu, di laci mana tepatnya anda menyimpan kujang emas?” Arjuna merasa permintaan itu agak kurang pantas, mereka baru bertemu hari ini. Namun mengingat situasi yang sedang runyam, ia mengizinkan. “Di laci paling bawah sebelah kanan.” “Sejak kapan anda rutin menaruh kujang itu di tempat yang sama?” “Setiap kali masuk ke kantor, kujang itu langsung aku simpan di laci rahasia dan aku kunci. Baru dikeluarkan jika ada keperluan khusus." “Sudah berapa lama pekerjaan perbaikan kaca ini berlangsung?” “Sekitar seminggu ini.” “Waktu seminggu cukup untuk mengamati kebiasaan orang, mempelajari situasi ruangan, dan mencari kesempatan sekecil apa pun,” katanya pelan. “Jadi anda mencurigai para pekerja kontraktor itu?” tanya Arjuna. “Saya hanya mengatakan jangan terlalu percaya pada apa yang terlihat. Anda sangat percaya pada pegawai, percaya pada kunci, percaya pada kamera pengawas. Lalu apakah anda pikir kujang emas bisa berjalan sendiri dan pergi berbelanja ke mal?” ujar Datuk Cakil sedikit menyindir. Arjuna tersenyum samar, mencoba meredakan ketegangan. “Selera humor orang Penang ternyata lumayan juga.” “Saya harus segera berangkat ke bandara untuk urusan bisnis lain. Jika nanti kujang emas ditemukan, kabari saya. Sebaiknya anda hubungi pihak kepolisian agar ditangani secara resmi,” saran Datuk Cakil sebelum pamit pergi. Arjuna mendesah pelan. Sebisa mungkin, ia justru ingin menghindari urusan dengan kepolisian. Mereka pasti akan menyelidiki asal-usul benda itu secara tuntas. Jika ia dan ibunya memberikan keterangan palsu, mereka bisa terjerat hukum. Namun jika jujur, maka seluruh dunia akan mengetahui kisah masa lalu yang selama ini ditutup rapat, dan ia harus menerima kenyataan bahwa ia lahir dari sebuah pertemuan yang tidak direncanakan. Telepon internal berdering. Suara sekretaris terdengar dari seberang. “Pak, kepala keamanan memastikan bahwa hari ini tidak ada jadwal pembersihan untuk lantai ini, dan kunci cadangan tersimpan rapi di dalam brankas ruang pengawasan, tidak ada yang menyentuhnya.” “Terima kasih atas informasinya. Tolong jangan sebarkan kejadian ini. Anggap saja tidak terjadi apa-apa,” perintah Arjuna, lalu meletakkan gagang telepon. Ia ingin segera menutup kasus ini. Hilangnya kujang emas seperti melepaskan beban berat dari pikirannya. Ia tidak perlu lagi bersusah payah membuktikan kebenaran, sekedar perlu membawa 'ayah pura-pura' menghadap orang tua Citrangada. Ia sudah memerintahkan manajer rumah untuk mempelajari peran sebagai ayah kandung — sebuah akting yang sangat sulit karena Lukas adalah bujang lapuk. “Bagaimana bisa kau bilang tidak terjadi apa-apa, padahal barang senilai tujuh ratus miliar hilang begitu saja?” protes Dewi Priti yang masih duduk di hadapannya, matanya menatap tajam. “Uang sebanyak itu bisa kau gunakan untuk memperluas jaringan bisnismu, membuka cabang baru, atau memperkuat perusahaan.” “Uang sebanyak itu justru aku gunakan untuk menutupi masa lalu Ibu,” sahut Arjuna datar. “Uang bukan segalanya sehingga pantas mengorbankan nama baik keluarga. Aku hanya butuh kejelasan siapa diriku sebenarnya, jika itu tidak bisa didapatkan tanpa merusak nama baik, maka biarkan saja semuanya seperti ini.” Ia berdiri sambil mengusap wajahnya yang terasa kaku. “Aku sangat lelah. Aku pulang duluan. Aku ingin berendam untuk menenangkan pikiran.” Arjuna memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas kerja, berniat membacanya di rumah karena banyak pekerjaan yang tertunda. Sebelum keluar, ia teringat ada sebuah catatan kecil yang biasa ia simpan di laci paling bawah untuk mengingat jadwal pertemuan besok. Ia melangkah kembali ke meja, memasukkan kunci ke lubang laci, lalu memutarnya perlahan. Saat tutup laci terbuka, mata Arjuna terbelalak lebar. Tangannya yang hendak meraih kertas catatan tergantung di udara. Tampak kujang emas tergeletak di atas tumpukan kertas! Arjuna tidak tahu apakah ia harus merasa lega karena barang itu kembali, atau justru merasa takut karena tidak bisa menjelaskan bagaimana kujang emas bisa kembali ke laci secara sendirinya.Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...
Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan
Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu
"Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti
Dara Hiti melompat ke udara dan berguling beberapa kali lalu mendarat di dekat Arjuna. Dara Hiti bertanya untuk memastikan, "Kau serius?" Arjuna balik bertanya, "Bukankah kau sudah menyatakan bersedia jadi wanita penghibur? Alangkah baiknya ada pembuktian terlebih dahulu." Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru kalau ingin menguji diriku dengan melepas kegadisan ku. Siapa pikirmu yang sudi menolak permintaan ksatria tertampan di muka bumi?" Srikandi perang membentak Arjuna, "Siapa kau? Jangan meminta Dara Hiti untuk melakukan perbuatan yang dikecam para dewata! Empat Iblis Hitam bukan ditakdirkan untuk dirimu!" "Nah, aku menginginkan dirimu jadi budak nafsu sahabatku!" "Raja Langit pasti murka! Aku lebih-lebih!" Kong keluar dari arena pertarungan dengan jungkir balik di udara, lalu berdiri di hadapan Arjuna. Dengan bahasa isyarat Kong bertanya, apa maksud Arjuna meminta srikandi perang menjadi budak nafsu? Ia menolak memberi pertunjukan spektakuler secara gratis
Arjuna memuji kecerdikan Dara Hiti memancing emosi srikandi perang. Ia memanfaatkan dirinya untuk mengeksploitasi suasana. "Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi guifei," kata Arjuna pelan. "Kau kira segampang itu berdusta padaku." Arjuna sebenarnya menginginkan Empat Iblis Hitam jadi istri Kong. Barangkali kerelaan mereka jadi istri akan membebaskan dewa kelamin dari kutukan. Satu-satunya cara untuk membebaskan kutukan abadi dengan membuat murka pencipta kutukan itu, di mana terjadi perkawinan manusia dengan binatang. Dewi cinta pasti didesak untuk mencabut kutukannya. Kong bukan pembangkang Raja Langit, ia terjebak situasi akibat kelalaian istrinya. "Ironis sekali," keluh Arjuna. "Dewi cinta sibuk mengatur asmara di bumi tapi asmaranya sendiri ambyar." Kong berusaha keluar dari situasi rumit dengan cara biasa di bumi tapi luar biasa di langit. Ia mencoba memahami situasi lewat asmara dewi lain. Kong terlibat cinta segitiga dengan dewi kelamin, dan banyak berbuat sk
Empat Iblis Hitam siap menjalankan perintah Arjuna untuk membebaskan tawanan wanita di kastil selatan. Mereka juga bersedia memenuhi permintaan ksatria itu untuk jadi istri kingkong. "Barangkali sudah takdir kami," kata Dara Hiti. "Aku menganggap ucapanmu adalah lamaran bagi kami." Arjuna terkejut
Arjuna berkelebat maju. Pedang mustika manik meliuk-liuk mengincar titik kelemahan Kalapati, tokoh sakti istana itu berusaha menangkis dengan celurit. Trang! Trang! Bunga api berhamburan dari bentrokan senjata, mewarnai siluet kebiruan dan kemerahan laksana kembang api. Kalapati terkejut merasaka
Dara Hiti berkata, "Aku harus mempercayai teman seperjalanan. Maka itu aku bercerita kepadamu." Setelah bertemu dengan penghubung nanti, mereka akan melakukan perjalanan ke Jepara. Arjuna mencari pintu dimensi untuk pulang ke masa depan, Dara Hiti mencari rumah untuk tinggal sebagai warga J
"Aku tidak tahu siapa bapakmu!" Dewi Priti sudah habis kesabaran menghadapi pertanyaan Arjuna sejak TK hingga sekarang sudah menjadi CEO. Arjuna hampir setiap hari bertanya sewaktu TK karena melihat teman-temannya diantar jemput ayahnya, sedangkan ia diantar jemput ibunya. Sekarang persoalan sema







