Home / Romansa / Mengejar Cinta Puteri Bangsawan / Bab 7. Memiliki Kesaktian yang Luar Biasa

Share

Bab 7. Memiliki Kesaktian yang Luar Biasa

Author: Enday Hidayat
last update Petsa ng paglalathala: 2024-05-26 17:31:15

Arjuna masih teringat jelas peristiwa mengerikan beberapa hari silam. Sosok cenayang dengan wajah penuh percaya diri, menyatakan dirinya mampu menguasai segala benda bertuah, akhirnya terbaring lemah di rumah sakit dengan luka bakar hampir separuh tubuhnya.

Jubah yang ia pakai terbakar begitu saja, seolah disambar api yang tak terlihat oleh mata telanjang. Semua itu terjadi saat tangannya hendak menyentuh permukaan kilauan kujang emas yang kini menjadi sumber segala keanehan dalam hidup Arjuna.

Meskipun dalam hati kecilnya Arjuna merasa kejadian itu murni kesalahan cenayang itu sendiri, ia tetap merasa bersalah, mendorongnya untuk menanggung seluruh biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit, sebagai tanda permintaan maaf yang tulus sekaligus upaya meredakan rasa bersalah yang mengganggu pikirannya.

"Datang dan pergi seenaknya saja, tak tahu aturan dan tak kenal waktu," gumam Arjuna pelan, suaranya terdengar berat dan penuh kekesalan.

Dewi Priti yang sudah berjalan hendak meninggalkan ruang kerjanya tertegun mendengar putranya berbicara sendiri. Ia menoleh heran, lalu bertanya dengan nada menyelidik, "Ada apa, Nak? Kenapa bicara sendirian?"

Arjuna menghela napas panjang seolah membuang beban yang menghimpit dadanya. Ia perlahan membuka laci meja kerja, dan tampak tergeletak benda yang membuat hidupnya tak lagi tenang—sebilah kujang emas yang memancarkan cahaya lembut dan terasa dingin saat dipandang.

Dewi Priti melotot tak percaya, matanya tak lepas dari benda itu. "Tadi Ibu lihat laci itu kosong, bahkan sudah diperiksa berkali-kali. Bagaimana bisa sekarang ada di situ?"

Arjuna menoleh ke arah ibunya dengan tatapan bingung dan lelah. "Ibu bertanya sama siapa? Aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi."

Kebingungan semakin menguat di matanya. Ia baru saja memastikan kujang itu tak ada beberapa jam yang lalu, namun sekarang muncul kembali seolah tak pernah berpindah tempat. Tanpa banyak bicara lagi, Arjuna mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya, menguncinya rapat-rapat seolah itu bisa menghentikan segala keanehan yang menyertainya.

Dewi Priti segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilan tersambung, ia berkata dengan nada yakin, "Mumpung belum jauh, kujang itu lebih baik segera berpindah tangan."

Datuk Cakil, lelaki paruh baya yang dikenal banyak orang hobi mengoleksi benda-benda bertuah, baru saja meninggalkan ruangan itu beberapa menit yang lalu dan kemungkinan besar masih berada di area parkir bawah tanah.

Arjuna geleng kepala, merasa kesal melihat perilaku ibunya itu. "Pikiran Ibu terlalu sederhana. Mestinya Ibu sudah paham, kujang emas tak mau berpindah tangan sembarangan. Ia pasti akan menghilang lagi begitu Datuk Cakil melangkah masuk ke ruangan ini."

Tanpa menunggu jawaban, Arjuna berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju pintu utama. "Aku pulang duluan. Otakku sudah mumet banget memikirkan segala keanehan yang dibawa kujang ini, rasanya benar-benar membuat stres."

Saat memasuki lift menuju lantai dasar, Arjuna mulai membuka pikirannya lebar-lebar. Kini ia tak lagi meragukan omongan Lesmana. Benar kata sahabatnya itu, kujang emas memiliki kesaktian yang luar biasa, namun juga memiliki sifat yang bikin jengkel dan sulit ditebak keinginannya.

Semakin ia memikirkannya, semakin kuat kecurigaan yang tumbuh di hatinya. Ia mulai menduga bahwa kujang emas bukan sekedar benda mati.

"Bisa saja kujang ini yang menggagahi ibuku," keluh Arjuna lemas. "Lalu bagaimana ia bertanggung jawab?"

Arjuna teringat kejadian beberapa puluh tahun lalu, saat ibunya terkena pengaruh obat penenang yang terlalu kuat dan nyaris tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja sosok pria gagah dan sangat tampan muncul begitu saja, melakukan sesuatu hingga pengaruh obat itu hilang seketika, lalu dalam sekejap mata berubah kembali menjadi kujang emas.

"Seharusnya ia tak perlu kembali jadi kujang begitu saja!" Arjuna menggerutu dalam hati. "Kalau benar memiliki kesaktian, seharusnya ia bertanggung jawab dan menjelaskan maksudnya. Jangan sampai aku membawanya ke tempat peleburan, kalau ia lari dari tanggung jawab."

Untuk mencari jawaban dan meyakinkan dirinya, Arjuna mampir ke rumah Lesmana.

Begitu mendengar ceritanya, Lesmana hanya tersenyum samar lalu berkata dengan tenang, "Bukan hal yang aneh jika kecurigaanmu itu benar-benar terjadi. Senjata bertuah memiliki kehendak sendiri; ia bisa berubah menjadi apa saja dan siapa saja sesuai kebutuhan atau tujuannya."

Arjuna mencoba menguji seberapa jauh kemampuan sahabatnya itu. Ia mengarang cerita lain, mengatakan bahwa kujang emas sempat berubah wujud menjadi ketua geng kartel yang sangat disegani saat sekelompok preman berusaha mengganggunya. Ia menyampaikannya seolah itu adalah fakta, sekedar menjadi alibi untuk memperkuat dugaan yang ada di kepalanya.

"Logikamu masih terlalu terikat pada akal sehat biasa untuk bisa melihat fenomena seperti itu," ujar Lesmana tenang. "Dulu saat kita masih duduk di bangku SMA, kau sampai mengejek dan mem-bully aku saat aku bercerita tentang benda kuno yang sempat menghilang selama berhari-hari karena hendak dilelang. Saat itu aku sudah bisa merasakan keberadaannya hanya dengan menggunakan indera keenamku, tapi kau tak percaya sedikit pun."

Arjuna tertegun. Ia heran mengapa Lesmana tidak menangkap kebohongan yang baru saja ia sampaikan. Padahal menurut cerita yang didengarnya dari Ulupi, cenayang itu mampu membaca hati dan pikiran seseorang, bahkan bisa memaksa orang untuk berbicara jujur tanpa bisa berbohong.

Satu kesimpulan muncul di benak Arjuna: Bisa jadi kujang emas sedang melindungiku, sehingga diriku tak bisa diterawang atau dibaca pikirannya oleh siapa pun, termasuk orang yang dianggap sakti seperti Lesmana sekalipun.

Untuk mengalihkan pembicaraan dan mencari informasi lain, Arjuna bertanya, "Siapa saja teman kita yang sering datang ke tempatmu untuk berkonsultasi?"

Lesmana menjawab santai, "Hampir semuanya. Kau adalah orang yang paling jarang datang dan klien yang terakhir."

"Rara Ireng juga sering datang?" tanya Arjuna lagi, rasa penasarannya meledak menyebut nama wanita itu.

"Ia selalu mampir setiap kali kembali ke tanah air. Sekarang ia dalam perjalanan ke sini bersama Citra. Mereka ingin membahas dan melihat prospek kerja sama bisnis yang sedang direncanakan," jawab Lesmana.

"Jadi hampir semua teman kita datang ke sini untuk berkonsultasi soal urusan bisnis?"

"Begitulah. Aku hanya berusaha membantu mereka melihat apa yang mungkin tak terpikirkan oleh akal sehat biasa, supaya langkah mereka ke depan menjadi lebih lancar dan terhindar dari kesalahan fatal," jelas Lesmana.

Hampir semua teman sepergaulan mereka kini menjadi orang sukses, baik yang terjun ke dunia politik maupun yang berkecimpung di dunia usaha. Banyak yang mengakui bahwa nasihat Lesmana menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka.

"Sebaiknya kau beralih profesi saja menjadi konsultan bisnis. Jadi cenayang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat," saran Arjuna.

Lesmana tersenyum mendengarnya. "Sejak remaja aku sudah menyukai hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib dan supranatural. Aku memperdalam kemampuan ini bukan karena ingin dipuji atau karena memikirkan pendapat orang lain, tapi semata-mata karena aku menyukainya dan menganggap itu jalan yang ditakdirkan untukku."

Arjuna merasa sudah waktunya untuk berpamitan. Rara Ireng sebentar lagi akan tiba, dan mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Jika bertemu, bisa dipastikan suasana akan memanas dan berujung pada pertengkaran seperti biasa. Namun sebelum pergi, ada satu pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.

"Apakah Rara Ireng pernah memintamu untuk menyantet atau mencelakai diriku?"

Lesmana menatapnya dalam-dalam lalu mengangguk pelan. "Ia pernah memintaku untuk membuatmu tergila-gila padanya, sampai kau tak bisa berpikir jernih, agar nanti ia bisa membuatmu gagal move on selama-lamanya sebagai balasan atas perlakuanmu dulu."

Jantung Arjuna berdegup kencang. Ia jadi merasa khawatir dengan rencana kerja sama yang akan dibahas itu. Bagaimana jadinya jika Rara Ireng tahu bahwa Citrangada yang menjadi mitranya itu adalah calon istrinya?

"Tapi tenang saja," lanjut Lesmana cepat, "aku tak pernah mau membantu urusan yang bertujuan merusak hidup orang lain. Permintaannya itu tak pernah aku kabulkan."

Wanita secantik dan secerdas Rara Ireng sebenarnya tak butuh bantuan siapa pun untuk menghancurkan dirinya. Ia cukup melelang senyum, mengibarkan bendera perdamaian, dan mempersembahkan sepotong cinta palsu, lalu melemparkannya ke tong sampah ketika ia sudah terlanjur sayang.

Arjuna sangat mengetahui dirinya sendiri, ia sulit menolak pesona Rara Ireng. Kecantikannya begitu sempurna, cerdas, dan percaya diri tinggi. Berbeda dengan Citrangada—calon istrinya yang dikenal sebagai wanita tercantik di kalangan atas, namun memiliki sifat yang sederhana dan gampang dibodohi.

Mungkin karena sifatnya yang apa adanya dan tak berniat licik itulah, Arjuna bersikukuh memilih Citrangada sebagai pasangan hidupnya. Bersamanya, ia merasakan kebebasan sejati dalam ikatan cinta, tanpa harus selalu waspada atau menduga-duga maksud tersembunyi di balik setiap ucapan.

"Rara Ireng sakit hati sekali saat kau menyebutnya 'cewek kloning' dulu," kata Lesmana memecah keheningan. "Ia sampai bersumpah akan mengunci namamu selamanya di dalam hatinya, bukan karena cinta, tapi agar ia tak pernah lupa pada permusuhan yang ada di antara kalian berdua."

Arjuna menghela napas panjang. "Aku juga heran kenapa orang tuanya memberinya nama belakang Ireng, padahal kulitnya putih bersih dan terlihat sangat eksotik."

Sebagai putri dari keluarga bangsawan modern dan terpandang, harga diri Rara Ireng sangat tinggi. Sekali tersinggung, ia tak akan pernah lupa sampai mendapatkan kepuasan. Arjuna masih ingat betapa hebohnya keributan yang terjadi saat itu, sampai Rara Ireng melaporkannya ke kepolisian dan kedua orang tua mereka harus turun tangan untuk mendamaikan.

"Aku nyaris masuk penjara kalau saja ia tidak meluapkan kemarahannya dengan menyebutku 'cowok terbusuk di dunia' di depan petugas. Akhirnya kasus itu diselesaikan dengan jalan damai," kenang Arjuna sambil menggeleng kepala.

Tiba-tiba Ulupi muncul begitu saja di tengah ruangan, tanpa diketahui lewat pintu mana ia masuk, dan tanpa ada pemberitahuan dari penerima tamu di depan. Wajahnya terlihat sangat pucat dan matanya basah oleh air mata, seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga atau mengalami bencana yang menghancurkan hatinya.

Arjuna segera berdiri dan menghampirinya dengan prihatin. "Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Tetes air matamu terasa sangat menyakitkan untuk dilihat, apa yang membuatmu sedih seberat ini?"

Ulupi mencoba menahan isak tangisnya, suaranya terdengar bergetar saat menjawab, "Wisnu... Wisnu membatalkan pernikahan kami."

Arjuna terkejut bukan kepalang. "Bagaimana bisa ia mengambil keputusan segampang itu? Padahal acara pernikahannya sudah tinggal seminggu lagi dan segala sesuatunya sudah siap!"

Ulupi menatap Arjuna dengan tatapan penuh kesedihan dan sedikit kebingungan, lalu mengucapkan kalimat yang membuat suasana di ruangan itu berubah menjadi hening seketika.

"Semua ini terjadi... gara-gara kamu, Arjuna."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 96. Kemesraan Terpanas

    Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 95. Percuma Keluar Keringat Bertarung

    Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 94. Jadi Raja Sungguh Enak

    Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 93. Kutunggu Janjimu

    "Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 92. Bermasalah Dengan Perempuan Cantik

    Dara Hiti melompat ke udara dan berguling beberapa kali lalu mendarat di dekat Arjuna. Dara Hiti bertanya untuk memastikan, "Kau serius?" Arjuna balik bertanya, "Bukankah kau sudah menyatakan bersedia jadi wanita penghibur? Alangkah baiknya ada pembuktian terlebih dahulu." Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru kalau ingin menguji diriku dengan melepas kegadisan ku. Siapa pikirmu yang sudi menolak permintaan ksatria tertampan di muka bumi?" Srikandi perang membentak Arjuna, "Siapa kau? Jangan meminta Dara Hiti untuk melakukan perbuatan yang dikecam para dewata! Empat Iblis Hitam bukan ditakdirkan untuk dirimu!" "Nah, aku menginginkan dirimu jadi budak nafsu sahabatku!" "Raja Langit pasti murka! Aku lebih-lebih!" Kong keluar dari arena pertarungan dengan jungkir balik di udara, lalu berdiri di hadapan Arjuna. Dengan bahasa isyarat Kong bertanya, apa maksud Arjuna meminta srikandi perang menjadi budak nafsu? Ia menolak memberi pertunjukan spektakuler secara gratis

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 91. Tidak Tahu Berterima Kasih

    Arjuna memuji kecerdikan Dara Hiti memancing emosi srikandi perang. Ia memanfaatkan dirinya untuk mengeksploitasi suasana. "Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi guifei," kata Arjuna pelan. "Kau kira segampang itu berdusta padaku." Arjuna sebenarnya menginginkan Empat Iblis Hitam jadi istri Kong. Barangkali kerelaan mereka jadi istri akan membebaskan dewa kelamin dari kutukan. Satu-satunya cara untuk membebaskan kutukan abadi dengan membuat murka pencipta kutukan itu, di mana terjadi perkawinan manusia dengan binatang. Dewi cinta pasti didesak untuk mencabut kutukannya. Kong bukan pembangkang Raja Langit, ia terjebak situasi akibat kelalaian istrinya. "Ironis sekali," keluh Arjuna. "Dewi cinta sibuk mengatur asmara di bumi tapi asmaranya sendiri ambyar." Kong berusaha keluar dari situasi rumit dengan cara biasa di bumi tapi luar biasa di langit. Ia mencoba memahami situasi lewat asmara dewi lain. Kong terlibat cinta segitiga dengan dewi kelamin, dan banyak berbuat sk

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 54. Kakek Bermulut Cabul

    Mereka melepas caping yang menjadi senjata andalan terakhir. Angin caping menderu-deru mencari sasaran. Arjuna pasti jadi rica-rica jika terkena sambaran. "Pulanglah kalian ke neraka!" Arjuna menggunakan jurus Kuda Liar Membelah Surai untuk mengirim mereka ke alam abadi. Kaki dan tangan bergerak d

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 51. Tua-tua Keladi

    Arjuna memperkirakan ada sepuluh orang bersembunyi di balik pohon di sekitar mereka. Sepuluh kakek bercaping itu rata-rata sudah tua, tapi mata mereka begitu muda melihat Citrangada dan Larasati, sangat liar. "Biarkan saja," kata Bajang. "Kelihatannya mereka mencium aroma ayam bakar. Kita kasih

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 50. Seperti Dalam Kisah Mahabharata

    Mereka mengurangi lari kuda saat memasuki hutan hitam. Semak-belukar tumbuh malang-melintang sehingga cukup menyulitkan untuk dilewati. Pemandangan di sekitar tampak cukup gelap, sinar matahari tidak dapat menembus rimbunnya dedaunan, dahan mati yang tergantung patah menciptakan halusinasi yang

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 47. Tabir Gelap Mulai Terungkap

    "Entahlah." Resi Kamandalu menghela nafas seolah ingin menghalau misteri yang menggantung di kepalanya. "Aku tidak kenal siapa ayahmu. Jadi aku tidak tahu suara tanpa wujud itu milik siapa." Arjuna termenung. Bagaimana kalau suara itu adalah suara ayahnya? Ia ingin menyelamatkan putranya yang t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status