登入Setengah jam berlalu dalam keheningan. Cade duduk di kursinya, tangan terlipat di dada. Dia menyandarkan punggung dengan mata memandangi lantai sedari tadi. Tak bergerak satu inci pun melirik Rose. Mulutnya pun terus terkatup, belum menemukan kalimat pembuka obrolan yang cocok.Melihat Cade yang hanya terdiam di posisinya, Rose jadi turut terdiam. Lebih baik dia tidur daripada terjebak dalam kesunyian yang canggung seperti ini. Namun, apa daya, dirinya sudah terlalu banyak tidur sebelumnya. Sehingga saat ini, matanya benar-benar terbuka lebar.Entah apa yang sedang dipikirkan Cade, Rose tidak dapat menebaknya. Padahal, ini pertama kalinya Rose melihat Cade sejak siuman. Sejujurnya, banyak yang ingin dia tanyakan pada Cade. Soal apa saja yang telah terjadi selama dia pingsan. Wajah datar Cade yang tampak tak peduli dengannya membuat Rose terus mengurungkan niatnya. Dia memutuskan hanya akan bicara jika Cade bersuara duluan.Awalnya begitu. Tapi hening yang terlalu lama ini membuat
Berdasarkan hasil pemeriksaan Alan yang entah keberapa kali, kondisi tubuh Rose memang makin baik. Namun, dia masih belum boleh bangkit. Bengkak di kulitnya yang mengandung nanah akan mudah pecah jika Rose bergerak ke sana kemari.Melihat bengkak yang semakin kencan, Alan memprediksi akan mulai pecah malam ini. Segera saja dia membalut seluruh kulit Rose yang bengkak dengan kasa yang kemudian dilapisi perban.“Rasanya akan sakit ketika nanahnya keluar, makanya aku tutupi kulitmu dengan kasa. Demamnya sepertinya tidak akan datang lagi, jadi kamu bisa tidur lebih tenang malam ini,” kata Alan sebelum meninggalkan Rose bersama tugas jaga berikutnya.“Terima kasih, Alan,” ucap Rose, disertai senyum simpul pada bibirnya yang mulai memerah kembali. Tidak lagi sepucat sebelumnya. Warna kulitnya juga sudah kembali seperti semula.Tak ada satu pun dari penampilan Rose yang mirip dengan penduduk Danshire. Walau dia dijangkiti virus mutasi, dia sama sekali tidak terlihat seperti mayat berjala
“Kebal, katamu?” Mulut Rose menganga, masih tak percaya dengan pernyataan Alan.Seumur hidupnya, dia tak tahu kalau ada orang yang bisa kebal dengan virus Dextron. Virus tersebut sudah memusnahkan lebih dari setengah populasi manusia. Sulit disembuhkan, besar kemungkinan berujung kematian.Korban yang selamat dari virus Dextron saja bisa tidak sampai ribuan. Lalu sekarang, Alan berkata bahwa ada yang kebal terhadap virus mematikan itu?Bibir Rose bergetar pelan. “Bagaimana mungkin?”Alan menarik napas panjang, bersiap memberikan penjelasan yang mudah diterima oleh Rose. “Apa kamu tahu bagaimana awal mula wabah virus Dextron muncul?”Rose menggeleng. Matanya menyiratkan keingintahuan yang besar.“Aku sudah pernah cerita kalau kejadian pertama itu di laboratorium kampusku, kan? Saat itu, tak lama setelah gempa bumi besar melanda berbagai negara, beberapa ilmuwan kampus kami bergabung dengan tim peneliti dunia. Mereka berupaya menciptakan vaksin yang bisa meningkatkan imunitas dan
Alan buru-buru bangkit dari duduknya, lantas menghampiri Rose yang berusaha mengangkat badan. “Jangan memaksakan diri, Rose. Kamu belum kuat untuk duduk.”“Tapi, aku sudah merasa baikan ....” kata Rose lemah sembari memegang kepala. Satu tangannya masih menopang tubuhnya karena tak mau terus berbaring.“Kamu tadi sampai berjalan sendiri seperti orang linglung karena efek obat. Apa kamu ingat?” tanya Alan. Dia harus mencari tahu apakah Rose dalam kondisi sadar atau tidak saat mengalami kejadian canggung tadi bersama Leon.“Berjalan?” Mata Rose menyipit. “Bukankah aku sedari tadi di sini? Hanya saja ... sepertinya aku sempat bangun tadi. Dan ada Leon di hadapanku. Tapi pandanganku tidak jelas waktu itu, makanya aku tidak ingat seluruhnya.”“Tidak apa. Itu artinya kamu memang dalam pengaruh obat tadi. Leon menemukanmu sudah berada di luar,” jelas Alan.“Oh, astaga. Aku pasti sudah membuatnya repot, ya?” tanya Rose, kedua alisnya bertaut.Alan langsung menggeleng. “Tidak. Leon tidak mempe
“Apa kamu bilang? Jadi kamu dan Rose ....” Alan menunjuk Leon, lalu berganti ke arah Rose yang sedang tertidur kembali di tempatnya.Leon berdiri di depan pintu pos dengan wajah merah padam. Kepalanya tertunduk, jari-jemarinya saling bertaut, seperti orang yang baru saja melakukan pengakuan dosa. Alan baru datang bersama Shin setengah jam setelah kejadian canggung yang dialami Leon.Alis Alan terangkat sebelah, menginginkan konfirmasi sekali lagi terkait cerita Leon. Tanpa bersuara, Leon mengangguk pelan. Dia terlalu malu untuk mengulang ceritanya lagi.“Tolong, jangan bilang siapa-siapa,” bisik Leon sembari menengok sekitar, memastikan tidak ada siapa pun yang menguping pembicaraan mereka. Leon pun bertanya pada Alan, “Aku mau memastikan, apa itu artinya aku sudah terinfeksi?”“Terinfeksi?” Alan terbahak. “Oh, kan khawatir karena air liur kalian—”“Jangan bahas detailnya!” teriak Leon, semburat merah di wajahnya sudah memenuhi leher, “jawab saja pertanyaanku.”Alan masih saja c
Cukup lama Leon berdiam diri di luar pintu menunggu Cade kembali. Padahal sudah hampir dua jam sejak Alan dan Shin pergi—juga Cade—tapi tak ada tanda-tanda satu pun dari mereka akan kembali.“Cade mencari kayu bakar di mana, sih? Apa dia menyusul Alan dan Shin, meninggalkanku sendiri di sini?” dengus Leon, ujung kakinya mengetuk-ngetuk tanah gelisah.Kemudian, dia merasakan sensasi geli yang tak tertahankan dari bawah perutnya. Leon sontak merapatkan pahanya, sedikit menunduk demi menahan cairan di kandung kemihnya yang sudah merengek ingin keluar.“Sial, di saat begini malah kebelet,” decak Leon, “ini pasti karena udara yang sangat dingin.”Meski dia sendiri yang keluar ruangan karena tidak tahan melihat keadaan Rose, masih ada keraguan dalam dirinya saat dia harus meninggalkan Rose untuk buang air. Dia tak mau buang air di sungai depan ruangan begitu saja. Kalau sampai salah satu kawannya tiba-tiba datang, dia akan malu bukan kepalang.Setidaknya, dia harus buang air beberapa meter
Mendengar Leon melantur seperti itu, Cade menukas, “Jangan mengada-ngada.”Pasalnya, perkataan Leon sempat membuat Cade hilang fokus sejenak. Cade melirik kanan, kiri, dan belakang melalui spion, memastikan tidak ada apa pun yang mengikuti mereka.“Hei, kamu yang bilang sendiri pada Rose tadi kal
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka
“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny







