Masuk30 Orang yang ingin melarikan diri dari kehidupan mereka yang sekarang dan memulai hidup yang baru, menemukan sebuah Website yang dapat mengabulkan keinginan mereka tersebut, website tersebut berisi sebuah desa yang bisa menjadi tempat mereka memulai hidup baru, desa tersebut bernama Desa Tanpa Nama. Mereka ditawari untuk pindah dari kehidupan mereka untuk tinggal di sebuah desa yang tak diketahui keberadaannya oleh siapapun, selain oleh orang-orang yang terlibat. Untuk sampai ke desa tersebut, 30 orang tersebut harus menaiki sebuah bis misterius yang hanya bisa jumpai oleh orang-orang yang telah mendaftar di website tersebut. Meskipun dipenuhi oleh kecurigaan dan perasaan tak nyaman, tapi mereka tetap memutuskan untuk menaiki bis tersebut, karena sudah lelah dengan hidup mereka yang lalu. Selama dalam perjalanan menuju Desa Tanpa Nama, 30 orang tersebut saling mencoba untuk mengenal satu sama lain dan mengakrabkan diri, karena mereka berpikir bahwa mereka akan hidup bersama selama sisa hidup mereka. Akan tetapi, sesampainya di tempat tujuan mereka, mereka malah mendapati sebuah menara yang sangat besar dan tinggi, menara tersebut bernama Menara Tanpa Nama. Ternyata untuk bisa masuk ke Desa Tanpa Nama, mereka harus hidup di dalam menara tersebut terlebih dahulu. Awalnya mereka kira itu adalah tugas yang mudah, tetapi di menara tersebut menyimpan sebuah misteri yang sangat menakutkan dan mereka harus memainkan permainan bertahan hidup agar mereka bisa memulai hidup yang baru. Siapa saja kah yang dapat bertahan hidup dari 30 orang tersebut? Apakah mereka benar-benar bisa memulai hidup mereka yang baru di Desa Tanpa Nama? Atau apakah hidup mereka semua akan berakhir di Menara Tanpa Nama?
Lihat lebih banyak"Tenang aja, kamu bisa tinggal di sini sampai semua beres."
"Apa istrimu setuju?""Pastilah dia setuju. Mana berani dia membantahku."Tangan Zoya yang memegang nampan berisi dua cangkir teh hangat mengerat, ketika mendengar percakapan suaminya dengan seorang wanita di ruang tamu. Septian memperkenalkan si wanita sebagai rekan kerjanya. Dia pikir kedatangan wanita itu hanya untuk bertamu saja, siapa kira kalau lelaki tersebut mengajak wanita lain tinggal bersama mereka.Sejak kandungan Zoya memasuki usia tiga bulan, sikap Septian berubah. Lelaki itu selalu pulang larut malam. Pesan-pesannya juga diabaikan, kadang hanya dibaca setelah beberapa jam. Septian bukan suami romantis, tetapi dia tidak pernah bersikap dingin kepada sang istri. Apalagi saat mengetahui rumah tangga mereka segera diramaikan dengan tangis bayi setelah dua tahun menunggu.Pernah wanita berkulit sawo matang itu bertanya, justru bentakan yang dia terima. Septian mengamuk membuat nyali Zoya menciut. Malam itu sejak pernikahan mereka, untuk pertama kali lelaki tersebut menyemburkan kata-kata kasar yang terus mengendap di ceruk kepalanya."Harusnya kamu bersyukur aku kerja keras. Memangnya uang turun dari langit? Untuk makanmu, biaya melahirkan butuh uang banyak. Kamu tinggal ongkang-ongkang kaki aja banyak cincong!"Lalu pintu kamar diempas Septian sangat keras. Lelaki itu tidak pulang selama empat hari membuat Zoya panik, hingga mencari ke kantor si lelaki. Alih-alih luluh melihat sang istri datang dengan perut buncit dan wajah pucat, Septian malah menarik wanita itu pulang dan mengancam agar tidak datang lagi ke kantornya. Dia bilang, Zoya membuat malu dengan penampilan lusuhnya."Zoya!" Panggilan Septian mengembalikan kesadaran si wanita. Dia mengerjap untuk menghalau kabut di matanya."Maaf, nunggu lama." Zoya meletakkan cangkir berisi teh yang dia bawa ke atas meja, "silakan diminum, Mbak."Wanita itu tersenyum tipis, seraya memindai penampilan Zoya. "Enggak perlu repot-repot."Zoya menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, cuma teh aja."Mata Zoya memperhatikan jemari lentik si wanita, yang kukunya dihiasi kutek berwarna merah bergerak meraih gagang cangkir. Tangannya semakin terlihat cantik karena dua cincin emas melingkar di jari manis dan tengah."Ini pakai gula, ya?" Si wanita langsung memuntahkan teh di mulutnya ke dalam cangkir, lalu meletakkan benda itu ke atas meja dengan kasar."Iya, Mbak, memangnya kenapa?" Dahi Zoya berkerut. Bukankah teh memang harus diberi gula?"Apa kamu enggak kasih tahu istrimu aku biasa pakai gula diet?" Wanita itu mengabaikan pertanyaan Zoya. Dia justru menatap Septian dengan raut cemberut."Oh, maaf, aku lupa. Besok aku stock buat kamu, ya." Septian tersenyum sambil mengusap punggung tangan si wanita. Seolah-olah tidak menghargai keberadaan Zoya di sampingnya."Mas ...."Septian menoleh. Dia melengos melihat tatapan protes dari sang istri."Ini Mira. Rumahnya sedang renovasi, jadi dia akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu."Zoya mengernyit. Bisa-bisanya Septian mengizinkan Mira tinggal di rumah mereka tanpa membicarakan dengannya terlebih dahulu."Kalau istri kamu keberatan, enggak usah aja," ujar Mira dengan nada ketus."Ah, enggak, dia setuju, kok." Septian menoleh sekilas ke arah Zoya dengan tatapan tajam, "ayo kutunjukkan kamarmu."Septian bangkit diikuti oleh Mira. Zoya melihat suaminya menunjukkan kamar tepat di sebelah kamar mereka untuk ditempati Mira. Dia ingin memprotes saat Septian ikut masuk ke dalam kamar, tetapi tubuhnya seakan terpancang di atas kursi. Zoya bergeming sembari meredam rasa cemburu yang seketika hadir ke hatinya.Ngilu merayap pelan ke dada Zoya ketika mendengar gelak tawa dari dalam kamar. Logikanya menegur, mengingatkannya kalau apa yang dilakukan suaminya dan Mira tidak pantas. Namun, dia terlalu takut pada amukan si lelaki. Tubuhnya masih gemetar mengingat amarah Septian beberapa bulan yang lalu. Zoya hanya bisa meremas dasternya kuat-kuat dengan tatapan nanar ke arah kamar.*"Mas, sarapan dulu." Zoya meletakkan kopi yang baru dia seduh ke atas meja.Alih-alih Septian menoleh ke arah pintu kamar yang ditempati Mira tepat ketika wanita itu juga keluar. Darah Zoya berdesir melihat keduanya saling melempar senyum. Firasatnya mengatakan ada sesuatu antara suaminya dengan Mira."Mir, sarapan dulu. Zoya udah masak buat kita."Mira menengok makanan di atas meja. Dia berdecih sambil melihat jam di pergelangan tangan. "Sarapan dekat kantor aja, biar enggak telat. Lagian aku lagi pengen sarapan bubur ayam.""Ya, udah. Kita berangkat." Septian mengiyakan permintaan Mira. Dia tidak hirau melihat raut kecewa di wajah Zoya."Mas, setidaknya minum kopi dulu." Zoya mengangsurkan gelas kepada Septian. Rasa kecewa cukup terobati karena lelaki itu meneguk kopi buatannya sampai tandas.Zoya menatap kepergian kedua orang itu dengan pikiran berkecamuk. Cara Septian memperlakukan Mira sangat lembut. Lelaki itu juga lebih mendengarkan perkataan si wanita daripada ucapannya. Namun, Zoya mengusir prasangka buruk yang menghasut hati. Tidak mungkin Septian mengkhianatinya. Dia berkali-kali menyakinkan diri sendiri kalau suaminya benar-benar bekerja demi keluarga kecil mereka."Mbak, Zoya, wanita yang pergi bareng sama Septian itu siapa?" tanya salah seorang tetangga ketika Zoya mendekat untuk berbelanja di tukang sayur keliling yang berhenti di depan rumah, tepat ketika mobil Septian keluar pekarangan."Teman kantor Mas Tian, Buk," jawab Zoya sambil memilih-milih sayuran yang akan dimasak untuk makan malam."Yakin teman kerja? Hati-hati lho, Mbak. Banyak sekarang yang ngaku teman, ternyata malah pelakor.""Saya percaya Mas Tian, kok, Buk. Selama ini dia enggak pernah aneh-aneh.""Mbak Zoya polos banget. Mana ada laki-laki membawa teman wanitanya tidur di rumah kalau memang menghormati istrinya." Salah seorang tetangga ikut nimbrung. "Pokoknya Mbak Zoya enggak boleh lengah. Biasanya, istri lagi hamil suaminya suka berulah."Zoya tertegun. Kata-kata tetangganya mau tidak mau menyusup ke dalam kepalanya. Akan tetapi, cepat dia halau prasangka tersebut. Dia percaya Septian tidak akan setega itu padanya.*Malam semakin larut, tetapi Septian belum juga pulang. Pesan dan telepon dari Zoya diabaikan begitu saja. Berkali-kali wanita itu mengintip ke luar jendela setiap mendengar suara kendaraan, berharap suaminya yang pulang. Namun, sampai pukul sebelas malam tak juga tampak batang hidung Septian.Zoya berjalan mondar-mandir sambil mengelus perutnya. Dia tahu sebentar lagi bayinya segera lahir. Sejak sore gelombang kontraksi terus-menerus menghantamnya. Namun, dia menahan dengan menggigit kain kuat-kuat setiap rasa sakit itu datang. Dia masih berharap Septian menemaninya menyambut kelahiran anak mereka.Namun, rasa sakit semakin sering menerjang. Setiap lima menit Zoya harus perpegangan pada kedua lutut untuk meredam nyeri di bagian bawah perut. Dia mencoba menelepon Septian lagi, tetapi nihil. Tidak ingin terjadi sesuatu pada calon bayinya, Zoya memutuskan memesan mobil dari aplikasi dengan tujuan rumah sakit. Air matanya berderai mengingat sang suami. Di mana lelaki itu sekarang? Lupakah dia waktu bersalinnya tinggal menunggu hari saja? Untuk kesekian kali Zoya merasa diabaikan.pertama Author di GoodNovel. Butuh banyak petuangan untuk menyelesaikan Novel yang satu ini, terutama melawan rasa malas. Meskipun cerita utama dari Novel ini sudah berakhir, tapi Author berencana untuk menuliskan cerita pendek yang menceritakan masa lalu dari setiap karakter yang hanya diceritakan sekilas, keseharian Asraf dan yang lainnya di dalam menara yang tak bisa dimasukkan ke dalam cerita utama, lalu kehidupan sehari-hari mereka setelah tinggal di Desa Tanpa Nama. Kemungkinan besar ceritanya akan di Post di Blog pribadi Author dan bukan di platform ini. Jadi silahkan tunggu cerita Author yang selanjutnya. Author juga mau mengucapkan terima kasih kepada Editor yang telah membantu saya, juga pada GoodNovel yang sudah mau menayangkan Novel ini dan terutama pada para pembaca setia yang mau membaca cerita ini sampai habis. Sampai jumpa lagi di karya Saya yang selanjutnya. TTD Author, Ismail Fadillah.
Sebulan kemudian.Tak terasa waktu berjalan begitu saja, bahkan pengalaman kami di Menara Tanpa Nama itu mulai terasa seperti mimpi.Menara itu sekarang sudah terbakar dengan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Sejujurnya Aku merasa seperti mengalami keajaiban, karena bisa selamat dari api yang dapat membakar semua bagian dari Menara besar itu.Keberuntungan mungkin sedang terjadi pada kami, karena dampak dari terbakarnya menara itu tak meluas sama sekali. Yah, sebetulnya Aku tak tahu itu hanya sekedar keberuntungan semata atau ada semacam kekuatan aneh yang melindungi Desa dari api tersebut.Aku akan berbohong jika mengatakan bahwa Aku tak merasakan apapun saat melihat puing-puing dari Menara itu. Karena meski sebentar, kami telah menghabiskan 10 hari di dalam sana. Dan tempat itu juga menyimpan tubuh teman-teman kami yang telah meninggal. Pada akhirnya sampai akhir kami tak pernah lagi melihat tubuh mereka. Bahkan saat api yang membakar Menara itu te
Hari – 10.Setelah berpisah dengan Asraf, kami semua berjalan menuju pintu keluar dari Menara ini. Kami semua berhenti tepat di depan pintu tersebut, lalu saling melihat ekspresi wajah satu sama lain.“Sebelumnya pintu itu tak bisa terbuka sama sekali, kan?”Tanya Cinta sambil melihat pintu yang ada di hadapannya.“Ya, itu benar... Aku dan Asraf sudah mencoba membukanya.”Jawabku sambil berjalan menuju pintu tersebut, Rock dan Michael juga segera mengikutiku. Kami bertiga kemudian mendorong pintu tersebut. Meskipun berat, tapi kami bisa membuka pintu tersebut, berbeda sekali dengan apa yang terjadi di hari pertama kami datang ke tempat ini.“Pintunya benar-benar terbuka...”Gumam Cinta tak percaya.Aku menutupi wajahku dari sinar matahari yang masuk melalui pintu tersebut. Setelah seminggu lebih tak melihat cahaya matahari, Aku jadi merasa silau dengan cahayanya.“Kita benar-benar sudah bebas.”Aku bisa mendengar gumaman Lisa saat gadis itu berjalan keluar dari Menara ini.“Horeee! Ki
Hari – 10.“Aku benar-benar tak menyangka bahwa Christ akan mengkhianatiku.”Kata Kepala desa sambil melihat kedua orang yang berbadan besar di lantai. Aku bisa melihat ada minuman yang tumpah di lantai, kemungkinan besar mereka diracuni olehnya.“Aku sendiri juga tak menyangka akan hal tersebut.”Balasku dengan jujur. Aku memang tak pernah berencana untuk melibatkannya.“Apakah dia memang menyimpan dendam padaku? Aku tak menyangka bahwa lelaki sepertinya akan menyimpan dendam.”“Itu mungkin salahmu sendiri bahwa kau membunuh salah satu anggota keluarganya.”“Hmm... kurasa kau memang benar.”“Tentu saja Aku benar.”Meskipun dia seharusnya tahu apa yang saat ini sedang kurencanakan, tapi dia tak terlihat panik sama sekali.“Nah, apa sudah kau mengetahui apa yang sedang kurencanakan saat ini?”“Ya, tentu saja.”“Lalu kenapa kau tak melarikan diri?”“Untuk apa? Aku ini sudah tua, bahkan jika kau tak melakukan ini, Aku pada akhirnya akan mati juga.”Kepala desa itu memberikan senyuman ten
Hari – 10.Aku terbangun di kamarku, kamar 303. Tak ada seorangpun yang berada di sini selain diriku. Setelah kami menemukan si pengkhianat dan memenangkan permainan ini, kami tak memiliki alasan lagi untuk berada di dalam satu kamar, jadi kami memutuskan untuk beristirahat di kamar k
Hari – 10.Pok! Pok! Pok!“Selamat... sepertinya kau berhasil memenangkan permainan itu, ya.”Sosok anak kecil yang menyerupai diriku saat masih kecil memberikan selamat padaku sambil bertepuk tangan.“Sepertinya ini akan menjadi pertemuan terakhir
Hari – 10.“Tunggu dulu! Apa maksudnya itu!?”Tanyaku sambil berdiri dan menggebrak meja yang ada di depanku.“Seperti yang kukatakan, permainan sudah berakhir.... memangnya ada sesuatu yang tak kau mengerti dari perkataanku itu?”Kepala desa itu bertanya balik padaku saat dia berjalan menuju ke kursi y
Hari – 9.“Begitukah... jadi Aku dikalahkan begitu saja olehmu yang adalah seorang pengecut.”Kata Sebastian sambil duduk di salah satu kursi yang ada. Kami semua juga duduk di kursi yang ada di sini, tapi kami menjauhkan kursi kami dari kursi tempat Sebastian duduk.“Maaf... tapi Aku tak ingin kau ber
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan