ログインSelama lima tahun menjalani pernikahan, Justin Giovano menghabiskan separuh waktunya menginap di apartemen di seberang sungai. Katanya, kakak laki-lakinya meninggal muda, meninggalkan Sarah Lunandi seorang diri tanpa tempat bergantung. Sebagai adik, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga kedua keluarga. Saat itu, dengan bodohnya aku benar-benar mempercayai semua ucapannya. Demi memenuhi rasa tanggung jawabnya, aku rela menerima ketidakhadirannya di setiap hari raya, rela membagi makan malam Tahun Baru menjadi dua, bahkan rela menjadi bahan cibiran orang-orang yang diam-diam menyebutku perempuan yang berbagi suami. Namun, setiap kali berbicara denganku, nada bicaranya selalu terdengar dingin dan penuh jarak. Hingga pada hari itu, sebuah kecelakaan beruntun membuat mobil kami ringsek. Sambil melindungi kandunganku, aku mati-matian menggedor jendela mobil. "Justin, tolong selamatkan anak kita ...." Dia merangkak keluar dari kursi pengemudi. Tatapannya sempat menyapu bagian bawah tubuhku yang berlumuran darah, tetapi sesaat kemudian dia berbalik dan mendobrak pintu kursi belakang. Justin memeluk Sarah erat-erat di dadanya, padahal dia hanya mengalami luka lecet di dahi, "Jangan lihat. Nggak apa-apa. Aku di sini." Dia terus mengulang kalimat itu untuk menenangkan Sarah. Sementara itu, pintu mobil di sisiku sudah ringsek parah hingga benar-benar macet dan tak bisa dibuka. Baru saat itulah aku sadar. Selama ini Justin bukan sedang menunaikan amanat atau membalas budi kepada mendiang kakaknya. Dia hanya tidak sanggup melihat Sarah menderita sedikit pun.
もっと見るSeminggu kemudian, Justin akhirnya menandatangani surat perceraian itu.Saat pengacaraku mengabarkan hal tersebut, aku sedang menyusun laporan rekonsiliasi pajak tahunan untuk salah satu klien."Pak Justin nggak mengajukan keberatan apa pun. Beliau menerima seluruh isi perjanjian, dan pembagian harta dilakukan sesuai rancangan yang Ibu ajukan. Ibu hanya mengambil bagian yang memang menjadi hak menurut hukum. Sebelum semuanya selesai, beliau meminta saya menanyakan sekali lagi ... apakah Ibu ingin mempertimbangkan untuk mengambil lebih banyak?""Nggak," jawabku singkat.Pengacara itu terdiam sejenak."Maaf kalau saya lancang, Bu Vanya. Dengan bukti yang Ibu punya sekarang, sebenarnya peluang Ibu untuk dapat bagian yang lebih besar sangat kuat."Aku tersenyum tipis."Aku tahu. Tapi aku nggak mau berutang budi padanya, dan aku juga nggak mau bikin dia berpikir bahwa semua ini bisa ditebus dengan uang.""Baik," jawabnya pelan.Pada hari pengurusan perceraian, kami bertemu di kantor catatan
Pengacara bergerak sangat cepat.Hanya dalam tiga hari, seluruh alur transfer dana yang menggunakan rekening atas nama sepupu Sarah berhasil direkonstruksi dengan lengkap.Mulai dari akun yang mengunggah fitnah, riwayat panggilan kepada kerabat jauh Keluarga Giovano, hingga bukti pembayaran kepada akun-akun media independen, semuanya bermuara pada sumber yang sama.Saat Tania mengirimkan laporan hasil penyelidikan kepadaku, aku sedang menyelesaikan laporan pajak triwulanan milik seorang klien."Sudah dipastikan. Rekening yang dipakai memang atas nama sepupu Sarah, tapi semua instruksi dan otorisasinya berasal langsung dari Sarah."Mendengar itu, perasaanku tetap tenang.Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena sejak pertemuan kami di kedai kopi, saat dia mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, aku sudah menduga semua ini akan terjadi.Sore harinya, asisten Justin menelepon dan mengatakan bahwa Justin ingin menemuiku.Aku langsung menolaknya.Asisten itu sempat terdiam beberap
Keesokan paginya, aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya.Namun, di depan firma sudah berdiri lima atau enam orang.Tiga di antaranya adalah kerabat jauh Keluarga Giovano yang pernah kutemui saat jamuan keluarga.Dua orang lainnya sibuk mengangkat ponsel dan merekam.Orang yang memimpin mereka adalah paman sepupu yang meneleponku semalam.Di tangannya tergenggam hasil cetak tangkapan layar sebuah unggahan."Ini dia perempuan yang maksa kakak iparnya yang sudah menjanda mengembalikan uang! Gara-gara keguguran, dia melampiaskan kemarahannya sama kakak iparnya. Masih punya hati nurani apa nggak, sih?"Orang-orang di belakangnya langsung ikut bersorak menyahut.Aku tidak berhenti melangkah. Dengan tenang aku berjalan ke pintu firma, menempelkan kartu akses, lalu hendak membukanya.Namun, paman sepupu itu mengulurkan tangan dan menghalangi jalanku."Kalau hari ini kamu nggak bisa kasih penjelasan, jangan harap ada yang bisa masuk ke kantor ini."Aku mengangkat wajah da
Pekerjaanku di kantor akuntan perlahan mulai stabil.Setiap hari aku berangkat pukul delapan pagi dan baru pulang sekitar pukul tujuh malam. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bekerja setengah hari.Sedikit demi sedikit, jumlah klien yang kutangani bertambah, dari tiga perusahaan menjadi belasan.Semuanya memang hanya perusahaan kecil dengan pembukuan yang sederhana, tetapi setiap transaksi tetap kuperiksa seteliti mungkin.Rekan-rekan kerjaku sering menggodaku karena dianggap terlalu perfeksionis. Menurut mereka, pembukuan perusahaan kecil tidak perlu diperiksa sedetail itu.Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaanku.Padahal, bukan itu alasannya.Aku hanya ingin memenuhi pikiranku dengan deretan angka dan laporan keuangan.Sebab setiap kali pikiranku dibiarkan kosong, kenangan yang berusaha kulupakan selalu datang kembali.Sebulan kemudian, aku menunggu Tania di kedai kopi bawah gedung untuk makan siang bersama.Denting lonceng angin di pintu membuatku me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.