Short
Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu

Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu

作家:  Jesi完了
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9チャプター
110ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Drama

Pilih Kasih/Egois

Mengejar Istri

Selingkuh

Selama lima tahun menjalani pernikahan, Justin Giovano menghabiskan separuh waktunya menginap di apartemen di seberang sungai. Katanya, kakak laki-lakinya meninggal muda, meninggalkan Sarah Lunandi seorang diri tanpa tempat bergantung. Sebagai adik, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga kedua keluarga. Saat itu, dengan bodohnya aku benar-benar mempercayai semua ucapannya. Demi memenuhi rasa tanggung jawabnya, aku rela menerima ketidakhadirannya di setiap hari raya, rela membagi makan malam Tahun Baru menjadi dua, bahkan rela menjadi bahan cibiran orang-orang yang diam-diam menyebutku perempuan yang berbagi suami. Namun, setiap kali berbicara denganku, nada bicaranya selalu terdengar dingin dan penuh jarak. Hingga pada hari itu, sebuah kecelakaan beruntun membuat mobil kami ringsek. Sambil melindungi kandunganku, aku mati-matian menggedor jendela mobil. "Justin, tolong selamatkan anak kita ...." Dia merangkak keluar dari kursi pengemudi. Tatapannya sempat menyapu bagian bawah tubuhku yang berlumuran darah, tetapi sesaat kemudian dia berbalik dan mendobrak pintu kursi belakang. Justin memeluk Sarah erat-erat di dadanya, padahal dia hanya mengalami luka lecet di dahi, "Jangan lihat. Nggak apa-apa. Aku di sini." Dia terus mengulang kalimat itu untuk menenangkan Sarah. Sementara itu, pintu mobil di sisiku sudah ringsek parah hingga benar-benar macet dan tak bisa dibuka. Baru saat itulah aku sadar. Selama ini Justin bukan sedang menunaikan amanat atau membalas budi kepada mendiang kakaknya. Dia hanya tidak sanggup melihat Sarah menderita sedikit pun.

もっと見る

第1話

Bab 1

Tak lama kemudian, ambulans akhirnya tiba.

Petugas pemadam kebakaran segera memotong pintu mobil di sisiku menggunakan gunting hidraulik.

Saat menunduk, kulihat darah telah menggenang di bawah kursi.

Perut bagian bawahku terasa seperti diremas-remas hingga nyaris membuatku kehilangan kesadaran.

Kedua tanganku memeluk erat perutku. Anak kami yang baru berusia tujuh bulan masih berada di dalam sana. Aku tak tahu apakah dia masih bergerak atau tidak.

Tubuhku dipindahkan ke atas tandu yang diselipkan melalui celah pintu mobil yang telah dipotong.

Seorang dokter gawat darurat segera memasangkan masker oksigen di wajahku sebelum berteriak ke arah luar.

"Mana keluarganya? Kandungannya sudah berapa minggu? Dokumen pemeriksaan kehamilannya dibawa nggak?"

Sementara itu, Justin masih sibuk membungkuk di hadapan Sarah, mengusap luka lecet di dahinya yang bahkan tak sampai dua sentimeter dengan selembar tisu.

Dokter itu kembali berteriak memanggil keluarga pasien.

Barulah Justin menoleh ke arahku.

"Dua puluh sembilan minggu ... yang lainnya saya kurang tahu."

Kurang tahu.

Padahal setiap kali pulang dari pemeriksaan kehamilan, hasilnya selalu kusimpan di laci kedua ruang kerja. Hanya saja dia tak pernah sekali pun berniat membukanya.

Sebaliknya, dia hafal obat apa yang membuat Sarah alergi, lutut sebelah mana yang pernah cedera, bahkan tahu berapa menit teh penenangnya harus diseduh.

Saat tanduku mulai didorong menuju ambulans, aku kembali menoleh mencarinya.

Namun, dia tidak ikut bersamaku.

Sarah menggenggam lengannya erat sambil meringkuk gemetar dalam pelukannya.

Justin menangkup belakang kepala wanita itu dengan sebelah tangan, seolah melindunginya dari seluruh dunia.

"Jangan lihat ke sana. Nggak apa-apa. Pejamkan matamu. Aku di sini."

Sebelum pintu ambulans ditutup, kulihat dia membantu Sarah naik ke ambulans yang lain.

Setibanya di rumah sakit, aku langsung didorong menuju ruang operasi.

Aku menggigit bibir sekuat tenaga agar tidak berteriak, tetapi air mata tetap merembes keluar dari balik masker oksigen.

Seorang perawat berlari ke luar lalu mengetuk pintu.

"Keluarga pasien! Tolong tanda tangan persetujuan operasi sesar darurat! Ada keluarganya?"

Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Justin masuk, mengambil pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di kolom terakhir. Jemarinya tampak sedikit gemetar.

Aku sempat mengira dia akan datang menghampiriku.

Namun, begitu selesai menandatangani formulir, dia malah mengangkat ponselnya yang berdering.

Meski sengaja merendahkan suara, setiap katanya tetap terdengar jelas di telingaku.

"Kak Sarah, jangan takut. Hasil pemeriksaannya sebentar lagi keluar. Aku sudah meminta Jodie menemanimu. Begitu selesai tanda tangan di sini, aku langsung ke sana."

Tak lama kemudian obat bius mulai mengalir ke dalam tubuhku, dan kesadaranku perlahan menghilang.

Aku tak tahu berapa lama operasi itu berlangsung.

Ketika membuka mata lagi, malam sudah larut.

Tania Wardana duduk di samping ranjang dengan kepala tertunduk. Kedua matanya sembap dan memerah.

Kalimat pertama yang keluar dari bibirku hanya satu. "Di mana anakku?"

Dia tidak menjawab. Melihat raut wajahnya, aku perlahan memejamkan mata.

Dari balik pintu, terdengar suara ibu mertuaku yang sengaja dipelankan.

"Sarah, jangan terlalu dipikirin. Justin sudah mengurus semuanya. Pulang saja dulu dan istirahat. Kesehatanmu juga penting …."

Tak seorang pun menyebut anakku.

Seolah-olah kehidupan kecil yang telah tumbuh di dalam rahimku selama tujuh bulan, yang sudah kuberi nama panggilan dan bahkan kubuatkan topi rajut, tak pernah benar-benar ada.

Belakangan, Justin sempat datang menjenguk sekali.

Dia hanya berdiri lama di ujung ranjang tanpa mengatakan apa pun.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia berkata, "Aku sudah minta pusat perawatan pascamelahirkan tetap menyimpan tempatmu. Fokus saja pulihkan kesehatanmu."

Tidak ada kata maaf.

Tidak ada pula sepatah kata tentang pemakaman anak kami.

Aku pun tidak mengatakan apa-apa.

Keesokan harinya, Tania menunjukkan kepadaku foto-foto lokasi kecelakaan yang terekam oleh kamera dasbor mobil yang kebetulan melintas.

Foto pertama memperlihatkan Justin berdiri di samping pintu mobilku dengan kedua tangan bertumpu pada pintu yang telah penyok.

Pada foto berikutnya, dia sudah berbalik menuju kursi belakang dan berusaha membuka pintu di sisi tempat Sarah terjebak.

Aku menatap kedua foto itu tanpa berkedip, sementara ujung jariku menekan permukaannya begitu kuat hingga memutih.

Ternyata, saat itu bukan karena dia terlambat.

Hanya saja, dia sudah menentukan pilihannya.

Aku membalikkan foto itu di atas ranjang rumah sakit, telapak tanganku menekan perutku yang kini kosong. Mataku begitu kering hingga tak mampu lagi menitikkan air mata.

Dari luar ruang rawat, samar-samar terdengar seseorang berbisik bahwa Sarah mengalami syok.

Aku memejamkan mata dan memalingkan wajah ke sisi ruangan yang tak tersentuh cahaya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berhenti menunggu Justin pulang.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
9 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status