LOGINOne of my classmates, Liam, called me one day. His mom was planning to get a divorce, and he wanted me to talk to her. The first time I saw Liam’s mom, I was captivated by her unique charm as a mature woman. From then on, I couldn’t stop thinking about her. One day, I decided to invite Liam for a hike. He wasn’t home, but there were faint moans coming from inside the room. I pushed the door open to find Claire lying on a red blanket. Her legs were entwined, and she moved in a way that was impossible to ignore. Who knew Liam’s mom would be so good at it? Quietly, I moved further into the room. Without a word, she walked over and shut the bedroom door behind me.
View More"LEPAS!"
"LEPAS!""Jangan keras kepala, Arawinda! Saya tidak mengijinkan kamu pergi kemana pun!"Mata bulat Arawinda menatap sinis pada sosok tinggi di hadapannya. Seolah mengobarkan api merah panas, Arawinda, untuk kali ini, mencoba memberanikan diri melawan Kaivan. Suaminya. "Kamu tidak berhak sama sekali mengatur-atur saya!"Arawinda sudah terlalu muak dengan Kaivan. Semenjak menikah, lelaki itu tak membiarkannya keluar satu langkah pun dari rumah. Arawinda diperlakukan seperti seorang tahanan gila yang harus tetap diam di dalam kamar."Ingat? Pernikahan kita terjadi karena kamu menginginkan harta Maheswara Group kan? Jadi cukup jalankan misi kamu dan pergi dari sini," titah Arawinda.Cengkraman jari-jari panjang milik Kaivan semakin erat mengitari pergelangan tangan Arawinda.Ya, Arawinda adalah anak dari Presdir Meheswara Group. Rajendra Maheswara."Laki-laki murahan dan gila harta seperti kamu, saya betul-betul jijik melihatnya."Dan tanpa aba, Kaivan langsung menarik tangan Arawinda. Menggusur tubuh kurus gadis itu ke arah kamar."Lepas!"Kaivan seolah tuli, ia tak mendengarkan ocehan Arawinda sama sekali. Lelaki itu terus melangkah sampai ke kamar Arawinda dan melempar tubuh istrinya kasar ke atas pembaringan. "Diam dan menuruti perintah saya adalah tugas kamu, Arawinda."Setelah berkata dengan nada dingin, Kaivan yang masih mengenakan jas abu-abu di tubuh kekar berototnya itu melangkahkan tungkai untuk keluar dari kamar sang istri sembari berpesan pada penjaga di depan untuk tidak melepaskan atau membiarkan Arawinda keluar dari dalam sana.Melihat hal tersebut, Arawinda pun menangis. Ia sudah sangat frustasi menghadapi Kaivan. Ia sudah sangat frustasi dengan pernikahan ini.Kenapa Papi tega menikahkan ia dengan sosok laki-laki yang begitu dingin dan jahat seperti Kaivan?Sungguh, karena Kaivan, hidupnya bertambah hancur.Padahal ia telah kehilangan Mami sejak umur tujuh tahun, lalu ia tak pernah diperhatikan oleh Papi selama 25 tahun sejak lahir ke dunia, dan tiba-tiba saja ia juga harus menikahi sosok sekeji Kaivan Yudhistira.Apa yang sebenarnya Papi pikirkan? Kenapa paruh baya itu melempar Arawinda ke dalam pernikahan seperti neraka ini?"Nyonya Arawinda."Sosok yang memakai baju khas pekerja di rumah datang menghampiri Arawinda dengan tubuh gemetaran takut.Menghadapi Arawinda yang tengah menangis gila dan habis bertengkar dengan Kaivan sama dengan menyerahkan diri ke kandang macan."Nyonya Arawinda membutuhkan sesuatu?"Mata merah basah Arawinda menatap sosok di depannya, penuh dengan kemurkaan sampai-sampai kepala pelayan tersebut mundur dengan bulu kuduk yang sudah berdiri."Bawakan saya alkohol!"Alkohol?Jelas-jelas Kaivan melarang Arawinda untuk minum bahkan laki-laki itu menyingkirkan semua alkohol yang ada di rumah ini."Tapi, Tuan Kaivan sudah—"Dan jeritan keras Arawinda terdengar, gadis itu dengan asal menjatuhkan barang-barang di meja riasnya ke lantai sampai terdengar suara-suara pecahan kaca dari sana.Kenapa ia harus menikahi laki-laki yang tak ia cintai? Kenapa ia harus menikahi laki-laki yang tak menghargainya?Demi apapun, Arawinda membenci Kaivan sampai ke tulang, Arawinda ingin Kaivan mati secepat mungkin!"Keluar dari kamar saya!" teriak Arawinda pada kepala pelayan. Gadis itu menunjuk pada pintu keluar kamar. "Keluar sekarang juga!"Kepala pelayan langsung menganggukan kepala dan kemudian bergerak keluar dari kamar Nyonya-nya. Meninggalkan Arawinda sendirian dalam tangis pedih yang bergema menyelimuti ruangan tersebut.Gadis itu tak ingin hidup sekarang.Gadis itu tak ingin lagi melangkah dalam pedihnya siksaan Kaivan.^^^^^^^"Apa yang dia lakukan sekarang?""Tadi Nyonya minta alkohol, tapi—""Alkoholnya sudah saya buang semua." Kaivan menelan ludah. "Apapun yang terjadi, jangan sampai dia minum-minum lagi.""Baik, Tuan. Saya permisi keluar sekarang."Kaivan mengangguk dan membiarkan kepala pelayan berlalu dari dalam ruang kerjanya.Desah napas lelaki itu terdengar. Kaivan menutup tirai mata. Lelah sekali harus mengurusi Arawinda yang keras kepala. Setelah menikah satu tahun, hari ini, kedua kalinya Arawinda mencoba memberontak untuk pergi keluar dari dalam rumah.Gadis itu ... pantas saja jika Pak Rajendra—Papi-nya—pusing tujuh keliling. Susah diatur, arogan dan keras kepala. Kaivan kembali mendesah dan berdiri. Melangkah ke jendela besar di ruang kerja, ia pun melepaskan jas dan menyisakan kemeja putih yang menutupi tubuh tegapnya. Kulit yang tidak terlalu putih nampak kala Kaivan menggulung lengan kemeja tersebut.Banyak hal yang harus ia kerjakan hari ini di hotel.Ya, ia yang kini mengelola Maheswara Group. Sang presidir, atau ayah mertuanya menyerahkan kewenangan tersebut tepat setelah ia menikahi Arawinda.Maheswara Group merupakan perusahaan yang membentuk Maheswara Hotel, business lounge untuk VVIP yang digadang-gadang sebagai juara untuk memberikan pelayanan bagi pengusaha kaya raya.Tangan besar Kaivan sesaat kemudian masuk ke dalam saku celananya, mengambil ponsel yang berdering memecah hening. Panggilan dari Rajendra datang. Padahal ia baru saja memikirkan paruh baya itu."Kaivan.""Ya, Pak Rajendra," jawab Kaivan lugas."Saya meminta kamu dan Arawinda untuk makan siang besok. Kamu punya waktu untuk membawa Arawinda ke hadapan saya?""Baik, akan saya usahakan." Kaivan tak akan pernah menolak apapun permintaan Rajendra."Bagaimana keadaanya sekarang? Semua baik-baik saja?"Kaivan mengerti bahwa kini Rajendra tengah menanyakan tentang putri semata wayangnya. Putri yang terlalu ia manjakan dengan uang selama ini sehingga menjadi sosok egois. "Baik, Arawinda sangat baik."Tentu saja Kaivan berbohong. Ia tahu kalau kini Arawinda masih menangis liar di kamar sana."Syukur kalau begitu, kamu juga, tolong jaga diri sebaik mungkin, Kaivan.""Saya akan selalu menjaga diri sesuai perintah Anda.""Lalu hotel? Apa ada masalah dengan perombakan ruangan SUPER VVIP yang sedang kamu jalani?""Tidak ada masalah sama sekali. Saya sudah mengontrol semuanya sebaik mungkin Pak Rajendra.""Saya tidak salah mempercayakan hotel ke tangan kamu, Kaivan."Kaivan tak menjawab pujian tersebut. Lelaki itu malah menatap langit malam yang nampak pekat diselimuti kegelapan. Baik bintang dan baik bulan tidak menerangi bumi hari ini."Saya juga mempunyai pembicaraan lain, ini tentang pesta pertemuan kolega yang akan terlaksa di hotel bulan nanti.""Baik, saya mengerti Pak Rajendra. Besok akan saya siapkan tempat untuk makan siang dan jemputan bagi Bapak.""Tidak usah jauh-jauh, kita makan siang di rumah kalian saja. Agar Arawinda tidak perlu pergi keluar. Saya tutup teleponnya sekarang."Mendengar hal tersebut, Kaivan pun membasahi bibir bawah, lelaki itu menjauhkan ponsel yang sebelumnya menempel di telinga.Apa yang harus ia lakukan pada Arawinda agar anak itu mau untuk turun makan siang besok bersama Rajendra?Tangan Kaivan mengerat memegang ponsel. Kepalanya hampir pecah hari ini.Berbalik, Kaivan pun pergi ke kamar Arawinda secepat yang ia bisa. Dan saat membuka pintu kamar tersebut, tiba-tiba sebuah vas melayang dan menghantam keras kepalanya sebelum jatuh dan pecah di lantai.Arawinda benar-benar gila!Though Claire protested with her words, her body followed mine. Once we stepped into the grove, I couldn’t hold back anymore. I gently laid her down on the grass. “Noah, you can’t keep doing this. I’ll let it slide this time, but you’re going too far.” “Claire, I’ll listen to you from now on. It’s just… I couldn’t help myself. It’s been so long since I’ve seen you.” I laughed. I hadn’t planned for things to go this way, either. Claire was just so irresistible to me. Just as we were finishing, Liam’s voice suddenly called out. “What are you two doing?!” Claire sprang up in a panic, hastily fixing her clothes. “Liam, please try to understand…” She was particularly alarmed by Liam’s discovery.“I don’t want to hear it! I never want to see you again!“I was walking ahead and noticed you two weren’t behind me. I thought something happened, so I came back. Turns out you were here, messing around. If I hadn’t returned, I wouldn’t have discovered how disgusting this is!”
The next morning, we gathered downstairs as planned. When I saw Claire again, I had to fight the overwhelming urge to pull her into my arms. The feelings I had for her only seemed to grow stronger. Today, she wore a tight-fitting athletic outfit that left little to the imagination. My eyes couldn’t help but wander over her. However, Claire acted as though she didn’t notice me. “All right, let’s get going,” Liam announced, hopping into the driver’s seat. I noticed Claire slipping into the backseat, so I started to follow her. Before I could sit down, though, Liam stopped me. “Noah, you sit in the front. Keep me company.” Once I moved to the passenger seat, Liam turned to me. “Do you know why I invited you hiking today?” “Of course. You flaked on me last time, so now we’re making up for it.” “Wrong. My mom reminded me of how you helped take care of me when my leg was injured. This is my way of saying thanks. Otherwise, I wouldn’t have brought you along.” I gla
Her enticing scent and soft body were enough to send my blood boiling. My hands slid over her stockings, the smooth texture igniting my excitement. She wrapped her arms tightly around my neck, and I carried her toward the bedroom. "Quick… close the door," Claire reminded me. It hit me then that I’d left the door wide open. After shutting it, I gently placed her on my bed. "I hope this will be the last time. After tonight, I don't want us to meet again." Her words left me stunned. Everything had been going great between us, so why was she suddenly ending things? "Why? Is there someone else?" She shook her head. "No. I want someone who will take care of me. And I know you do, but lately, I’ve had time to think things over.“If we ever married, how could I face Liam? I’ve been so selfish, indulging myself, and never once considering his feelings. I haven’t been a good mom.”"Don’t worry about Liam. I’ll talk to him.”"Let’s not talk about this now. Don’t forget why
Water from the showerhead sprayed onto my clothes, soaking them quickly. "Noah, look at you. Your clothes are completely drenched.”"Then why don’t you help me take them off?" I teased, giving her a playful smile. Claire gently peeled off my wet shirt and pressed our bodies tightly together. When we finally pulled apart, she resumed rinsing herself off."Noah, if you don’t want me, I won’t hold it against you. Let’s just pretend this never happened. I’m the one who made the choice, so it’s not your fault." "Claire, don’t say things like that. You’re my girlfriend now. That means I’m responsible for you. "I don’t just love you with my body. I love you with all my heart." Claire gave me a faint smile but didn’t say anything else. She stepped out of the shower and got dressed, leaving me in the bathroom. I then heard the creak of Liam’s bedroom door opening, and my heart skipped a beat. Thankfully, Claire was already out. "Mom, you’re back from work? Where’s Noah?
"Noah, you were way too reckless earlier. Liam almost noticed something was up with us.”I held her hand tightly. "I’ll be more careful, I promise. I think Liam would accept us." Every night after that, Claire and I would chat over text. She’d often send me pictures of herself—ones that made me droo
"No… I can’t do this. You’re still a child," Claire said, her voice trembling."Claire, what do you mean? Don’t you have feelings for me?" "No, I don’t like you, Noah. Just leave. Please, don’t let me see you again." However, instead of leaving, I found myself stepping closer, cornering her by the d
Suddenly, Claire pushed me away, her cheeks flushed with embarrassment. "I'm sorry, Noah.”"I got carried away. Thank you for being here when I needed someone the most." "It's nothing, really."You're Liam's mom, which means we’re family. If you ever need someone to talk to, I’m here." Af
My name is Noah Mendes, and I’m eighteen years old. After graduating high school, my parents divorced. I didn’t have the motivation to go to college, so I took a job at a factory, working on assembly lines. At least, before they split, they left me a three-bedroom apartment, so I wasn’t out on












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.