LOGIN“One night, no memories… and now she’s his fake fiancée.” Emily Carter was already late to the biggest break of her career—an interview with the untouchable tech tycoon, Baek Jin. But nothing could have prepared her for waking up in his bed with zero memory of the night before. Her dream interview? Gone. Her reputation? Hanging by a thread. And Baek Jin—the cold, impossibly handsome billionaire who hasn’t spoken to the press in ten years—has a shocking proposal. He’ll give her the exclusive every reporter would kill for… if she agrees to be his fake girlfriend. His family wants him to settle down. She’s the perfect cover. And what starts as a contract drags Emily into a dazzling world of private jets, penthouse dinners, a flirty rival billionaire—and a dangerously magnetic man who isn’t as heartless as he seems. But the longer she plays his girlfriend, the harder it becomes to ignore the sparks between them. And when fake kisses start to feel real, Emily has to ask herself: What happens when the contract ends… but her heart doesn’t want to let go?
View More"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni.
Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak ketakutan, lalu bertanya. "Kamu bukan orang sini, ya? Dari kampung, kan?" "Iya, benar, Mbak. Kok Mbak tahu?" tanya Roni. "Hanya menebak," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. Roni memperkenalkan diri. "Nama saya Roni, Mbak. Saya sedang mencari kos-kosan, tapi belum dapat yang sesuai. Harganya mahal sekali, sedangkan uang saya tidak banyak." Wanita itu mendengarkan dengan perhatian. "Oh, kamu mencari kos-kosan, ya? Kebetulan di sini juga kos-kosan, tapi saat ini penuh. Mungkin minggu depan ada yang kosong." "Walah, kalau begitu saya harus cari tempat lain. Hari sudah hampir malam," kata Roni, hendak pergi. "Tunggu," kata wanita itu menghentikan langkahnya. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sementara di rumah saya. Ada kamar kosong untuk sementara waktu. Kota ini tidak aman, apalagi untuk orang baru seperti kamu." "Benarkah, Mbak? Tidak apa-apa?" tanya Roni ragu. "Tidak apa-apa. Ayo, ikut saya," ajak wanita itu. Roni mengikutinya ke dalam rumah. Wanita itu memperkenalkan dirinya. "Ini rumah pribadi saya, dan di belakang adalah kos-kosan milik saya. Kamu bisa tinggal di sini dulu. Panggil saja saya Mbak Maya." "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Tapi apa suami Mbak tidak keberatan kalau saya tinggal di sini?" tanya Roni. Maya tersenyum tipis. "Saya sudah lama menjanda, Roni. Jadi tenang saja, saya tinggal sendiri." Roni mengangguk penuh terima kasih. "Baik, Mbak Maya. Sekali lagi, terima kasih." "Kamar mandinya ada di sana, kalau kamu ingin membersihkan tubuhmu. Tidak apa-apa, pakai saja untuk sementara. Itu kamar mandi saya," kata Maya sambil menunjukkan arah kamar mandi kepada Roni. "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Saya benar-benar merepotkan Anda," ucap Roni dengan sopan. "Ah, tidak apa-apa. Anggap saja seperti rumah sendiri. Omong-omong, tujuan kamu ke kota ini apa ya, kalau saya boleh tahu?" tanya Maya penasaran. "Saya datang ke kota untuk melanjutkan kuliah, Mbak. Kebetulan saya mendapatkan beasiswa di kampus besar di sini. Selain itu, saya juga ingin mencari pekerjaan," jelas Roni dengan senyum yang membuat Maya terpesona. "Begitu, ya? Tapi hati-hati, ya. Jakarta itu keras. Banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui di sini, apalagi kalau kamu tidak punya kenalan," nasihat Maya dengan nada khawatir. "Iya, Mbak. Untungnya saya bertemu dengan orang baik seperti Mbak, jadi saya merasa lebih tenang," kata Roni sambil tersenyum lagi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok! "Mbak, apa saya harus bersembunyi? Takutnya nanti mereka berpikiran aneh kalau melihat saya di sini," ucap Roni sedikit panik. "Tidak perlu, kamu tetap di sini saja. Mungkin itu salah satu penghuni kos. Saya akan bukakan pintunya," jawab Maya sambil berjalan ke pintu. Ketika pintu dibuka, seorang pemuda berdiri di sana. "Mbak, ada masalah di kamar saya. Atapnya bocor, air hujan masuk," kata pemuda itu, yang ternyata bernama Bayu. "Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, saya akan meminta Pak Hasim untuk memperbaikinya," jawab Maya. Roni yang mendengar percakapan itu segera menawarkan diri. "Maaf, Mbak, tadi saya dengar ada atap yang rusak. Boleh saya lihat?" tanya Roni. "Kamu bisa memperbaiki atap?" Maya terkejut. "Kebetulan, di kampung saya sering memperbaiki atap sendiri kalau rusak. Saya bisa, kok, Mbak," jawab Roni dengan yakin. "Tapi ini sedang hujan, nanti kamu sakit. Lagipula, kamu baru sampai di kota. Istirahat saja, biar nanti tukang kebun saya yang memperbaikinya," saran Maya. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya bisa mengatasinya. Ayo, Bayu, tunjukkan di mana atap yang rusak," ucap Roni penuh semangat. Bayu membawa Roni ke kamar yang bocor. Setelah mengambil tangga, Roni memeriksa kerusakannya. Dia menemukan beberapa genteng pecah dan segera menggantinya. Namun, saat berada di atas, dia mendengar suara aneh dari kamar sebelah. "Astaga, suara mereka bisa sekencang itu, ya? Mengalahkan suara hujan di atap," gumam Roni sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecil sebelum turun. "Sudah selesai, atapnya tidak akan bocor lagi," kata Roni kepada Bayu. "Terima kasih, Bang. Oh ya, saya baru pertama kali melihat Anda. Apa Anda orang baru di sini?" tanya Bayu penasaran. "Iya, kenalkan, saya Roni. Saya dari kampung. Kebetulan butuh tempat tinggal di kota, tapi karena di sini belum ada kamar kosong, Mbak Maya mengizinkan saya tinggal sementara," jelas Roni. "Oh, begitu. Katanya yang di kamar sebelah saya mau pulang kampung. Syukurlah. Jujur saja, saya sering terganggu setiap malam dengan suara-suara dari kamarnya," ucap Bayu. Roni tersenyum mendengar itu, teringat suara serupa saat memperbaiki atap tadi. "Memangnya tidak ada aturan di sini soal bawa pasangan ke kos?" tanya Roni heran. "Haha, di sini bebas, Bang. Asal tidak ribut, tidak ada yang melarang," jawab Bayu sambil tertawa. "Pantas saja. Kamu sendiri kenapa nggak ajak pacar biar nggak cuma dengar suara saja?" goda Roni. "Haha, saya ini anak polos, Bang. Belum mikir buat pacaran," jawab Bayu bercanda. Setelah mengobrol sebentar, Roni pamit untuk kembali ke rumah Maya. "Saya mau mandi dulu, Bayu. Badan saya basah kuyup. Besok kita ngobrol lagi, ya," kata Roni. "Baik, Bang. Jangan lupa main ke sini lagi, ya," jawab Bayu ramah. Ketika Roni kembali, Maya langsung memanggilnya. "Roni, ayo makan bersama. Saya sudah masak makanan," ucap Maya. "Astaga, saya merepotkan sekali, Mbak. Tidak perlu, saya bisa beli makanan di luar," jawab Roni merasa tidak enak. "Sudah, ayo sini. Jangan banyak bicara, makan saja," kata Maya sambil tersenyum. Roni melihat ke arah meja makan, namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan pakaian santai. Lekuk tubuh Maya membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Maya yang sadar akan tatapan itu hanya tersenyum kecil. Khem! Dia berdehem, menyadarkan Roni yang sedang melamun. Setelah makan malam selesai, Maya meminta bantuan Roni membawa piring ke dapur. "Tolong bawakan piringnya ke dapur. Saya mau mencuci," pinta Maya. Roni menurut. Saat berjalan di belakang Maya, matanya lagi-lagi tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan celana pendek. Hasratnya memuncak. Tanpa di duga, Roni memeluk Maya dari belakang. Tangan Roni menyentuh tubuh Maya dengan gemetar. Maya terdiam sejenak, namun bukannya marah, dia malah tersenyum tipis. "Roni... apa yang kamu lakukan?" bisiknya pelan. Roni yang sudah kehilangan kendali hanya bisa berbisik, "Maaf, Mbak... saya tidak bisa menahan diri, bisa gak mbak." Suasana berubah menjadi penuh ketegangan di antara mereka. "Mb... Mbak, izinkan saya melakukannya malam ini saja. Saya sungguh tidak tahan dengan keindahan tubuh Anda," ucap Roni dengan sangat berani, padahal baru saja kenal, tak lagi peduli pada rasa takut atau malu. Hasratnya meluap-luap, dan dia sangat menginginkan Maya. "Roni, kamu baru kenal saya, saya bisa saja teriak loh kalo kamu kurang ajar begini," ucap Maya sambil menatap ke arah Roni, iya walaupun di dalam hati mbak maya juga pengen di sentuh pria setampan Roni, tapi mengingat mereka baru saja kenal maka tidak mungkin dia langsung menerima sentuhan Roni. "hehe, maaf kalo gitu mbak, saya terlalu kurang ajar, maaf ya, soalnya mbak memiliki tubuh yang molek jadi saya tidak bisa menahan diri..," bisik Roni jujur, suaranya berat, matanya tidak lepas dari kemolekan tubuh mbak maya yang mengenakan daster tipis. "tak ku sangka, baru saja kenal sudah di ajak tidur segala, tapi pria ini boleh juga, parasnya tampan, tapi walau begitu dia terlalu cepat gak sih, aku jadi curiga jangan-jangan dia ini penjahat wanita lagi," gumam mbak maya dengan menyipitkan matanya, memperhatikan seluk beluk Roni dari kaki hingga ujung rambutnya. "Hemmm...baik saya maafin, tapi ingat jangan di ulangi lagi , apalagi sampai memeluk saya seperti tadi, mending sekarang pergi beristirahat, kamu pasti capek kan, oh ya terimakasih ya idah bantu benerin gentengnya..."kata mbak maya menghela nafas lalu berbalik lanjut mencuci piring. Roni kembali menatap bokong mbak maya, dalam hati ingin sekali dia menepuknya hanya saja dia tidak seberani tadi setelah mbak maya memarahinya. "huh...bisa-bisanya aku memeluknya seperti tadi, untung dia gak ngamuk kalo ngamuk bisa di penjara aku karena kasus pencabulan..."kata roni dalam hati sedikit menyesal, lalu berbalik menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya beristirahat malam ini. Roni seperti tadi itu sebab dia memilki hasrat yang kuat, dimana dia tidak bisa menahan diri jika melihat perempuan seksi di depannya membuat ya sering lepas kendali contohnya seperti tadi, untungnya mbak maya gak terlalu marah dan melaporkannya. lagian gimana roni gak lepas kendali seperti tadi, mbak maya saja mengenakan daster yang super tipis, belahan bokongnya terlihat begitu jelas sekali, di tambah lagi roni baru saja mendengar suara-suara aneh dari penghuni kos saat dia memperbaiki genteng. melihat roni sudah pergi ke kamar mbak maya kembali tersenyum, sentuhan roni saat memeluk dan meremas dadanya tadi masih membekas dalam dirinya. "Hampir aku di buat lepas kendali..." Bersambung....Jin’s POVI haven’t said those three words to anyone, not even Yuna. The most I ever said to her was that I liked her, but love?I’m sure I only felt that emotion with my little rabbit.My Emily.Her breath hitched, so I stopped. I wanted to keep exploring her creamy skin, but until she told me something else… I would not continue.“You are so beautiful,” I whispered against her ear.Emily’s body is so responsive to every single stimulus. I noticed that when she was with Ilay, and even though that very same thought made my whole body tremble with rage, I was the only one to blame.I had pushed her away for so long, but now that she was here, with me…I won’t ever let her go.My hand slid down her back to press her against me. I needed to cut the space between us. I wanted to feel her as much as I could, her skin against my own, so in one movement, I removed my shirt and pressed us against each other.“Jin…” She breathed out, not stopping me.My other hand splayed across her stomach, bu
Emily’s POVMy heart hasn’t stopped pounding since the call. Even now, as the car rolls to a stop in front of Baek Corporation’s gleaming glass entrance, the sound of it fills my ears like a drum. The building looms above me—cold, imposing, everything Jin’s world has always been.What am I doing here?I take a shaky breath, fingers tightening around the strap of my bag. His last words echo like an aftershock in my mind.“The only one who matters to me is you.”Jin was not a romantic person. I didn’t think he had a single romantic bone inside his freaking body, but it turns out I was wrong.He can make my heart flutter if he puts his mind into it.The car door opens, and the chill morning air hits my face. I blink up at David. He didn’t try to start a single conversation in the car; he just smiled when I stepped out.“Miss Carter, I’ll wa
Emily’s POVI keep looking at the news channel, waiting for whatever Jin had prepared, but so far, nothing. My fingers drum against the edge of the desk, mind spinning. I replayed his words over and over: “Check the news tomorrow. You’ll understand if I’m telling the truth or not.”I bite the inside of my cheek, staring at the screen as if I concentrate hard enough, the truth might just appear out of thin air. But the ticker scrolls as usual—local traffic, a fire downtown, some celebrity nonsense—and my heart sinks with every passing minute.Maybe… maybe he was just playing with me. God, why did I even believe him for a second? I exhale sharply, letting my shoulders slump. Of course he’s playing games. That’s all Jin ever does. He couldn’t just tell me he loved me—he had to make it some mystery.I push back from my desk, tension coiling out of me li
Emily’s POVThe sound of the doorbell sliced through the silence.I froze.Who the hell would be here this late? My stomach dropped, nerves flaring instantly. Maybe it was a neighbor. Or a delivery mistake.Still, it was too late.I can’t consider the person on the other side to be Chloe because she would have just barged in.No, this was someone else.My pulse quickened. A part of me already knew.I hesitated, every instinct screaming don’t move, but curiosity—or maybe something far more dangerous—pushed me forward.Another ring. Longer this time.My throat went dry as I walked toward the door, the soft click of my footsteps echoing louder than they should.When I finally reached it, I stopped, my hand hovering over the handle and my heart pounding so hard that it almost hurt.I swallowed hard. “Who is it?” I managed to ask, though my voice sounded smaller than I expected.
Ilay’s POVI have a feeling that Emily and I…Fuck.I don’t even understand what I’m feeling. This redheaded woman… I was only going to have a fling with her, a brief distraction from the monotonous, polished world I inhabit. But now, her face is the
Emily’s POV“So, is there a reason why you, of all people, decided to go out shopping?” Chloe asked as we walked around the small plaza.I asked her to meet me here so I could buy some clothes. I think I need to change my wardrobe, and I don’
Emily’s POVThe car didn’t head toward another cliffside restaurant. Instead, it wove through the city until the skyline opened up, and we pulled onto the tarmac of a private aviation terminal.I’ll be dammed.“Ilay, you said I would b
Ilay’s POVPerfect.I didn’t have this in mind when I brought Emily here. I wanted her to take some time off, that was it, but now that we are here, I can’t stop myself.I even asked her to tell me who she was with so I could make s
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews