INICIAR SESIÓNApa yang ada dibenakmu ketika mendengar kata Nature? Laut? Hujan? Gunung? Atau justru sebuah nama dari produk kecantikan? Namun, sayang sekali Nature di sini bukanlah tentang itu. Nature dalam cerita ini atau lebih tepatnya Nature Squad adalah sebuah nama dari para perkumpulan anak remaja SMA yang memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda. Sebut saja salah satu tokohnya Samudra. Seorang anak remaja kelas 2 SMA yang memiliki kepribadian ceria dan seperti tidak memiliki beban hidup. Dia jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Mungkin untuk sebagian orang itu adalah hal klise dan tidak akan berdampak apa-apa. Namun, bagaimana jika jatuh cinta adalah sesuatu yang dilarang untuknya? Bukan karena takut arti persahabatan hilang tapi karena sebab yang jauh lebih berat? Bahkan bisa mengancam nyawa? Jalan apa yang akan Samudra ambil? Apakah tetap mempertahankan perasaannya yang mungkin saja akan berakibat fatal untuknya, atau melepaskan perasaannya demi orang-orang yang ia sayangi? Ayo ikut bersamaku untuk menjadi saksi dari perjalanan hidup anak-anak remaja ini. Bukan hanya persoalan asmara, tapi bagaimana mereka bisa mengendalikan ego satu sama lain untuk mempertahankan 'Nature Squad' tetap ada.
Ver más"Aden nya belum pulang, Non," kata Teti, pekerja di rumah keluarga Aprilio, “mau nunggu di kamar aden saja?”
"Gak apa-apa Bi, aku tunggu di sini aja," balas Rain dengan ramah. "Non mau minum apa? Biar Bibi buatkan," tanyanya menawarkan barangkali gadis cantik itu haus atau menginginkan sesuatu. "Minuman paling sehat pastinya Bi," jawab Rain menjeda perkataannya, "air putih." Teti langsung mengangguk lalu setelah itu pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan dari sahabat majikannya. Rain mendengkus seraya mengerucutkan bibirnya. Ya, Rain saat ini berniat bercanda, tetapi nyatanya tidak berpengaruh apa-apa pada wanita setengah abad itu. "Menyebalkan. Sepertinya aku memang tidak berbakat ngelucu." Monolog gadis itu masih memasang wajah kesalnya. Beberapa menit kemudian Teti sudah kembali dengan membawa segelas air putih dan juga beberapa camilan. Mood gadis itu yang awalnya buruk tiba-tiba kembali baik setelah Teti membawakan camilan kesukaannya. Apa lagi kalau bukan brownies coklat dengan topping keju cedaar di atasnya. Hmm so yummy! Setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih, dalam hitungan detik ia langsung mengeksekusinya sembari menonton acara TV yang sedang berlangsung. "Eh, ada Rain," ujar Dewi, ibunya Samudra yang baru keluar dari kamarnya dengan sebelah tangan menarik koper besar berwarna hitam. "Cari Sam?" tanya Dewi setelahnya. "Hehe ... iya, Tan." Jawab Rain sembari mengusap tengkuknya yang tertutupi oleh rambut hitam panjangnya. "Tadi, Sam pamit mau ke seberang. Katanya mau beli camilan, paling sebentar lagi juga pulang. Kamu tunggu di atas aja," suruh wanita paruh baya tersebut. "Gak papa Tan, aku tunggu di sini aja," tolak Rain dengan sopan. Mana mungkin ia menunggu di kamar pemuda itu. Walaupun mereka telah bersahabat cukup lama bahkan keluarga mereka juga sudah sangat dekat, tetapi baik Rain maupun Samudra sangat pantang melakukannya. "Ya sudah kalau Rain mau tunggu di sini, tapi maaf ya Tante gak bisa temani. Tante harus pergi ke Surabaya." Balas Dewi yang sudah siap dengan koper besarnya serta sesekali melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya. "Anggap aja rumah sendiri ya, Sayang." Lanjutnya seraya mengusap lembut surai panjang Rain yang dibiarkan tergerai. "Siap Tante." Rain mengangkat tangannya membuat gerakan hormat, kemudian kembali asyik dengan camilan-camilan di depannya. Bosan menunggu, Rain merebahkan tubuh mungilnya di sofa dan dalam hitungan menit ia sudah pergi ke alam bawah sadarnya. Benar-benar mendengarkan kata mamanya Sam, anggap rumah sendiri. *** “Assalamualaikum, Sam pulang,” ucap salam pemuda itu seraya berjalan santai ke dalam rumah sembari menjinjing sekresek besar berbagai camilan yang ia beli di toko torseba di seberang. Samudra mendengkus kala tidak ada seorangpun yang menjawab salamnya. Pemuda itu yakin jika ibunya telah berangkat ke Surabaya seperti yang ibunya katakan tempo hari padanya, sedangkan Bi Teti pasti sedang berada di dapur. “Huh, dahlah lebih baik aku ke kamar,” pikir Samudra. Namun, saat di ruang keluarga ia melihat televisi menyala dan seseorang yang sedang tertidur di atas sofa. “cantik,” gumam Samudra seraya memperhatikan bagaimana damainya gadis itu tertidur. Namun, hanya beberapa detik ia memperhatikannya. Karena setelah itu ia pergi ke atas untuk mengambil sesuatu dan kembali ke bawah setelah menemukan barang yang dicarinya. “Aku akan membuat karya terbaik di sini,” bisik Samudra menahan agar tidak terkikik saat melakukan aksinya. Ia mencoret-coret wajah Rain menggunakan spidol merah dan gadis itu sama sekali tidak terusik. *** "Selamat pagi Tuan Putri," sapa Samudra memberikan senyuman terbaiknya. "Uh … selamat pagi? Ini sudah sore astaga," balas gadis itu masih setengah sadar. Samudra mendengkus seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Sudah tahu sore kenapa Anda malah tertidur mana ngiler lagi." "Saya kan menunggu Anda bapak Samudra yang terhormat!" Jawab Rain mengikuti gaya bicara pemuda itu kemudian bangun merubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Samudra. "Lagian pergi jajan aja kaya pergi ke hutan belantara … lama banget." Protes Rain sembari mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi Samudra hanya mendengkus serta mencondongkan tubuhnya ke arah Rain. "Pasti lagi kesal sama abang kamu kan?" tebaknya. Gadis itu sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaannya. Ia hanya diam kemudian sedetik kemudian merebut bingkisan yang ada di tangan pemuda itu dan membuka camilan tersebut lalu memasukannya ke dalam mulutnya padahal sebelum tidur Rain sudah menghabiskan sepiring kue brownies keju. Badan kecil tapi makannya banyak kalimat untuk mendeskripsikan si cantik Rain. "Oke, karena kamu diam berarti aku anggap jawabannya iya," putus Samudra. "Iya. Puas?" jawab sekaligus tanya Rain dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. "Udah sana pulang! Ini rumah bukan tempat wisata yang bisa menghilangkan bad mood." Timpal Samudra seraya merebut kembali bungkus makanannya dan langsung memasukan semuanya ke dalam mulutnya. "Ngusir?" tanya Rain bertambah kesal, tetapi masih mencoba untuk menahannya. "Iya," jawab Samudra dengan nada datar. Gadis itu mendengkus sembari menghentakkan kakinya ke lantai. "Sam nyebelin!" Setelah memastikan gadis itu benar-benar telah pergi, Samudra tertawa terbahak-bahak membayangkan hasil karyanya di wajah gadis itu. *** Rain pergi dari rumah Samudra dengan perasaan marah dan juga kesal. Belum juga kesalnya pada sang kakak hilang kini harus ditambah lagi dengan sikap menyebalkan sahabatnya tersebut. Sedikit informasi Rain kesal pada kakaknya karena tadi pagi dia meninggalkannya hanya karena Rain terlambat bangun, dan akibat kelakuan sang kakak ia jadi terlambat sekolah serta mendapat hukuman membersihkan perpustakaan yang luasnya seperti dua bahkan tiga kali lebih besar dari ruangan kelasnya. "Mbak Rain?" tanya ojol ketika melihat seorang gadis cantik berpenampilan sedikit aneh sedang berdiri di depan gerbang rumah seseorang. "Iya. Gas, Mas," ujar Rain jutek, lalu langsung mengambil helm dari ojol tersebut serta naik ke atas motor. "Mbak, maaf, itu mukanya kenapa?" tanya ojol dengan hati-hati. "Mas bisa langsung jalan aja gak? Saya lagi gak mood jawab pertanyaan Mas nya," balas gadis itu masih saja dengan nada jutek. Ya, ini salah satu sifat buruknya. Marah kepada siapapun jika perasaannya sedang jelek. Di dalam pikirannya Rain hanya ingin cepat sampai rumah lalu diam di dalam kamar, berharap tidak bertemu dengan kakaknya ataupun Siapapun. *** "Mbak," panggil mas ojol setelah mereka sampai ke tempat tujuan. "Kembaliannya ambil aja Mas, makasih," kata Rain hendak masuk ke dalam rumah. "Eeuuu ... bukan itu Mbak, tapi itu …." Mas ojol menunjuk helm putih yang masih terpasang dengan aman di kepalanya. Rain langsung mengikuti arah tunjuk mas ojol tersebut. Setelah menyadari ada sesuatu di atas kepalanya ia langsung berdeham seraya langsung melepaskannya dan buru-buru masuk karena tidak mau malu lebih dalam lagi. Ternyata keadaan tidak berpihak kepadanya. Baru membuka pintu ia sudah disambut oleh tawa keras Dirgantara, sang kakak. "Ih gila ya? Diem! Gak ada yang lucu. Aku masih kesal ya sama Bang Di," ujar Rain memasang wajah galaknya. "Kamu habis main di TK mana?" tanya pemuda yang dianggil Bang Di, atau lebih tepatnya Dirgantara. "Apaan sih gaje!" sewot Rain seraya ingin naik ke atas untuk segera masuk ke dalam kamarnya seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. "Ya ampun ngegas mulu. Ngaca sana!" Perintah pemuda bertubuh jangkung itu sembari menunjuk cermin dengan dagunya. Gadis itu memutar bola matanya dengan malas seraya mengikuti perintah dari sang kakak dan saat pantulan wajahnya terlihat di cermin, mata Rain membulat sempurna ketika melihat wajah cantiknya penuh dengan coretan abstrak dengan spidol merah menyala. Oh semoga ini bukan pkai spidol permanen, harapnya. Rain langsung tahu siapa yang melakukan ini padanya. Dan dugaannya tepat sekali ketika ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Rain mengeceknya dan tertulis kontak Samudra di sana. Sam si jail |18:00 Gimana mahakaryaku? Bagus kan😁 Melihat ekspresi sang adik, Dirgantara langsung memundurkan langkahnya untuk melindungi gendang telinganya. “Satu … dua … ti ...,” hitung pemuda itu. "Samudra!" Teriak Rain kepada ponsel malangnya yang tidak bersalah karena harus menjadi pelampiasan kemarahan gadis cantik itu.Langit oren ke merahan terbentang disepanjang mata memandang. Senja hari telah menyapa para anak adam. Entah itu sebuah sapaan dari senja atau justru salam perpisahan dari keindahannya? Banyak orang berkerumun dan beberapa orang bahkan ikut masuk ke bawah untuk membantu. Suara isakan juga memenuhi kerumunan itu. Seberapa keras berusaha mencoba untuk ikhlas bahkan mempersiapkan diri jauh-jauh hari jika kondisi ini terjadi tetap saja pada kenyataannya tidak akan ada yang benar-benar siap ditinggalkan. Bayangkan saja anak yang kau rawat sejak masih dalam kandungan hingga kini tingginya melampaui dirimu justru kini ia berada di bawah sana. Terpejam, dingin, dan kaku. Jika seorang anak ditinggal meninggal ayahnya sebutannya yatim. Jika seorang anak ditinggalkan meninggal ibunya sebutannya piatu. Lantas jika orang tua yang ditinggal meninggal buah hatinya apa sebutannya? Tidak ada. Tidak ada sebutan untuk itu karena menurut logika orang tua yang akan pergi lebih dulu, taoi tidak denga
"Aku cinta sama kamu Samudra. Makasih udah hadir di hidup aku yang sebentar ini, makasih udah mewujudkan salah satu wish list ku. Aku bener-bener bersyukur ada kamu di hidup aku." Samudra masih saja diam, ia takut mengeluarkan suaranya yang justru akan menyakiti perasaan teman barunya tersebut. Selama ini Samudra berteman dengan Viola hanya karena ingin berteman bukan ada hal lain, ia membantu mewujudkan harapan gadis itu untuk membuatnya bahagia, semoga. "Vi.." belum selesai ia berbicara hal menakutkan itu sudah terjadi, Viola mimisan hebat dan merintih kesakitan. *** Samudra lagi-lagi menghela napas beratnya, ia tidak memiliki perasaan untuk memiliki Viola, perasaannya sebatas seorang teman, tapi ia juga takut mengecewakan gadis itu dan sekarang? Sam juga takut ia terlambat. "Sorry, Vi." "Sam," panggil seseorang seraya menyentuh bahunya pelan. "Boleh aku gabung?" Pemilik nama mengangguk dan secara otomatis menggeser tubuhnya. "Aku tau ini gak mudah buat kamu dan aku
Semua orang menunggu dokter yang menangani Viola di dalam ruangan gawat darurat dengan cemas. Ibunya Viola tak berhenti menangis dan terus memanggil nama putrinya dengan lirih. Samudra juga tak kalah gelisah. Ia adalah orang pertama yang melihat bagaimana gadis itu kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan yang membuat perasaannya semakin kacau adalah obrolan mereka sebelum gadis itu collapse. Ceklek! Setelah 30 menit berlalu akhirnya dokter keluar dari ruangan dan langsung menyampaikan kondisi Viola di dalam. Dokter bilang kondisi Viola kritis dan harus di rawat di ruangan ICU sampai kondisi gadis itu stabil. Tak cukup. sampai di sana, dengan berat hati dokter parub haya itu juga mengabarkan kabar buruk lainnya, bahwasanya Viola harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang lagi jika tidak kondisinya akan jauh lebih buruk lagi. Dengan kata lain keluarga harus siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Brangkar rumah sakit di dorong. Viola terbaring lemah di sana denga
Melihat senja dipinggir pantai jelas sangat memanjakan mata, warna oren dan laut biru merupakan visual yang sangat sempurna. "Ayo kita abadikan ini," ucap Rain mengeluarkan ponselnya dan diangguki oleh yang lainnya. Cekrek! Satu gambar terabadikan. Semuanya tersenyum lebar ke arah kamera. Dirgantara yang merangkul Binar dan Rain. Bintang, Bagaskara, dan Samudra yang berpose layaknya detektif. Sarah dan Viola sama-sama mengacungkan dua jarinya dan diletakan di samping kepala. Lalu foto berlanjut lagi, khusus anak-anak Nature Squad yang saling merangkul satu sama lain. clak! Setetes darah terjatuh tepat di depan kakinya. Dengan mimik biasa saja Viola mengusapnya dengan punggung tangan sebelum orang-orang di sana menyadarinya. Viola melihat Samudra dan Rain saling merangkul, tersenyum lebar, sangat terlihat bahagia dan jujur saja gadis itu merasa cemburu dengan kedekatan antara dua orang tersebut. *** Malam semakin larut, para orang tua lebih memilih masuk ke villa karena
Setelah tampil mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Samudra kembali ke tempat duduknya sementara Bintang langsung menghampiri teman sebangku Samudra untuk bertukar tempat dengannya. Lebih tepatnya duduk ke posisi semula. "Sam," panggilnya pelan membuat sang pemilik nama terlonjak kaget
Keesokan harinya, Samudra sudah siap dengan seragam sekolahnya. Meskipun wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tetapi tidak menghilangkan ketampanannya. Rain terlonjak kaget saat sampai di dapur sudah ada orang yang berdiri membelakanginya. Pemuda itu sedang memasak telur ceplok dan juga nasi goren
Setelah pulang sekolah beberapa jam yang lalu tidak ada kegiatan yang Dirgantara lakukan selain bermalas-malasan di tempat tidur. Sampai tiba-tiba wajah Binar seakan berada pada semua barang yang ia lihat. Dirgantara hanya menghela napasnya dan sesekali mengucek-ngucek matanya untuk menghilangkan ba
Pemuda itu sedang berusaha keras menghafal lirik lagunya, sedari tadi ia terus mendengarkan liriknya seraya di tulis ulang dengan alasan akan lebih mudah untuk menghafalnya. "Den, makan dulu," kata Teti dari luar kamar. "Iya Bi, sebentar lagi tanggung," balas Samudra dari dalam kamarnya. ~Pers
![My Fated Pair [BxB]](https://yfbwww.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás