Share

Bab 144

Author: Millanova
last update publish date: 2026-06-03 19:35:49

"Iya, Kak. Saya mohon maaf sekali, aturannya memang seperti itu," ucap resepsionis wanita itu dengan senyum kaku yang sama sekali tidak mencapai matanya.

Namun, belum sempat Kukuh beranjak dari tempatnya, sepasang kekasih dengan pakaian bermerek yang mencolok sang pria memakai kemeja sutra dan sang wanita menenteng tas desainer berjalan menghampiri meja reservasi.

"Permisi, Mbak. Apa seat-nya masih ada untuk dua orang?" tanya pria berkemeja sutra itu tanpa ragu, bahkan sempat melirik sinis ke a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 227

    (Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 226

    Kukuh menghentikan kursi roda Eyang Putri tepat di salah satu meja bundar berlapis taplak emas di area khusus VVIP. Di meja tersebut, telah duduk beberapa sesepuh dari keluarga konglomerat, termasuk Nyonya Broto, kompetitor sosialita abadi Keluarga Cokro.Melihat siapa yang datang, Nyonya Broto memindai Kukuh dari atas ke bawah sambil tersenyum sinis."Wah, wah... Raras Trenggono. Kulihat keluargamu semakin sukses saja. Tapi... kenapa seleramu malah menurun?" sindir Nyonya Broto dengan suara pelan namun tajam. "Acara sekelas ini, kau malah membawa pelayan ke meja kita. Apa Keluarga Cokro sudah tidak sanggup menyewa perawat medis profesional?"Mendengar ejekan itu, wajah Eyang Putri langsung merah padam. Rasa malunya memuncak."Dia ini cuma tenaga angkut gratisan yang tidak tahu aturan," sahut Eyang Putri ketus, melampiaskan kekesalannya pada Kukuh. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap menantunya dengan berang. "Heh, Gembel! Untuk apa kamu berdiri mematung di situ? Cepat tuangkan mi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 225

    Kukuh mendorong kursi roda Eyang Putri dengan pelan dan stabil, membelah kerumunan tamu elit yang saling sibuk memamerkan kekayaan dan pengaruh mereka. Tujuannya adalah area VVIP yang terletak di sisi sayap kanan ballroom, tempat di mana hidangan dan sofa-sofa mewah telah disiapkan khusus untuk tamu kehormatan.Namun, baru beberapa meter mereka berjalan, sebuah suara berat dan penuh hormat terdengar menyapanya dari arah samping."Tuan Kukuh..."Kukuh menghentikan langkahnya dan menoleh. Berdiri tak jauh darinya adalah seorang pria paruh baya dengan busana batik sutra yang sangat elegan namun bersahaja. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit saat pandangan mereka bertemu.Kukuh segera tersenyum dan membalas sapaan itu, menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Kyai Agus. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."Pria itu adalah Kyai Agus, putra dari Eyang Bayu manik waja salah satu tetua dan tokoh spiritual tingkat tinggi yang sangat mengetahui identitas asli dan kekuatan mutlak di balik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 224

    Belum lama Keluarga Cokro berdiri di area penyambutan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu perak melangkah menghampiri mereka. Pria itu didampingi oleh seorang wanita anggun bergaun marun. Keduanya memancarkan aura aristokrat yang kuat, berbaur dengan energi perlindungan tak kasat mata yang mengelilingi tubuh mereka."Selamat malam, Keluarga Adiwangsa," sapa pria itu dengan senyum ramah yang sangat terlatih.Melihat siapa yang datang, mata Adiwangsa langsung berbinar. Tubuhnya sedikit membungkuk, menampilkan gestur hormat yang nyaris berlebihan."Oh, selamat malam, Pak Eko! Selamat atas ulang tahun pernikahan Anda dan Ibu Rahayu yang ke-30," ucap Adiwangsa penuh antusiasme. Ia lalu menoleh sedikit ke arah istrinya. "Sayang, tolong kadonya diberikan."Dian dengan senyum manis yang sudah disiapkan langsung membuka tas mewahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kristal transparan berukir indah. Di dalamnya, bertengger sepasang botol parfum dengan desain yang sangat elegan."Ad

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 223

    Tok... tok... tok..."Kuh... Kuh... wes ditunggu Nyonya Dian ning ngarep (sudah ditunggu Nyonya Dian di depan)," panggil Pak Supri sembari mengetuk pintu kamar Kukuh yang terletak di sudut area garasi mobil."Iya, Pak Pri! Sebentar, ini sudah siap kok," sahut Kukuh dari dalam.Terdengar suara kenop pintu diputar. Kukuh melangkah keluar dari kamar sempitnya di garasi itu. Penampilannya malam ini sangat berbeda dari biasanya. Jika sehari-hari ia hanya mengenakan kaus polos atau kemeja sederhana, malam ini pemuda itu dibalut dengan setelan tuksedo hitam pekat yang potongannya pas menempel di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi, dan tak lupa, sebuah gelang emas murni dengan ukiran kepala naga simbol otoritas tertinggi telah melingkar pas di pergelangan tangan kanannya, tertutup rapi oleh lengan jas.Melihat Kukuh keluar dari garasi dengan setelan setampan itu, Pak Supri sempat tertegun sejenak. Sopir tua itu seolah melihat aura wibawa yang berbeda dari sang mantan Office Boy, meski ia

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 222

    "Tapi siapa sih, Pak Pri, yang berani-beraninya mau menyerang Keluarga Cokro?" tanya Pak Slamet dengan dahi berkerut, pandangannya masih belum lepas dari layar monitor CCTV yang menjeda bayangan aneh tersebut.Pak Supri menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke dinding pos. "Yo emboh, Met. Namanya juga orang hidup, kan pasti ada saja yang tidak suka melihat orang lain sukses dan kaya raya," jelas Pak Supri.Supri kemudian menoleh ke arah Kukuh seolah meminta persetujuan. "Bukan begitu, Kuh?"Kukuh hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan."Kamu tahu sendiri kan, Met," lanjut Pak Supri dengan nada lebih serius, suaranya sedikit direndahkan. "Non Ratih saja sampai pernah kena santet yang mengerikan tempo hari itu. Padahal kurang cantik dan sopan seperti apa lagi Non Ratih itu? Dia tidak pernah cari gara-gara, tapi tetap saja ada yang iri dan mau mencelakainya."Mendengar pengingat tentang tragedi gaib yang menimpa sang majikan, nyali Pak Slamet seketika menciut."Iya juga y

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 105

    Kukuh mengeratkan pelukannya pada kotak kayu jati kelam di dadanya. Saat ia membuka pintu mobil dan melangkah turun, matanya kembali menyapu ke sekeliling pekarangan dan bangunan utama rumah tersebut.(Siapa gerangan orang ini?) batin Kukuh penuh tanda tanya. (Bisa-bisanya mereka memanggil Dokter H

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 100

    (Ini warna rambunya apa ya? Merah atau hijau?) batin Kukuh bimbang, menyipitkan matanya mencoba menembus gumpalan lebah yang menutupi lampu lalu lintas tersebut. Jalanan di pertigaan itu tampak sangat sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang terlihat berlalu-lalang dari arah mana pun.Kukuh menghela

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 99

    "Ini, Dok, ramuan dan jarum peraknya," ucap Kukuh seraya menyerahkan botol kecil dan sebuah jarum perak yang berfungsi sebagai pembatas halaman buku tebal peninggalan leluhurnya tadi."Sini, masukkan ke kotak ini," perintah Dokter Harsha. Pria sepuh itu membuka sebuah kotak kayu jati berukuran seda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status