LOGINDi tengah pelataran yang dipenuhi kekacauan dan mayat para ajudan, Mbah Rukmi melangkah tertatih mendekati Dokter Harsha. Dukun tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan tertinggi dari seorang praktisi spiritual kepada Sang Dewa Medis.
"Dokter... pangapuntene ingkang kathah. Kula namung njagi putu kula saking bajingan niki," (Dokter... mohon
Kalimat balasan Ratih meluncur dengan sangat mulus, terdengar begitu anggun namun memiliki ketajaman layaknya belati yang menohok telak harga diri Ratna tepat di titik terlemahnya. Angin malam yang berembus di balkon itu seolah ikut membeku mendengar sindiran mematikan sang pewaris utama Keluarga Cokro."Ayo, Kuh, kita masuk ke dalam ballroom saja," ucap Ratih dengan nada suara yang tenang, mengalun lembut namun menyayat.Matanya yang indah melirik sekilas ke arah Ratna dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan, sebuah gestur aristokrat yang sudah mendarah daging dalam dirinya. "Aku khawatir, kalau kita berlama-lama di sini... nanti akan ada yang menangis sedih lagi kalau miliknya terambil olehku secara tidak sengaja."Namun, sebelum Ratna sempat meledak dalam amarah dan membuang martabatnya dengan berteriak, Kukuh sudah lebih dulu mengambil alih situasi. Pemuda itu melangkah pelan, menempatkan dirinya sedikit di depan Ratih sebagai perisai pelindung, lalu menundukkan kepalanya sed
Ratih hanya menatap dingin uluran tangan Aryo Lembu Sasmita. Sebagai pewaris Keluarga Cokro yang sudah terbiasa menghadapi ular-ular beracun di dunia bisnis, ia sama sekali tidak berniat merendahkan gengsinya untuk menyentuh tangan bawahan dari musuh masa lalunya.Melihat penolakan Ratih, sorot mata Aryo menajam. Ada kilatan rasa tersinggung yang dengan cepat ia tutupi dengan senyum miring.Namun, sebelum Aryo sempat menarik tangannya kembali, Kukuh melangkah maju menutupi separuh tubuh Ratih. Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, pemuda itu meraih dan menyambut uluran tangan Aryo."Perkenalkan, saya asisten pribadi Keluarga Cokro. Nama saya Kukuh," ucap Kukuh dengan senyum sopan yang sengaja dibuat-buat.Tepat saat kulit tangan mereka bersentuhan, Kukuh seketika merasakan ada hawa aneh yang menjalar. Sebuah energi gaib yang sangat dingin dan setajam jarum mencoba menembus pori-pori telapak tangannya, merayap naik dengan niat melumpuhkan aliran darahnya.(Jadi begini cara mai
Angin malam berembus pelan, membawa keheningan sesaat di antara mereka berdua."Iya, memang penuh sesak di dalam," ucap Kukuh santai, memecah kesunyian sambil menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas balkon. "Orang-orang itu seperti sedang saling bunuh dengan pegangan mereka masing-masing. Auranya berbenturan keras."Mendengar istilah 'pegangan' keluar dari mulut Kukuh, dahi Ratih sedikit berkerut. Namun, sebelum ia sempat menanyakan hal itu, Kukuh sudah menoleh dan menatapnya dengan raut wajah serius."Tih, aku mau tanya," ucap Kukuh tiba-tiba, suaranya merendah. "Sudah diperluas seberapa Rajah Wangi yang kamu miliki?"Ratih tersentak pelan. Matanya melebar sesaat. Jantungnya berdegup lebih kencang. Pertanyaan itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa dilemparkan oleh orang awam. Rajah Wangi adalah rahasia darah terdalam Keluarga Cokro yang tidak diketahui oleh sembarang orang, apalagi oleh pria yang selama ini hanya dianggap mantan Office Boy."Apa yang kamu maksud, Kuh?" balas
Setelah kepergian Panji dan Kyai Agus, keheningan di meja VVIP itu perlahan mencair, digantikan oleh kasak-kusuk para elit yang masih terheran-heran."Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, silakan melanjutkan menikmati hidangan dan acara pesta ini. Saya mohon pamit sebentar," ucap Pak Eko dengan raut wajah sedikit tegang. Tanpa membuang waktu, tuan rumah acara itu bergegas melangkah pergi untuk mengejar Kyai Agus dan sang dewa perbankan.Adiwangsa dan Eyang Putri menatap kepergian Pak Eko dengan raut kekecewaan yang tak bisa ditutupi. Di mata mereka, sebuah peluang emas baru saja terlepas begitu saja dari genggaman.Melihat wajah masam keluarga Cokro, Nyonya Broto tak melewatkan kesempatan untuk kembali memanaskan suasana. Matriark keluarga saingan itu menutup mulutnya dengan kipas lipat dan tertawa pelan."Wah, wah... sayang sekali ya. Ternyata cuma salah orang," sindir Nyonya Broto dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh meja di sekitarnya. "Padahal, kalau sea
(Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa
Kukuh menghentikan kursi roda Eyang Putri tepat di salah satu meja bundar berlapis taplak emas di area khusus VVIP. Di meja tersebut, telah duduk beberapa sesepuh dari keluarga konglomerat, termasuk Nyonya Broto, kompetitor sosialita abadi Keluarga Cokro.Melihat siapa yang datang, Nyonya Broto memindai Kukuh dari atas ke bawah sambil tersenyum sinis."Wah, wah... Raras Trenggono. Kulihat keluargamu semakin sukses saja. Tapi... kenapa seleramu malah menurun?" sindir Nyonya Broto dengan suara pelan namun tajam. "Acara sekelas ini, kau malah membawa pelayan ke meja kita. Apa Keluarga Cokro sudah tidak sanggup menyewa perawat medis profesional?"Mendengar ejekan itu, wajah Eyang Putri langsung merah padam. Rasa malunya memuncak."Dia ini cuma tenaga angkut gratisan yang tidak tahu aturan," sahut Eyang Putri ketus, melampiaskan kekesalannya pada Kukuh. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap menantunya dengan berang. "Heh, Gembel! Untuk apa kamu berdiri mematung di situ? Cepat tuangkan mi
Mbah Rukmi bangkit dari kursi rotannya yang berderit menahan beban. Dengan punggung sedikit membungkuk dan langkah kaki yang diseret, wanita tua itu memimpin jalan menuju bagian paling belakang rumah joglo. Lorong yang mereka lewati terasa sangat sempit dan berbau lembap, mengingatkan Kukuh pada ud
Pak Rio melangkah lebih dulu menaiki undakan teras kayu yang berderit pelan. Tiba di depan pintu jati usang itu, ia menghela napas panjang dan mengetuknya tiga kali."Tok... tok... tok... Selamat malam, Mbah. Kulonuwun..." ucap Pak Rio dengan nada hormat dan sedikit cemas.Kriieeett...Daun pintu i
Sepanjang sisa perjalanan di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Dokter Harsha memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Pria sepuh itu menyandarkan punggung dan memejamkan mata, membiarkan Kukuh tenggelam dalam ribuan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Keheningan yang berat itu baru be
"Lalu di mana gerangan putri Anda, Pak Rio?" tanya Dokter Harsha yang kebingungan."Ada di suatu tempat, Dokter. Saya titipkan ke tabib yang sudah melayani keluarga saya dari lama," jelas Pak Rio dengan nada sedikit tertahan."Iya, Dokter. Saya kasihan jika dia harus memaksakan hidup di lingkungan







