Masuk"Mulai hari ini Anda akan menjadi wali dari Alizia Moris." "Mustahil!" Sky bangkit berdiri di hadapan notaris yang baru membacakan wasiat dari sahabatnya yang baru di makamkan. "Aku tidak mau mengurus anak-anak!" Sky menolak tegas. "Alizia Moris mewarisi kekayaan yang sangat besar, dan cuma Anda yang dipercaya oleh Mr. Dawson untuk menjaga putrinya." Sky Adington adalah seorang CEO, muda, tampan, playboy brengsek. Tiba-tiba dia harus menjadi wali dari seorang anak gadis. Yang lebih mengejutkan, ternyata Alizia Moris bukan anak-anak, tapi seorang gadis muda yang bahkan juga sudah mulai berani menggoda Sky sebagai seorang pria dewasa. Lantas bagaimana ketika Sky harus menyembunyikan gadis seperti itu di apartemennya?
Lihat lebih banyakBAB 1 PLAYBOY
Sky Adington dan Gerald Dawson sukses bekerjasama membangun sebuah perusahaan multi nasional bernilai triliunan dolar. Mereka memiliki 80% saham mutlak dari perusahaan yang telah berdiri lebih dari satu dekade. Sudah hampir tujuh tahun Sky mengencani putri tunggal Gerald. Bukan tanpa pamrih, Sky juga tidak naif jika wanita itu akan sangat berguna untuk mengokohkan posisinya di perusahaan jika nanti Gerald pensiun di usia senja. Tapi anehnya sampai saat ini Gerald belum juga memberinya restu untuk menikahi Celine Dawson. Kadang Sky merasa pria tua itu juga bisa sangat keras kepala dan menyusahkan. Meski demikian bukan berarti Sky tidak bisa tetap bersenang-senang dengan tubuh bergairah putri cantik Gerald. "Oh, Sky... " wanita itu mulai mencengkeram buah dadanya sendiri yang bergumpal bulat kencang sembari terus bergerak menancapkan pinggul di atas tubuh lelakinya. Sky berbaring dengan kaki terbuka meregang, mencengkram pinggang ramping Celine agar wanita itu terus bergerak naik turun mengikuti ritme yang dia inginkan. "Ayo lebih keras Sayang. Aku hampir sampai." Sky mendesak keras, menghantamkan pinggul dari bawah sampai kemudian wanita itu memekik kaku hingga tulang punggungnya melengkung dan akhirnya roboh. "Ooooh..." Celine roboh di atas dada bidang Sky yang ikut sangat puas. Mereka sama-sama berkeringat panas dan jantung berdebar. "Sampai kapan kita akan seperti ini?" "Sampai ayahmu memberiku restu untuk menikahi mu." "Aku tidak tahu apa yang dia tunggu, kupikir dia juga sangat menyukaimu, Sky." "Kita sama-sama tidak tahu, Sayang." Sky meraba tubuh Celine yang terkolek lembut tanpa terbalut apapun. "Mungkin dia akan sangat cemburu jika aku juga memilikimu. " "Omong kosong!" Celine memalingkan wajah sedikit agak kesal. "Kupikir ayahku lebih menyukaimu dari pada aku, putrinya sendiri." "Jangan bilang kali ini kau yang cemburu? " Sky lanjut menggoda wanita yang baru berguling menjatuhkan diri di sampingnya. "Aku memang pria paling beruntung di muka bumi ini karena bisa mendapatkan wanita seindah dirimu." Sky sudah kembali menelusuri tubuh polos Celine dengan berbagai ciuman. "Aku sudah bukan anak gadis lagi yang bisa kau rayu dengan gombalan macam itu, Sky. Aku juga ingin pernikahan." Celine menatap ke mata Sky. "Kau sudah mengambil banyak keuntungan seperti bajingan yang sangat curang karena tidak juga segera menikahi ku dengan berani." "Sungguh itu bukan mauku. " "Lihat bagaimana kau sudah menjadikanku wanita jalang tidak tahu malu seperti ini." Suara Celine sedikit meninggi. "Bahkan sekarang aku rela merangkak ke ranjangmu hanya untuk kau tiduri di sela kesibukanmu mengencani gadis-gadis pirang berdada besar!" "Jangan cemburu," bujuk Sky yang sepertinya memang tidak pernah kehabisan akal untuk merayu wanita. Tangannya sudah kembali turun untuk menggoda puncak gairah wanitanya. "Ingatkan pada wanita pelacurmu yang kurang ajar, jangan berani-berani lagi mengangkat teleponku apa lagi dengan memamerkan desahannya di atas tubuhmu!" Celine merasa tidak selevel dengan wanita-wanita pirang yang sering di kencani Sky dari klub malam. "Pelacur murahan akan besar kepala jika terlalu kau manja seperti tuan putri! " Tiba-tiba justru Celine sendiri yang mendesah. "Ah...." Celine mulai kembali menggeliat gelisah merapatkan selah pinggulnya yang kembali diraba dengan sangat kotor. Sky memang playboy brengsek, ahli menjerat wanita untuk bersenang-senang. "Ah..." Celine tidak kuasa menolak. "Ayo Sayang, aku masih belum puas dengan tubuhmu." Kali ini Sky yang langsung naik ke atas. Dia baru mulai membuka kaki ketika tiba-tiba suara ponselnya berdengung dari atas meja. Benda pilih persegi panjang itu, bergetar dengan nada panggilan. Sky segera bangkit meraih ponselnya. Dan seketika mata Sky melebar syok. Wajahnya membeku pucat. Celine ikut mengerutkan dahi penasaran. "Ada apa?" "Ayahmu mengalami serangan jantung!""Selamat ulang tahun. " Di musim semi ulang tahun Lizie yang ke sembilan belas. Sky mengangkat Lizie untuk duduk di atas pangkuannya, mereka hanya berdua memandang ke luar dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke sisi pegunungan Alpen. "Aku ingin kita seperti ini dulu," bisik Sky ketika mempererat lengannya di pinggang Lizie dan menghirup puncak kepalanya dengan tarikan napas dalam. "Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri." Sky menyarukkan rahangnya yang terasa kasar dan menggelitik sisi leher gadis mudanya yang hangat dan lembut. "Aku adalah milikmu, kau boleh memilikiku sesuka hatimu." Sentuhan Sky adalah apa yang juga akan selalu Lizie inginkan.
Walaupun tangan kirinya masih di perban tapi Sky bersikeras bisa menyetir sendiri untuk membawa lizie pulang bersamanya. Sky memang keras kepala, padahal Tobias sudah sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan mereka pulang. Lizie terpaksa masuk ke dalam mobil Sky dan melambai pada Tobias Harlot untuk sekaligus minta maaf. Lizie benar-benar merasa tidak enak karena bagaimanapun selama ini Tobias sudah sangat baik pada mereka. "Tulangku hanya retak bukan cacat!" kata Sky setelah Lizie duduk di sampingnya. "Ya, aku percaya." Lizie pilih setuju saja dibanding harus berdebat karena dia tahu Sky tidak suka diremehkan dan hal itu sudah jadi sifat dasarnya yang sulit dirubah. Sky memang masih bisa mengemudi dengan baik, lengan kirinya j
Tobias Harlot sudah coba menjelaskan dengan tenang tapi nyatanya air mata Lizie tetap merembas hangat dari masing-masing sudut matanya. Lizie meraba kembali perutnya yang sudah kembali rata dengan jemari tangannya yang agak kurus. Rasanya tetap pedih walaupun sudah tidak ada yang terasa perih lagi. "Jadi bayiku tidak selamat? " Tobias hanya berani mengangguk pelan. "Anak-anak akan berada di surga kau tidak perlu cemas." "Aku bahkan tidak sempat melihatnya." "Kau sudah berjuang dengan hebat, Sky pasti juga akan tetap bangga padamu." Lizie mulai menunduk dan terisak pelan.
Sky berjalan kembali ke mobilnya, berusaha mencengkram kemudinya dengan mantap untuk menguatkan langkahnya. Sky tidak boleh menyerah karena Lizie juga sudah berjuang dengan sangat keras. Sky menoleh pada buket bungan matahari di samping tempat duduknya dan kembali menghela napas dalam untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Sky sudah bersumpah pada Gerald untuk menjaga putrinya. Walaupun mungkin sahabatnya itu sudah lebur bersama tanah tapi sumpah Sky akan tetap berlaku untuknya. Sky tidak akan menyerah dia harus tetap hidup demi Lizie dan demi putri mereka yang sudah pergi tanpa sempat menangis. Sky berjalan melalui lorong dingin yang juga sudah dia lalui setiap hari tanpa pernah berubah. Semuanya masih sama, tidak ada perubahan berarti sejak dua bulan berlalu. Sky mengganti bunga matahari di dalam vas kaca dengan yang baru dia bawa,
BAB 6 Sky sudah tertidur ketika Lizie Merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggoyang-goyang tubuhnya. "Sky, aku tidak bisa tidur." Sky yang terkejut langsung kembali terbangun, menyalakan lampu di samping ranjang. Sky masih seperti bermimpi ketika melihat Lizie sudah duduk bersimpuh di atas
BAB 5 Kantor Sky masih berada di kawasan jalan utama Fourth Avenue. Tidak jauh dari apartemennya. Dia cuma memerlukan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Gedung empat puluh tiga lantai itu sekarang sudah dia jadikan sebagai aktor utama untuk induk perusahaannya. Sebu
BAB 4 LIZIE Lizie nampak takjub ketika melihat ke sekeliling apartemen Sky yang memiliki balkon sangat luas. "Jadi ini tempat tinggal mu?" "Semoga kau suka, yang itu kamarmu!" Sky menunjuk kamar yang bersebelahan dengan pintu balkon. Lizie memutar badan, menghadap Sky yang sedang duduk di sof
BAB 3 ALIZIA MORIS Tanpa sepengetahuan siapapun Sky terbang sendiri ke Seattle, dia berencana untuk mengambil Alizia Moris dari sekolah asramanya. Kedengarannya memang agak gila tapi jika memang anak itu yang sekarang menjadi kuncinya, maka Sky harus menguasai gadis itu, dan menyembunyikannya dari












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak