MasukDi tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Lihat lebih banyakDi tengah malam, jantung Budi tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan jelas.Matanya terbuka perlahan, namun tubuhnya tetap diam. Ia bingung degupan itu datang dan pergi sekejap, seolah hanya ilusi semata. Ia memusatkan pendengarannya ke luar. Hanya terdengar geraman samar binatang buas dari kejauhan, bukan hal yang bisa memicu peringatan mendadak seperti ini. Tak ada suara lain, tak ada gerakan mencurigakan.“Apakah hanya perasaanku saja?”Ia menatap Jeni dan Shinta yang tidur pulas damai di sampingnya. Perlahan rasa kantuk kembali menyergap, tapi genggamannya pada gagang parang justru makin erat.Sisa malam itu berlalu tenang tanpa gangguan.Keesokan paginya, mereka bangun satu per satu. Langit tampak kelabu pekat, seolah sebentar lagi akan turun hujan lebat.Setelah makan siang, Budi memutuskan memeriksa sekeliling kawasan. Lagipula mereka berniat menetap di sini cukup lama, jadi harus tahu bahaya apa yang mengintai.Tanaman tumbuh liar dengan luar biasa cepat hanya dalam lima hari
Jeni yang biasanya tampak kaku dan serius kini wajahnya mulai rileks, tersenyum bahagia. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dan memandangi sekeliling. Keadaannya jauh dari yang mereka bayangkan seolah pernah dihajar amukan binatang buas. Pilar di tengah ruangan runtuh, besi tulang beton terlihat menjulur kasar. panjang menghiasi dinding, dan bangunan ini tampak nyaris tak sanggup berdiri lagi. Budi memeriksa lantai dengan teliti, lalu mengerutkan kening. Ada banyak jejak kaki asing yang masih segar. sepertinya baru satu atau dua hari lalu. “Ada orang yang masuk ke sini,” batinnya. Jeni pun menyadarinya. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu bergegas menuju ruang rahasia di lantai bawah. Setelah membuka pintu tersembunyi, Budi masuk duluan, diikuti Jeni yang membawa senter. “Sialan!” geram Budi. Rak-rak yang dulu penuh kini sebagian besar kosong. Beras berserakan di lantai. Hanya tersisa sedikit persediaan penting: satu setengah kotak air mineral, dua kotak minu
“Teman di sana! Tunggu dulu! Bisa bawa kami ikut?” Sebuah suara memecah kesunyian. Semua orang menoleh ke arah gedung di samping jendela terbuka dan sesosok orang menampakkan wajahnya. Mereka semua menatap Budi, menunggu keputusannya. “Ada berapa orang di sana?” tanyanya singkat. Kalau cuma sedikit, tak masalah. Kalau terlalu banyak, ia terpaksa menolak tempat dan persediaan di vila terbatas. “Dua orang! Cuma kami berdua! Di sini makin berbahaya, kami ingin ikut kalian. Lebih banyak orang lebih aman, kan?” jawab pria itu cepat. “Kalau begitu turunlah sekarang. Kita berangkat sebentar lagi.” “Baik, siap! Sekarang juga!” Pria itu tampak sangat lega dan segera menghilang dari jendela. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di bawah. Seorang pria dan istrinya, sekitar tiga puluh tahunan, membawa tas berisi barang-barang. Pakaian mereka berlapis-lapis agar terlindung, masing-masing menggantungkan panci di dada. Pria yang tadi berbicara bahkan memegang sebatang besi panjang si
Sebuah bangunan runtuh tepat di seberang jalan hingga menutup sepenuhnya jalur yang dilewati. Budi mengamati sekeliling dari persimpangan jalan, lalu menggertakkan gigi dan memutuskan mengambil rute lain.Hanya dalam beberapa hari, kota ini sudah berubah tak dikenali lagi. Reruntuhan bangunan berserakan di mana‑mana, debu tebal menutupi aspal, dan tumpukan tulang belulang manusia berjejer di pinggir jalan. Potongan kain pakaian yang ternoda darah kering berkibar pelan tertiup angin.Saat rombongannya berjalan melewati tumpukan tulang, ribuan kumbang hitam seukuran kuku jari merayap keluar dan lenyap seketika ke dalam sela‑sela puing.Beberapa hewan mutan tingkat rendah melintas di kejauhan, lalu berhenti serentak. Mata merah mereka menatap tajam ke arah rombongan manusia naluri berburu sudah terbangun.Bau busuk daging membusuk memenuhi udara, tak terlukiskan mengerikannya.Ini adalah gambaran kehancuran yang mutlak!Seandainya tidak ada lolongan binatang buas yang terdengar dari keja
Jantung Budi serasa mau copot dari tempatnya. Selama ini dia membayangkan kalau Cacing Tanah Korosif ini cuma versi mutasi dari cacing tanah biasa yang pernah dia temui sebulan yang lalu badannya memang besar, tapi nggak terlalu agresif, meski baunya busuk sampai bikin muntah. Tapi makhluk di dep
Melompat ke kesimpulan itu memang sifat manusia. Begitu dengar ada penyakit menular, yang langsung kepikiran pasti soal karantina, wabah, sampai kematian. Kadang rasa takut malah lebih menyeramkan daripada ancaman aslinya. Dalam hitungan detik, semua orang langsung kabur. Tinggal B
Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.