LOGINDor! Dor!
Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali. Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang itu terbang ke udara, jatuh berguling-guling di tanah. Kucing itu geleng-geleng kepala, masih pusing. Budi nggak kasih kesempatan langsung tebas keras ke badannya. Krek! Tulang punggungnya patah, badannya terbelah dua. Kucing itu meraung kesakitan, kaki-kakinya masih meronta-ronta kayak mau merangkak pergi. Organ dalamnya berceceran di tanah, bau amis dar4h nyebar ke mana-mana. Dor! Dor! Bang Zain langsung tambah dua tembakan ke kepala biar pasti mati. “Mampua kau!” umpatnya sambil pastiin nggak gerak lagi. Mbak Jeni nggak kuat liat adegan berdrah plus bau amisnya. Dia langsung minggir ke semak, muntah sejadi-jadinya. Budi juga nggak enak badan. Semuanya kejadian terlalu cepat dia cuma refleks maju dan tebas. Tangan masih gemetar, badan dingin keringetan. Sejak kapan dia berani banget kayak gini? Dia sendiri nggak tahu. Mas Aji nutup muka sambil merangkak keluar dari semak berduri. Mukanya penuh luka gores. “Kapten… ini udah terlalu bahaya. Kita nggak punya cukup orang buat ngadepin gini. Kucing hutan aja bisa hampir bunuh kita, apalagi kalau lebih dalam lagi. Udah cukup lah. Kita nggak bakal nemuin mereka!” Semua langsung kelihatan capek dan putus asa setelah denger kata-kata Mas Aji. Yang terburuk udah kejadian. Budi yang lagi kesel langsung bales, “Saya nggak bakal percaya kakak ipar saya mati sebelum liat mayatnya sendiri! Minimal kita cek dulu!” “Kamu nggak punya hak ngomong! Mau mati ya maju sendiri, jangan seret kita!” Mas Aji meledak, langsung teriak ke Budi. Budi nengok ke Mas Aji, bingung kenapa tiba-tiba ngamuk gitu. Tadi nggak nyenggol dia kok. “Kalau takut ya pulang aja. Lagian kamu juga nggak berguna.” Kata itu bikin Mas Aji tambah panas. Dia langsung tarik pistol, arahin ke Budi. “Anjir lo! Ulang lagi kata lo tadi!” “Jangan!” Mbak Jeni teriak kaget. Dia nggak nyangka Mas Aji bakal gini. Biasanya pendiam, sekarang kayak orang kesurupan. “Aji! Turunin senjata sekarang!” bentak Kapten Andi, mukanya serius banget. Mas Aji langsung ragu, tapi egonya tinggi. “Kapten… saya nggak nggak patuh, tapi dia harus minta maaf dulu!” Budi lagi mikir banyak hal. Jujur, dia takut banget. Jantung berdegup kenceng pas liat moncong pistol, otak blank, rasanya maut udah di depan mata. Hampir aja lututnya lemes dan minta ampun. Tapi dia nggak mau. Nggak bakal sujud ke orang yang megang pistol. Itu penghinaan! Semua pikiran itu lewat cepat. Dia pelan-pelan tenang. Dia nggak percaya Mas Aji bakal nembak di depan semua orang kalau masih punya akal sehat. Lagian jaraknya cuma dua meter. Kalau cepet, Budi bisa patahkan tangannya atau bahkan bunuh sebelum ditembak. Tapi itu bakal bikin tambah runyam. “Turunin senjata kalau mau aku minta maaf,” kata Budi dingin. “Kamu pasti udah mati kalau Kapten nggak cepet selametin kamu tadi! Takut sekarang nggak apa-apa. Aku ikut Kapten aja. Kalau dia bilang balik, aku diem.” Kata-katanya halus tapi nyindir. Dia hindarin langsung Mas Aji, tapi juga ingetin usaha selametin Kapten biar tim polisi nggak kompak lawan dia. Kapten Andi langsung serius. Dia inget Budi yang tadi nyelamatin nyawanya dari kucing hutan. Kalau nggak ada Budi, dia udah mati sekarang. “Aji, turunin pistol sekarang! Dengar nggak?!” bentak Kapten. “Kapten… Kapten…” Mas Aji coba bela diri, tapi suaranya gemetar. “Hei, turunin aja!” Bang Zain ikut nyuruh. Dia juga sebel sama Mas Aji. Mas Aji nengok Budi, tapi akhirnya turunin pistol. Budi nggak liat dia lagi. Langsung jalan ke Kapten Andi dan bilang tulus, “Maaf ya, Pak. Tadi saya kelepasan ngomong kasar. Mohon maaf.” Kapten Andi tenang lagi. “Nggak apa-apa. Aku ngerti perasaan kamu. Situasi gini emang susah buat siapa pun. Tapi di sini bahaya banget. Kalau sampe puncak belum ketemu, kita balik ya. Gimana?” Mereka harus nemuin korban. Kalau nggak, nggak bakal sama. “Deal,” jawab Budi, lalu tambah, “Saya tahu peluangnya kecil, tapi masih ada harapan. Kalau kita nyerah sekarang, mereka bakal putus asa total.” Nggak ada yang peduli lagi soal minta maaf ke Mas Aji. Mbak Jeni mendekat, coba hibur Budi. “Kamu baik-baik aja? Mas Aji masih baru, harusnya lebih sabar. Jangan diambil hati.” “Aku oke kok,” jawab Budi. “Gimana rasanya diancam pistol?” tanya Bang Zain sambil nyengir, kasih jempol. “Kaki aku masih lemes,” jawab Budi sambil senyum kaku. Bang Zain kasih acungan jempol lagi respect. Dia pernah liat banyak orang bereaksi pas ditodong pistol: langsung sujud minta ampun, ada yang pipis di celana. Ini pertama kalinya liat orang kayak Budi tetep tenang meski takut. Nggak ada yang peduli sama Mas Aji yang berdiri sendirian, cemburu dan kesel. Mereka nggak lama di situ, tapi suara-suara aneh udah banyak. Seekor tikus gede keluar dari semak, liat mereka, liat mayat, ragu-ragu. Kapten Andi langsung waspada. “Ayo pergi. Darah ini bakal narik hewan lain.” “Pak, gimana kalau kita teriak nama korban aja? Kita udah setengah jalan. Kalau mereka denger, pasti jawab,” usul Mbak Jeni. “Oke, tapi kita pindah dulu dari sini. Teriak bisa ganggu hewan di sekitar,” jawab Kapten. Meski capek, Budi agak baikan setelah istirahat. Dia lanjut tebas tanaman dan cabang. Sepanjang jalan ketemu banyak hewan semua tertarik bau darah, tapi nggak ada yang berani serang. Sepuluh meter kemudian, mereka mulai teriak nama-nama korban. Nggak ada jawaban. Budi makin khawatir dia mulai curiga Mas Joko udah nggak ada. “Lihat! Itu kemeja nggak?” Mbak Jeni teriak sambil nunjuk ke depan. Budi langsung semangat lagi, buru-buru maju. “Kayaknya iya. Ada jejak! Mungkin mereka lewat sini naik. Pak, boleh kita cek?” usul Budi. “Ayo!” jawab Kapten. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai. Jejaknya sempit, tanaman di sekitar patah-patah, bengkok. Di dahan ada lengan baju berlumur darah. “Darahnya masih segar. Mungkin kurang dari dua hari. Bisa jadi punya Pak Camat atau yang lain!” kata Kapten sambil jongkok cek sekitar. “Ada darah di tanah. Mereka pasti diserang binatang buas, lalu kabur turun bukit. Ayo cari!” Budi langsung setuju, maju cepat. Semua ikut buru-buru, tapi noda darah berhenti setelah 10 meter. Mereka nemu jejak aneh: meliuk-liuk, lebar cuma satu jengkal, setiap kelokan mirip banget, kayak diukur presisi. Budi mikir dalam, pelajari jejak itu. Tiba-tiba dia teriak, “Anjir! Ini jejak ular?!” Bang Zain langsung angkat pistol, siaga. “Kalau jejaknya segede ini… bayangin ularnya seberapa gede!” Budi liat Mas Aji mundur pelan, sembunyi di belakang semua orang. Pasti bakal kabur kalau nggak takut kena marah. “Ini keputusan kamu, Budi. Mau lanjut cek atau balik?” tanya Kapten Andi. Mbak Jeni cepet-cepet bilang, “Balik aja. Saya nggak yakin kakak ipar kamu masih hidup.” Budi diem bentar. Lalu bilang, “Pak Kapten, saya bisa balik sekarang dan anggap kakak ipar saya udah mati.” Dia ragu sebentar, lalu lanjut, “Tapi saya bisa pergi, kalian nggak bisa. Ular itu udah gede banget, dan bakal tambah gede kalau cuaca terus begini. Kalau nafsu makannya nggak cukup dari hewan hutan lagi, dia bakal turun ke desa, lalu ke kota cari makan. Kalian polisi. Akhirnya kalian yang harus lawan. Nggak bisa kabur selamanya!” “Menurut kalian, lebih gampang bunuh ular yang baru kekenyangan dan berat bergerak, atau ular raksasa yang lagi laper?” tanya Budi. “Gimana kamu tahu dia nggak bisa gerak?” tantang Mas Aji. Budi nengok dia kayak liat orang bodoh. “Nggak peduli seberapa gede, ular butuh minimal beberapa hari buat cerna kalau baru telan orang. Selama itu dia nggak bakal gerak banyak badannya berat. Jadi agak lebih aman buat serang sekarang.” Budi nengok Kapten Andi, nunggu keputusan. Dia nggak bisa apa-apa lagi. Kalau Kapten nyerah, misi gagal. Dia nggak siap lawan ular sendirian apalagi takut ularnya parah. Setelah mikir lama, Kapten Andi nengok Budi. “Semoga yang kamu bilang bener. Kita lakuin ini buat desa!” Dia masih punya rasa keadilan. Dia tahu ini momen terbaik bunuh ular sebelum tambah parah. Bahkan Mas Aji diem aja. Jalan di jejak ular terasa menyesakkan. Mereka bisa bayangin kekuatan dan ukuran ular dari pohon-pohon yang bengkok dan patah. Ekornya aja cukup buat lumpuhin kalau kena senggol. Budi khawatir banget. Telapak tangan basah keringat, gagang parang licin. Dia nggak mau bayangin kalau orang tahu dia takut setengah mati. Semua siaga, jalan pelan-pelan, keringetan deras. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai ujung jejak. Di depan ada tanah tandus, sepi, penuh ranting kering bengkok-bengkok. Tempatnya nggak masuk akal kayak habitat ular raksasa. “Mas Aji, kamu cek dulu. Jangan ganggu apa-apa!” perintah Kapten pelan. Dia pengen Budi yang pergi, tapi Budi udah banyak bantu sepanjang jalan, sementara anak buahnya sendiri minim kontribusi. Malu kalau suruh Budi lagi ambil risiko. Mas Aji langsung pucet. Dia liat rekan-rekannya, liat Budi. Budi balas tatap sambil senyum sinis tantangan. Mas Aji kesel. “Baik! Aku pergi!” Dia langsung nyesel bilang gitu. Tapi nggak bisa mundur. Dia tarik pistol pelan, maju kayak orang mau dieksekusi. Baru jalan 10 meter, kakinya lemes, ambruk ke tanah. Takutnya kelewatan. Muka Kapten Andi langsung berubah. “Kamu maluin seluruh polisi!” Bang Zain ketawa kecil. “Aku aja deh.” Budi ketawa dalam hati. Nggak nyangka orang yang tadi berani todong pistol gara-gara harga diri, sekarang nggak sanggup hadapin ketakutan sendiri meski bersenjata. Kapten Andi angguk setuju. Bang Zain dulu tentara, langsung turun ke tanah, merangkak maju cepat. Beberapa menit kemudian, dia sampai di tempat Mas Aji ambruk. Dia ambil pistol Mas Aji, masukin ke sakunya sendiri. Lanjut maju, nggak peduliin Mas Aji. Beberapa saat kemudian, Bang Zain balik. Tapi sikap sombongnya hilang total. Mukanya putih pucat kayak kain kafan.“Lho, kok nggak ada kasur di dalam tenda ini? Padahal cuaca belakangan ini cukup hangat malam saja suhunya bisa sekitar dua puluh derajat. Pasti nggak bakal kedinginan walau tanpa selimut. Eh, lantainya ternyata dilapisi spons empuk juga rasanya! Wah, untunglah kita dapat yang begini.”Budi berbalik menatap kedua gadis itu. “Keduanya sama saja kondisinya. Kalian lebih suka tidur di tenda yang mana?”“Ehm...aku takut tidur sendirian malam ini...bolehkah aku tidur satu tenda sama Kak Budi dan Kak Jeni?” tanya Shinta pelan. Pikirannya masih penuh bayangan mengerikan yang baru saja ia saksikan.Budi dan Jeni saling bertatapan sekilas, lalu mengangguk setuju. “Tentu saja boleh.”Malam ini sungguh terlalu penuh dengan pemandangan darah dan kematian bagi gadis semuda Shinta. Jeni pun rasanya sulit tidur nyenyak, apalagi dia yang belum berpengalaman menghadapi dunia yang kejam ini. Kalau dibiarkan sendirian, kekhawatiran dan rasa takut yang menumpuk bisa saja menghancurkannya.Mereka bertiga
Budi berlari mendekati pintu sambil mencengkeram gagang parang besarnya. Ia menusukkan ujung senjatanya ke celah pintu baja setebal sepuluh sentimeter itu seolah logam keras itu tak lebih dari mentega yang dipanaskan, parang tingkat biru tua miliknya menembusnya dengan sangat mudah.Terdengar teriakan kaget dari balik pintu.“Buka pintunya sekarang, atau aku akan merobohkan seluruhnya!” perintah Budi dengan suara tegas dan dingin.“BAIK! KAMI BUKA! JANGAN DIHANCURKAN! SEKARANG JUGA KAMI BUKA!”Budi mundur selangkah, dan pintu baja itu perlahan terbuka dengan bunyi berderit panjang. Sekelompok orang menatapnya dengan wajah pucat dan tak berdaya saat Budi beserta rombongannya melangkah masuk. Beberapa pria di dalam memegang pistol, dan dua orang lainnya bahkan membawa senapan laras panjang.Pemimpin mereka adalah pria bertubuh tegap dengan bekas luka panjang yang membentang dari antara alis hingga ke sudut bibir sosok yang terlihat sungguh mengintimidasi. Ia menatap parang di tangan Bud
Tubuh Shinta terus gemetar saat melangkah mendekati kelabang raksasa itu. Senjata lemparannya sudah melayang di udara, siap untuk dilepaskan. Wajahnya makin memucat, dan ia menggertakkan gigi menahan rasa takut yang meluap di dada. Detik berikutnya, ia mengerahkan kekuatan pikirannya telekinesis dan melontarkan senjata itu sekuat tenaga ke arah kepala makhluk itu. Kelabang itu merasakan bahaya yang datang dan berusaha menghindar, tapi sudah terlambat. Dalam sekejap, senjata itu menembus tepat ke bagian kepalanya! Cangkang keras yang terlihat kokoh tadi ternyata tak sanggup menahan serangan itu. Tubuh kelabang itu menggeliat hebat, mencoba berjuang, namun luka di kepalanya sudah mematikan. Meskipun begitu, gerakan tak sadar yang dilakukan makhluk raksasa itu sebelum mati tetap sangat berbahaya. Tubuhnya yang besar terguling-guling di atas jalan, membuat tanah di sekitarnya ikut berguncang. Dari mulutnya yang terbuka, keluar kabut berwarna merah muda yang berbau manis namun menyenga
“jalan sumbu kebangsaan nomor 93! Dulu kantor tempat saya bekerja persis di dekat situ!” seru wanita itu melanjutkan.“Saya juga ingat tempat itu. Tempat perlindungannya sempat dibuka lama sekali beberapa waktu lalu, saya bahkan pernah ke sana sekali,” sahut seorang pria lain yang ikut mendengar.“Tidak jauh dari sini kok. Jalan lurus ke timur sampai tiba di persimpangan besar, belok ke utara, di situlah Jalan sumbu kebangsaan. Cuma beberapa kilometer saja, ayo berangkat sekarang!” tambah seorang pria bertubuh agak gemuk dengan nada penuh keyakinan.Namun tak ada satu pun yang langsung bergerak. Semua mata tertuju pada Budi. Pria tadi pun terlihat canggung karena tak ada yang mengindahkan ucapannya.Mungkin dulu dia adalah manajer atau bos perusahaan, tapi di masa seperti ini, tak ada yang peduli seberapa kaya atau berkuasanya seseorang di masa lalu.Sementara itu, Budi tak perlu menunjukkan kekuatan berlebihan. Selama setengah jam perjalanan tadi, dia tetap tenang, menarik Jeni dan S
“Kak Budi, makhluk itu makin dekat!” seru Shinta, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.“Pegang tanganku erat-erat!” perintah Budi dengan napas tertahan. Meski kekuatannya jauh di atas rata‑rata, di tengah kerumunan yang padat seperti ini ia tak bisa bergerak leluasa, apalagi melawan makhluk sebesar itu. Ia hanya bisa berusaha mendesak maju ke arah depan.Keputusasaan menyelimuti semua orang. Jeritan panik terdengar bersahut‑sahutan di telinga mereka.Kerumunan sempat membeku sejenak, seolah dikendalikan oleh kekuatan lain yang lebih tinggi, sebelum gelombang dorongan datang dari depan maupun belakang secara bersamaan. Beberapa orang yang terjepit di tengah sampai muntah darah karena tekanan yang begitu kuat. Makian dan keluhan tanpa harapan terdengar samar‑samar dari arah depan.Hal terburuk yang mereka takutkan akhirnya terjadi.“Mereka mulai menembak...kenapa mereka menembak sembarangan?” Wajah Jeni pucat pasi, bercampur rasa takut dan tak percaya.“Lalu bagaimana dengan kita?” tan
Dayang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun rasa dingin menjalar hingga ke tulang punggungnya saat melihat ketegasan dan kegelisahan di wajah Budi. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengikuti langkah mereka. Budi memaksa menerobos kerumunan sambil menarik kedua gadis itu bersamanya. Tekanan di dadanya makin terasa berat, dan kecemasan yang meluap di dalam hati membuatnya hampir ingin berteriak. Ia menerjang maju meski diserang makian dan caci maki dari orang‑orang yang terhimpit, seolah telinganya sama sekali tidak mendengar suara‑suara itu. Ia segera menyeberang ke sisi jalan dan mengamati sekeliling. Tak lama kemudian, ia berlari menuju depan sebuah pusat perbelanjaan besar. Bangunan semacam ini biasanya memiliki tempat parkir bawah tanah yang kokoh namun sebelum sempat sampai di sana, tubuhnya tiba‑tiba mulai bergetar hebat. Bukan hanya dirinya yang gemetar; seolah seluruh dunia ikut berguncang! Suasana bising di jalan perlahan mereda, kerumunan mendadak hening. Semua
Namun dia tampak tak peduli, dan terus mencoba dengan antusias. Sendok, cangkir teh, piring, buku, bahkan kursi mulai melayang-layang, meski sepertinya itu sudah batas kemampuannya. Budi menduga bahwa dia hanya bisa memanipulasi objek yang beratnya tidak lebih dari 10 kg dan dia sedikit kecewa. T
Jeni sebenarnya mau marah dan nyuruh Budi jangan kesana lagi, tapi pas lihat tatapan Budi yang tegas, kata-katanya cuma jadi keluhan panjang. Dia tiba-tiba jadi takut banget, bayangin kalau suatu hari Budi pergi tapi nggak pulang-pulang lagi. Buat nutupin rasa cemasnya, Jeni buru-b
“Apa ini?” Budi menemukan sebuah sisik yang setengah terkubur di samping kantong plastik. Bentuknya sama sekali tidak mirip milik kadal biasa. Dia menarik sisik itu keluar dan melihat bahwa ukurannya sebesar bola pingpong, permukaannya halus dan mengkilap dengan semburat warna biru
Mereka terlalu sibuk memperhatikan pertarungan tadi, jadi tidak sadar kalau Budi sedang mengeluarkan darah dari hidungnya. Sekarang melihatnya, mereka semua terbelalak. Penampilan Budi memang mengerikan wajah dan bajunya berlumuran darah, ditambah lagi kakinya tampak gemetar seolah sulit berdiri







