LOGINDiselingkuhi dan tak pernah mendapat kepuasan suami, wanita cantik itu datang padaku. "Buat saya hamil, maka beban keuanganmu tahun ini akan kutanggung!" Menerima tawaran menghamili istri konglomerat, kenapa tidak? Ini memang di luar etika, tapi aku terpaksa melakukannya, demi pengobatan ibuku dan pendidikan ketiga adikku. Tak kusangka, milikku yang perkasa justru membuatnya tergila-gila.
View More"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung."
Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang meja, tepat di hadapannya. Wanita cantik itu adalah Rain Cassandra, sengaja datang ke tempat hiburan malam untuk menemui Satria, seorang pria bayaran yang direkomendasikan oleh sahabatnya. Kata sahabatnya, Satria Rendra adalah pendatang baru di club malam tersebut. Jelas, jika kondisi fisik dan kesehatannya jauh lebih baik dari para pria bayaran yang sudah lama bekerja di sana. Selain itu, beberapa hari yang lalu Rain juga sempat melihat Satria di rumah sakit. Pada saat itu, keadaan Satria sangat kacau, ia menangis dan mengiba di hadapan dokter yang hendak menghentikan pengobatan ibunya. "Saya mohon, ibu saya harus tetap dirawat. Saya akan mencari uang itu asal terapi ibu saya tidak dihentikan, Dokter. Saya akan berusaha untuk melunasinya minggu ini. Tolong saya... Saya siap melakukan apapun dan saya janji akan melunasi semuanya!" Plak! Tamparan keras itu mendarat di wajah Satria yang dibanjiri air mata. "Pekerja rendahan sepertimu mau melunasi biaya pengobatan? Hey, gembel, ini nominalnya 100 juta lebih. Mana mungkin kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu!" Satria masih berlutut di kaki pria tua berjas putih itu. "Hanya dokter dan pihak rumah sakit harapan saya satu-satunya. Jika pengobatannya dihentikan, Ibu saya bisa meninggal. Saya mohon tolong saya, Dokter. Saya berjanji akan segera melunasi seluruh biayanya." "Ah, persetan dengan ibumu! Cepat pergi dari sini, dasar gembel peminta-minta!" Tanpa perduli pada Satria, Dokter itu pun merapikan jas putih yang dipakainya. Lalu, pergi dari tempat itu. “Dokter….” . . . Mengingat kembali kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Rain menyunggingkan sudut bibirnya. "Kalau setuju, kamu bisa tandatangani kontrak kerja sama kita," ucap Rain. Kedua tangannya dilipat di dada, sedangkan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Melalui kacamata hitam itu, Rain memandangi wajah tampan Satria yang terlihat polos dan kalem. Ia yakin sekali, jika pemuda 21 tahun itu belum berpengalaman bekerja di tempat hiburan malam. Semua itu terlihat jelas dari ekspresi dan gelagat gugup bercampur takut yang ditunjukkan oleh Satria pada para tamu yang datang. Mendengar tawaran yang diberikan wanita kaya di hadapannya, Satria mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sesaat ia memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Bayangan ibunya yang saat ini sedang stroke dan lumpuh, juga ketiga adiknya yang membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan juga makan, membuat Satria mau tak mau harus mengambil keputusan dengan cepat. "Ahh, persetan siapa dia. Kesempatan gak bakalan datang dua kali, yang penting aku bisa bayar pengobatan ibu. Dan, biaya sekolah adik-adik juga bisa tercukupi," kata Satria dalam hati. Pemuda itu kembali menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, saya setuju, Nyonya!" sahutnya dengan yakin. Wajah tegangnya terlihat semakin tegang, bahkan kedua tangannya yang terkepal erat di pahanya, kini dibanjiri oleh keringat. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Satria, sudut bibir Rain tersungging. Merasa puas dengan jawaban yang ia terima. Tak sia-sia sahabatnya merekomendasikan Satria. Dengan iming-iming uang, pemuda yang berstatus sebagai tulang punggung keluarga yang sedang terhimpit ekonomi itu akhirnya setuju dengan tawarannya. "Baiklah, sekarang silahkan baca poin-poin penting yang tertera di dalam surat kerja sama kita. Kalau sudah benar-benar oke, kamu bisa langsung tandatangani!" Satria mengangguk. Tangannya bergerak pada berkas yang ada di atas meja, lalu membacanya dengan teliti. Lima menit kemudian, Satria mengangkat kepalanya dan menatap pada Rain. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Kontrak kerja sama itu berisi tiga poin penting, pertama ia tidak boleh membocorkan hubungan kontrak mereka pada siapapun. Kedua, ia harus siap kapanpun saat dibutuhkan, dan yang ketiga kontrak kerja sama mereka akan berakhir setelah Rain mengandung. Jika Satria melanggar poin pertama dan kedua, maka ia harus membayar denda sebesar 250 juta. Cukup mengerikan bukan? 250 juta bukanlah nominal yang kecil bagi Satria, jadi Rain sudah memperkirakan jika pemuda itu tidak akan berani ingkar janji. "Gi-gi-gimana kalau Nyonya gak hamil setelah berhubungan sama saya?" tanya Satria. Suaranya tergagap dan terdengar gugup. Rain tersenyum tipis. "Kita gak akan tahu hasilnya kalau gak dicoba," balasnya dengan santai sembari membuka kacamata hitamnya. Begitu kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Rain dilepaskan, Satria meneguk ludah. Kegugupannya semakin bertambah, ternyata wanita itu jauh lebih cantik jika tidak memakai kacamata. "Terus gimana? Kalau Nyonya gak hamil dalam waktu dek—" "Kalau dalam waktu setengah tahun saya gak hamil, maka saya akan membebaskan kamu. Tapi ingat— sebagai syarat tambahan, selama setengah tahun ini kamu gak boleh meniduri wanita lain selain saya!" lontar Rain dengan suaranya yang datar, dingin, tetapi terdengar santai. Wanita itu menatap Satria yang menyimak dan mencerna perkataannya. "Bagaimana? Kamu sanggup?" lanjut Rain. Satria mengangguk cepat. Setuju dengan syarat tambahan yang diberikan oleh Rain. "Saya setuju dan sanggup, Nyonya. Saya janji bakal berhenti kerja dari tempat ini dan gak akan berhubungan dengan perempuan manapun selain Nyonya." Satria menimpali perkataan Rain dengan begitu bersungguh-sungguh. Inginnya Satria memang seperti itu, lebih baik melayani seorang wanita dari pada harus berganti-ganti pelanggan setiap malam. Sebenarnya ia jijik pada wanita-wanita kurang belaian yang ada di tempat laknat itu. Bahkan, setengah bulan berada di sana, Satria hanya menerima pelanggan yang minta di temani minum dan mengobrol, tidak pernah menerima tawaran tidur karena takut tertular penyakit mematikan. Namun, kali ini ia setuju lantaran melihat penampilan Rain yang anggun dan elegan. Ia yakin sekali jika wanita itu bukanlah wanita nakal seperti kebanyakan wanita yang datang ke tempat hiburan itu. Terlebih lagi, bayaran yang dijanjikan memang begitu menggiurkan. Biaya keuangannya dan segala kebutuhannya akan ditanggung oleh wanita itu selama ia bekerja, yang artinya semua biaya pengobatan ibunya dan juga kebutuhan ketiga adiknya akan tercukupi tanpa harus bekerja sana sini lagi. "Kalau gitu, saya tandatangan sekarang, Nyonya," kata Satria. Ia meraih pulpen dan segera membubuhkan tandatangannya di atas hitam putih surat kerja sama tersebut. Melihat Satria benar-benar membubuhkan tandatangannya, Rain kembali tersenyum tipis, senyuman yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. Setelah membubuhkan tandatangannya, Satria memberikan kontrak perjanjian itu pada Rain. "Sudah, Nyonya," kata Satria dengan suaranya yang memang soft terdengar begitu sopan. Sikapnya yang sopan, membuat Rain semakin yakin jika pemuda itu adalah pria baik-baik, dan terpaksa bekerja di tempat seperti itu. "Oke, kalau gitu kita resmi kerja sama. Jangan lupa, besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Bersambung....Rain yang saat ini berada di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, berbaring dengan pose yang begitu menggoda.Wanita hamil itu menunggu Satria yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Katanya, Satria yang sudah dua hari tidak mandi, ingin membersihkan diri lebih dulu sebelum melakukan hubungan intim. Namun, sudah lima belas menit berlalu, berondong peliharaan Rain itu tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi yang pintunya tertutup rapat."Ckk, Satria ngapain sih di kamar mandi, kok lama amat?" gerutu Rain sambil mengusap-usap kedua bukitnya yang semakin hari semakin berisi dan padat. Rain yang berbaring dengan posisi miring di atas ranjang tersebut, tak hentinya menggerutu sebal lantaran merasa terlalu lama menunggu sang kekasih yang membersihkan diri. Tak lama kemudian, Satria melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk singkat yang melilit tubuh telanjangnya.Tetesan air dari rambut basahnya, membuatnya terlihat semakin tampan di mata Rain yang ternyata sud
"Aku akan atur waktu yang baik untuk menemui dan menjemput anak itu nanti!" Tuan Arya berbicara dengan kalimatnya yang terdengar santai. Namun jelas, jika pria separuh baya itu sedang menahan gemuruh di dalam dadanya. Jika tidak takut nyawa putranya terancam, sudah pasti ia akan menjemput anaknya saat ini juga."Minggu depan adalah hari pernikahan Rain dan pemilik kalung giok itu, Mas. Gimana kalau Mas datang di hari pernikahan mereka aja? Sekalian ajak Mbak Laras!" ujar Pak Anjas yang berdiri di belakang Tuan Arya. Mendengar perkataan Pak Anjas, pria separuh itu berbalik. Ia menatap asisten mendiang sahabatnya itu dengan tatapan yang yang dalam, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, minggu depan aku akan hadir di pernikahan Rain dan pemuda itu, sekaligus memastikan apakah anak itu memang benar-benar anakku yang hilang atau bukan," kata Tuan Arya seraya mengulas senyum. "Ingat, Njas. Jangan kasih tahu siapa-siapa tentang obrolan kita hari ini!" Pak Anjas menganggukkan kepalanya
Satria yang menemani Rain makan siang di sebuah warteg sederhana, terlihat murung dan tidak banyak bicara sejak tadi, membuat Rain yang sedang menikmati sup iganya itu menghela napas pelan. "Sayang, kamu gak mau ikut makan?" tanya Rain yang sejak tadi merasa diabaikan. Kalimat yang keluar dari bibir Rain, membuat Satria mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih. "Kamu ngomong apa, Sayang?" tanya balik Satria yang ternyata tidak fokus mendengarkan Rain. Rain yang merasa kesal, menghela napas panjang dan mendengus keras. Wanita hamil itu menarik mangkuk sup iga dan piringnya, lalu membuang muka, tak mau menatap Satria yang menyebalkan. "Nyebelin... kalau gak niat nemenin makan, ngapain gak bilang dari tadi coba!" sungut Rain. Melihat sikap uring-uringan Rain, Satria memejamkan matanya sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha mengurangi gemuruh yang ada di dalam dada dan juga riuhnya isi kepala. Pemuda gigolo privat itu memikirkan Nyonya Laras dan
"Pak Anjas, tunggu!" Mendengar seseorang memanggilnya, Pak Anjas menghentikan langkah, lalu menoleh dan menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lift. Kening pria separuh baya itu spontan berkerut dalam saat melihat orang yang memanggilnya. Orang itu adalah Tuan Seno, kakak dari Tuan Arya. "Tuan Seno, ada apa?" tanya Pak Anjas saat langkah pria itu sudah dekat dengannya. Tuan Seno menyunggingkan sudut bibirnya, sedangkan sepasang matanya menatap Pak Anjas yang berdiri di depan pintu ruangan kerja adiknya. "Gak ada apa-apa, saya cuma mau memastikan penglihatan saya. Ternyata memang benar Pak Anjas yang datang," kata Tuan Seno dengan santai. "Ada keperluan apa sampai repot-repot datang ke perusahaan ini sendiri?" lanjutnya.Kening Pak Anjas semakin berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Pria separuh baya itu heran melihat Tuan Seno yang seolah begitu ingin tahu tujuannya datang ke tempat tersebut. Meskipun heran, sebisa mungkin ia bersikap santai dan biasa saja, "Ah, it












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore