Share

4. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-25 21:57:16

"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip.

Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan.

"Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu sentuh, saya gak bakalan bisa hamil!" lanjutnya.

Gluk!

Satria dibuat meneguk ludah, cepat-cepat ia membuang pandangannya. Perkataan yang keluar dari mulut Rain, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Sampe kapan kamu mau berdiri di sana? Sampe besok?" tegur Rain. Suaranya yang datar, membuat Satria kembali meneguk ludah.

Mendapatkan teguran, cepat-cepat Satria melangkah mendekati ranjang dan ikut mendudukkan bokongnya di sana.

"Saya duduk di sini, Nya. Jangan marah-marah," kata Satria.

Di samping Rain, Satria meremas pinggiran kemeja yang dipakainya. Berulang kali ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengurangi rasa gugup yang kini merayap di hatinya.

"Kamu kenapa sih? Kok kayaknya takut banget sama saya. Emangnya seperti ini cara kamu melayani pelanggan di club malam?" tanya Rain sembari memperhatikan Satria yang gugup dan salah tingkah.

Kepala Satria menggeleng. "Saya gak takut tapi gugup, soalnya Nyonya cantik banget dan beda sama tante-tante yang sering saya temenin di club," jawabnya dengan wajah meringis.

Mendengar perkataan Satria, sudut bibir Rain tersenyum tipis. Ucapan pemuda itu terdengar seperti pujian yang membuat hatinya sedikit menghangat.

"Sebelum kerja di club, kamu kerja apa?"

Rain yang sebelumnya dipuji cantik, tiba-tiba menanyakan pekerjaan Satria sebelumnya.

Ditanya, Satria yang gugup mengusap tengkuk lehernya, lalu garuk-garuk kepala.

Selanjutnya, "Banyak, Nya. Dulu waktu lulus SMA, saya sempet kerja di cafe sambil kuliah. Te—"

"Kamu kuliah?" tanya Rain. Memotong perkataan Satria dengan cepat.

Kepala Satria mengangguk. "Sempet— satu setengah tahun. Habis itu berhenti karena ibu jatuh sakit. Setelah itu saya kerja serabutan, pindah-pindah, nyari kerjaan yang gaji dan pendapatannya lebih besar. Sampe akhirnya dapat tawaran dari temen, katanya kerja di club uangnya lumayan."

Jemari Satria saling meremas satu sama lain. Wajahnya menunjukkan rasa tidak enak, tetapi bibirnya tetap tersenyum.

Mendengar penjelasan Satria, Rain termangu. Penjelasan pemuda itu membuat rasa iba timbul di hatinya. Ia kasihan dan prihatin pada Satria, namun dengan cepat ia menepis pikirannya.

Wanita itu tidak ingin terlalu peduli pada orang lain. Ia hanya ingin fokus pada dirinya sendiri untuk saat ini.

Beberapa saat kemudian, makanan yang dipesan Rain sebelumnya datang. Ia pun segera memerintahkan Satria untuk mengisi perut.

"Makanan kamu udah datang, buruan dimakan dan habiskan. Setelah itu mulai kerjaan kamu," kata Rain.

Satria mengangguk, lalu segera membawa nampan berisi makanan itu menuju sofa tunggal yang ada di sana.

Di sofa tunggal kamar itu, Satria yang sedang melahap makanannya tak lepas dari pandangan dan perhatian Rain.

Melihatnya makan, timbul rasa kasihan di hati Rain. Pikirnya, apakah hanya perasaannya saja jika Satria terlihat menyedihkan, atau memang begitu cara makannya.

Bagaimana tidak kasihan? Satria yang menikmati makanannya, tampak tertunduk dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar pelan.

Lima belas menit kemudian, Satria yang sudah menghabiskan makanannya, beranjak dan pergi ke kamar mandi. Ia menggosok giginya, tak ingin Rain merasa jijik dan ilfil.

"Nyonya, saya ke kamar mandi sebentar," kata Satria sembari melepaskan kacamata bening yang dipakainya.

Rain yang memasang wajah datar dan cuek, menganggukkan kepalanya. Membiarkan Satria bersih-bersih sebelum menjamahnya.

Tak lama kemudian, Satria keluar dari kamar mandi. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Rain dengan tatapan bingung bercampur gugup.

"Nyonya, sekarang saya harus ngapain?" Satria yang gugup memberanikan diri untuk bertanya. Suaranya pelan dan terdengar takut-takut, bahkan dadanya yang semula sudah berdetak normal, kini kembali berdetak dengan cepat.

Ia meringis, sedangkan matanya menatap takut pada Rain.

Rain yang duduk bersandar di kepala ranjang, dibuat menghela napas dengan kasar. Setelah makan kenyang, bisa-bisanya pemuda bayaran itu bertanya padanya harus melakukan apa.

Pikirnya, apakah sebelumnya Satria belum pernah melayani pelanggan di atas ranjang?

"Inisiatif dong, Sat! Masa saya yang harus ngajarin kamu ini dan itu!" lontar Rain dengan nada bicaranya yang terdengar kesal.

Semakin meringis Satria dibuatnya. Meskipun sudah sering melihat materi sebagai bekal bekerja di dunia hiburan malam, tetapi ia sama sekali belum pernah mempraktekkan apa yang telah dipelajari selama ini.

"Buka baju kamu dan naik ke atas ranjang!" titah Rain. Tangannya menunjuk baju kaos putih Satria yang dilapisi kemeja biru.

Satria menggangguk cepat. Lalu segera melepaskan kemeja dan kaosnya. Setelah itu, ia merangkak naik ke atas tempat tidur yang luas.

Melihat Satria duduk di atas tempat tidur, Rain tersenyum tipis. Ia beringsut dengan gerakan perlahan dan mendekati pemuda itu.

Di atas tempat tidur, Rain yang mendekati Satria, memajukan wajahnya dan membusungkan kedua bukitnya hingga menempel pada tubuh Satria yang bertelanjang dada.

"Lakukan apa yang mau kamu lakukan, Satria. Buat saya merasakan puas dan juga hamil secepatnya!"

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Om Sumijan
mulaii hoot
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   284. TAMAT

    Rumah Sakit Ibu dan Anak pusat kota, di sanalah kini Rain berada. Di atas ranjang pasien, Rain terbaring lemas. Di sampingnya, seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkannya dua jam yang lalu sedang tertidur pulas. Sedangkan di kursi samping ranjang pasien, Satria duduk menemani. Sejak tadi, pemuda yang kini berstatus sebagai papa muda itu tak ingin jauh-jauh dari istri dan putranya meskipun hanya sebentar saja. "Sayang, boleh gak baby-nya dibangunin? Aku mau denger suaranya nangis!" Rain yang terbaring itu pun menggeleng pelan. Tak mengizinkan sang suami mengganggu bayinya yang sedang terlelap. Namun, Satria yang semula minta izin dan tidak diperbolehkan oleh istrinya itu justru mencolek-colek pipi merah putranya dengan gemas. Alhasil, bayi mungil itu menangis dengan keras. "Oek, oek...." "Astaga, Satria Narendra!" kata Rain dengan suara tertahan. "Haha... akhirnya bangun juga!" Bukannya takut dimarahi, papa muda itu tertawa dengan keras. Ia sangat senang mendengar tangisa

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   283. PPPN

    Setelah semua kebenaran terungkap dan Tuan Seno serta antek-anteknya diamankan, kini keadaan keluarga Mandala semakin membaik.Nyonya Laras yang sebenarnya sudah sembuh sejak dibawa pulang ke kediaman Mandala beberapa bulan lalu, kini dapat beraktivitas layaknya kehidupan orang-orang normal.Wanita paruh baya itu kini tak perlu lagi menyembunyikan diri dan berpura-pura sakit jiwa seperti kemarin-kemarin.Ia bisa tertawa, bercanda, bahkan kembali menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Tuan Arya tanpa harus memikirkan berbagai ancaman yang dulu selalu membayangi.Di dalam kamarnya, Tuan Arya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh telanjang dibalut handuk singkat, menghampiri sang istri yang duduk di depan meja rias."Sayang...." panggil Tuan Arya sembari memeluk dan mencium lembut tengkuk istrinya yang terekspos.Nyonya Laras yang tengah bercermin pun langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah tingkah suaminya kali ini."Jangan lagi, Mas

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   282. PPPN

    Di balik jeruji besi, di sanalah kini Tuan Seno berada. Pria paruh baya itu mengamuk minta dibebaskan, bahkan mengancam para polisi yang bertugas."Lepaskan saya, keluarkan saya dari sini!"Mendengar suara keras Tuan Seno, para tahanan lain menutup telinga mereka. Jelas, para tahanan itu terganggu dengan keributan yang diciptakan pria paruh baya itu."Hei, kalian semua tuli, ya? Cepat bebaskan saya, kalau enggak, besok saya akan menghancurkan tempat ini!" seru Tuan Seno sambil memukul-mukul jeruji besi tersebut dengan keras.Pria paruh baya itu mengamuk seperti orang yang tidak waras. Wajah dan matanya memerah, bahkan tak henti-hentinya berteriak."Goblok kalian semua! Cepat keluarkan saya!"Di saat Tuan Seno sedang mengamuk, derap langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Dan tak lama kemudian, datanglah Tuan Arya, Ares, dan Satria.Ketiganya menghampiri Tuan Seno yang mengamuk.Mendengar derap langkah kaki mendekat, Tuan Seno menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat Tuan Arya

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   281. PPPN

    "Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   280. PPPN

    "Oh... ternyata kayak gini kelakuan kalian kalau gak ada aku di rumah! Dasar binatang, gak punya otak!"Brak!Bantingan keras pintu yang diiringi suara teriakan Diana membuat Tuan Seno dan Nabila terkesiap. Keduanya sama-sama membeku selama beberapa detik, seolah baru saja tersadar dari apa yang telah mereka lakukan.Panik, Tuan Seno mencabut batangan tegangnya yang bersemayam di dalam lubang apem Nabila, lalu bergerak turun dari atas ranjang.Pria paruh baya itu meraih celananya dan memakainya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena ketakutan melihat Diana yang kini berdiri di ambang pintu.Begitu pula dengan Nabila yang panik setengah mati. Dengan tubuh telanjangnya, gadis binal itu meraih hotpants-nya yang berada di ujung kasur."Binatang kalian berdua, anjing!" maki Diana dengan suara melengking keras.Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tatapannya berpindah dari Tuan Seno pada Nabila yang terlihat panik dan ketakutan.Melihat kemarahan istrinya, Tuan Seno y

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   279. PPPN

    Siang itu, Tuan Seno yang berada di perusahaan kembali ke rumah dalam keadaan yang kacau.Wajahnya kusut. Ia pusing memikirkan Togar yang diringkus oleh polisi. Takut anak buahnya itu buka mulut.Tiba di rumah, keadaan begitu sepi. Hanya ada Nabila yang sedang tiduran santai di sofa sambil bermain ponsel."Om, udah pulang?" kata Nabila, menyapa Tuan Seno yang baru saja pulang dari kantor."Hmm... Diana mana?" tanya Tuan Seno sembari mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.Ditanya, Nabila yang memakai crop top dan hotpants itu beringsut, lalu duduk dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa."Mama Diana pergi belanja sama teman-temannya. Katanya tadi sore baru pulang," kata Nabila, menjawab pertanyaan Tuan Seno dengan mata menatap wajah kusutnya. "Om kenapa? Kok kayaknya pusing banget?" tanyanya kemudian.Tuan Seno menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila dan memeluk pinggang ramping gadis itu."Capek, pusing mikirin kerjaan di kantor," jawab Tuan Seno.Cup

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   183. PPPN

    "Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   5. PPPN

    "Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   3. PPPN

    "Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   2. PPPN

    "Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status