Share

5. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-25 22:00:08

"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!"

Gluk!

Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak menikah saja agar lebih enak dan bebas.

"Sa-sa-saya beneran boleh ngunyel-ngunyel dada Nyonya?" tanya Satria dengan suara tergagap.

Tubuh pemuda tampan itu menegang, bahkan lebih tegang dari asetnya yang berada di bawah sana.

Tak hanya itu, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuh Satria. Sebab, ini adalah kali pertama posisinya begitu intim dengan seorang wanita.

Setengah bulan bekerja di club malam, ia hanya duduk berdekatan dengan pelanggan, menuangkan minuman dan meladeni obrolan mereka. Bersentuhan pun tak lebih dari berpegangan tangan.

"Hmm, sentuh dan nikmati tubuh saya, Satria," bisik lembut Rain di telinga Satria.

Satria kembali meneguk ludah. Tangannya yang bertumpu pada kasur, kini dibuat gemeteran. Ia grogi setengah mati, bahkan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Terlebih lagi, hembusan napas Rain yang wangi menusuk indra penciumannya, membuat hasrat kelakiannya semakin bergejolak dan meronta-ronta.

"Nyonya, saya takut," ucap Satria dengan pelan.

"Sentuh saya seperti kamu menyentuh pelanggan lain, Satria. Anggap saya adalah milik kamu malam ini," balas Rain. Hidungnya mengendus telinga dan turun ke leher Satria, menikmati aroma maskulin parfum yang dipakai pemuda itu.

"Huh... Nyonya." Satria melenguh, Rain benar-benar membuatnya bergairah.

Meskipun sudah bergairah sejak Rain menekankan kedua bukitnya yang bulat dan padat, tetapi Satria tetap berusaha menahan diri. Melihat bagaimana tingginya keinginan Rain yang ingin dihamili, timbul rasa cemas dan takut di hati Satria.

Batin Satria, apakah setelah ini ia akan terkena masalah besar?

"Nyonya, kenapa minta dihamili sama laki-laki bayaran kayak saya?" tanya Satria dengan nada bicaranya yang terdengar ragu dan takut-takut.

Rain yang mengungkung tubuh Satria, tiba-tiba beranjak setelah ditanya. Ia menghela napas panjang, sedangkan keningnya berkerut dalam.

"Tugas kamu melayani dan menuruti semua perintah saya. Jadi selesaikan pekerjaan kamu tanpa banyak bicara!" lontar Rain dengan ketus dan tegas.

Gluk!

Satria kembali meneguk ludah. Ekspresi Rain cepat sekali berubah, seperti wanita yang memiliki kepribadian ganda, benar-benar mengerikan.

"Kamu paham?"

Kepala Satria mengangguk. "Paham, Nyonya. Saya gak akan menanyakan hal itu lagi," jawabnya cepat.

Sudut bibir Rain tersungging. Sedangkan matanya menatap Satria dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sekarang mulai pekerjaan kamu. Layani dan puaskan saya," kata Rain. Memerintah Satria untuk memulai pekerjaannya.

"Baik, Nyonya!" timpal Satria dengan patuh.

Pemuda itu memang menimpali perkataan Rain, tetapi tidak bergerak dari posisinya. Ia justru memandangi wajah dan penampilan seksi Rain yang menggoda.

Sedangkan kedua tangannya, meremas pinggiran celana jeans yang dipakainya.

"Ayo, Satria. Apalagi yang kamu tunggu?"

"Kalau saya nyentuh dan mainin dada dan punya Nyonya, beneran gak masalah kan? Nyonya gak bakalan ngegampar muka saya?"

Oh Tuhan!

Satria benar-benar membuat tensi Rain naik.

Tidak memiliki keahlian dan keberanian, bisa-bisanya bekerja sebagai pria bayaran.

"Kamu jadi gigolo buat apa, Satria? Emang buat nyentuh dan nyenengin perempuan kan? Sentuh dan puasin saya kayak kamu muasin pelanggan kamu di club malam selama ini!" jerit frustasi Rain pada Satria. Wajahnya memerah, kesal sekali pada pemuda dungu dan polos yang disewanya.

Batinnya, Satria benar-benar dungu dan polos atau hanya pura-pura?

"Kayak saya melayani pelanggan lain?" tanya Satria dan diangguki kepala oleh Rain. "Tapi, tapi selama ini saya cuman nemenin pelanggan minum-minum dan ngobrol, Nyonya. Belum pernah kontak fisik kayak gini!" jelasnya jujur.

Krik, krik!

Melotot lebar mata Rain. Kaget mendengar pengakuan Satria yang katanya belum pernah melakukan hubungan seksual. Padahal jelas-jelas kerjanya sebagai pria bayaran.

"Kamu serius, Satria?" tanya Rain, masih dengan sepasang matanya yang melotot.

Satria mengangguk. Mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rain.

"Nemenin minum dan ngobrol dikasih tips 200-500 ribu semalam, hee!" Satria menyengir kuda.

"Oh, astaga... ternyata kamu lebih polos dari yang saya kira," kata Rain mendesah berat. "Tapi bagus juga sih, anak yang saya kandung nanti bukan anak laki-laki bekas perempuan lain!" imbuhnya.

Batin Rain, meskipun Satria polos dan menyebalkan, setidaknya ia adalah wanita pertama untuk pemuda itu. Artinya, ia aman dari penyakit menular seksual yang mematikan.

"Jadi gimana, Nya? Saya beneran gak akan digampar kan kalau ngunyel-nguyel badan Nyonya yang mulus dan montok?" tanya Satria memastikan.

Ekspresi wajah pemuda itu saat ini, sangat-sangat menyebalkan di mata Rain.

"Iya, iya, Satria. Kamu bebas ngapain aja, mau kamu isep-isep juga boleh. Sesuka kamu aja pokoknya, yang penting saya bisa hamil!" timpal Rain menahan kesal, bahkan giginya sampai menimbulkan bunyi gemeretak saking jengkelnya.

Satria yang semula terlihat ragu dan takut, kini kembali menyengir kuda, hingga Rain geleng-geleng kepala dibuatnya.

"Buruan mulai, keburu saya ngantuk," kata Rain.

Wanita itu berbicara sembari merebahkan tubuhnya, menunggu Satria memulai permainan.

"Sabar, Nya. Semua butuh proses, gak ada yang instan di dunia ini," kata Satria. Membalas perkataan Rain yang terkesan tak sabaran.

"Buruan, Satria! Atau, saya yang bakalan ngunyel-ngunyel punya kamu sampe lemes!"

Rain yang dibuat darah tinggi, kembali beranjak dari posisi berbaringnya sambil menjerit kesal pada Satria.

Diteriaki oleh Rain, wajah Satria semakin meringis.

Tak ingin membuat Rain semakin kesal dan marah-marah, dengan gerakan yang cepat Satria mendorong tubuh Rain hingga bersandar pada kepala ranjang.

Belum cukup sampai disitu, Satria juga menaiki tubuh Rain dan memajukan wajahnya pada wajah wanita itu.

"Sabar, jangan emosi, Nyonya. Saya mulai sekarang permainannya," ucap Satria dengan deru napas yang mulai memburu.

Selain berhasrat, napas memburu Satria juga dipicu oleh rasa gugup yang saat ini menguasai otak dan tubuhnya.

Setelah meminta Rain untuk tidak emosi, Satria memagut bibir wanita itu dengan lembut dan melumatnya.

Dicium dan dibungkam bibirnya oleh Satria, Rain spontan memejamkan matanya. Bahkan tangannya bergerak, menahan tengkuk leher Satria agar tak buru-buru melepaskan pagutan mereka.

"Eum, egh, uh, Sa-Satria, aku nggak nyangka kalau kamu sepengalaman ini. Cepat, cepat lakukan itu...."

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fano Jawakonora
satria koq dibuat jd oon banget ples dungu lg jd gk enak bacanya dn bikin jengkel
goodnovel comment avatar
Mega Purba
enak ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   284. TAMAT

    Rumah Sakit Ibu dan Anak pusat kota, di sanalah kini Rain berada. Di atas ranjang pasien, Rain terbaring lemas. Di sampingnya, seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkannya dua jam yang lalu sedang tertidur pulas. Sedangkan di kursi samping ranjang pasien, Satria duduk menemani. Sejak tadi, pemuda yang kini berstatus sebagai papa muda itu tak ingin jauh-jauh dari istri dan putranya meskipun hanya sebentar saja. "Sayang, boleh gak baby-nya dibangunin? Aku mau denger suaranya nangis!" Rain yang terbaring itu pun menggeleng pelan. Tak mengizinkan sang suami mengganggu bayinya yang sedang terlelap. Namun, Satria yang semula minta izin dan tidak diperbolehkan oleh istrinya itu justru mencolek-colek pipi merah putranya dengan gemas. Alhasil, bayi mungil itu menangis dengan keras. "Oek, oek...." "Astaga, Satria Narendra!" kata Rain dengan suara tertahan. "Haha... akhirnya bangun juga!" Bukannya takut dimarahi, papa muda itu tertawa dengan keras. Ia sangat senang mendengar tangisa

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   283. PPPN

    Setelah semua kebenaran terungkap dan Tuan Seno serta antek-anteknya diamankan, kini keadaan keluarga Mandala semakin membaik.Nyonya Laras yang sebenarnya sudah sembuh sejak dibawa pulang ke kediaman Mandala beberapa bulan lalu, kini dapat beraktivitas layaknya kehidupan orang-orang normal.Wanita paruh baya itu kini tak perlu lagi menyembunyikan diri dan berpura-pura sakit jiwa seperti kemarin-kemarin.Ia bisa tertawa, bercanda, bahkan kembali menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Tuan Arya tanpa harus memikirkan berbagai ancaman yang dulu selalu membayangi.Di dalam kamarnya, Tuan Arya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh telanjang dibalut handuk singkat, menghampiri sang istri yang duduk di depan meja rias."Sayang...." panggil Tuan Arya sembari memeluk dan mencium lembut tengkuk istrinya yang terekspos.Nyonya Laras yang tengah bercermin pun langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah tingkah suaminya kali ini."Jangan lagi, Mas

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   282. PPPN

    Di balik jeruji besi, di sanalah kini Tuan Seno berada. Pria paruh baya itu mengamuk minta dibebaskan, bahkan mengancam para polisi yang bertugas."Lepaskan saya, keluarkan saya dari sini!"Mendengar suara keras Tuan Seno, para tahanan lain menutup telinga mereka. Jelas, para tahanan itu terganggu dengan keributan yang diciptakan pria paruh baya itu."Hei, kalian semua tuli, ya? Cepat bebaskan saya, kalau enggak, besok saya akan menghancurkan tempat ini!" seru Tuan Seno sambil memukul-mukul jeruji besi tersebut dengan keras.Pria paruh baya itu mengamuk seperti orang yang tidak waras. Wajah dan matanya memerah, bahkan tak henti-hentinya berteriak."Goblok kalian semua! Cepat keluarkan saya!"Di saat Tuan Seno sedang mengamuk, derap langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Dan tak lama kemudian, datanglah Tuan Arya, Ares, dan Satria.Ketiganya menghampiri Tuan Seno yang mengamuk.Mendengar derap langkah kaki mendekat, Tuan Seno menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat Tuan Arya

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   281. PPPN

    "Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   280. PPPN

    "Oh... ternyata kayak gini kelakuan kalian kalau gak ada aku di rumah! Dasar binatang, gak punya otak!"Brak!Bantingan keras pintu yang diiringi suara teriakan Diana membuat Tuan Seno dan Nabila terkesiap. Keduanya sama-sama membeku selama beberapa detik, seolah baru saja tersadar dari apa yang telah mereka lakukan.Panik, Tuan Seno mencabut batangan tegangnya yang bersemayam di dalam lubang apem Nabila, lalu bergerak turun dari atas ranjang.Pria paruh baya itu meraih celananya dan memakainya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena ketakutan melihat Diana yang kini berdiri di ambang pintu.Begitu pula dengan Nabila yang panik setengah mati. Dengan tubuh telanjangnya, gadis binal itu meraih hotpants-nya yang berada di ujung kasur."Binatang kalian berdua, anjing!" maki Diana dengan suara melengking keras.Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tatapannya berpindah dari Tuan Seno pada Nabila yang terlihat panik dan ketakutan.Melihat kemarahan istrinya, Tuan Seno y

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   279. PPPN

    Siang itu, Tuan Seno yang berada di perusahaan kembali ke rumah dalam keadaan yang kacau.Wajahnya kusut. Ia pusing memikirkan Togar yang diringkus oleh polisi. Takut anak buahnya itu buka mulut.Tiba di rumah, keadaan begitu sepi. Hanya ada Nabila yang sedang tiduran santai di sofa sambil bermain ponsel."Om, udah pulang?" kata Nabila, menyapa Tuan Seno yang baru saja pulang dari kantor."Hmm... Diana mana?" tanya Tuan Seno sembari mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.Ditanya, Nabila yang memakai crop top dan hotpants itu beringsut, lalu duduk dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa."Mama Diana pergi belanja sama teman-temannya. Katanya tadi sore baru pulang," kata Nabila, menjawab pertanyaan Tuan Seno dengan mata menatap wajah kusutnya. "Om kenapa? Kok kayaknya pusing banget?" tanyanya kemudian.Tuan Seno menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila dan memeluk pinggang ramping gadis itu."Capek, pusing mikirin kerjaan di kantor," jawab Tuan Seno.Cup

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   183. PPPN

    "Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   4. PPPN

    "Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   3. PPPN

    "Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   2. PPPN

    "Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status