Mag-log inDi tengah kekacauan dan jeritan memilukan tersebut, Kukuh masih berdiri diam di posisinya. Wajahnya tetap sedatar pahatan batu. Namun, sepasang mata elangnya tiba-tiba memicing tajam, mengunci fokusnya pada sosok Mbok Yem yang sedang diseret paksa oleh pengawal.Darah murni Rajah Getih di dalam nadi Kukuh mendadak berdesir keras, mengirimkan sinyal bahaya yang sangat spesifik. Diam-diam, Kukuh menarik napas panjang. Ia memusatkan titik tenaga dalam dari pusat Dantian-nya, lalu mengalirkannya langsung ke saraf penglihatannya. Seketika, tabir ilusi dunia material di sekitarnya terkelupas.Di bawah pandangan spiritual tingkat tinggi itu, tangisan histeris Mbok Yem ternyata memancarkan anomali yang mengerikan. Wanita tua itu sama sekali tidak memancarkan aura ketakutan atau kesedihan. Sebaliknya, tepat di bagian tengkuk Mbok Yem yang tertutup rapat oleh kerah kebayanya, Kukuh melihat sebuah ukiran rajah gaib yang berdenyut layaknya jantung kedua.Rajah itu memancarkan aura kabut berwarna
Tatapan mata abu-abu Ratih menghunus tajam bak sembilu, mengunci pergerakan pemuda kurus berseragam pelayan di hadapannya. Udara di dalam ballroom yang mewah itu terasa menyusut, mencekik paru-paru Jodi yang kini berdiri dengan tubuh bergetar hebat.Tidak ada jalan keluar. Puluhan pasang mata dari para tamu undangan, kerabat, dan pengawal keluarga Aji Saka menatapnya dengan pandangan menghakimi."J-Jodi... saya..."Suara pemuda itu pecah. Pertahanan mentalnya hancur lebur di bawah tekanan wibawa sang pewaris Rajah Wangi. Lututnya tak lagi sanggup menopang berat badannya.Bruk!Jodi ambruk berlutut di atas karpet marmer yang tebal. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, air mata ketakutan langsung menderas membasahi wajahnya yang seputih kertas."Ampun, Non Ratih! Ampun, Nyonya Dian!" isak Jodi sejadi-jadinya, tubuhnya melengkung nyaris mencium ujung sepatu Ratih. "M-memang benar saya yang menyeduh wedang uwuh itu di dapur belakang... t-tapi sumpah demi Tuhan, saya tidak bermak
Setelah Nyonya Dian kembali bisa meraup oksigen dengan rakus dan rona wajahnya berangsur normal, Ratih menghembuskan napas lega. Namun, kelegaan itu hanya berumur hitungan detik. Sisa-sisa kepanikan di dada sang pewaris Rajah Wangi itu seketika mengkristal menjadi amarah yang mendidih.Gadis bermata abu-abu itu memutar tubuhnya. Ia menatap cangkir keramik yang sudah hancur berkeping-keping di atas karpet, lalu mengangkat wajahnya, menyapu seluruh tamu di area VVIP tersebut dengan tatapan sedingin pedang eksekusi."Siapa tadi yang memberikan minuman wedang uwuh ini kepada Mama saya?!"Suara Ratih menggelegar keras dan tajam, membelah hiruk-pikuk alunan musik klasik di ballroom tersebut. Otoritas mutlak dari seorang pewaris utama Aji Saka mendadak menekan udara di sekitar mereka.Seluruh ruangan itu seketika terdiam. Denting gelas champagne yang beradu terhenti. Para kerabat, konglomerat, dan tamu undangan saling pandang dengan raut wajah kebingungan bercampur tegang. Tidak ada satu pun
Nyonya Dian bahkan tidak punya sisa tenaga untuk membalas hinaan Clarissa. Bibirnya perlahan mulai membiru.Kali ini, Kukuh tidak berniat menggunakan alibi "ceroboh" atau berpura-pura bodoh. Situasinya terlalu genting, dan arogansi lalat-lalat pengganggu di depannya ini butuh ditampar keras.Dengan langkah tegap dan raut wajah sedingin es, Kukuh melangkah maju, memotong jarak antara Clarissa dan Ratih. Ia meraih sebuah gelas kristal berisi air mineral murni dari atas meja buffet."Tih, lepas liontin galih kelormu sekarang," perintah Kukuh dengan nada mutlak tak terbantahkan.Ratih yang sedang panik sama sekali tidak membantah. Instingnya sudah sepenuhnya percaya pada pria ini. Dengan gerakan cepat, ia melepas liontin kayu hitam legam yang mengalung di lehernya dan menyerahkannya ke telapak tangan Kukuh.Di depan mata semua orang, Kukuh memasukkan liontin pusaka yang tampak seperti potongan arang itu ke dalam gelas berisi air putih. Diam-diam, ia mengalirkan setetes tenaga murni Rajah
Ratih menatap punggung Handoko yang semakin mengecil dan menghilang ditelan kerumunan tamu undangan. Gadis bermata abu-abu itu lalu memutar tubuhnya, beralih menatap Kukuh yang masih berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana."Apa yang baru saja kau katakan padanya sampai dia lari ketakutan seperti itu, Kuh?" tanya Ratih dengan suara pelan namun sarat akan rasa penasaran.Kukuh tersenyum tipis. "Aku tidak mengatakan apa-apa yang menakutkan, Tih. Hanya mengingatkan dia pada kenangan lama yang mungkin ingin dia lupakan. Orang yang banyak dosa biasanya paling takut pada cermin masa lalunya."Ratih mendengus pelan, matanya menyipit menilai suaminya. "Kau ini... selalu saja punya cara untuk membuat orang-orang sombong itu terlihat konyol tanpa kau harus mengangkat tangan sedikit pun.""Itu karena mereka sendiri yang menelanjangi kelemahan mereka," balas Kukuh datar. Dagunya kemudian menunjuk ke arah sudut meja hidangan penutup yang agak sepi. "Tapi sepertinya kita punya masal
"Masa sudah putus, Mas Han?" tanya Kukuh. Nadanya terdengar sangat ringan, namun sarat akan sarkasme tajam yang merobek udara. Kukuh mendecakkan lidahnya pelan, memasang raut wajah prihatin yang dibuat-buat. "Kan sayang banget, Mas... apalagi wanita itu keponakan Jenderal Satya, lho."Udara di sudut ruangan itu seolah tersedot habis.Wajah Handoko yang beberapa detik lalu dipenuhi keangkuhan, kini memucat seputih kain kafan. Rahangnya jatuh, dan matanya membelalak menatap Kukuh dengan horor yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya mendadak kaku, sementara tangan kanannya secara refleks bergetar hebat. Tanpa sadar, Handoko menyembunyikan tangan kanannya itu ke balik punggungnya, seolah ada rasa ngilu imajiner yang kembali menusuk tulang-tulangnya.Ucapan Kukuh barusan dengan sukses menarik paksa ingatan Handoko pada insiden paling memalukan seumur hidupnya di pameran perhiasan beberapa waktu lalu.Saat itu, Handoko merasa berada di atas angin. Ia ingin memamerkan kekuasaan dan maskulinita
Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka







