LOGINSiang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.
Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul karung beras puluhan kilo, mengupas berkeranjang-keranjang bawang, dan mengepel lantai marmer hingga mengilap. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas, pemuda itu adalah suami sah sang pewaris tahta. Di ruangan ini, ia adalah kasta terendah.
Semua pekerjaannya diawasi ketat oleh Pak Rustam, kepala juru masak bertubuh gempal yang sombongnya selangit.
Dasar gembel bau selokan, maki Rustam dalam hati. Beraninya sampah dari kantor pusat masuk ke dapur eklsklusifku! Akan kubuat dia cacat supaya tahu diri! .
"Heh, Bocah Miskin! Matamu buta?!" bentak Rustam parau, suaranya nyaris mengalahkan desis minyak panas. "Air di kuali raksasa itu sudah mendidih! Angkat sekarang! Nyonya Dian benci teh yang diseduh dengan air yang kurang panas!" .
"Baik, Pak," jawab Kukuh sabar.
Tanpa membantah, Kukuh melilitkan kain lap tebal ke tangannya. Ia mencengkeram kuali aluminium raksasa yang airnya sedang bergejolak ganas itu. Uap panasnya langsung menyapu wajah. Dengan hati-hati, Kukuh memutar tubuh, bersiap membawa kuali itu melewati lorong sempit .
Tepat saat Kukuh melangkah, Rustam menyeringai licik. Juru masak itu mendadak memundurkan langkahnya dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke arah Kukuh! .
Benturan itu keras dan sangat disengaja. Keseimbangan Kukuh goyah. Berat kuali di tangannya melenceng drastis!
Dalam sekejap mata, gelombang air mendidih bersuhu seratus derajat celcius itu tumpah ruah. Air ganas itu menghantam celana seragam Kukuh, menyiram betis hingga punggung kakinya tanpa ampun! .
Kukuh menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan jeritan yang nyaris pecah. Rasanya seperti ada besi cair yang disetrikakan langsung ke tulangnya.
"Astaga! Lantainya licin sekali, dasar pembersih bodoh!" ejek Rustam dengan suara lantang yang dibuat-buat. Di balik nada simpatinya yang palsu, sudut bibir pria gempal itu berkedut menahan senyum puas melihat uap mengepul dari kaki Kukuh. Rasakan itu! Kulitmu pasti akan melepuh sampai ke tulang!
Dengan kaki diseret pincang dan napas tersengal, Kukuh berlari menerobos lorong menuju kamar mandi terdekat. Begitu pintu terkunci, ia merosot di lantai ubin. Tangannya gemetar menyalakan keran air dingin hingga maksimal, mengarahkannya langsung ke betisnya yang kemerahan dan nyaris terkelupas .
Namun, saat Kukuh menunduk untuk menahan perih, matanya terbelalak lebar. Sesuatu yang sangat mustahil sedang terjadi!
Kulit betisnya yang tadi melepuh parah itu... tiba-tiba bergerak merapat. Rasa perih yang merobek saraf tadi mendadak lenyap. Di depan mata kepalanya sendiri, Kukuh melihat rona merah di kulitnya pudar secepat kilat. Daging yang sempat rusak itu menjahit dirinya sendiri dari dalam, diatur oleh sebuah kekuatan gaib tak kasatmata yang mengalir di darahnya .
Hanya dalam hitungan detik, kulit kakinya kembali mulus. Bersih sempurna! Tidak ada bekas luka sekecil apa pun, padahal celananya masih basah kuyup oleh genangan air mendidih .
Lima menit kemudian, Kukuh membuka pintu kamar mandi dan berjalan santai kembali ke dapur. Punggungnya tegak, langkahnya tegap. Sama sekali tidak pincang.
Rustam yang sedari tadi sudah menyilangkan tangan di dada, bersiap menertawakan pemuda malang itu, mendadak kaku bak patung. Matanya nyaris robek dari kelopaknya.
Pria sombong itu terpaku menatap pergelangan kaki Kukuh yang digulung seadanya. Tidak ada kulit yang melepuh! Tidak ada luka! Bagaimana mungkin?! Logikanya berteriak bahwa manusia biasa seharusnya sudah meraung kesakitan dan dilarikan ke rumah sakit sekarang! .
"Maaf ya, Pak Rustam. Tadi saya kurang hati-hati," ucap Kukuh sangat tenang, tersenyum tipis melewati bahu sang juru masak seolah siraman air mendidih itu hanya siraman air hujan biasa.
Rustam menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Tangannya gemetar hebat. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan: anak baru ini jelas bukan manusia normal!.
Tanpa satu pun dari mereka sadari, jauh di ujung ruangan, di balik kaca buram pintu putar, sesosok siluet ramping berdiri mematung.
Ratih Puspa Aji Saka berdiri di sana. Sepasang mata kelabunya menajam penuh selidik. Ia telah merekam semuanya. Ia melihat dengan jelas bagaimana air mendidih mematikan itu gagal memberikan luka gores sedikit pun pada sang suami kasta rendahnya . Ratih menarik napas dingin. Siapa sebenarnya gembel ini?
(Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa
Kukuh menghentikan kursi roda Eyang Putri tepat di salah satu meja bundar berlapis taplak emas di area khusus VVIP. Di meja tersebut, telah duduk beberapa sesepuh dari keluarga konglomerat, termasuk Nyonya Broto, kompetitor sosialita abadi Keluarga Cokro.Melihat siapa yang datang, Nyonya Broto memindai Kukuh dari atas ke bawah sambil tersenyum sinis."Wah, wah... Raras Trenggono. Kulihat keluargamu semakin sukses saja. Tapi... kenapa seleramu malah menurun?" sindir Nyonya Broto dengan suara pelan namun tajam. "Acara sekelas ini, kau malah membawa pelayan ke meja kita. Apa Keluarga Cokro sudah tidak sanggup menyewa perawat medis profesional?"Mendengar ejekan itu, wajah Eyang Putri langsung merah padam. Rasa malunya memuncak."Dia ini cuma tenaga angkut gratisan yang tidak tahu aturan," sahut Eyang Putri ketus, melampiaskan kekesalannya pada Kukuh. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap menantunya dengan berang. "Heh, Gembel! Untuk apa kamu berdiri mematung di situ? Cepat tuangkan mi
Kukuh mendorong kursi roda Eyang Putri dengan pelan dan stabil, membelah kerumunan tamu elit yang saling sibuk memamerkan kekayaan dan pengaruh mereka. Tujuannya adalah area VVIP yang terletak di sisi sayap kanan ballroom, tempat di mana hidangan dan sofa-sofa mewah telah disiapkan khusus untuk tamu kehormatan.Namun, baru beberapa meter mereka berjalan, sebuah suara berat dan penuh hormat terdengar menyapanya dari arah samping."Tuan Kukuh..."Kukuh menghentikan langkahnya dan menoleh. Berdiri tak jauh darinya adalah seorang pria paruh baya dengan busana batik sutra yang sangat elegan namun bersahaja. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit saat pandangan mereka bertemu.Kukuh segera tersenyum dan membalas sapaan itu, menjulurkan tangannya untuk bersalaman. "Kyai Agus. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."Pria itu adalah Kyai Agus, putra dari Eyang Bayu manik waja salah satu tetua dan tokoh spiritual tingkat tinggi yang sangat mengetahui identitas asli dan kekuatan mutlak di balik
Belum lama Keluarga Cokro berdiri di area penyambutan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu perak melangkah menghampiri mereka. Pria itu didampingi oleh seorang wanita anggun bergaun marun. Keduanya memancarkan aura aristokrat yang kuat, berbaur dengan energi perlindungan tak kasat mata yang mengelilingi tubuh mereka."Selamat malam, Keluarga Adiwangsa," sapa pria itu dengan senyum ramah yang sangat terlatih.Melihat siapa yang datang, mata Adiwangsa langsung berbinar. Tubuhnya sedikit membungkuk, menampilkan gestur hormat yang nyaris berlebihan."Oh, selamat malam, Pak Eko! Selamat atas ulang tahun pernikahan Anda dan Ibu Rahayu yang ke-30," ucap Adiwangsa penuh antusiasme. Ia lalu menoleh sedikit ke arah istrinya. "Sayang, tolong kadonya diberikan."Dian dengan senyum manis yang sudah disiapkan langsung membuka tas mewahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kristal transparan berukir indah. Di dalamnya, bertengger sepasang botol parfum dengan desain yang sangat elegan."Ad
Tok... tok... tok..."Kuh... Kuh... wes ditunggu Nyonya Dian ning ngarep (sudah ditunggu Nyonya Dian di depan)," panggil Pak Supri sembari mengetuk pintu kamar Kukuh yang terletak di sudut area garasi mobil."Iya, Pak Pri! Sebentar, ini sudah siap kok," sahut Kukuh dari dalam.Terdengar suara kenop pintu diputar. Kukuh melangkah keluar dari kamar sempitnya di garasi itu. Penampilannya malam ini sangat berbeda dari biasanya. Jika sehari-hari ia hanya mengenakan kaus polos atau kemeja sederhana, malam ini pemuda itu dibalut dengan setelan tuksedo hitam pekat yang potongannya pas menempel di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi, dan tak lupa, sebuah gelang emas murni dengan ukiran kepala naga simbol otoritas tertinggi telah melingkar pas di pergelangan tangan kanannya, tertutup rapi oleh lengan jas.Melihat Kukuh keluar dari garasi dengan setelan setampan itu, Pak Supri sempat tertegun sejenak. Sopir tua itu seolah melihat aura wibawa yang berbeda dari sang mantan Office Boy, meski ia
"Tapi siapa sih, Pak Pri, yang berani-beraninya mau menyerang Keluarga Cokro?" tanya Pak Slamet dengan dahi berkerut, pandangannya masih belum lepas dari layar monitor CCTV yang menjeda bayangan aneh tersebut.Pak Supri menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke dinding pos. "Yo emboh, Met. Namanya juga orang hidup, kan pasti ada saja yang tidak suka melihat orang lain sukses dan kaya raya," jelas Pak Supri.Supri kemudian menoleh ke arah Kukuh seolah meminta persetujuan. "Bukan begitu, Kuh?"Kukuh hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan."Kamu tahu sendiri kan, Met," lanjut Pak Supri dengan nada lebih serius, suaranya sedikit direndahkan. "Non Ratih saja sampai pernah kena santet yang mengerikan tempo hari itu. Padahal kurang cantik dan sopan seperti apa lagi Non Ratih itu? Dia tidak pernah cari gara-gara, tapi tetap saja ada yang iri dan mau mencelakainya."Mendengar pengingat tentang tragedi gaib yang menimpa sang majikan, nyali Pak Slamet seketika menciut."Iya juga y
Kukuh masih berdiri di posisi yang sama, menatap mertuanya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Meski ia baru saja dihina dan ditampar, suaranya tetap tenang dan terjaga."Tapi Pak Adiwangsa, saya rasa di rumah sakit itu mungkin menyimpan layanan khusus untuk kasus seperti ini," ujar Kukuh denga
Mobil sedan itu akhirnya berhenti sempurna di depan teras utama kediaman Aji Saka. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan malam yang terasa lebih berat dari biasanya."Non... sudah sampai," ucap Pak Supri pelan, memutar tubuhnya ke belakang untuk membangunkan majikannya.Ratih tersentak bangun. Beg
Keheningan di ruangan itu terasa semakin pekat. Suara gemeretak kayu bakar yang dilahap api menjadi satu-satunya sumber suara sebelum Eyang Bayu akhirnya memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatap Kukuh dengan penuh selidik."Tahu dari mana kamu tentang teluh itu, Le?" tanya Kakek Bayu, nadanya
Suasana canggung yang menyelimuti kelompok Ratih perlahan mencair ketika perhatian seluruh aula beralih ke arah panggung utama. Alunan musik klasik yang sedari tadi mengalun lembut mendadak berhenti, digantikan oleh sorot lampu utama yang memusat pada sosok pemuda tampan berkemeja burgundy yang bar







