تسجيل الدخول
Pagi di Ubud selalu punya cara sendiri untuk menyapa dengan pelan, hangat, dan penuh aroma kopi dari cafe kecil Nadia: Luna Beans. Namun pagi itu berbeda. Bukan hanya karena Nadia belum membuka pintu, tapi karena seorang pria bule berwajah tegas tampak berdiri di depan kafe dengan ekspresi kesal.
Daniel Charter, fotografer freelance yang berasal dari London terkenal dengan gaya candidnya dan juga terkenal dengan sifat keras kepalanya. Nadia menghela napas panjang sebelum menghampiri pria itu. Ia sudah mendengar dari pesan yang ia baca semalam, tapi berpura-pura tidak tahu apa-apa jadi ia merasa lebih aman. "Hai, good morning Daniel" sapa Nadia dengan tersenyum ramah dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Nadia, kamu sengaja, ya?" suara Daniel datar, tapi ada panas yang ditahan. "Apa?" Nadia berusaha terlihat polos, meski hatinya berdebar. "Nadia… kamu tahu aku butuh izin fotomu untuk pameran minggu depan. Kamu sudah janji kirim file itu semalam. Tapi apa? Kamu malah ngilang. Nggak baca pesan dan nggak angkat telepon dariku." Daniel menatapnya, mata birunya sedikit memerah seperti sedang menahan emosi. Nadia menggigit bibir. Masalahnya bukan file foto. Masalahnya… dirinya sendiri. "Maaf, aku sibuk," jawab Nadia singkat sambil membuka kunci pintu kafe. Daniel menyusul masuk tanpa diundang. "Sibuk apa? Menghindar?" ucap Daniel dengan wajah serius. Nadia berhenti sejenak. Ia merasakan Daniel berdiri sangat dekat di belakangnya. Terlalu dekat. "Kamu nggak berhak tahu," katanya pelan sambil berjalan masuk ke kafe. Daniel tertawa pendek dan sinis. "Oh, jadi setelah semua yang terjadi, setelah kita dekat selama ini, kamu pikir aku cuma seorang fotografer yang numpang pakai waktu kamu?" Ucapan itu menghantam keras. Nadia menghela nafas panjang dan memejamkan mata sejenak. Mereka memang punya hubungan… samar. Hangat. Tak terdefinisi. Dan seminggu terakhir, semuanya telah berubah. "Daniel, jujur aku tidak pernah berfikir seperti itu tentang kamu" ucap Nadia pelan. "Lalu apa Nadia? Katakan dengan jujur" ucap Daniel penasaran. Karena Nadia mulai menyadari sesuatu: Daniel semakin sering menjadi alasan hatinya berdegup tidak karuan. Dan itu menakutkan bagi Nadia. "Daniel tolong, aku nggak mau bahas tentang ini pagi-pagi" ujarnya sambil berjalan ke belakang meja bar, ia berusaha menjaga jarak dengan Daniel. Nadia sebisa mungkin menghindari tatapan mata Daniel, karena ia tahu tatapan mata Daniel terlalu dalam sehingga membuatnya tidak bisa berbohong. Daniel mengikutinya dengan tatapan tajam namun penuh luka. "Aku cuma butuh kamu jujur Nadia. Kenapa kamu menghindariku? Why are you pushing me away? (Kenapa kamu mendorongku menjauh?)" Nadia menatapnya. Lama. "Karena kamu bikin semuanya jadi rumit Daniel. Dan aku nggak mau jatuh sama orang yang cuma ada di sini setengah waktu. Kamu kerja keliling, dan aku… aku di sini cuma pemilik kafe kecil yang bermimpi bisa melukis lagi. Daniel, dunia kita berbeda dan kamu tahu itu." Daniel mendekat, perlahan, hingga aroma parfumnya yang lembut menusuk indra penciuman Nadia; maskulin dan hangat. "Aku bisa di sini penuh waktu kalau kamu mau. Kamu bisa langsung memintaku kalau kamu mau. Aku cuma butuh kamu berhenti menutup pintu tiap kali aku mencoba masuk" ucap Daniel. Nada suaranya rendah. Dalam. Dan terlalu menggoda. Nadia terpaku. Ada ketegangan di udara tipis tapi membakar. Daniel berjalan kedepan Nadia, mereka berhadapan. Daniel mengangkat tangan, menyentuh lengan Nadia pelan, seolah takut ia akan kabur. Tubuh Nadia merespons lebih cepat dari otaknya. "Daniel.. jangan mulai, please," bisiknya lemah. Daniel menunduk, wajahnya sangat dekat. "Aku belum melakukan apa-apa… tapi kamu sudah gemetar. Nadia, kamu pikir aku nggak notice?" Nadia menelan ludah. "Lepasin, kamu nyebelin. Kamu pikir aku bakalan kabur dari sini" Nadia berusaha melepas tangan Daniel, ia tidak mau Daniel merasakan tangannya yang gemetar. "Kalau aku lepasin, takutnya nanti kamu pingsan karena gemetar" ucap Daniel sambil tersenyum tipis. "Kamu pikir aku selemah itu?" ucap Nadia dengan sinis walaupun degup jantungnya tidak bisa terkontrol. "Nadia, aku hanya ingin tahu kenapa kamu menghindar dariku akhir-akhir ini?" ucap Daniel dengan lembut. Nadia menghela nafas panjang "Daniel, aku sudah jawab tadi, kamu nggak berhak tahu." "Kamu bisa jujur ke aku kalau kamu nggak ngijinin aku menggunakan fotomu untuk pameran minggu depan. Jadi kamu nggak perlu menghindar dariku Nad" ujar Daniel yang masih memegang lengan Nadia. "Lepasin tanganmu, nanti kalau staff-ku datang aku jadi merasa nggak enak" ucap Nadia dengan wajah cemberut. Nadia tahu jika staffnya tidak akan datang ke kafe sepagi ini, ia hanya ingin menghindari Daniel. "Ini masih terlalu pagi untuk mereka datang bekerja" ucap Daniel sambil menatap mata Nadia. Daniel menatap mata Nadia dalam, seperti sedang mencari jawaban yang ia cari. Nadia tidak bisa menyembunyikan emosinya saat itu, wajahnya semakin masam karena ulah Daniel yang menatapnya begitu dalam. "Dan kamu lebih manis kalau marah kayak gini," jawab Daniel sambil tersenyum kecil, ia sedang menggoda Nadia dengan candaan kecil. Konflik mereka bukan sekadar soal file foto. Bukan soal pekerjaan. Ini tentang dua orang yang terlalu dekat… tapi sama-sama takut melangkah. Dan pagi itu, di kafe kecil yang masih gelap, mereka menyadari satu hal: Menjauh justru membuat rasa itu makin kuat.Tiga bulan kemudian. Musim dingin mulai mendekati Hamburg. Udara pagi semakin dingin. Pepohonan di sekitar Villa Blankenese hampir kehilangan seluruh daunnya. Namun di dalam villa, suasana tetap hangat. Terutama karena Noah dan Nora yang kini berusia delapan bulan mulai merangkak ke mana-mana. Dan itu berarti, tidak ada sudut rumah yang aman lagi. "PAPA!" Teriakan Elena terdengar dari lantai bawah.Daniel yang sedang mengikuti rapat daring langsung memejamkan mata. Karena berdasarkan pengalaman, teriakan Elena biasanya berarti sesuatu telah terjadi. "Apa?" "Noah kabur!" Daniel langsung menutup laptop. Dan berlari keluar ruang kerja. Beberapa detik kemudian ia menemukan Noah sedang merangkak dengan penuh semangat menuju mangkuk makanan Bruno. Sedangkan Bruno sendiri terlihat bingung. "Noah." Daniel mengangkat putranya."Kita sudah membahas ini." Noah tertawa, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sementara itu di sisi lain ruangan, Nora sedang mencoba memakan salah s
Malam itu hujan turun perlahan di Hamburg. Bukan hujan deras, hanya rintik-rintik lembut yang membuat suasana Villa Blankenese terasa semakin hangat. Di ruang keluarga, semua orang berkumpul seperti biasa. Noah dan Nora yang kini semakin aktif sedang menjadi pusat perhatian. Nora baru saja berhasil membalikkan tubuhnya sendiri untuk pertama kalinya. Prestasi yang langsung dirayakan seluruh keluarga seolah-olah ia baru memenangkan olimpiade. "Dia jenius" kata Elena bangga. "Itu hanya berguling" kata Daniel. "Tetap jenius." Yang membuat semua orang tertawa. Tak lama kemudian, Nora mulai menguap. Sedangkan Noah sudah tertidur di pelukan Nadia. Melihat kedua bayi mulai mengantuk, Nadia menyerahkan Nora kepada Daniel lalu duduk kembali di sofa. Entah bagaimana, pembicaraan malam itu beralih ke masa lalu. Awalnya karena Elena mendapat tugas sekolah untuk menulis tentang kisah cinta yang menginspirasi. Dan tentu saja, ia langsung menjadikan orang tuanya sebagai bahan wawancara. "M
Tiga bulan kemudian.Musim gugur telah tiba di Hamburg. Daun-daun berwarna emas dan jingga menghiasi jalanan Blankenese. Udara terasa lebih dingin. Namun Villa Blankenese tetap hangat seperti biasanya. Terutama karena dua bayi kecil yang kini menjadi pusat dunia semua orang, Noah Charter dan Nora Charter. Usia mereka kini hampir lima bulan. Dan keduanya tumbuh dengan sangat sehat. Noah mulai menunjukkan sifat yang sangat mirip Daniel tenang, jarang menangis, namun sangat keras kepala. Sedangkan Nora jauh lebih ekspresif, suka tertawa, suka mencari perhatian dan sangat senang berada dalam pelukan Nadia. "Yang ini anak mama" kata Nadia sambil menggendong Nora. "Yang itu anak papa" sahut Ayu sambil menunjuk Noah. Daniel yang sedang membaca laporan perusahaan hanya mengangkat alis. "Aku tidak sekeras kepala itu." Semua orang langsung tertawa. Bahkan Camille, yang biasanya paling sulit tertawa. Sementara itu Elena telah menjalani sekolah selama beberapa bulan. Dan ternyata ia san
Waktu berlalu dengan cepat. Musim panas perlahan mulai berakhir. Udara Hamburg mulai terasa sedikit lebih sejuk pada pagi hari. Pepohonan di sekitar Villa Blankenese masih hijau, tetapi tanda-tanda pergantian musim mulai terlihat. Dan untuk keluarga besar itu, kehidupan perlahan kembali ke rutinitas normal. Atau setidaknya senormal mungkin bagi keluarga Charter. Pagi itu suasana villa terasa sedikit berbeda. Karena Margaret dan Thomas akan kembali ke London. Setelah tinggal cukup lama di Hamburg untuk menemani Nadia setelah kelahiran Noah dan Nora, hingga pernikahan Paul dan Ayu. Kini mereka harus kembali. Meskipun sebenarnya tidak ada seorang pun yang benar-benar ingin berpisah. Di ruang makan, sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya. Margaret sedang menggendong Nora, sedangkan Thomas memangku Noah. Keduanya tampak menikmati setiap detik terakhir bersama cucu-cucu mereka. "Oma akan kembali bulan depan" kata Margaret kepada Nora yang sedang tertidur. "Aku rasa dia belum
Dua hari setelah pernikahan. Pagi di Villa Blankenese berlangsung seperti biasa atau setidaknya seperti biasa bagi keluarga Charter. Yang berarti cukup ramai. Noah menangis karena lapar, Nora ikut menangis karena Noah menangis. Bruno berlari ke sana kemari. Dan Elena sibuk mengawasi semua orang seolah-olah dirinya adalah manajer rumah tangga. Di tengah suasana itu, Nadia sedang menyusui Nora ketika Elena tiba-tiba datang membawa sebuah ide. "Ide bagus." Nadia langsung waspada. Karena biasanya kalimat itu berakhir dengan kekacauan kecil. "Apa?" "Kita harus mengunjungi rumah Tante Ayu." Nadia tersenyum. "Tante Ayu?" "Iya." "Bagus." Nadia mengangguk puas. Memang sejak lama ia mengajari Elena memanggil Ayu dengan sebutan tante. Karena suatu hari nanti Noah dan Nora pasti akan mengikuti apa yang dilakukan kakak mereka. Dan Nadia ingin mereka tumbuh dengan menganggap Ayu sebagai keluarga, bukan sekadar sahabat. "Kalau nanti Noah dan Nora besar..."kata Nadia. "Mereka juga har
Pagi hari setelah pernikahan.Matahari musim panas menyinari Hamburg dengan cahaya hangat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ayu bangun sebagai Nyonya Weiss. Dan untuk pertama kalinya pula, ia bangun di rumah yang secara resmi menjadi miliknya dan Paul. Rumah hadiah pernikahan dari Daniel dan Nadia. Rumah yang hanya berjarak beberapa menit dari Villa Blankenese. Rumah yang masih terasa seperti mimpi. Ayu membuka mata perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar. Lalu menoleh ke samping, Paul masih tertidur. Sangat jarang melihat pria itu tertidur begitu pulas. Biasanya bahkan saat libur sekalipun ia selalu bangun lebih awal. Namun kemarin adalah hari yang panjang, hari yang penuh emosi dan hari yang mengubah hidup mereka. Senyum kecil muncul di wajah Ayu. Ia mengamati wajah suaminya beberapa saat, kemudian tertawa pelan. Karena kata "suami" masih terdengar aneh di telinganya. "Kenapa tertawa?" Ternyata Paul sudah bangun dan langsung menangkap basah dirin
Wajah kecil di layar ponsel itu membuat suasana ruangan berubah total. Elena memiliki rambut hitam bergelombang, mata besar setengah biru setengah hazel, perpaduan yang indah antara Daniel dan mantan istrinya. Nafas Nadia hampir terhenti melihat betapa miripnya gadis itu dengan Daniel ketika tersen
Pagi di Ubud terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Nadia membuka jendela kamarnya, membiarkan udara lembap bercampur bau tanah basah menyapu wajahnya. Ia belum sepenuhnya pulih dari kejadian semalam, kecanggungan, dan kedekatan yang membuat dadan
Daniel tidak segera melanjutkan. Ia berjalan ke arah jendela besar itu lagi, seolah butuh udara meski ruangan sudah cukup sejuk. Punggungnya tegang, kedua bahunya turun-naik perlahan, seperti seseorang yang sedang mencari keberanian.Nadia hanya bisa menunggu. Ia meremas jemarinya sendiri, merasa j
Malam turun perlahan di Ubud, membawa kesejukan yang merayap lembut melalui jendela cafe. Setelah kepergian Rebecca, suasana masih terasa sunyi. Bukan sunyi yang menakutkan, melainkan sunyi yang membuat hati berdebar lebih kuat dari biasanya.Daniel dan Nadia masih duduk berdampingan, tangan mereka







