LOGINWajahnya masih terlihat cantik seperti dulu, dengan netra berwarna coklat jernih, bibir tipis, dengan kedua pipi yang bulat—ingin rasanya Devan kembali membuat kedua pipi perempuan itu kembali bersemu merah, ingin sekali Devan mengelusnya lembut, mencubitnya dengan gemas.
"Aunty Nay mana?" tanya Maya saat melihat putra sulungnya berjalan menuruni tangga beriringan dengan Kai."Nanti menyusul katanya," jawab Kai yang langsung berjalan cepat dan duduk dipangkuan Disya."Kai sudah besar, Mommy keberatan itu kalau Kai duduk di pangkuannya," kata Maya menggelengkan kepalanya dengan terkekeh pelan."Mommy nanti mau pulang, aku mau meluk dulu Mommy sebelum Mommy pulang!" Kai melingkarkan tangannya di leher Disya, dengan tangan kanan yang masih memakan coklat yang belum juga habis sedari tadi."Padahal seharian penuh ini Kai sudah bersama Mommy kan?" tanya Maya menatap cucunya.Kai menampilkan cengirannya, dan malah semakin mengeratkan pelukannya.Devan ikut duduk di single sofa, menatap Samudra yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Walaupun ini sudah tiga tahun, tapi sepertinya lelaki itu tidak pernah akan berlaku baik kepada Devan. Lelaki itu mengalihkan pandangannya untuk menatap Disya, menampilkan senyum seapik mungkin sembari menyapa mantan istrinya. "Hai, Sya..."Disya mengangguk pelan, sembari menampilkan senyum kecil yang hanya bertahan beberapa detik. "Hai, Pak Devan."Jantung Devan terasa berdetak dengan cepat, kedua matanya mendadak terasa panas karena ingin menangis.Sungguh, dia begitu sangat merindukan Disya... sangat!"Ternyata Dokter Samudra adalah sepupu jauh Zara, Bang," kata Maya mencoba mencairkan suasana yang sudah pasti tidak menyenangkan ini.Devan mengalihkan pandangannya menatap Maya, lalu menganguk pelan menanggapi ucapannya. "Dokter Sam juga datang di acara resepsi tadi?" tanya Devan basa-basi."Iya, tapi kita tidak bertemu tadi," jawab Maya."DIsya!" suara pekikan senang dari arah tangga membuat atensi semua yang ada di ruang tengah teralihkan menatap seorang perempuan yang dengan lincahnya menuruni tangga dengan raut bahagia."Naya," balas Disya tidak kalah sumringah."Kai, minggir dulu sana. Aunty Nay mau meluk dulu Mommy kamu," kata Naya dengan bibir yang pura-pura dikerucutkan, membuat Kai mengangguk pelan dan segera turun dari pangkuan Disya."Apa kabar Nay?" tanya Disya saat keduanya sudah berpelukan."Baik! Sangat baik. Kamu apa kabar?" balas Naya sesaat setelah keduanya melepas pelukan namun masih saling menatap."Aku baik....""Kamu tidak membawa sesuatu untukku? Kue buatanmu?" tanya Naya menaikkan satu alisnya bertanya.Disya meringis, menggigit ujung lidahnya, menatap Naya dengan tatapan sungkan. "Aku ngga tahu kalau kamu pulang hari ini, Nay. Tahu tadi dari Mamah, akhirnya aku minta sama Bang Sam buat mampir ke sini, ketemu kamu," jawab Nesa."Kalau begitu aku harus ke toko kue kamu!" kata Naya melipat kedua tangannya di dada, dengan wajah yang pura-pura ngambek.Disya terkekeh. "Boleh dong, kamu harus ke sana," katanya memegang erat kedua tangan Naya."Mah, aku ijin ke atas... mau bersih-bersih," kata Devan menatap Maya yang sedari tadi senyum-senyum dengan interaksi Disya dan Naya.Perempuan paruh baya itu menatap putra sulungnya lalu mengangguk, mempersilahkan Devan untuk melakukan kegiatannya.Devan bangun dari duduknya, berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Buru-buru memasuki kamar mandi, dan berdiri tepat di bawah shower yang sudahd ia nyalakan. Mendongakkan wajahnya, membiarkan air itu menyentuh wajahnya secara langsung. Boleh Devan menangis sekarang?Devan rasanya ingin membawa Disya ke dalam pelukannya, tadi, memeluk perempuan itu erat-erat, menyalurkan rindunya yang sudah sekian lama ini menumpuk di hatinya. Namun, walaupun tadi mereka saling menatap dengan jarak hanya beberapa meter, bahkan berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya, Devan tidak bisa melakukan apapun, hanya diam. Disya terasa jauh... sama sekali tidak boleh dia sentuh.***Proses persalinannya kurang lebih tinggal sebulan lagi, banyak yang menantikan, kediaman Devan lebih sering dikunjungi oleh beberapa keluarga—terlebih jika di siang hari, ketika Devan sedang bekerja, Disya tidak akan pernah sendirian pasti ada saja salah satu keluarga yang menemani. Naya juga sering sekali menginap, Samudra akan menjemputnya setelah dua atau tiga hari Naya berada di rumah Devan dan Disya. Disya sangat bersyukur, keluarganya begitu sangat menyayanginya. Banyak hal yang sudah dilalui, tangisan, kekecewaan,kesalah pahaman, kehilangan—tetapi, pada akhirnya kebahagiaan juga menghampiri... begitulah hidup berjalan. "Jelek ya?" "Apa?" "Kaki Disya... bengkak." Devan yang sedang fokus memotongi kuku kaki Disya seketika langsung menghentikan kegiatannya, menatap istrinya lalu menggeleng pelan. "Tidak jelek." Disya terkekeh pelan mendengar jawaban Devan. "Terimakasih ya sudah m
Malam datang perlahan, semua yang hadir sudah berpamitan pulang—masih jam delapan malam, belum memasuki tengah malam, mereka memilih langsung pulang agar Disya bisa beristirahat katanya—manis sekali 'kan? "Sya, masih suka ngidam ngga?" tanya Naya masih tertawa karena baru saja menonton video si kembar yang cemberut karena disuruh memakai kostum Upin & Ipin, handphone masih di tangan, video dijeda untuk beberapa saat. "Hmm... ngga sih," jawab Disya seadanya, tetapi perempuan itu masih berpikir mencoba mengingat. "Kamu ngerjain si kembar ya? Atau beneran ngidam kaya gini sih?" tanya Naya lagi memastikan. "Beneran ngidam, Nay. Beneran maunya dede bayi nonton Upin & Ipin sama si kembar. Awalnya aku iseng nanya sama Dokternya waktu USG, jangan-jangan aku lagi hamil anak kembar. Eh, Dokternya malah kaget, kok aku tahu katanya. Padahal Dokternya udah punya niat kalau kehamilan aku yang kembar ini mau diraha
"Kok ngga ada dekorasi sih, Sya?" tanya Alya dengan kening mengernyit menatap sekitaran halaman rumah, hanya ada Devan dan si kembar yang sedang duduk di gazebo sibuk meniup balon. "Bang Devan tuh ngga punya duit sampe ngga mampu buat beli dekor!" dumel Gio dengan wajah memerah kesal. Alya, Fani, dan juga Yumna yang baru datang sama-sama mengeryit menatap Disya. "Padahal kalau pake dekor lebih bagus lho, Sya. Bisa bikin postingan sosmed kita estetik tau!" usul Alya. "Bang Devan tuh kolot banget!" Lagi-lagi Gio mulai mengomel. "Lo juga, Sya! Bisa-bisanya ketularan Bang Devan sih?" Disya terkekeh pelan. "Acaranya kan jam tiga sore, ini masih jam sepuluh. Kalian datangnya kepagian sih makannya disuruh Pak Devan niup balon." Gio mencebik kesal, tetapi mulutnya masih sibuk meniup balon. Dio juga melakukan hal yang sama, bedanya lelaki itu lebih bersikap tenang seperti Devan. "Kita pesen dekor kok, sebentar lagi juga s
"Ada apa?" tanya Disya melirik suaminya beberapa detik, lalu kembali fokus dengan kegiatanya yang sedang memasangkan dasi di leher Devan.Lelaki itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi kanan Disya. "Kamu cantik sekali, Sya?"Disya memberengut, memukul pelan dada Devan untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan satu, dua bulan mereka bersama. Tetapi, Disya selalu dibuat salah tingkah jika Devan menggodanya. Jelas pipinya bersemu merah sekarang, membuat Devan gemas, tidak tahan untuk menciuminya, bahkan lelaki itu sudah memeluk tubuh Disya."Pak Devan harus sarapan, nanti telat.""Saya cuti lagi ya hari ini.""Ngga boleh! Kemarin kan Pak Devan udah ngambil cuti."Devan berdecak, lelaki itu malah semakin memeluk Disya erat. "Saya mau sama kamu terus...." rengeknya manja—Bukan Devan sekali 'kan?!"Ayo sarapan, di bawah Naya sama Bang Sam pasti nungguin!" kata Disya mencoba melepaskan pelukan suaminya."Biarkan saja mereka," ucap Devan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.Kalau sudah begi
"Abang cinta sama Naya, Sya...." Disya mengangguk pelan memeluk lengan Samudra dengan lembut sesekali mengelusnya, mencoba menyampaikan bahwa ia percaya dengan ucapannya—bagaimana Disya tidak percaya, manik mata Abangnya sudah memerah sekarang, bahkan berkaca-kaca jika saja matanya berkedip beberapa detik maka air mata yang menggenang itu akan jatuh membasahi pipinya. "Abang ngga tau kenapa kamu sama Devan masih belum percaya itu. Abang harus bagaimana lagi?" Disya menggeleng pelan. "Pak Devan bilang apa sama Bang Sam?" Tanya Disya memastikan, beberapa menit yang lalu suami dan abangnya ini baru mengobrol di halaman samping. Disya sudah mengetahui apa yang dibahas, tetapi ia tidak tahu secara rinci kalimat seperti apa yang suaminya ucapkan kepada Samudra sehingga lelaki itu sampai berkaca-kaca hendak menangis seperti ini. "Disya cuman takut—" "Sudah beberapa kali Abang bilang takut kalian itu keterlaluan, berlebihan. Apalagi sekarang
"Siapa Layla?" Samudra menoleh, lelaki itu baru mendaratkan bokongnya di kursi dan langsung ditembak dengan pertanyaan dari Devan yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh selidik—menginterogasi. "Siapa Layla bagi kamu dan Mamah Gina?" Tanya Devan lagi, memperjelas pertanyaannya. "..." Samudra masih diam, tidak membalas tatapan Devan, lelaki itu memilih menatap ke depan dengan mulut terkatup rapat. "Disya menangis semalam, dia mengkhawatirkan pernikahan kalian berdua, dia takut terjadi masalah di hubungan pernikahan kamu dengan Naya, dia takut jika hal itu terjadi... saya akan meninggalkannya—" Devan menjeda kalimatnya, terdengar helaan nafas berat dari mulutnya, mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak lagi menatap Samudra. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak mengingat semalam Disya menangis tersedu karena masalah ini. "Saya tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya—saya tidak akan pernah meninggalkan Disya apapun
Duduk setengah berbaring di atas karpet dengan alas tumpukan beberapa selimut bedcover yang menjadi satu, punggungnya bersandar di sofa, Devan memperhatikan kuku jari jemarinya yang sedang dipotong oleh Disya. "Sini Disya potongin kukunya, udah pada panjang itu." Hanya kalimat itu yang sebelumnya d
Saat sarapan pagi itu, Kai meminta ijin kepada Devan untuk ikut bersama Husein dan Maya mengunjungi kediaman Samudra dan Naya di Bandung. Tentu saja Devan memberi ijin, akhir-akhir ini Kai pasti kesepian sekali, tidak ada Disya juga Naya—walaupun banyak bertengkar dengan Naya, tetapi tetap saja Kai
Butuh waktu untuk ke luar dari rasa terpuruk karena duka mendalam. Disya masih merasa bersedih, kehilangan, menyesal, atas kepergian ketiga orang yang sudah menjadi bagian tersendiri di hidupnya. Husein, Maya, dan terlebih Kai—bolehkah waktu diputar kembali? Disya ingin memperbaiki hubungannya deng
“Tipe gue oke ngga, Bang?”Devan menengok, menatap Gio yang juga sedang menatapnya dengan senyuman lebar juga kedua alisnya yang dinaik turunkan setelah mengajukan pertanyaannya.“Hm.”“Cantik banget Sarah—”“Sudah sedekat itukah kalian sampai kamu tidak memanggil Sarah dengan sebutan Mba—dia lebih tua







