LOGINI thought running from the mate who used me as a pawn, and rejected me, would be the end of my cruel fate. I was wrong. I ran straight into a pack that didn’t just hate me, but also wanted me dead. I ran into the hands of three men who shattered everything I thought I knew about survival. My alpha stepbrothers: Quin, Rio, and Hunter. They’re called the Three Devils: dangerous, wild, and untamed. To me, they are living temptation. My forbidden desires. My ruin. They don’t know boundaries. They don’t do gentle. They want me for themselves. Quin wants to claim my rut. Rio wants to mark me. And Hunter? He’s ready to burn the world just to make me his. But the Moon Goddess doesn’t play fair. Pack laws don’t bend…not even for Alphas. And now we’re trapped in a web of fate that will either bind us together, or tear us apart completely. This is a dangerous game and I dread who the winner will be, the feral alpha, the biker president or the sex god? _ Warning ️ This book blurs the lines of morality. Contents are explicit, sometimes triggering too.
View MoreDegup jantung berdetak kencang menemani dinginnya seorang gadis bernama Isma di dalam mobil yang sedang melesat cepat. Sesekali, sorot matanya yang gugup bertemu dengan ekor mata lelaki yang tengah mengemudi melalui kaca spion bagian depan.
Entah sudah berapa ribu kali Isma mengusap keringat dingin di telapak tangannya, dia benar-benar ketakutan."Jangan mengecewakan Isma, dia laki-laki pertama yang berani membayarmu dengan harga tinggi!"Suara Mami Ratna penguasa rumah bordil tadi kembali terngiang di telinga Isma, semakin menguatkan gelisah yang menderanya.Cittt!!! Mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel bintang lima. Terang cahaya dari gedung pencakar langit tersebut nyatanya tidak mampu membuat Isma merasa tenang. Justru, di matanya semua nampak gelap seolah tidak ada siapa pun dalam dunianya yang mulai kelam."Turun!" Pria yang tadi menyetir turun dari mobil, membukakan pintu untuk Isma."Iya," sahut Isma mulai menurunkan kakinya menjejak di bumi. Dress di atas lutut yang melekat di tubuh sintalnya sedikit tertiup angin yang berhembus. Isma menarik napas panjang, mulai berjalan mengikuti si pria tinggi di depannya.Pintu hotel yang terbuat dari kaca terbuka otomatis. Isma mengedarkan pandangannya, mencari-cari seseorang yang kata Mami Ratna sudah menyewanya untuk malam ini."Duduk di sini," titah lelaki tadi menunjuk sebuah sofa di sudut lobby hotel yang cukup ramai dilalui banyak orang.Isma hanya menurut saja, dia duduk di sana dan menunduk. Matanya mulai berkaca meski sudah dia tahan untuk tidak menangis."Isma, ibu kamu sakit dan butuh biaya banyak. Uang hasil kerja kamu di warteg ya mana cukup untuk menghidupi kebutuhannya!"Ah ... tuntutan dari keluarganya di kampung membuat Isma putus asa hingga memilih jalan yang tidak seharusnya. Dua bulan Isma bekerja di sebuah rumah makan dengan gaji tidak lebih dari dua juta, nyatanya tidak mampu memenuhi kebutuhan.Sekarang Isma memilih jalan pintas. Menjadi wanita malam melalui Mami Ratna, langganannya di rumah makan yang berani memberikan uang dua juta yang ia dapat selama sebulan bekerja hanya dalam waktu semalam saja.Akan tetapi Isma harus membayar mahal keputusannya. Uang yang dia dapat dengan mudah itu nyatanya harus membuat Isma rela kehilangan kehormatannya yang akan ia jual malam ini kepada seorang lelaki pilihan Mami Ratna."Ah!" pekik Isma terkejut sekaligus merasa sakit di bagian belakang kepalanya. Dia menoleh, mendapati dua orang lelaki sedang menatap kepadanya. Salah seorang lelaki terkekeh seraya mengatupkan kedua tangannya di dada."Maaf Mbak, saya tidak sengaja!""Hm!" kata Isma mengangguk pelan, mengusap kepalanya yang ngilu. Sepertinya tadi lelaki itu tidak sengaja menyikutnya."Kalau begitu permisi Mbak, maaf ya sekali lagi saya minta maaf!""Iya tidak apa-apa, Mas." Lalu Isma membiarkan dua orang lelaki itu pergi, lelaki yang berjalan paling depan tampak acuh dengan kejadian tersebut. Tidak ada senyum tipis di wajahnya malah terkesan dingin.Tidak lama setelah insiden itu, pria yang tadi membawa Isma ke hotel kembali dengan seseorang lainnya. Isma berdiri, menyambut kedatangan mereka. Lelaki yang baru dia temui tersenyum menyeringai, menelisik penampilan Isma dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya dengan mata kelaparan."Ya ... lumayan cantik untuk ukuran koleksi Mami Ratna," gumam si lelaki bertubuh gempal dan berperut buncit itu."Maaf Pak—""Bawa langsung ke kamar, saya tidak sabar untuk segera mencicipinya!"Deg! Jantung Isma berdenyut nyeri. Jadi ... lelaki ini yang akan tidur dengannya? Lelaki tua ini yang akan merenggut kehormatannya?"Ayo!"Seretan di tangan Isma menyadarkan lamunannya. Dia mulai bimbang, namun kakinya tetap mengayun mengikuti langkah dua pria di hadapannya."Ibu hanya berpesan, jaga diri kamu baik-baik. Jangan khawatirkan Ibu, yang penting kamu di kota itu hidup baik dan sehat Is." Suara ringkih ibunya sesaat sebelum Isma pergi merantau seperti berdengung di telinganya.Isma menatap punggung lelaki tersebut. Hati kecilnya berteriak menolak, namun Isma membutuhkan uang dua juta yang Mami Ratna tawarkan. Tadi sore bahkan saudaranya sudah menelepon meminta kiriman uang, dan Isma berjanji akan mengirimnya esok pagi setelah Mami Ratna memberikannya."Kamu tidak usah jaga di sini, Gus. Malam ini saya mau senang-senang.""Baik, Pak."Ketiganya berhenti di depan pintu sebuah kamar. Salah seorang pergi setelah mendapatkan bayarannya. Saat lelaki bertubuh gempal itu pergi, Isma dipersilahkan masuk ke dalam kamar."Kenalkan, saya Hartono. Ayo masuk," ajaknya dengan senyum nakal menjijikkan yang terbit di wajahnya."Tapi Pak, sebentar—""Tidak ada tapi-tapian, ayo sekarang masuk!"Didorongnya punggung Isma dengan paksa. Blam! Pintu segera dikunci, Hartono melepas jasnya yang sempit lalu melemparkannya ke sofa."Ayo Sayang, layani Om malam ini!""Pak sebentar—" Isma dibuat kaget saat tiba-tiba Hartono memeluknya dari belakang. Pria yang usianya berkisar 50 tahun lebih itu mulai melakukan aksinya. "Pak!"Refleks Isma menepis tangan Hartono, melepaskan dirinya dari pelukan si lelaki tua. "Lepasin saya!""Loh, apa ini?" Hartono mulai menyadari ada yang tidak beres karena penolakan yang dilakukan oleh Isma. "Kamu nolak saya?" tanyanya kembali mendekat membuat Isma berjalan mundur menghindarinya.Isma mulai berubah pikiran. Uang dua juta yang semula membuat tekadnya bulat mulai runtuh. Dia tidak mau melakukannya, menjual diri kepada lelaki tua di hadapannya."Saya berubah pikiran, tolong hubungi Mami dan biarkan saya pergi!" kata Isma dengan suara bergetar."Tidak bisa begitu, saya sudah membayar kamu dengan mahal dan tidak bisa dibatalkan. Kamu pikir saya pesan makanan di pinggir jalan yang bisa seenaknya saja ditinggalkan?!""Tolong Pak, saya tidak mau melakukannya. Saya mau pergi dari sini!" Isma berjalan menuju ke pintu, namun tangannya dicekal oleh Hartono yang menariknya hingga Isma pun kembali terseret ke belakang."Tidak semudah itu! Kamu tidak bisa pergi sebelum urusan kita selesai!" Suara Hartono mulai meninggi, kesabarannya tidak bisa diuji seperti ini."Pak, tolong lepaskan saya. Bapak tinggal ambil kembali uangnya dari Mami—"Plak! Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kiri Isma, meninggalkan bekas kemerahan di wajahnya yang sudah dipoles riasan oleh Mami Ratna."Beraninya kamu mempermainkan saya!" teriak Hartono dengan urat leher menegang, rahangnya mengeras dan matanya hampir melompat keluar menakuti Isma."Bukan begitu Pak, saya cuma benar-benar tidak bisa melakukannya!"Bugh! Isma terjerembab, tubuhnya beradu dengan lantai keramik karena Hartono baru saja mendorongnya."Tidak semudah itu, malam ini kamu milik saya!""Tolong Pak—" Isma mengangkat wajahnya, mulutnya terbuka lebar saat melihat Hartono mulai melepaskan ikat pinggannya. Senyumnya lebar seperti iblis menampakkan deretan gigi. Hartono mendekat, mencengkeram dagu Isma lalu berbisik di telinganya, "kamu tidak akan bisa lolos dari Hartono Wijaya!"Hunter. My dick becomes hard immediately her warmth spreads over me. My body goes still on top of hers. Only jagged breaths erupt from my mouth and nose. She's tight. Tighter than any pussy I've ever been in. Rio's groan of frustration matches mine. But I'm not groaning out of frustration. I'm groaning because her inside feels good. Too good. It's sweet. My eyes land on hers, but it's not hatred or bitterness that is there. It's amazement. Shit, I shouldn't feel any of this. Not her tightness. Not her warmth. Especially not her sweetness. She shouldn't taste like this at all. Hating the fact that things aren't the way I expected them to be, I begin to mechanically thrust into her channel. It's meant to be a robotic move that neither of us will feel any pleasure from. Unfortunately, a myriad of pleasure courses through my body. It cripples my thinking, my hatred, and my anger. I'm left a groaning mess. My thrusts are unstable at first but not anymore. Right now, I can't con
Hunter. A relieved look crosses Rio's face. He puffs off a breath and nods. When he turns to his lover, he beams at her, crooning. "Hey, little moon, Hunter is going to help you, hm? Let him do it, okay?" The only response he gets from her is the batting of her lashes. Then he moves away, giving me room to sit beside her. I move forward, the scent of the leaves surrounding her penetrating my nose. She's watching me, and I notice the curiosity underlying that look. She's probably wondering what made me change my mind all of a sudden. It's my best friend that I'm doing it for, okay? I sneer and take the seat beside her. I hold her pale hand with mine and begin to siphon her pains and paralysis. I channel the energy from the depths of my being, letting it do the work. Heal her. One minute into it, and yet nothing happens. I can't feel that collision of energy I feel when siphoning people. She's not healing. It's not working. I readjust on the seat, lean closer, and hold her ti
Hunter. The witch is here. Well, unlike her lover, Rio. She seems to be on the verge of death. Still breathing hard from outrunning those monsters out there, I keep my eyes on them as I stand by the door. I'd never go close to her. Her skin is now a dark shade of purple. Her lips parched. Dark blood drips from her nose as black veins rope around her neck. I wonder what caused that. I'm guessing she was attacked by the monsters. Ugh, it's somewhat relieving to know I wasn't the only one who passed through this monstrous hell that is the Cold Mountains.Hmm, I made it alive, and I've got to stay alive until we're ready to be sent back home."No, Veil, you have to stay with me." Rio's painful whimper draws my attention back to them.He has Veil cradled to his chest while he speaks into her ear. I can practically hear the urgency in his voice, the yearning. Suddenly, he presses his lips to hers, pleading for her to wake up in between the kisses. That's not going to do anything, dude
Rio. I grunt with every move I make, carrying my little moon on my back. They've attacked her, almost about to kill my woman. That's not just my worry. It's the fact that she's having a nosebleed. The one Dr. Eliza warned against. Veil's Rutlock has reached its limit. Crap! I can't lose her. I can't lose the only woman who matters to me. I have to find a solution. To salvage this mess about to befall me. I don't care that I am in pain myself as I run down the road that leads to an unknown place. It could be the haven of these monsters. Or another monster we're yet to encounter. Whatever it is, I'll face it head-on. I'm just glad I found her. Her breathing is becoming shallow, which spikes my worry. I shove forward more, pushing myself past my limits. Eventually, we arrived at a villa at the end of the road. Oh, this is where the road leads? Could this be the end of our task? The groaning of paws on the ground reminds me of the monsters chasing us. I flick a look behind,
Hunter. She twitches uncomfortably on the cross, turning her gaze away from me. I savor the drink, taking a seat in front of her with my legs crossed. “You are not dumb, are you?” I hiss. “Answer my question, witch. Who's your ally?” “No one.” I jerk back, mulling over her response. Oh, she mus
Veil. Heart in full gallop, I retrace my steps back into the pack house hurriedly. The relief that everywhere is empty is almost suffocating. They're all at the party, fixed on the chaos unfurling. I might hate what Hunter did, but I'm uber grateful to him. It definitely would have been difficult
Veil. Unease settles on Rio's face. He tips his head aside, reminding Hunter. “You've never wanted anything to do with me, have you forgotten?” Hunter lets loose a lighthearted chuckle. “Trust me, that was in the past. Now, I'm willing to mingle with you, after all, we're brothers.” The elders s
Veil. He heard us, that's the only thing that comes to my mind while Rio speaks. It's the only reason why he'd want me to become Emma's chief maiden tonight, so I won't escape. Despite the theories formulating in my mind, Rio appears to be ignorant of the plans. It's in the way he's looking at me
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.