LOGINAnggi berdiri di depan pintu ruang rawat inap. Jemarinya mengusap sudut matanya yang sembab, memastikan tak ada lagi jejak air mata yang dapat dibaca siapa pun.
Ia menarik napas panjang, lalu merapikan riasan yang mulai memudar dengan sentuhan singkat di pipi dan bibirnya. Tak boleh ada yang melihat betapa rapuh dirinya saat ini.Setelah merasa cukup tenang, Anggi mengambil kembali bingkisan yang sempat ia letakkan di lantai. Plastik pembungkusnya ia lepaskan, lalu dibuang ke tonAnggi memarkir mobilnya di halaman rumah keluarga suaminya. Tangannya masih menggenggam kemudi erat-erat, sementara dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang sejak tadi memenuhi pikirannya.Ia tidak datang sebagai menantu yang hendak bersilaturahmi.Ia datang sebagai seorang istri yang menuntut keadilan atas tindakan suaminya yang telah mengkhianati ikatan pernikahan mereka.Sudah beberapa hari Diego tidak pulang ke rumah. Pria itu seolah menghilang begitu saja tanpa kabar yang jelas. Nomor ponsel yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung pun lebih sering tidak dapat dihubungi. Kalaupun tersambung, panggilannya hanya berakhir tanpa jawaban, seakan sengaja diabaikan.Sebagai seorang istri, Anggi telah berusaha berpikir positif. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa suaminya benar-benar sibuk dengan pekerjaan. Namun, semua pembelaan yang ia bangun runtuh seketika saat melihat sendiri bukti-bukti bahwa suaminya telah bermain hati.Sejak saat itu, tak ada lag
Pagi itu, sinar matahari menembus sela-sela tirai ruang rawat, menyapu lantai putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun, kehangatan itu sama sekali tak mampu mengusir kegelisahan yang sejak semalam bersarang di hati Kiara.Ia duduk bersandar di ranjang rumah sakit, memandangi semangkuk bubur yang hampir tak tersentuh. Pikirannya terus dipenuhi keputusan yang telah ia ambil semalam.Pergi.Satu-satunya cara untuk melindungi Anggi adalah menghilang sebelum semua rahasia itu terbongkar.Tok.Tok.Pintu kamar diketuk pelan.Kiara mengangkat kepala.Ia mengira seorang perawat yang datang memeriksa kondisinya. Namun, begitu pintu terbuka, tubuhnya langsung menegang.Diego.Pria itu berdiri di ambang pintu sambil membawa kantong berisi beberapa kotak makanan dan buah-buahan. Wajahnya terlihat lelah, seolah semalaman tidak benar-benar tidur."Akhirnya aku menemukanmu."Jantung Kiara berdegup begitu keras."Diego ... kamu kenapa ada d
"Dan aku juga tahu kalau suamiku memiliki perempuan lain di belakangku. Jika aku menemukannya, aku akan membuat hidup wanita itu hancur."Kilatan kebencian yang memancar dari kedua mata Anggi membuat Kiara membeku di tempat.Napasnya tercekat. Jemarinya yang semula menggenggam selimut perlahan bergetar. Ucapan Anggi barusan bukan lagi sekadar luapan hati seorang istri yang terluka, melainkan sebuah ancaman yang menghantam tepat ke jantungnya.Untuk sesaat, Kiara merasa seluruh ruangan berputar."Anggi ..." suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Namun Anggi sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. Emosi yang selama ini ia pendam akhirnya meluap tanpa bisa dibendung."Aku benar-benar membencinya," ucapnya dengan rahang mengeras. "Perempuan itu pasti tahu Diego sudah beristri. Tapi dia tetap memilih mendekati suamiku."Setetes air mata kembali jatuh membasahi pipinya."Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya.
Anggi berdiri di depan pintu ruang rawat inap. Jemarinya mengusap sudut matanya yang sembab, memastikan tak ada lagi jejak air mata yang dapat dibaca siapa pun.Ia menarik napas panjang, lalu merapikan riasan yang mulai memudar dengan sentuhan singkat di pipi dan bibirnya. Tak boleh ada yang melihat betapa rapuh dirinya saat ini.Setelah merasa cukup tenang, Anggi mengambil kembali bingkisan yang sempat ia letakkan di lantai. Plastik pembungkusnya ia lepaskan, lalu dibuang ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Barulah ia menggenggam erat parsel buah itu, mendorong gagang pintu dan melangkah masuk.Suasana ruangan begitu hening. Hanya terdengar desau lembut angin yang menggerakkan tirai di dekat jendela.Di atas ranjang, Kiara yang semula memandang ke luar jendela sontak menoleh. Matanya membulat seketika saat melihat sosok wanita yang berjalan menghampirinya."Anggi ...?" gumamnya lirih, jelas tak menyangka wanita yang paling ingin ia hindari
Reymond menepati janjinya. Selama dua hari terakhir, ia nyaris tak pernah meninggalkan sisi Kiara. Ia mengurus semua kebutuhannya, mulai dari mengambil obat, memastikan infus tetap berjalan dengan baik, hingga menyuapi Kiara ketika wanita itu belum cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.Perhatian yang ia berikan membuat para perawat berkali-kali tersenyum setiap kali melihat mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengira Reymond adalah suami Kiara."Suaminya benar-benar telaten, ya. Jarang ada yang sesabar ini," bisik seorang perawat kepada rekannya.Kiara hanya mampu tersenyum kikuk mendengar anggapan itu. Ia hendak meluruskan kesalahpahaman tersebut, tetapi Reymond lebih dulu mengalihkan pembicaraan seolah tak ingin mempermalukannya. Sikapnya yang tenang justru semakin membuat para perawat yakin bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai.Di sisi lain, suasana yang bertolak belakang terjadi di ruang kerja Diego.Brak!Ponsel yang berada di
"Hamil ..." Kiara bergumam lirih. Jemarinya bergerak perlahan mengusap perutnya yang masih rata, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa sebuah kehidupan benar-benar tengah tumbuh di sana. Pandangannya beralih ke luar jendela. Sebatang pohon berdiri kokoh diterpa embusan angin sore, sementara beberapa ekor burung gereja beterbangan dari satu dahan ke dahan lain. Kicauan mereka terdengar begitu riang, seolah dunia tak pernah mengenal kesedihan. Tanpa sadar, sudut bibir Kiara terangkat membentuk senyum tipis. Namun, senyum itu perlahan memudar, tergantikan tatapan sendu yang menyimpan begitu banyak kegelisahan. Masa depan yang semula telah ia susun kini berubah menjadi teka-teki yang sulit ia pecahkan. Ia tak pernah membayangkan bahwa hubungan satu malam bersama Diego akan meninggalkan jejak sebesar ini. Bukan sekadar kenangan, melainkan seorang calon buah hati yang kini bersemayam di dalam rahimnya. Jema
Anggi tersenyum. Wanita manis itu tak menyadari perubahan yang tiba-tiba menguasai atmosfer. "Sayang, ini Kiara, sahabatku sejak SMA." Tangannya merangkul manja lengan lelaki yang ia perkenalkan sebagai suami. Berbeda dengan wajah Anggi yang sumringah. Lelaki itu justru diam sejenak, kemudian meng
Pernah tidak kalian mendengar ada yang bilang, lebih baik capek badan daripada capek otak? Capek badan bisa hilang saat dibawa istirahat, tetapi capek otak mau tidur 24 jam sekalipun tak mampu membuat hilang sakit di kepala. Itulah yang tengah Kiara alami pagi ini. Suasana pagi yang cerah tetapi t
Kiara menarik napas cepat, rasa lelahnya berganti waspada. "Mama jarang berbicara dengan nada seperti itu dan jika beliau sampai menunggu di apartemen tanpa memberi tahuku sebelumnya, berarti ada sesuatu yang diinginkannya dariku." Lagi-lagi Kiara hanya mampu bergumam di dalam hati, walau seribu t
Kiara merasa akhir-akhir ini Dewi kesialan tengah mengutuknya. Setelah beberapa hari yang lalu bersusah payah kabur seperti seorang buronan dari dekapan lelaki asing yang memiliki pikiran gila, kini ia dihadapkan dengan dua orang wanita yang menyebalkan. "Gila, tampan banget. Aku tidak menyangka l







