Beranda / Young Adult / PAMANKU SUAMIKU / 006 Permintaan Arga

Share

006 Permintaan Arga

Penulis: Wolfy
last update Tanggal publikasi: 2022-11-13 21:07:57

Bab 006: Permintaan Arga

Sesampainya di rumah sakit, Aruna langsung mencari ruang ICU tempat ayah tirinya dirawat. Sejak turun dari ojek online, jemarinya tak berhenti menekan layar ponsel. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Gavin, tetapi panggilannya selalu gagal tersambung.

"Gavin bego... ngapain aja sih?" gerutunya sambil terus menempelkan ponsel ke telinga. "Dari tadi HP nggak diangkat-angkat."

Nada sambung kembali terdengar.

"Gavin... angkat, dong!"

Panggilan itu kembali terputus.

Aruna mendecak kesal. Ibu jarinya kembali menekan layar, lebih cepat dari sebelumnya hingga bunyi ketukan jarinya terdengar jelas.

"Gavin!" serunya lagi, kali ini nyaris memekik. "Buat apa lu punya HP kalau pas begini malah nggak bisa dihubungin!"

Pintu lift terbuka.

Aruna melangkah masuk tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Beberapa orang di dalam lift sempat menoleh. Seorang pria berjas menghela napas pelan, sementara seorang ibu menggenggam tangan anaknya dan bergeser sedikit menjauh.

Aruna sama sekali tidak peduli.

Pikirannya hanya dipenuhi satu hal.

Pak Arga.

Selama lift bergerak naik, ia masih menggerutu pelan sambil terus mencoba menghubungi Gavin. Semakin lama tak ada jawaban, semakin kuat firasat buruk yang menggerogoti dadanya.

Tok.

Tok.

"Assalamu'alaikum..."

Aruna mengetuk pintu ruang ICU sebelum membukanya setelah mendapat izin dari perawat yang berjaga.

"Bapak... ini Runa, Pak."

Langkahnya melambat begitu mendekati ranjang.

Dadanya langsung sesak.

Pria paruh baya yang terbaring di hadapannya tampak jauh berbeda dari sosok yang biasa ia kenal. Selang dan kabel memenuhi tubuhnya. Masker oksigen menutupi sebagian wajahnya. Mesin di samping ranjang terus berbunyi pelan, memantau setiap detak jantungnya.

Pak Arga memang baru empat tahun menjadi ayah tirinya.

Namun bagi Aruna, dialah satu-satunya sosok ayah yang benar-benar ia kenal.

Ayah kandungnya meninggal saat Aruna baru berusia dua tahun. Selain beberapa lembar foto yang disimpan ibunya, ia bahkan tak memiliki kenangan tentang laki-laki itu.

Pak Arga mengisi kekosongan itu.

Ia tak pernah membedakan Aruna dengan Gavin, anak kandungnya sendiri. Begitu pula sebaliknya. Aruna dan Gavin tumbuh seperti kakak beradik pada umumnya. Kadang akur, kadang bertengkar, tetapi selalu kembali bercanda seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Runa... lu dateng, Neng..."

Suara Pak Arga terdengar lirih dari balik masker oksigen.

Aruna segera meraih tangannya.

"Iya, Pak. Ini Runa."

Tangan itu terasa dingin.

Pak Arga menggenggamnya pelan.

"Runa... bapak minta maaf, ya.... Bapak nggak bisa jagain emak lu.... Bapak gagal nyelametin dia...."

"Pak..."

Suara Aruna mulai bergetar.

"Udah... nggak apa-apa." Ia mengusap pelan punggung tangan ayahnya. "Emak lagi disayang Allah, makanya dipanggil duluan."

Air mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi masih ia tahan.

"Bapak jangan mikir yang macam-macam. Yang penting sekarang bapak sembuh dulu."

Tatapan Aruna kembali menyapu tubuh ayahnya.

Selang infus.

Kabel monitor.

Masker oksigen.

Setiap alat yang menempel di tubuh Pak Arga seolah terus mengingatkannya bahwa keadaan pria itu jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

"Maafin bapak, Run.... Tapi... kayaknya bapak juga bakal nyusul emak lu...."

"Iya..."

Aruna buru-buru menyela.

"Tapi bukan sekarang. Nanti. Bukan sekarang."

Nada suaranya meninggi tanpa ia sadari.

"Jangan ngomong begitu, Pak."

Pak Arga tersenyum tipis.

"Emang bukan sekarang.... Tapi bentar lagi... kalau keinginan bapak udah terwujud."

"Iya..."

Aruna mengangguk cepat.

"Makanya bapak pikirin sembuh dulu. Nanti kita wujudin sama-sama."

Pak Arga menggeleng sangat pelan.

"Nggak bisa, Run.... Bapak maunya sekarang."

Aruna menghembuskan napas panjang.

"Emang bapak maunya apa? Nanti Runa cariin."

"Nggak usah dicari."

Pak Arga meremas tangan Aruna sedikit lebih kuat.

"Yang penting Runa udah di sini."

Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas.

"Ardan lagi nyusul ke sini, 'kan?"

"Iya."

Aruna mengangguk.

"Katanya bapak yang nyuruh manggil orang. Om Tatang juga."

"Iya...."

Pak Arga menarik napas lagi.

"Run... dengerin bapak, ya."

"Iya, Pak."

Aruna sebenarnya mulai gelisah.

Kondisi Pak Arga jelas sedang memburuk, tetapi pria itu justru memaksa ingin menyampaikan sesuatu.

"Run...."

Pak Arga menatap lurus ke mata Aruna.

"Bapak minta... Aruna jadi bini Ardan."

"...Mau, ya?"

"Pak?!"

Mata Aruna langsung membelalak.

Tubuhnya refleks mundur setengah langkah.

Dadanya seperti dipukul sesuatu.

Apa...

Dia salah dengar?

Pak Arga tetap menatapnya.

"Maafin bapak, Run.... Bapak tahu kesannya maksa.... Tapi bapak nggak bisa tenang kalau nggak ada orang yang jagain Runa."

Jemarinya masih menggenggam ujung jari Aruna.

"Pak...."

Aruna kembali mendekat.

"Bapak ngomong apa, sih.... Udah deh, sekarang istirahat aja."

Ia berusaha menganggap ucapan itu hanya akibat kondisi ayahnya yang sedang sakit.

"Runa."

Nada Pak Arga berubah lebih tegas.

"Dengerin bapak."

Nada itu memaksanya sedikit mengangkat suara.

Raut wajahnya langsung meringis menahan nyeri.

Aruna terperanjat.

"Pak..."

Ia buru-buru menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

"Bapak udah nggak punya banyak waktu...."

Pak Arga menarik napas pendek.

"Badan bapak... bapak sendiri tahu kondisinya."

Aruna membeku.

Jemarinya mulai gemetar.

Ia ingin membantah.

Namun melihat wajah Pak Arga yang begitu tenang justru membuat tenggorokannya tercekat.

"Bapak...."

Suara Aruna mengecil.

"Udah deh... jangan ngomong kayak gitu.... Nanti Runa nangis...."

"Neng."

Pak Arga menatapnya lekat.

"Anak bapak."

"Denger."

"Bapak udah janji mau jagain kalian berdua."

"Tapi bapak gagal."

"Salah satunya... emak lu."

"Bapak gagal nyelametin dia."

"Pak!"

Aruna langsung memotong.

"Itu takdir Allah!"

"Bapak nggak punya kuasa buat nahan itu."

"Jangan salahin diri sendiri.... Itu dosa."

Dadanya naik turun.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Pak Arga tersenyum kecil.

"Iya...."

"Makasih, Run...."

Ia mengusap pelan punggung tangan Aruna.

"Sekarang bapak minta satu lagi."

"Runa...."

"Mau ya jadi bininya Ardan."

"Adik bapak."

"Bapak!"

Wajah Aruna semakin panik.

"Iya...."

Pak Arga mengangguk pelan.

"Bapak tahu apa yang Runa pikirin."

"Tapi ini pemikiran orang tua."

"Runa sekarang udah jadi yatim piatu...."

"Nggak, Pak!"

Aruna langsung menyela.

Air matanya kini benar-benar mengalir.

"Runa masih punya bapak!"

"Jangan bilang Runa yatim piatu...."

Isaknya pecah.

Pak Arga terdiam.

Ia memberi waktu Aruna menenangkan diri.

Ruangan kembali dipenuhi bunyi monitor jantung yang berdetak teratur.

Beberapa saat kemudian, Pak Arga kembali membuka suara.

"Runa...."

"Bapak denger dari Ardan...."

"Emak lu memang udah nggak ada."

"Tapi dua bayi di kandungannya selamat."

"Sekarang masih kritis di inkubator."

Aruna menunduk.

Air matanya terus menetes ke punggung tangannya.

"Run...."

"Insyaallah mereka panjang umur."

"Bapak cuma percaya sama Runa."

"Cuma Runa yang bisa jagain mereka."

"Bapak tahu Ardan sama Gavin pasti bakal ngurus."

"Tapi nggak akan sama kayak kalau Runa yang ngurus."

Aruna menarik napas panjang.

"Tapi, Pak...."

"Kalaupun Runa nggak jadi istrinya Mang Ardan...."

"Runa tetap bakal ngurus mereka."

"Mereka juga adik Runa."

Pak Arga mengangguk pelan.

"Runa...."

"Maaf kalau bapak ngungkit."

Ia berhenti sejenak, mengumpulkan napas.

"Tapi..."

"Runa masih inget nggak..."

"Gimana hidup Runa sebelum jadi anak bapak?"

"Waktu Aisyah masih berstatus janda."

Tubuh Aruna langsung menegang.

Tatapannya kosong.

Dadanya kembali terasa sesak.

"Runa...."

"Neng...."

"Anak bapak yang cantik."

Pak Arga mencoba tersenyum.

"Jangan ngambek dulu."

"Dengerin alasan bapak."

Ia kembali menarik napas pelan.

"Runa...."

"Inget nggak kejadian waktu Runa mau lulus SMP dulu?"

Kalimat itu membuat wajah Aruna berubah.

Kenangan yang selama ini berusaha ia kubur, perlahan mulai menyeruak kembali.

Aruna yang masih sangat muda hanya bisa diam menghadapi amarah Karsih.

Tatapan wanita itu dipenuhi rasa benci, seolah Aruna adalah sumber dari segala keburukan. Trauma masa lalu membuat Karsih sangat membenci perempuan yang menurutnya tidak tahu malu. Dan entah benar atau tidak, sejak mendengar sebuah kabar tentang Aruna, ia langsung memasukkan gadis itu ke dalam golongan perempuan seperti itu.

Karsih tidak pernah mencari tahu kebenarannya.

Baginya, kabar yang didengar sudah cukup untuk menjatuhkan vonis.

Semua itu terjadi tiga tahun yang lalu.

Tepat sebulan sebelum Aruna lulus dari bangku SMP.

Saat itu Aruna baru tiga bulan tinggal di rumah yang kini menjadi tempatnya berteduh, tiga bulan setelah Aisyah menikah dengan Pak Arga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PAMANKU SUAMIKU   152 Berakhir bahagia

    Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan

  • PAMANKU SUAMIKU   151 Amira kembali hidup

    ''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan

  • PAMANKU SUAMIKU   150 Akhir pencarian

    Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.

  • PAMANKU SUAMIKU   149 Terpojok

    ''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka

  • PAMANKU SUAMIKU   148 Perpecahan

    Dion dan Rafli bertindak mengikuti improvisasi dari situasi yang mereka ciptakan setelah terdesak.Desakan para preman yang meminta mereka untuk menyerahkan kunci mobil membuat mereka kesulitan mengulur-ulur waktu. Tapi, kreativitas dengan modal nyali nekat sekaligus bukti bahwa diklat yang mereka jalani menunjukkan kepiawaian mereka dalam melaksanakan tugas.''Lah, mana ya?!'' sahut Dion sambil kasak-kusuk berlagak mencari kunci di saku pakaiannya, ''Fli, mana kunci?''''Lah, bukannya ama elu?!'' jawab Rafli mengikuti skenario dadakan di lapangan.''Pe'a, kagak ada di gua... ama lu, kan...''''Kagak, kagak ada... tuh, liat!'' seru Rafli sambil menarik kantong pakaiannya keluar.''Ngelawak lu bedua!'' pekik preman yang menunggu kunci mobil mereka untuk di serahkan dengan mata melotot.''Ka-kagak bang, beneran dah... cek aja... kagak ada i

  • PAMANKU SUAMIKU   147 Parta

    ''Di mana ini?!" pekik Aruna ketika tali yang mengikat mulutnya dibuka saat sudah berada di sebuah ruangan, ''Mau apa kalian?!''Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum sinis menanggapi kegelisahan Aruna dan Amira yang terkejut ketika tudung hoodie yang menutupi separuh wajah mereka dibuka, memperlihatkan suasana di sekeliling dengan lebih jelas sekarang.Salah seorang dari beberapa pria yang baru di lihat oleh Aruna dan Amira datang menghampiri.Pria itu mengangkat dagu Aruna dan Amira, memiringkannya ke kanan dan ke kiri, melihat mereka dengan seksama, menilai penampilan fisik mereka berdua.''Lumayan, biarpun enggak bisa laku mahal, tapi masih cukup ngejual,'' ujar Parta, pria paruh baya tapi punya aura mendominasi yang membuat Aruna dan Amira merasa sangat tidak nyaman, ''Enggak banyak duit yang bisa kamu dapet dari mereka berdua...'' tambah Parta seraya melirik kepada Karissa.

  • PAMANKU SUAMIKU   096 Bau alkohol

    096 Bau alkohol''Bau apaan ini?!'' seru Aruna saat membuka pintu untuk Ardan pagi itu, sekitar pukul lima pagi.''Maaf Run...'' jawab Ardan singkat lalu bergegas masuk ke kamar mandi.Mengernyit dahi Aruna melihat suaminya pulang dengan tubuh dan pakaian yang berantakan plus bau alkohol yang menusuk m

  • PAMANKU SUAMIKU   088 Suami Aruna 2

    088 Suami Aruna 2Pembahasan seru tentang suami Aruna membuat mereka semua bersemangat untuk segera ke kafe. Segera setelah jam kuliah masuk masa istirahat. Bukan hanya Kania dan Indira, tapi Arka dan Rista juga sibuk menyeret Gavin untuk membawa mereka ikut berkumpul dengan para gadis.''Kalian aneh,

  • PAMANKU SUAMIKU   079 Masa-masa di Kampus

    ''Abang udah balik?!'' seru Aruna bertanya dengan canggung, dia langsung bangun dan mengambil tangan kanan Ardan untuk mencium punggung tangannya. Segera setelahnya dia segera ke dapur mengambil segelas air minum untuk Ardan.Wajah Ardan tampak serius, menanggapi reaksi kedua remaja yang baru saja me

  • PAMANKU SUAMIKU   076 Kesedihan Ardan

    Aruna yang sejak awal mendengar semuanya juga ikut merasakan sedih. Kesedihan Ardan yang telah menyakiti hati paman yang selama ini merawatnya seperti anaknya sendiri.Aruna duduk di samping Ardan yang sedang tertekan memikirkan apa yang baru saja terjadi.''Encing pasti marah ama Abang... tadi mukany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status