تسجيل الدخولOrang tuanya meninggal karena kecelakaan. Sebelum meninggal, dia meminta sesuatu. Mereka berdua akhirnya menikah karena permintaan terakhir dari kakak laki-laki juga ayah tiri. Suami yang menurut kabar burung adalah seorang mafia, kini resmi menjadi suaminya. Berbekal kesulitan yang hidup yang telah membentuk karakternya selama sembilan belas tahun. Dia berhasil menaklukan suami dan mengetahui sebuah rahasia yang membentuk rumor tentang suaminya. Baru saja selesai satu masalah datang masalah lain... Seorang gadis cantik dan menawan datang dan dengan lantang mendeklarasikan diri sebagai calon NYONYA RUMAH. Belum sempat diselesaikan masalah wanita gebetan suaminya, datang lagi masalah lain... Seseorang dari masa lalu suaminya, yang telah mengubah tujuh tahun hidup suaminya hingga meninggalkan rumah. Bisakah Aruna melindungi rumah tangganya yang baru seumur jagung? Persoalan gangster, mafia yang telah menjerat suaminya, bisakah diselesaikan? Ini adalah Novel keduaku yang terbit, baca juga Novel pertamaku WANITA UNTUK MANUSIA BUAS. Novel ketiga juga lagi otw menuju penerbitan dari script, MENJEMPUT ISTRIKU. Selamat membaca, semoga kalian suka.
عرض المزيدEmpat hari telah berlalu sejak kepergian Pak Arga dan Bu Aisyah.
Sejak malam pertama mereka dimakamkan, Ardan hanya pulang ketika hari sudah larut. Setiap malam tahlilan selalu ia lewatkan. Tempat yang seharusnya didudukinya terus kosong hingga menjadi bahan pembicaraan warga yang datang silih berganti.
Aruna pun hampir tak pernah terlihat di rumah. Gadis itu hanya sesekali pulang untuk mengambil pakaian ganti sebelum kembali ke rumah sakit menemani kedua adik kembarnya yang masih dirawat.
Selama masa berkabung, hampir seluruh urusan rumah jatuh ke pundak Gavin seorang diri.
Mulai dari menyambut tamu, menyiapkan konsumsi, membereskan tikar selepas tahlilan, hingga melayani keluarga yang terus berdatangan sejak pagi.
Tubuhnya lelah.
Namun, yang lebih melelahkan adalah mulut orang-orang yang tak pernah berhenti berbicara.
"Cing... ini nggak bener. Ardan nggak bakal bisa ngurus."
Suara Tono memecah keheningan ruang tamu.
Nada bicaranya cukup keras hingga beberapa orang yang sedang menyeruput kopi menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Nenek Halimah sambil mengangkat wajah.
Kerutan di dahinya semakin dalam. Tatapannya menusuk ke arah Tono. Sebagai orang yang jauh lebih tua, ia jelas tidak menyukai cara keponakannya itu meninggikan suara di hadapannya.
"Udah empat malam dia nggak ada di tahlilan," jawab Tono tanpa sedikit pun menurunkan nada bicaranya.
"Ini tahlilan buat abang dia sendiri. Mereka cuma dua bersaudara. Tinggal datang doang juga nggak bisa. Tetap aja dia nggak peduli."
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa orang saling berpandangan.
"Om Ardan ada urusan, Cang..."
Suara Gavin terdengar pelan.
Meski kesal, ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya. Di hadapannya duduk para paman, bibi, serta kerabat yang usianya jauh di atasnya.
"Urusan apa, Vin?!"
Rustam langsung menyambar.
"Pengangguran tapi sok sibuk banget."
Kalimat itu bagai tamparan.
Dada Gavin mengencang.
"Dari mana Encang tahu kalau Om Ardan pengangguran?"
Untuk pertama kalinya nada suaranya meninggi.
Bukan karena ingin melawan.
Melainkan karena ucapan itu sudah keterlaluan.
"Lah, Vin." Rustam ikut menaikkan volume suaranya. "Udah banyak yang lihat. Om elu cuma keluyuran nggak jelas."
Tatapan lurus Gavin membuat Rustam ikut tersulut.
"Iya, Vin." Tono kembali menyahut. "Gue juga pernah lihat dia nongkrong sama preman-preman di Tanjung Priok."
"Kali aja dia kerja di sana," balas Gavin cepat.
"Kerja apa?"
Minan mendengus sinis.
"Orang dia jadi preman di sana."
"Bang... belum ada buktinya. Jangan asal ngomong!"
Gavin mulai kehilangan kesabarannya.
"Vin..." Marta ikut membuka suara.
"Gue tahu dia om elu. Adik bapak elu. Tapi jangan dibelain juga kalau emang salah."
Ia menggeleng pelan.
"Udah banyak yang lihat kelakuannya. Kadang di Tanjung Priok, kadang di Senen, kadang di Bantar Gebang."
"Iya."
Tono kembali mengangguk.
"Kita ngomong begini juga buat kebaikan elu sama adik-adik elu yang lagi di rumah sakit. Jangan terlalu percaya sama Ardan."
"Bukan cuma satu dua orang yang lihat," Rustam kembali menegaskan.
"Selalu kumpul sama orang-orang kagak bener. Mau bukti apa lagi?"
"Tetap aja itu belum jelas..."
Suara Gavin terdengar semakin berat.
Ia tetap berdiri di pihak pamannya.
Sendirian.
Di tengah ruangan itu, hanya dialah yang masih percaya kepada Ardan.
"...Vin."
Suara Kakek Marwan akhirnya terdengar.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat beberapa orang menoleh kepadanya.
"Elu masih bocah."
Ia menatap Gavin lekat-lekat.
"Dengerin omongan orang tua. Kita semua ngomong begini bukan buat orang lain."
Jeda sejenak.
"Buat elu."
"Buat adik-adik elu."
"Jangan dari tadi nyerocos terus. Dengerin dulu. Habis itu pikirin baik-baik."
Tak ada yang menyela.
Posisi Kakek Marwan sebagai orang yang paling dituakan membuat semua orang memilih diam.
"Bener itu, Vin," sahut Nenek Sundari sambil menganggukkan kepala.
"Ngerawat bayi kembar itu nggak gampang."
"Satu bayi aja udah bikin orang stres."
"Nah, ini malah dua."
Ucapan itu langsung disambut anggukan beberapa orang.
"Iya, Vin."
Nenek Sarna ikut angkat bicara.
"Bocah kayak elu nggak bakal sanggup."
"Gue udah nggak punya anak kecil."
"Nanti biar satu bayi gue yang urus."
Ia berhenti sejenak, lalu mengembuskan napas seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Tapi elu juga tahu... penghasilan laki gue nggak seberapa."
"Kasih aja satu atau dua pintu kontrakan bapak elu buat beli susu sama popok."
Kalimat itu menggantung.
Gavin terdiam.
Tatapannya perlahan beralih kepada perempuan tua itu.
Baru empat hari ayahnya dimakamkan.
Namun pembicaraan soal kontrakan sudah mulai muncul.
"Kalau Uwak kerepotan ngurus dua-duanya..."
Demi ikut menyahut tanpa merasa ada yang aneh.
"Satu bayi biar gue aja."
"Yang penting jatah susu sama popoknya sama kayak Uwak."
"Vin."
Carnih tak mau kalah.
"Kalau nggak, biar gue aja yang ngurus."
"Gue masih muda."
"Tenaga juga masih kuat."
"Lah."
Demi langsung menoleh tajam.
"Elu mah masih bocah."
"Nggak punya pengalaman."
"Teh Demi juga emang udah kuat?"
Carnih membalas cepat.
"Baru gendong bentar aja paling udah pegel."
"Gue memang baru nikah."
"Tapi ada emak."
"Emak bisa ngajarin."
"Iya."
Elis tersenyum tipis mendukung putrinya.
"Gue bisa bantu ngajarin Carnih."
"Tenang aja, Vin."
"Adik-adik elu pasti keurus."
Satu demi satu suara mulai saling menimpa.
Tak ada lagi yang benar-benar membicarakan Gavin.
Tak ada pula yang bertanya apa yang diinginkannya.
Mereka justru sibuk menawarkan diri.
Atau lebih tepatnya...
Membagi peran masing-masing.
Ruangan yang sejak tadi dipenuhi ucapan belasungkawa perlahan berubah menjadi tempat tawar-menawar.
Gavin mengepalkan kedua tangannya.
Sejak awal ia sudah muak mendengar mereka menjelek-jelekkan Ardan.
Namun kini...
Mereka bahkan mulai membahas pembagian kontrakan dan hak mengasuh kedua bayi itu.
Ayahnya bahkan belum genap seminggu dimakamkan.
Mereka sudah sibuk menghitung warisan.
Dada Gavin naik turun menahan emosi.
Ia memang baru berusia sembilan belas tahun.
Baru saja menyelesaikan ujian akhir SMA.
Namun bukan berarti ia tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Udah."
Suara Gavin akhirnya memotong keributan itu.
"Apa sih yang diributin?"
Ruangan mendadak senyap.
"Urusan si kembar..."
"...udah ada Aruna yang ngurus."
Seolah sebuah batu dilempar ke tengah kolam yang tenang.
Semua kepala serempak menoleh ke arahnya.
"Aruna?"
Suara mereka hampir bersamaan.
Ada yang terdengar heran.
Ada pula yang langsung menunjukkan ketidaksukaan.
Mereka saling berpandangan.
Tak ada yang berbicara.
Namun bahasa tubuh mereka sudah cukup menunjukkan satu hal.
Mereka sama sekali tidak menyukai jawaban Gavin.
"Apa yang salah?"
Gavin menatap mereka satu per satu.
"Sedari awal..."
"Bapak udah ngamanatin."
"Yang jaga si kembar itu Aruna."
Ucapan itu justru membuat beberapa wajah semakin mengeras.
Gavin dapat merasakan arah tatapan mereka.
Tatapan meremehkan.
Tatapan yang jelas ditujukan kepada Aruna.
Bukan karena kemampuannya.
Melainkan karena statusnya.
Hanya seorang anak tiri.
Tak satu pun dari mereka membuka suara.
Namun raut wajah mereka sudah cukup menjelaskan apa yang sedang mereka pikirkan.
Nama Aruna jelas bukan jawaban yang mereka harapkan.
"Vin..."
Rustam akhirnya menghembuskan napas pelan.
"Bapak lu waktu itu kan lagi dalam kondisi..."
Kalimatnya terhenti di tengah jalan.
Lidahnya kelu.
Meski sedari tadi paling lantang berbicara, tetap saja ia merasa tak enak mengucapkan kata sekarat untuk orang yang baru empat hari dimakamkan.
"Cang."
Gavin langsung menyambung ucapannya.
"Bapak memang lagi sekarat."
Suasana mendadak membeku.
"Tapi justru karena itu..."
"...Gavin yakin bapak tahu betul keputusan apa yang beliau ambil."
Tak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya.
"Itu keputusan terakhir bapak."
"Dan menurut Gavin..."
"...itu keputusan yang benar."
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
Tak menyangka Gavin akan menjawab setegas itu.
"Vin, elu gimana, sih?"
Demi mendecak kesal.
"Si Aruna itu sama aja kayak elu."
"Masih bocah."
"Bukan cuma masih bocah."
Kartiah langsung menyambung dengan tatapan tajam.
"Dia itu cuma saudara tiri elu."
Matanya membelalak.
Nada suaranya semakin meninggi.
"Dia nggak punya hubungan darah sama keluarga kita."
"Tapi..."
Gavin langsung memotong.
"Dia tetap kakak kandungnya si kembar."
"Dia satu ibu sama mereka."
"Itu beda."
Kartiah menggeleng keras.
"Hubungan darah dari bapak jauh lebih kuat."
Kalimat itu meluncur tanpa ragu.
Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan
''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan
Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.
''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka
128 Perbincangan Aruna dan ArjunaArjuna mengelus dada di dalam hatinya melihat kelakuan nyeleneh dari anak didiknya yang satu i
120 Arjuna memanggil Aruna''Lo kenapa Run?'' tanya Kania yang mulai cemas karena sudah beberapa hari melihat Aruna kehilangan s
110 Kotak dari ArjunaAruna terperanjat dengan tubuh gemetar saat mendengar bisikan ancaman peringatan Karissa. Aruna merasakan
103 Sikap Gavin pada Arjuna''Runa!'' pekik Gavin memanggil Aruna.Panggilan Gavin mengejutkan Aruna yang masih menyimpan sejuta tanda tanya tentang Arjuna.''Vin...'' jawab Aruna yang masih terlihat linglung.''Apaan, Vin?!'' pekik Ga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.