MasukBagi Kartiah, Aruna tetap orang luar.
Keberadaannya di keluarga itu hanya karena Pak Arga pernah menikahi ibunya.
Kini Pak Arga telah tiada.
Di matanya, alasan Aruna tetap berada di tengah keluarga itu ikut menghilang.
"Gavin tahu."
Suara Gavin mulai terdengar berat.
"Makanya Gavin juga ikut ngurus."
"Tapi..."
Kartiah kembali hendak menyela.
"UDAH!"
Bentakan keras mengguncang seluruh ruangan.
Semua orang refleks menoleh.
Kakek Wawan berdiri tegak.
Wajahnya memerah.
Sorot matanya menyapu seluruh isi ruangan.
Tak ada lagi senyum ramah yang biasa menghiasi wajah lelaki tua itu.
Yang tersisa hanya kemarahan.
"Ribut nggak tahu tempat!"
Suara beratnya memenuhi ruang tamu.
"Kuburan Arga masih basah!"
"Lu pada ribut apa?!"
Semua orang menundukkan kepala.
Tak ada lagi yang berani menyahut.
Bahkan Rustam yang sejak tadi paling vokal hanya menatap lantai.
Di antara mereka, hanya Kakek Marwan dan Nenek Sundari yang masih memandang Kakek Wawan. Raut wajah keduanya tampak mengeras. Sebagai orang yang lebih tua, mereka merasa ikut disindir di hadapan keluarga besar.
Namun tak satu pun dari mereka membalas.
Marwan memang anak sulung dari tiga bersaudara, sedangkan Wawan adalah yang paling bungsu. Meski begitu, ia sadar adiknya tidak sedang berbicara tanpa alasan. Belum genap tujuh hari sejak Arga dimakamkan. Membahas warisan dan harta pada saat seperti ini memang tidak pantas.
"Berhenti!"
"Balik!"
"SEKARANG!"
Tak ada lagi yang bersuara.
Satu per satu mereka mulai bangkit.
Ada yang merapikan sarung di pinggangnya. Ada yang mengambil peci yang sejak tadi diletakkan di atas tikar. Beberapa orang berpamitan lirih tanpa berani menatap Kakek Wawan.
Tak lama kemudian, ruang tamu yang semula sesak perlahan lengang.
Hanya suara kipas angin tua yang masih berputar pelan di sudut ruangan.
Gavin tetap berdiri di tempatnya.
Kedua tangannya masih mengepal di sisi tubuh.
Dadanya naik turun. Rahangnya terasa kaku sejak entah kapan.
Baru ketika rumah mulai benar-benar sepi, ia menyadari jemarinya bergetar pelan.
Di sudut ruangan, Nenek Halimah hanya menundukkan kepala.
Matanya sembap.
Sejak tadi ia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun setiap pembicaraan tentang kontrakan, warisan, hingga perebutan hak mengasuh kedua bayi itu terasa menghantam dadanya bergantian.
Empat hari.
Baru empat hari Arga dan Aisyah dimakamkan.
Namun yang diperebutkan orang-orang bukan lagi doa.
Melainkan harta yang mereka tinggalkan.
Kakek Wawan memejamkan mata sejenak.
Dadanya terasa sesak.
Selama puluhan tahun ia mengenal watak sebagian besar keluarganya. Namun melihat mereka berubah secepat ini, tepat setelah kepergian Arga, tetap saja membuat hatinya perih.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menghampiri Gavin.
Telapak tangannya menepuk pelan kepala pemuda itu.
"Gavin... lu capek kan? Udah gih, sono tidur. Udah malem."
"Iya, Kek..." Gavin mengangguk pelan. Senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya. "Makasih ya, Kek."
"Buat apa?" Kakek Wawan mendengus pelan. "Udah tidur aja. Kunci pintunya. Si Runa masih di rumah sakit, kan?"
"Iya, Kek."
"Kasihan tuh anak," gumam Nenek Halimah lirih.
Ia memandang lantai sebelum melanjutkan.
"Udah empat hari dia nungguin si kembar di rumah sakit. Nggak ada yang gantiin."
Ruang tamu kembali hening.
Suara kipas angin dan gesekan dedaunan dari halaman menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
"Abis gimana, Nek..." Gavin menghembuskan napas pelan. "Gavin juga masih sibuk ngurus di sini."
"Udah makan belum tuh bocah?" tanya Nenek Halimah lagi. Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
"Insyaallah dia bisa jaga dirinya sendiri, Nek. Lagian ada Om Ardan. Beliau juga rajin nemenin Aruna di rumah sakit."
Alis Kakek Wawan terangkat.
"Oh..."
Ia mengangguk pelan.
"Itu makanya Ardan kalau malem pulang cuma sekelebatan doang."
"Iya, Kek." Gavin mengangguk polos. "Aruna kan perempuan. Om Ardan nggak mungkin ngebiarin dia tidur sendiri di ruang tunggu rumah sakit."
"Hm..."
Kakek Wawan hanya mengangguk kecil.
Tatapannya menerawang sesaat.
Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ya udah," katanya akhirnya. "Mudah-mudahan si kembar cepet pulang."
"Amin."
Gavin menjawab sambil tersenyum tipis.
Setelah berpamitan, Kakek Wawan dan Nenek Halimah meninggalkan rumah.
Langkah mereka pelan menyusuri gang yang mulai sepi.
Selama empat hari terakhir, ada sesuatu yang terus mengganjal pikiran Kakek Wawan.
Ardan.
Aruna.
Dua nama itu terus berputar di kepalanya.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Namun ia mengurungkan niat untuk bertanya.
Malam ini Gavin sudah terlalu lelah.
Wajah pemuda yang baru menyelesaikan ujian akhir SMA itu tampak pucat. Lingkar hitam mulai menggelayut di bawah kedua matanya. Bukan hanya karena kurang tidur, pola makannya pun berantakan sejak empat hari terakhir.
Di rumah itu, tak ada lagi orang yang mengingatkannya untuk makan.
Empat Hari Sebelumnya
CIIIITTTT...!
Decitan rem memekakkan telinga.
BRAAKK!!
Benturan keras mengguncang persimpangan. Sebuah sedan hitam berputar setengah lingkaran sebelum menghantam pembatas jalan. Kaca depannya pecah berhamburan, sementara asap tipis mulai mengepul dari balik kap mesin yang ringsek.
Beberapa pengendara motor refleks menginjak rem. Seorang perempuan menjerit sambil menutup mulut. Dalam hitungan detik, kendaraan dari dua arah melambat hingga berhenti. Orang-orang berlarian mendekat, sementara sebagian lain mengangkat ponsel untuk merekam.
"Astaga...!"
"Ada orang di dalam!"
"Jangan dideketin dulu!"
Seorang polisi lalu lintas yang berjaga tak jauh dari persimpangan langsung berlari menuju mobil. Peluit panjang melengking dari bibirnya.
"Mundur! Semua mundur! Kasih ruang!"
Kerumunan perlahan mundur, meski masih banyak yang berusaha mengintip ke dalam mobil.
Melalui kaca yang retak, polisi itu melihat seorang pria paruh baya terkulai di balik kemudi dengan tubuh terjepit dashboard yang remuk. Di kursi penumpang, seorang perempuan berperut besar terdiam tanpa bergerak. Sabuk pengaman masih melintang di dadanya.
Rahangnya mengeras.
Ia segera meraih handy talkie.
"Pusat, di sini Bravo Tiga. Terjadi kecelakaan lalu lintas. Dua korban masih terjepit. Minta ambulans dan tim DAMKAR segera."
"Diterima. Bantuan dalam perjalanan."
"Siap."
Handy talkie kembali dikaitkan ke pundaknya.
"Jangan ada yang mendekat! Kasih jalan buat ambulans!"
Sirene akhirnya terdengar dari kejauhan.
Mula-mula samar.
Semakin lama semakin nyaring.
Namun ambulans tersendat kemacetan jam sibuk. Klakson bersahut-sahutan, sementara kendaraan baru bergeser setelah sirene terdengar tepat di belakang mereka.
Beberapa menit kemudian, ambulans berhenti di belakang mobil yang ringsek.
Pintu belakang terbuka.
Dua petugas medis turun membawa tas peralatan dan tandu lipat, lalu bergegas menghampiri polisi.
"Dua korban masih terjepit," lapor polisi singkat. "Pria di balik kemudi, perempuan hamil di kursi penumpang. DAMKAR sedang menuju."
Belum sempat mereka bergerak, sirene lain kembali meraung.
Mobil pemadam dengan lampu rotator menyala perlahan menerobos kemacetan.
Komandan regu DAMKAR turun dari kabin.
"Kami periksa kondisi korban dulu," ujar salah satu petugas medis. "Setelah itu kita evakuasi bersama."
"Siap."
Petugas medis mengenakan sarung tangan, lalu menunduk melalui celah kaca yang pecah.
"Bu... dengar suara saya?"
Tak ada respons.
Ia memeriksa jalan napas, meraba nadi, lalu memasang monitor portabel.
Beberapa detik berlalu.
Garis lurus membentang di layar.
Ia bertukar pandang dengan rekannya, lalu mengalihkan perhatian ke perut korban yang masih membuncit.
"Korban wanita sudah tidak bisa diselamatkan," ujarnya kepada komandan DAMKAR. "Bayinya kemungkinan masih punya kesempatan. Kita harus keluarkan korban secepat mungkin."
Komandan DAMKAR mengangguk mantap.
"Mulai evakuasi!"
Mesin hidrolik segera meraung. Perlahan, rangka mobil yang ringsek dipaksa membuka.
"Pelan... tahan."
Begitu celah cukup lebar, dua petugas medis menjangkau tubuh perempuan itu.
"Hati-hati bagian perut."
Dengan gerakan perlahan, korban berhasil dikeluarkan dan dipindahkan ke atas tandu. Seorang petugas langsung mendorongnya menuju ambulans, sementara rekannya terus memantau monitor portabel.
Di sisi lain, anggota DAMKAR masih berjibaku membebaskan pria yang terjepit.
"Dashboard masih menjepit kakinya."
"Potong sisi kanan."
Mesin pemotong kembali meraung. Percikan api sesekali menyala sebelum dashboard berhasil disingkirkan.
"Tarik pelan."
Tubuh pria itu akhirnya berhasil dikeluarkan. Wajahnya pucat, darah mengering di pelipis, tetapi napasnya masih terdengar lemah.
"Masih ada napas."
"Masukkan ke ambulans!"
Kedua tandu didorong hampir bersamaan.
Pintu ambulans ditutup rapat.
Tak lama kemudian, sirene kembali meraung, meninggalkan lokasi kecelakaan menuju rumah sakit terdekat.
Suara roda tandu beradu dengan lantai keramik memenuhi lorong Instalasi Gawat Darurat. Begitu pintu ambulans terbuka, perawat dan dokter yang sudah bersiap langsung menyambut.
"Korban laki-laki, trauma berat. Penurunan kesadaran."
"Korban perempuan, hamil. Prioritas penyelamatan bayi."
Kedua tandu segera didorong ke arah berbeda.
Seorang petugas kepolisian mengikuti dari belakang sambil membawa dompet, dua telepon genggam, dan beberapa barang milik korban yang berhasil diamankan dari lokasi kecelakaan.
Ia menyerahkannya kepada petugas administrasi.
"Tolong catat semua barang korban."
"Baik, Pak."
Sementara tim medis berjibaku di balik pintu ruang tindakan, polisi itu membuka dompet korban laki-laki.
Kartu Tanda Penduduk.
Arga Wiryawan.
Usia empat puluh lima tahun.
Dompet satunya dibuka.
Aisyah.
Alamat pada kedua kartu identitas itu sama.
"Suami istri," gumamnya.
"Pak."
Seorang petugas IGD menghampiri.
"Ada keluarga yang bisa dihubungi?"
"Sedang saya cari."
Polisi itu menyalakan salah satu telepon genggam yang ditemukan di dalam mobil.
Beruntung, perangkat itu tidak terkunci.
Daftar kontak terbuka.
Satu nama langsung menarik perhatiannya.
Jagoan Kecilku.
Alisnya sedikit berkerut.
Riwayat percakapan menunjukkan hubungan yang sangat dekat.
"Sepertinya keluarga."
Ia segera menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Klik.
"Selamat siang."
Suara laki-laki dari seberang terdengar tenang.
"Selamat siang. Apa benar Bapak mengenal pemilik nomor ini?"
"Tentu. Itu nomor kakak saya."
"Boleh saya tahu nama beliau?"
"Arga Wiryawan."
Polisi itu menarik napas pendek.
"Perkenalkan, saya dari Kepolisian Lalu Lintas. Pak Arga mengalami kecelakaan lalu lintas siang ini dan saat ini sedang menjalani penanganan di rumah sakit."
Hening.
"...Kecelakaan?"
Nada suara di seberang berubah.
"Iya."
"Bagaimana keadaan kakak saya?"
"Beliau dalam kondisi kritis."
Terdengar hembusan napas berat.
"Saya mohon Bapak segera datang ke rumah sakit."
"Rumah sakit mana, Pak?"
Polisi itu menyebutkan nama rumah sakit beserta alamatnya.
"Baik. Saya berangkat sekarang juga."
Sesaat kemudian, pria itu kembali bersuara.
"Pak..."
"Iya?"
"Tolong lakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan kakak saya."
Suaranya mulai bergetar.
"Masalah biaya jangan dipikirkan. Saya yang tanggung."
Polisi itu menoleh ke arah pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat.
"Kami sedang melakukan yang terbaik, Pak. Silakan segera kemari."
"Baik."
Sambungan telepon terputus.
Polisi itu menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kembali tertuju ke pintu ruang tindakan yang masih tertutup.
Sementara di luar, seseorang sedang berpacu dengan waktu untuk menemui kakaknya.
Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan
''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan
Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.
''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka
Dion dan Rafli bertindak mengikuti improvisasi dari situasi yang mereka ciptakan setelah terdesak.Desakan para preman yang meminta mereka untuk menyerahkan kunci mobil membuat mereka kesulitan mengulur-ulur waktu. Tapi, kreativitas dengan modal nyali nekat sekaligus bukti bahwa diklat yang mereka jalani menunjukkan kepiawaian mereka dalam melaksanakan tugas.''Lah, mana ya?!'' sahut Dion sambil kasak-kusuk berlagak mencari kunci di saku pakaiannya, ''Fli, mana kunci?''''Lah, bukannya ama elu?!'' jawab Rafli mengikuti skenario dadakan di lapangan.''Pe'a, kagak ada di gua... ama lu, kan...''''Kagak, kagak ada... tuh, liat!'' seru Rafli sambil menarik kantong pakaiannya keluar.''Ngelawak lu bedua!'' pekik preman yang menunggu kunci mobil mereka untuk di serahkan dengan mata melotot.''Ka-kagak bang, beneran dah... cek aja... kagak ada i
''Di mana ini?!" pekik Aruna ketika tali yang mengikat mulutnya dibuka saat sudah berada di sebuah ruangan, ''Mau apa kalian?!''Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum sinis menanggapi kegelisahan Aruna dan Amira yang terkejut ketika tudung hoodie yang menutupi separuh wajah mereka dibuka, memperlihatkan suasana di sekeliling dengan lebih jelas sekarang.Salah seorang dari beberapa pria yang baru di lihat oleh Aruna dan Amira datang menghampiri.Pria itu mengangkat dagu Aruna dan Amira, memiringkannya ke kanan dan ke kiri, melihat mereka dengan seksama, menilai penampilan fisik mereka berdua.''Lumayan, biarpun enggak bisa laku mahal, tapi masih cukup ngejual,'' ujar Parta, pria paruh baya tapi punya aura mendominasi yang membuat Aruna dan Amira merasa sangat tidak nyaman, ''Enggak banyak duit yang bisa kamu dapet dari mereka berdua...'' tambah Parta seraya melirik kepada Karissa.
Tertangkap basah oleh Mang Tatang bag 2Suasana canggung terlihat antara Aruna dan Tatang, jerit tangis dua adiknya membuat Aruna semakin salah tingkah.''Emang enggak ada orang selaen elu Run?'' tanya Tatang sembari mengangkat salah satu bayi.Tatang tidak tega melihat dua bayi yang telah jadi yatim p
Hukum pernikahanMereka yang melihat kejadian itu hanya bisa mengelus dada sambil geleng kepala, sejak dulu Fahri memang di kenal sebagai seorang yang amat mudah tersulut emosi. Rumah tangganya yang baru seumur jagung juga hancur karena emosi yang tidak bisa di tahan olehnya, membuat dua mantan istri
Aruna di tabrakAruna langsung bangun sambil menepis tangan yang menyentuh bahunya tanpa izin, hampir terjatuh Aruna, karena tersandung kaki bangku di sebelahnya. Ardan langsung bangun melihat Aruna terkejut seperti itu.''Aruna!'' seru Ardan malah semakin geram saat tubuh Aruna di tangkap oleh pria y
Debat di Lobby Rumah SakitAruna dan Ardan melangkah keluar dari ruang NICU bersama-sama meninggalkan tiga orang yang sedang menunggui pasien di dalam dengan wajah yang masih memperlihatkan keheranan dan beragam pertanyaan di hati mereka.Ardan menurut saja di tarik oleh Aruna keluar dari Ruang NICU.







