تسجيل الدخولDeru sebuah motor berhenti mendadak di depan Instalasi Gawat Darurat.
Seorang pria bertubuh tinggi turun tergesa-gesa. Jaket lusuhnya bahkan belum sempat dirapikan. Rambut panjang diikat asal ke belakang, sementara kumis dan janggut tipis membingkai wajah yang dipenuhi kecemasan.
Ia bergegas memasuki rumah sakit.
"Permisi."
Napasnya masih memburu saat berhenti di depan meja resepsionis.
"Korban kecelakaan... atas nama Arga Wiryawan."
Petugas resepsionis segera mendongak.
"Tunggu sebentar, Pak."
Jarinya menari di atas papan ketik.
"Ya, ada. Bapak Arga Wiryawan, usia empat puluh lima tahun."
"Iya, benar."
"Beliau berada di ruang triase merah."
Petugas menunjuk lorong di sebelah kanan.
"Silakan langsung ke sana. Dokter jaga akan menemui Bapak."
"Terima kasih."
Pria itu segera berbalik.
Langkahnya cepat menyusuri lorong rumah sakit. Aroma obat-obatan memenuhi udara. Perawat berlalu-lalang mendorong troli, tetapi tatapannya hanya tertuju pada papan penunjuk bertuliskan IGD.
Sesampainya di ruang triase merah, ia langsung menghampiri dokter jaga.
"Dok..."
Suara beratnya sedikit bergetar.
"Saya adiknya Pak Arga Wiryawan."
Dokter yang sedang memeriksa berkas segera berdiri.
"Bapak Ardan?"
"Iya."
"Mari ikut saya."
Dokter membuka tirai pembatas.
Seorang pria paruh baya terbaring tak bergerak di atas ranjang.
Selang oksigen menutupi hidungnya. Kabel monitor menempel di dada dan lengan. Mesin di samping ranjang mengeluarkan bunyi berirama pelan.
Ardan terhenti.
Dadanya seperti ditindih sesuatu.
Ia hanya mampu menatap wajah kakaknya.
Wajah yang selama ini selalu tampak tegar kini dipenuhi luka dan lebam. Perban melilit sebagian kepalanya.
"Bang..."
Nyaris hanya berupa bisikan.
Ardan mendekat, menggenggam tangan kakaknya yang terasa dingin.
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh.
Dokter memberi beberapa detik sebelum berbicara.
"Pak Arga mengalami benturan yang sangat berat."
Ardan mengusap wajahnya cepat.
"Bagaimana keadaan abang saya, Dok?"
Dokter menarik napas pelan.
"Saat ini kondisi beliau sangat kritis. Kami sudah melakukan penanganan semaksimal mungkin."
Ia berhenti sejenak.
"Namun... harapan beliau untuk bertahan hidup sangat kecil."
Ruangan kembali sunyi.
Hanya bunyi monitor yang memecah keheningan.
Ardan menundukkan kepala.
Rahangnya mengeras.
"...Aisyah?"
Dokter terdiam sesaat.
"Ibu Aisyah datang bersama Pak Arga."
Ardan mengangguk pelan.
"Bagaimana keadaan dia, Dok?"
Dokter mengembuskan napas panjang.
"Maaf..."
"Ibu Aisyah tidak berhasil diselamatkan."
Mata Ardan membelalak.
Tubuhnya membeku.
Perlahan ia menoleh kembali ke arah kakaknya.
Empat tahun.
Baru empat tahun Arga membangun rumah tangga bersama Aisyah.
Pernikahan sederhana itu kembali terlintas di benaknya. Tanpa pesta mewah. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang menjadi saksi.
Sejak hari itu, ia melihat kakaknya kembali menemukan kebahagiaan.
Dan kini...
Perempuan itu telah tiada.
Ardan memejamkan mata.
Genggamannya pada tangan Arga perlahan mengencang.
"Bang..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Dan di sini, Bang..."
Tangannya menggenggam tangan Arga yang terbaring lemah.
Selang oksigen dan kabel monitor menempel di tubuh pria yang selama ini selalu tampak kuat di matanya.
Kini...
Ia hanya bisa terbaring tanpa daya.
"Bang..."
Suara Ardan nyaris tak terdengar.
Di tengah rasa takut kehilangan kakaknya, sosok lain tiba-tiba terlintas di benaknya.
Aisyah.
Istri kedua Arga.
Perempuan yang baru dikenalnya empat tahun lalu.
Dan juga...
Perempuan yang tak pernah benar-benar sempat dikenalnya.
Ucapan dokter kembali terngiang.
"Ibu Aisyah tidak berhasil diselamatkan."
Dada Ardan terasa sesak.
Baru saat itu ia menyadari sesuatu.
Selama empat tahun...
Ia hanya pernah bertemu Aisyah satu kali.
Hari pernikahan Arga.
Hari ketika kakaknya akhirnya kembali menemukan kebahagiaan setelah bertahun-tahun hidup sendiri.
Pandangannya perlahan kosong.
Ingatan itu kembali muncul.
Empat tahun sebelumnya.
Rumah sederhana milik Arga dipenuhi keluarga dan kerabat yang datang menghadiri pernikahannya.
Tak ada dekorasi mewah.
Tak ada panggung besar.
Hanya orang-orang yang benar-benar ingin melihat Arga kembali menemukan kebahagiaan.
Di hadapan penghulu, Arga duduk dengan wajah tenang.
Usianya memang tak lagi muda.
Namun hari itu, senyumnya seperti milik seseorang yang baru mendapat kesempatan kedua.
Tak jauh darinya, Aisyah duduk menunduk.
Perempuan yang sama-sama pernah kehilangan pasangan itu akhirnya memutuskan membuka hati kembali.
Arga datang bersama seorang anak.
Aisyah pun demikian.
Hari itu...
Mereka memutuskan membangun satu keluarga baru.
"Saya terima nikahnya Aisyah binti Adam dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai."
Suara Arga terdengar mantap.
Penghulu menoleh kepada para saksi.
"Bagaimana, saksi?"
"Sah."
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur dan tepuk tangan segera memenuhi ruangan.
Di sudut ruangan, seorang gadis kecil berjilbab putih tersenyum lebar.
Aruna.
Tatapannya tak pernah lepas dari sang ibu.
Akhirnya...
Ia kembali melihat Aisyah tersenyum.
Tak jauh darinya berdiri seorang remaja laki-laki.
Gavin.
Usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Aruna.
Keduanya masih canggung.
Masih saling asing.
Namun sejak hari itu...
Mereka resmi menjadi saudara.
Di sisi lain ruangan, Ardan berdiri dengan kedua tangan di saku celana.
Wajahnya tetap datar.
Namun matanya tak pernah lepas dari Arga.
"Bang..."
gumamnya pelan.
"Akhirnya punya teman hidup juga."
Tak lama kemudian Aruna menghampirinya sambil membawa sepiring makanan.
"Mang."
"Ibu bilang Mamang makan dulu."
Ardan menerima piring itu.
"Makasih."
Hanya itu.
Aruna mengangguk kecil sebelum kembali pergi.
Ia masih canggung.
Pria yang sering diceritakan ayah dan ibunya itu ternyata memang tidak banyak bicara.
Namun ia juga tidak terasa menolak kehadirannya.
Tidak ramah.
Tidak juga kasar.
Hanya...
Seperti menjaga jarak.
Aruna memilih tidak memaksa.
Hari itu adalah hari bahagia untuk ibunya.
Ia tidak ingin merusaknya hanya karena merasa tidak nyaman.
Gadis itu berbalik pergi.
"Vin."
Aruna menghampiri Gavin.
"Lu dipanggil kakek."
Gavin yang sedang mengambil makanan menoleh.
"Iya. Nanti gue samperin."
"Gue makan dulu."
Aruna mengangguk.
"Ya udah. Gue tinggal."
Setelah Aruna pergi, Gavin duduk di dekat Ardan.
Ardan melirik ke arah Aruna yang sudah menjauh.
"Lu bisa akrab sama dia?"
Gavin mengangkat bahu.
"Kenapa emang?"
"Enggak ada masalah kok."
"Bocahnya asik diajak ngobrol."
Ardan menaikkan alis.
"Bocah?"
Ia melihat Gavin dari atas sampai bawah.
"Emang lu bukan bocah?"
Gavin langsung memasang wajah malas.
"Tua-an kita’ tiga bulan dari dia, Om."
Ardan mendecak.
"Sengke amat."
"Baru tua tiga bulan udah ngerasa dewasa."
Kakinya menyenggol kaki Gavin di bawah meja.
Gavin langsung menoleh kesal.
"Kok jadi Om yang sewot?"
"Si Aruna aja nggak masalah."
Ardan tersenyum kecil.
"Gue cuma ngingetin lu."
"Jangan sampai kebablasan."
"Tenang, Om."
Gavin tersenyum percaya diri.
"Aruna sama emaknya orangnya enak."
"Makanya Gavin cocok sama mereka."
Ardan diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
"Bagus deh."
"Lu jagain tuh."
"Dia adik lu sekarang."
Gavin mengangguk.
"Iya, Om."
Ardan kemudian mulai membereskan barangnya.
Gavin langsung memperhatikan.
"Om mau cabut lagi?"
Ardan melirik.
"Napa?"
"Masih kangen sama gue?"
Ia menaikkan alis sambil tersenyum mengejek.
Gavin langsung mendengus.
"Ge-er."
"Tapi..."
Wajah Gavin berubah sedikit serius.
"Bapak sering bengong mikirin Om."
Ardan berhenti bergerak.
"Lagian Om kenapa sih?"
"Kagak bisa diem di rumah?"
"Malah keluyuran terus."
Ardan hanya menatap Gavin.
"Anak kecil nggak perlu tahu."
Ia menyentil dahi Gavin.
Namun Gavin belum selesai.
"Yang dewasa juga kudu ngerti."
"Masa kalah sama Gavin yang masih SMP?"
"Gavin aja nggak pernah bikin bapak sampai nangis."
Kalimat itu membuat tangan Ardan berhenti.
Senyumnya perlahan hilang.
Ia menunduk.
Untuk sesaat...
Tidak ada lagi nada bercanda.
Karena tanpa Gavin sadari...
Ucapan itu tepat mengenai bagian yang paling ia sembunyikan.
Kembali ke masa kini.
Ardan membuka mata perlahan.
Empat tahun lalu, ia meninggalkan pernikahan kakaknya tanpa banyak bicara.
Ia pikir masih punya banyak waktu untuk memperbaiki hubungan mereka.
Tapi sekarang...
Kakaknya terbaring tanpa kepastian apakah masih bisa membuka mata lagi.
Ardan menatap wajah Arga cukup lama.
"Bang..."
Suaranya rendah.
"Jangan bikin Ardan panik begini."
Ardan menarik kursi di samping ranjang lalu duduk.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah sakit, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Pria yang biasanya tampak santai itu kini hanya menatap lantai.
Beberapa saat kemudian...
Pintu ruangan terbuka.
Dokter yang tadi berbicara dengannya masuk kembali.
"Pak Ardan."
Ardan segera mengangkat kepala.
"Iya, Dok?"
Dokter menghampiri.
"Kondisi bayi Pak Arga dan Ibu Aisyah masih dalam pemantauan."
Ardan mengangguk pelan.
"Saya boleh lihat?"
"Nanti setelah kondisi mereka lebih stabil."
Dokter berhenti sejenak.
"Tapi saya ingin menyampaikan sesuatu."
Ardan menunggu.
"Kedua bayi tersebut berhasil lahir dengan selamat."
Ardan hanya menatap dokter.
"Selamat?"
"Iya, Pak."
Dokter mengangguk.
"Anak kembar."
Napas Ardan akhirnya terembus lega.
"Kembar..."
gumamnya pelan.
Senyum kecil tanpa sadar terukir di wajahnya.
"Anak abang..."
Dokter ikut memandangnya sejenak.
Setelah berjam-jam menerima kabar buruk, akhirnya ada secercah harapan.
"Di mana mereka sekarang, Dok?"
"Di ruang NICU."
"Mereka masih harus dipantau karena lahir dalam kondisi darurat."
Ardan mengangguk cepat.
"Iya."
"Yang penting mereka selamat."
Namun senyum dokter tak kunjung muncul.
Wajahnya kembali serius.
Ardan langsung mengerti.
Masih ada kabar yang belum selesai.
"Dok?"
Dokter menghela napas pelan.
"Kami juga harus memindahkan Pak Arga ke ruang ICU."
Tatapan Ardan kembali beralih ke kakaknya.
"Kenapa?"
"Kondisi beliau membutuhkan pengawasan lebih ketat."
Dokter berhenti sejenak.
"Dan seperti yang saya sampaikan tadi..."
"Kondisi Pak Arga masih sangat berat."
Senyum kecil di wajah Ardan perlahan memudar.
Ia mengangguk pelan.
"Kalau begitu pindahkan."
Suaranya tegas.
"Jangan pikirkan biaya."
"Saya yang urus."
Dokter mengangguk.
"Kami akan segera proses."
Ardan kembali menatap kakaknya.
"Bang..."
Bisikannya pelan.
"Dengar, kan?"
"Anak abang selamat."
"Abang harus lihat mereka."
Ia menunduk.
"Jadi jangan nyerah."
Beberapa detik berlalu.
Ardan menoleh kepada dokter.
"Dok."
"Iya?"
"Kalau abang saya sadar..."
Ia berhenti sejenak.
"Kasih tahu saya."
"Tentu."
Beberapa saat kemudian, Arga dipindahkan ke ruang ICU.
Ardan hanya bisa berdiri di lorong, memandangi ranjang kakaknya yang perlahan menjauh.
Perawat berlalu-lalang.
Namun baginya...
Waktu seolah berjalan lambat.
Hari itu, ia datang karena sebuah kecelakaan.
Dalam satu hari...
Ia kehilangan seorang kakak ipar.
Mendapat dua keponakan yang bahkan belum sempat dilihatnya.
Dan hampir kehilangan satu-satunya keluarga yang selalu berdiri di belakangnya.
Pintu ICU perlahan tertutup.
Tangan Ardan mengepal.
Bukan karena marah.
Melainkan karena takut.
Takut kali ini...
Ia tak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan
''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan
Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.
''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka
Dion dan Rafli bertindak mengikuti improvisasi dari situasi yang mereka ciptakan setelah terdesak.Desakan para preman yang meminta mereka untuk menyerahkan kunci mobil membuat mereka kesulitan mengulur-ulur waktu. Tapi, kreativitas dengan modal nyali nekat sekaligus bukti bahwa diklat yang mereka jalani menunjukkan kepiawaian mereka dalam melaksanakan tugas.''Lah, mana ya?!'' sahut Dion sambil kasak-kusuk berlagak mencari kunci di saku pakaiannya, ''Fli, mana kunci?''''Lah, bukannya ama elu?!'' jawab Rafli mengikuti skenario dadakan di lapangan.''Pe'a, kagak ada di gua... ama lu, kan...''''Kagak, kagak ada... tuh, liat!'' seru Rafli sambil menarik kantong pakaiannya keluar.''Ngelawak lu bedua!'' pekik preman yang menunggu kunci mobil mereka untuk di serahkan dengan mata melotot.''Ka-kagak bang, beneran dah... cek aja... kagak ada i
''Di mana ini?!" pekik Aruna ketika tali yang mengikat mulutnya dibuka saat sudah berada di sebuah ruangan, ''Mau apa kalian?!''Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum sinis menanggapi kegelisahan Aruna dan Amira yang terkejut ketika tudung hoodie yang menutupi separuh wajah mereka dibuka, memperlihatkan suasana di sekeliling dengan lebih jelas sekarang.Salah seorang dari beberapa pria yang baru di lihat oleh Aruna dan Amira datang menghampiri.Pria itu mengangkat dagu Aruna dan Amira, memiringkannya ke kanan dan ke kiri, melihat mereka dengan seksama, menilai penampilan fisik mereka berdua.''Lumayan, biarpun enggak bisa laku mahal, tapi masih cukup ngejual,'' ujar Parta, pria paruh baya tapi punya aura mendominasi yang membuat Aruna dan Amira merasa sangat tidak nyaman, ''Enggak banyak duit yang bisa kamu dapet dari mereka berdua...'' tambah Parta seraya melirik kepada Karissa.
096 Bau alkohol''Bau apaan ini?!'' seru Aruna saat membuka pintu untuk Ardan pagi itu, sekitar pukul lima pagi.''Maaf Run...'' jawab Ardan singkat lalu bergegas masuk ke kamar mandi.Mengernyit dahi Aruna melihat suaminya pulang dengan tubuh dan pakaian yang berantakan plus bau alkohol yang menusuk m
088 Suami Aruna 2Pembahasan seru tentang suami Aruna membuat mereka semua bersemangat untuk segera ke kafe. Segera setelah jam kuliah masuk masa istirahat. Bukan hanya Kania dan Indira, tapi Arka dan Rista juga sibuk menyeret Gavin untuk membawa mereka ikut berkumpul dengan para gadis.''Kalian aneh,
''Abang udah balik?!'' seru Aruna bertanya dengan canggung, dia langsung bangun dan mengambil tangan kanan Ardan untuk mencium punggung tangannya. Segera setelahnya dia segera ke dapur mengambil segelas air minum untuk Ardan.Wajah Ardan tampak serius, menanggapi reaksi kedua remaja yang baru saja me
Aruna yang sejak awal mendengar semuanya juga ikut merasakan sedih. Kesedihan Ardan yang telah menyakiti hati paman yang selama ini merawatnya seperti anaknya sendiri.Aruna duduk di samping Ardan yang sedang tertekan memikirkan apa yang baru saja terjadi.''Encing pasti marah ama Abang... tadi mukany







