LOGINTOK TOK TOK
Tiga ketukan terdengar memecah kesunyian sore.
Rumah sederhana bergaya tradisional Banten dengan sentuhan modern itu masih tenang. Cahaya senja mulai memudar, pertanda Maghrib tak lama lagi tiba.
"Assalamu'alaikum..."
Salam terdengar dari balik pintu.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
Suara perempuan menyahut dari dalam rumah. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki berlari kecil mendekati ruang tamu.
"Iya..."
Aruna membuka pintu sambil menyunggingkan senyum ramah.
Begitu daun pintu terbuka, senyumnya perlahan memudar.
Seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri di hadapannya. Rambut gondrongnya diikat asal. Kumis dan janggut tebal menutupi sebagian besar wajahnya. Jaket kusam yang dikenakannya tampak dipenuhi debu, seolah sudah lama dipakai tanpa sempat dibersihkan.
Di sisi lain, Ardan hanya terdiam beberapa saat.
Tatapannya menelusuri wajah gadis belia di depannya. Wajah yang kini kehilangan kedua orang tuanya.
Aruna mengernyit pelan.
Ia sama sekali tidak mengenali pria itu.
Tanpa sadar, tangannya tetap menahan daun pintu. Pintu hanya terbuka sebagian, cukup untuk memperlihatkan dirinya, tetapi belum memberi ruang bagi tamu itu untuk masuk.
"Kenapa enggak dibuka?" tanya pria itu sambil mengernyit. "Lu ngalangin. 'Kan gue jadi enggak bisa masuk."
"Maaf... Bapak siapa, ya?" tanya Aruna sopan.
Nada suaranya tetap halus, meski di dalam hati ia mulai kesal. Belum juga memperkenalkan diri, pria itu sudah meminta masuk ke rumah orang.
"Gue Ardan."
Jawabannya singkat.
"Maaf... cari siapa?"
"Cari Gavin."
"Gavin enggak ada. Lagi keluar."
Ardan menghembuskan napas pendek.
"Ini... kenapa ngomong di luar sih?" katanya, nada suaranya mulai meninggi. "Biarin gue masuk dulu!"
"Maaf... enggak bisa, Pak."
Jawaban Aruna kali ini lebih tegas.
"Saya enggak kenal Bapak."
Ia sengaja tidak mengatakan kalau dirinya sedang sendirian di rumah.
Baginya, pria di depan pintu itu tetap orang asing.
Tidak peduli siapa pun yang mengaku dirinya.
"Gue Ardan! Masa' lu enggak inget sih?" seru pria itu mulai kehilangan kesabaran. "Coba... biarin gue masuk dulu. Gue ada perlu penting juga sama elu."
"Enggak bisa!"
Kali ini suara Aruna ikut meninggi.
"Bapak enggak boleh masuk."
Tatapannya lurus menatap Ardan.
"Bapak itu tamu. Harusnya bersikap sopan."
Ucapan itu membuat Ardan terdiam sesaat.
Ia mengusap wajahnya pelan.
"Ampun, ini anak..." gerutunya dalam hati.
"Gue Ardan," katanya lagi, kali ini menurunkan nada suara dan berusaha terdengar lebih ramah. "Kita udah pernah ketemu waktu abang gue ngawinin emak lu."
Rahang Ardan bergerak menahan kesal.
Sudah beberapa hari ia nyaris tidak tidur karena pekerjaannya. Dan sekarang kepalanya masih penuh dengan urusan kakaknya. Perjalanan panjang juga belum sempat memberinya waktu beristirahat.
Sekarang, sesampainya di rumah ini, ia justru tertahan di depan pintu.
Sementara itu, Aruna menangkap perubahan raut wajah pria tersebut.
Ia tahu orang di depannya mulai geram.
Namun ia tidak bergeming.
Justru kewaspadaannya semakin tinggi.
Baginya, orang asing tetaplah orang asing, tidak peduli seberapa yakin orang itu mengaku mengenalnya.
"Yang bener?" tanya Aruna tajam.
Ia mengulurkan tangan.
"Lihat KTP."
Mata Ardan langsung membelalak.
"Buset dah..."
Keluhannya meluncur begitu saja.
Aruna sempat terkejut melihat sorot mata itu. Dengan postur tinggi besar dan tubuh berotot, pria di depannya memang terlihat mengintimidasi.
Namun ia tidak mundur.
Ardan menarik napas panjang.
Kesalnya belum hilang, tetapi kini ia mulai mengerti.
Gadis itu sedang sendirian.
Dan dirinya, dengan penampilan acak-acakan seperti sekarang, memang terlihat seperti orang asing yang mencurigakan.
Di satu sisi ia kesal karena diperlakukan seperti penyusup.
Di sisi lain, ia justru mengacungkan jempol dalam hati.
Bagus... waspadanya tinggi.
Walaupun... kebangetan juga.
Kalau benar yang datang adalah orang jahat, keberanian gadis ini justru bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Nih, lihat."
Ardan mengeluarkan dompetnya lalu menyodorkan KTP.
"Muhammad Ardan Wiryawan. Gimana? Udah bisa masuk, dong?"
Jarinya mengetuk pelan bagian nama pada kartu identitas itu.
"Eh... tunggu. Entar dulu."
Aruna tetap tidak bergeming.
"Enak aja..."
Alis Ardan terangkat.
"Apaan lagi sih?" katanya ketus. "Cepetan dong. Gue buru-buru nih."
Aruna menggeleng pelan.
"Masih enggak meyakinkan."
"Kenapa lagi?"
Kali ini nada kesalnya berubah menjadi heran.
Ia menatap Aruna dengan wajah memelas.
"Mukanya enggak sama."
Aruna menunjuk foto di KTP, lalu bergantian menatap wajah Ardan.
"Itu foto gue," bantah Ardan cepat. "Wajar aja beda. Itu foto lama. Gue udah berumur sekarang. KTP seumur hidup, Neng. Dari seprakan dibikin enggak pernah ganti."
Ia menunjuk wajahnya sendiri.
"Di mananya yang enggak sama?"
Aruna memperhatikan lagi foto itu.
Lalu menatap wajah Ardan.
Tanpa sempat berpikir, kalimat itu meluncur begitu saja.
"Yang di KTP lumayan cakep..."
Ia berhenti sepersekian detik.
"...tapi muka Bapak serem."
Mata Aruna langsung membesar.
Kedua tangannya refleks menutup mulut.
"Aduh... keceplosan."
Ia memejamkan mata sesaat.
"Bodo amat…” pikirnya. “Lagian dia juga. Bertamu malah nyolot. Enggak sopan."
Di depan pintu, Ardan hanya mampu mendongak sebentar ke langit senja.
Menghembuskan napas panjang.
"Ampun..."
Ia menggeleng pelan.
"Mimpi apa gue semalem? Udah gue dipanggil 'Pak'... sekarang malah dibilang muka gue serem."
"Maaf, Pak... enggak sengaja."
Permintaan maaf itu keluar refleks dan tulus.
Aruna menangkupkan kedua telapak tangannya, seolah ingin meredakan suasana.
"Itu jujur ungkapan hati... tapi enggak bermaksud ngatain Bapak, kok."
Ardan memicingkan mata.
"Lu mau minta maaf apa mau nambahin ngeledek?"
"Enggak, Pak!"
Aruna buru-buru menggeleng.
"Enggak, beneran. Enggak ada niatan ngeledek sama sekali."
Wajahnya tampak gugup, tetapi nada suaranya tetap terdengar sungguh-sungguh.
"Sumpah deh."
Ardan memejamkan mata sesaat. Dadanya mengembang sebelum menghembuskan napas kasar.
"Ya udah deh..."
Ia mengibaskan tangan, menyudahi perdebatan yang menurutnya makin aneh.
"Stop yang itu."
Tatapannya kembali serius.
"Sekarang gue ada urusan yang lebih penting. Sama elu, sama Gavin juga. Tapi Gavin enggak ada. Ya udah, sama elu aja."
"Iya..."
Aruna mengangguk kecil.
"Tapi, Pak... saya belum yakin itu Bapak atau bukan."
Tatapannya kembali jatuh ke KTP yang masih dipegang Ardan.
"Foto di KTP beda banget."
"Ampun dah..."
Ardan mendongakkan kepala sesaat, lalu menatap Aruna lagi.
"Curigaan banget sih lu jadi orang?"
"Harus, Pak."
Jawaban Aruna datang tanpa ragu.
"Yang penting saya enggak menuduh."
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi waspada itu wajib."
Nada suaranya tetap tenang.
"Saya perempuan, Pak."
Ucapan itu membuat Ardan terdiam beberapa detik.
Rasa kesalnya belum hilang, tetapi ia tidak bisa membantah.
"Iya udah..."
Ia mengusap janggutnya pelan.
"Terus gue harus gimana supaya elo yakin?"
Ardan merentangkan kedua tangan.
"Enggak mungkin, kan, gue cukur jenggot dulu?"
Aruna tidak langsung menjawab.
Tatapannya mengamati Ardan dari ujung kepala sampai kaki.
Rambut gondrong.
Janggut lebat.
Jaket kusam penuh debu.
Lalu kembali ke wajahnya.
Ardan balas menatap.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Hanya desir angin sore yang melintas di teras rumah.
"Cepetan dong!" seru Ardan akhirnya. "Gue enggak bisa lama-lama."
"Eum... gini aja..."
Aruna mengangkat telunjuknya pelan, seolah baru mendapat ide.
"Katanya, kan, adiknya Bapak..."
"Bukan katanya!"
Ardan langsung memotong.
"Emang gue adiknya."
"Ya sabar dulu, dong, Pak."
Giliran Aruna yang menghardik.
"Denger dulu penjelasan saya."
Ardan menghembuskan napas pendek.
"Ya udah, cepetan."
"Nah..."
Aruna melanjutkan.
"Kalau adiknya Bapak, berarti mamang, dong."
Ardan mengangguk kecil.
"Kalau begitu, Mamang pasti punya nomor telepon Bapak saya."
Kalimat itu membuat mata Aruna sedikit membesar.
"Eh... bentar!"
Ia teringat sesuatu.
Telapak tangannya terangkat memberi isyarat agar Ardan menunggu.
"Maaf ya... saya tutup dulu pintunya."
Belum sempat Ardan menanggapi, Aruna sudah menarik daun pintu.
Brak.
Pintu tertutup.
Sesaat kemudian terdengar bunyi kunci diputar.
Klik.
Ardan terpaku.
Alisnya terangkat.
"Lah..."
Belum selesai rasa herannya, terdengar lagi suara kunci tambahan dipasang dari dalam.
Klik.
Kali ini Ardan benar-benar mematung.
"Tuh bocah..."
Sudut bibirnya berkedut.
"Dua kali..."
Ia menoleh ke arah pintu yang kini terkunci rapat.
"Buset..."
Ardan mengusap wajahnya perlahan.
"Rapet amat."
Ia menggeleng pelan sambil menghembuskan napas panjang.
"Dia beneran ngunciin gue di luar."
Beberapa detik ia hanya berdiri menatap daun pintu.
Rumah tempat ia dilahirkan.
Rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya.
Sekarang...
Ia malah berdiri sebagai orang asing yang bahkan tidak diizinkan masuk.
Perasaan itu membuatnya geli sekaligus kesal.
"Ampun, dah..."
Ia mengelus dada.
"Tampang gue serem banget kali ya?"
Meski begitu, di balik kekesalannya, ia diam-diam mengangguk kecil.
Kalau dipikir-pikir... bagus juga.
Setidaknya anak itu enggak sembarangan bukain pintu buat orang asing.
Walaupun yang kena apes malah gue.
Belum lama Ardan tenggelam dalam pikirannya, ponsel di saku jaketnya bergetar.
Bzzzt... Bzzzt...
Ia mengeluarkannya.
Layar menunjukkan panggilan masuk dari ponsel Aruna.
Ardan langsung paham.
"Oh... ternyata ini idenya."
Ia mengusap tombol jawab, lalu mengangkat ponsel ke telinga.
"Assalamu'alaikum, Pak..."
Suara Aruna terdengar dari balik sambungan.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
Ardan menjawab tenang.
"Iya, ini HP Pak Arga."
Ia melirik ke arah pintu yang masih tertutup.
"Tapi sayangnya beliau lagi enggak di tempat."
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi kunci diputar dari dalam.
Klik.
Daun pintu kembali terbuka.
Aruna berdiri di ambang pintu sambil masih menempelkan ponselnya ke telinga.
Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajah Ardan yang juga sedang menelepon di depannya.
"Kok HP Bapak ada sama..."
"Ama gue."
Ardan langsung menyambar ucapannya.
"Ardan."
Ia mengangkat sedikit ponsel di tangannya.
"Makanya ini yang mau gue omongin."
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Gimana?"
"Masih enggak percaya?"
Ia menatap lurus ke mata Aruna.
"Perlu bukti yang kayak gimana lagi?"
Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan
''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan
Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.
''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka
Dion dan Rafli bertindak mengikuti improvisasi dari situasi yang mereka ciptakan setelah terdesak.Desakan para preman yang meminta mereka untuk menyerahkan kunci mobil membuat mereka kesulitan mengulur-ulur waktu. Tapi, kreativitas dengan modal nyali nekat sekaligus bukti bahwa diklat yang mereka jalani menunjukkan kepiawaian mereka dalam melaksanakan tugas.''Lah, mana ya?!'' sahut Dion sambil kasak-kusuk berlagak mencari kunci di saku pakaiannya, ''Fli, mana kunci?''''Lah, bukannya ama elu?!'' jawab Rafli mengikuti skenario dadakan di lapangan.''Pe'a, kagak ada di gua... ama lu, kan...''''Kagak, kagak ada... tuh, liat!'' seru Rafli sambil menarik kantong pakaiannya keluar.''Ngelawak lu bedua!'' pekik preman yang menunggu kunci mobil mereka untuk di serahkan dengan mata melotot.''Ka-kagak bang, beneran dah... cek aja... kagak ada i
''Di mana ini?!" pekik Aruna ketika tali yang mengikat mulutnya dibuka saat sudah berada di sebuah ruangan, ''Mau apa kalian?!''Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum sinis menanggapi kegelisahan Aruna dan Amira yang terkejut ketika tudung hoodie yang menutupi separuh wajah mereka dibuka, memperlihatkan suasana di sekeliling dengan lebih jelas sekarang.Salah seorang dari beberapa pria yang baru di lihat oleh Aruna dan Amira datang menghampiri.Pria itu mengangkat dagu Aruna dan Amira, memiringkannya ke kanan dan ke kiri, melihat mereka dengan seksama, menilai penampilan fisik mereka berdua.''Lumayan, biarpun enggak bisa laku mahal, tapi masih cukup ngejual,'' ujar Parta, pria paruh baya tapi punya aura mendominasi yang membuat Aruna dan Amira merasa sangat tidak nyaman, ''Enggak banyak duit yang bisa kamu dapet dari mereka berdua...'' tambah Parta seraya melirik kepada Karissa.
Aruna terdiam memperhatikan Ardan dari bawah ke atas dengan seksama, sedang berpikir apa yang harus di lakukannya pada tamu keras kepala di hadapannya. ''Cepetan dong!'' seru Ardan menghardik Aruna, ''Gue enggak bisa lama-lama'' ujarnya lagi mendesak Aruna. ''Eum gini aja...'' ujar Aruna acuh deng
Ardan menitikkan air mata, mengingat pertemuan pertama dan terakhirnya dengan istri kedua dari kakak laki-lakinya. Dia hanya pernah melihatnya sekali, dan hanya pernah menyalaminya sekali saat mereka berdua menikah, itu saja. Dadanya terasa sakit, terbersit penyesalan di hatinya. Seandainya saja saa
Nenek Halimah yang sudah tidak lagi bisa memendam emosinya, berulang kali marah pada Ardan sambil memukul-mukul Ardan melampiaskan emosi yang sudah bertahun-tahun di tahan olehnya.''Lah. Nangisnya udahan cing?!'' ujar Ardan menggoda bibinya sambil menerima dengan tulus pukulan sayang darinya.''Uda
Mereka semua menunduk mendengar Kakek Wawan berseru dengan ekspresi marah. Hanya Kakek Marwan dan Nenek Sundari yang menatap Kakek Wawan, mereka kesal karena merasa mereka berdua lebih tua darinya, tapi seolah ikut tersindir dengan kata-kata Kakek Wawan. Marwan adalah anak tertua dari tiga bersauda







