مشاركة

28. Semakin Hanyut

مؤلف: Mastuti Rheny
last update تاريخ النشر: 2026-04-14 10:50:09

Pijatan Vena memang benar membuat tubuhku rileks. Saking nyamannya aku sampai tertidur pulas di sofa rumahnya.

Tapi sebuah suara panggilan di gawaiku seketika membuyarkan kenyamanan itu.

Aku berdecih tipis saat mendapati nama Maya di layar.

Meski begitu hatiku sedikit memekikkan kemenangan karena ternyata perempuan yang masih berstatus sebagai istriku itu tetap menunjukkan perhatiannya setelah apa yang sudah aku lakukan padanya.

["Kamu di mana, Mas?"]

Suara tegas Maya dari seberang sana langsun
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    119. Permintaan Terakhir Fajar

    Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    118. Menolak Lamaran Hans

    Maya POVAku masih menatap Hans dengan penuh tanda tanya."Menunjukkan apa?"Hans tidak langsung menjawab.Pria itu justru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu merogoh saku jas yang sejak tadi dikenakannya. Hans kemudian mulai mengeluarkan ponsel miliknya."Aku ingin kamu melihat sesuatu."Hans menggulir layar ponsel di tangannya sebelum dia menyerahkannya padaku.Aku mengernyit."Lihatlah foto ini."Aku termangu kelu saat melihat foto-foto yang terpampang di layar ponsel milik Hans.Di dalam foto itu tampak Hans sedang duduk berdampingan dengan seorang ustaz. Mereka terlihat berbincang cukup akrab di dalam sebuah masjid.Aku segera menggeser foto berikutnya.Dadaku kembali bergemuruh.Di foto itu Hans mengenakan baju koko putih dengan peci hitam.Wajahnya tampak jauh lebih teduh daripada biasanya.Aku kembali membuka lembar berikutnya.Kali ini kulihat Hans sedang menjabat tangan sang ustaz dengan mata yang tampak berkaca-kaca.Aku perlahan mengangkat wajah."Hans... ini apa?"Ha

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    117. Menangkis Hinaan

    Maya POV"Selamat pagi, sayang."Suara Hans membuat suasana mendadak membeku.Ketiga perempuan yang sejak tadi mengejekku langsung saling berpandangan. Mata mereka membulat menatap pria tinggi berwajah tampan yang kini berdiri tepat di sampingku.Hans bahkan dengan santainya mengambil satu kotak rice bowl dari atas meja."Aromanya enak sekali."Aku menatapnya tajam."Apa yang kamu lakukan di sini?"Hans hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.Sikap Hans yang terkesan dekat denganku itu langsung memancing rasa penasaran dari ketiga teman-temanku itu."Itu siapa kamu?"Aku tak menjawab hanya memberikan lirikan tipis pada Hans yang saat ini malah tersenyum lebar seraya memandangku dengan lekat terkesan terlalu intim.Nyatanya justru Hans yang membuka suara dengan menegaskan jati dirinya di hadapan mereka."Sayang, aku sudah bilang sama kamu kemarin untuk nggak usah berjualan, hari ini kan kita rencananya mau mencari cincin pernikahan."Lagi-lagi aku dibuat terkesiap dengan kalimat yang dia

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    116. Kejutan Dari Hans

    Maya POV"Maya...."Aku perlahan mengangkat wajah.Air mataku masih membasahi pipi ketika kulihat Hans berdiri beberapa langkah di depanku. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan wajah yang terlihat lelah. Tatapannya penuh rasa bersalah."Aku sudah mencari kamu ke mana-mana."Aku segera berdiri lalu mengusap wajahku."Ada apa lagi?" tanyaku datar.Hans menghela napas panjang."Aku cuma ingin bicara.""Tentang apa? Kurasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan."Aku mendesah pelan."Aku sudah menolak lamaranmu."Aku kemudian berbalik mengabaikan Hans yang masih menatapku lurus.Namun saat aku hendak melangkah pergi, Hans buru-buru berkata,"Kumohon ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."Aku mengernyit sejenak. Rasanya terlalu aneh mendapati sosok seperti Hans yang biasanya selalu otoriter kini malah memohon."Setelah ini kalau kamu tetap menolak, aku nggak akan memaksa lagi."Aku terdiam. Perlahan aku menoleh dan memandangnya.Hans menatapku dengan penuh kesungguhan.Aku akhirnya men

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    115. Perpisahan Yang Menyakitkan

    Maya POV"May, katakan padaku... apakah kamu masih mencintaiku?"Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.Aku hanya menunduk, menggenggam sendok yang tiba-tiba terasa begitu berat di tangan.Suasana ruang makan mendadak sunyi. Bahkan suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di telingaku.Aku tak sanggup menatap wajah Fajar.Pertanyaannya justru menghidupkan kembali semua kenangan yang selama ini mati-matian coba aku kubur.Tentang segala kebersamaan kami dahulu, mulai dari awal saat kami masih memakai seragam abu-abu putih.Tentang canda tawa juga cita-cita kami di masa muda Dan tentang cinta yang selalu dia perjuangkan meski berkali-kali takdir memisahkan kami.Air mataku jatuh begitu saja.Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa semua itu sudah hilang?Tidak...Cinta itu masih ada.Masih sangat hidup.Bahkan mungkin lebih besar daripada sebelumnya.Justru karena aku masih mencintainya, aku tak ingin menghancurkan hidupnya.Aku mengangkat wajah perlahan.Kulihat ma

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    114. Memasak Bersama

    Maya POVAku langsung membuka mata saat kurasakan mobil yang dikendarai Fajar mulai berhenti. Nyatanya Fajar sekarang membawaku pulang ke rumah tersembunyinya. Rumah yang beberapa waktu silam pernah aku diami.Rumah yang dulu pernah menjadi tempatku berteduh ketika hidupku sedang berada di titik paling kelam.Aku menoleh ke arah Fajar."Jar, seharusnya kamu membawaku pulang ke kontrakan, bukan ke sini.""Sejak awal seharusnya kamu tidak perlu sampai mengontrak rumah. Kamu saja yang keras kepala."Fajar malah menyalahkan aku.Aku mengernyit jengah.Setelah itu Fajar keluar dari mobil begitu saja demi bisa membukakan pintu untukku.Ganti aku keluar dari dalam mobil lalu mengikuti langkah Fajar hingga masuk ke dalam rumah bercat putih itu."Apa ibu kamu masih belum kamu kasih tahu soal rumah ini?"Fajar hanya menggeleng menjawab pertanyaanku."Sampai kapan?"Fajar berkedik pelan sambil duduk di sofa ruang tamu.Mau tidak mau aku ikut duduk di sofa depannya.Aku menatapnya lebih lekat."

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    63. Bimbang

    Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    61. Melawan

    Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar ak

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    56. Melarikan Diri

    Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    55. Terkukung Amarah

    Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status