بيت / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 17 - Persimpangan

مشاركة

BAB 17 - Persimpangan

مؤلف: Y. Rs
last update تاريخ النشر: 2025-12-30 14:21:58

Tugas itu datang tanpa penjelasan tambahan.

Ia diminta mengantar kain ke bangunan luar—jalur yang memotong halaman belakang dan berakhir di persimpangan kecil, tempat para pelayan biasa berpapasan tanpa benar-benar saling memperhatikan.

Ia menerima gulungan kain itu, mengangguk, lalu berjalan dengan langkah terukur. Jalur ini tidak asing, hanya saja jarang ia lewati belakangan. Sejak namanya dipindahkan dari daftar tugas ruang utama, langkahnya lebih sering diarahkan ke tempat-tempat yang tidak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 64 - Sunyi yang Terlalu Dekat

    Mereka tidak berencana bertemu. Itulah yang membuatnya berbahaya. Lorong itu hampir gelap, hanya diterangi oleh satu lentera yang tergantung rendah. Bayangan mereka menari samar di dinding, bergeser saat keduanya bergerak. Langkah tuan muda terhenti ketika ia melihat sosok di ujung lorong—berdiri dengan lentera di tangan, tubuh tegap, namun mata menunduk, menahan sesuatu. Cahaya lentera menyorot sebagian wajahnya, cukup untuk menyingkap garis rahang dan lekuk mata yang membuatnya tersentak—tanpa alasan logis. Ia bisa berbalik. Ia bisa menahan diri. Ia tidak melakukannya. Di sisi lain, perempuan itu menyadari kehadirannya hampir bersamaan. Tubuhnya menegang sepersekian detik, lalu ia menurunkan sedikit lentera, menundukkan wajah. Beberapa helai rambutnya menutupi sebagian pipi, namun matanya tetap tertangkap di cahaya—mata yang sama yang menahan ketegangan siang tadi. “Tuan,” ucapnya, suara lembut tapi tetap menjaga jarak. Tidak ada orang lain. Tidak ada suara lain. Hanya merek

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 63 - Apa yang Hampir Dilakukan

    Malam datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Atau mungkin ia hanya tidak memperhatikan waktu. Tuan muda duduk sendirian di ruang kerja, lampu belum dinyalakan, membiarkan cahaya senja merayap masuk dengan warna yang samar dan tidak tegas—seperti pikirannya sendiri. Meja di depannya rapi. Terlalu rapi. Ia menatap tangannya. Tangan yang siang tadi berhenti di punggung kursi. Tangan yang tidak menyentuh, namun menyimpan ingatan akan jarak yang nyaris dilanggar. Ia menutup mata. Wajah itu muncul tanpa izin. Bukan secara utuh—melainkan potongan-potongan kecil yang seharusnya tidak penting: garis halus di antara alisnya ketika ia menahan sesuatu, cara matanya terangkat saat ia menjawab singkat, tidak menantang, tapi juga tidak tunduk sepenuhnya. Matanya. Ia mengingatnya dengan kejelasan yang mengganggu—tenang di permukaan, namun menyimpan sesuatu yang tidak meminta, tidak memohon, hanya ada. Seolah jika ia menatap lebih lama, ia akan melihat sesuatu yang tidak siap ia tanggung

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 62 - Hal-hal yang Tidak Direncanakan

    Ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Bukan karena terburu-buru oleh jadwal, melainkan karena ia perlu menjauh dari satu ruang sebelum pikirannya melakukan sesuatu yang tidak ia izinkan. Lorong terasa lebih panjang. Suara langkahnya sendiri terdengar terlalu jelas, seolah bangunan itu ikut memperhatikannya. Ia berhenti di persimpangan, menarik napas, lalu melanjutkan dengan kecepatan yang lebih terkendali. Tenang, katanya dalam hati. Ia telah memimpin lebih banyak hal daripada ini. Menghadapi keputusan yang jauh lebih berisiko. Mengambil tanggung jawab yang tidak memberi ruang untuk ragu. Seharusnya, percakapan singkat di ruang arsip tidak cukup untuk mengganggu keseimbangannya. Namun, pikirannya kembali ke sana. Ke cara perempuan itu berdiri dengan punggung lurus, meski bahunya tampak lebih rapuh dari biasanya. Ke caranya menjawab singkat, tanpa mencari simpati. Ke jemari yang sempat berhenti sepersekian detik sebelum kembali bekerja, seolah tubuhnya lebih jujur daripada kata

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 61 - Jarak yang Tidak Lagi Netral

    Hari itu dimulai tanpa tanda khusus. Langit sama pucatnya. Angin bergerak seperti biasa. Langkah-langkah di halaman besar tetap terukur, seolah tidak ada satu pun yang berubah sejak kemarin. Namun, ia tahu—dan tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya—bahwa sesuatu telah bergeser, dan tidak akan kembali ke titik semula. Perbannya sudah dilepas pagi ini. Kulit di lengannya masih meninggalkan warna samar, bukan luka terbuka, melainkan bekas yang akan hilang jika waktu diberi kesempatan. Ia mengenakan lengan panjang seperti biasa, bukan untuk menutupinya dari pandangan orang lain, melainkan karena ia belum siap melihatnya sendiri terlalu sering. Di ruang persiapan, suasana sedikit lebih ramai dari biasanya. Ada pergerakan tambahan. Beberapa wajah baru. Beberapa bisikan yang berhenti ketika ia lewat. Bukan tentang dirinya, ia tahu. Namun, juga tidak sepenuhnya bukan. Ia menerima tugas hari ini tanpa perubahan besar—mengawasi distribusi pagi, membantu pengaturan arsip di say

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 60 - Diantara yang Tak Diucapkan

    Malam itu datang tanpa upacara. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada suara gaduh. Tidak ada perubahan yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal dari sesuatu. Namun, justru itulah yang membuatnya terasa berbeda—karena segala sesuatu berjalan terlalu rapi, seolah setiap orang telah sepakat untuk tidak mengusik lapisan tipis yang mulai terbentuk di permukaan istana. Ia menyelesaikan tugas malamnya lebih cepat dari biasanya. Ruang-ruang yang dilewatinya terasa lengang, hanya suara langkah dan desau api lentera yang menemani. Di lorong barat, angin malam masuk melalui jendela-jendela tinggi, membawa aroma batu basah dan dedaunan yang baru disiram. Ia menahan langkah sejenak. Ada perasaan asing yang mengikutinya sejak sore—bukan takut, bukan pula harap. Lebih seperti kesadaran bahwa sesuatu sedang bergerak perlahan di sekitarnya, namun belum menyentuh kulitnya. Seperti arus yang belum menyeret, tapi sudah cukup kuat untuk membuat air bergetar. Ia melanjutkan langkah. Di hala

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 59 - Sunyi yang Mulai Mengambil Bentuk

    Ada hari-hari ketika keheningan tidak lagi terasa kosong. Hari itu adalah salah satunya. Sejak pagi, istana bergerak dengan ketertiban yang sama seperti biasanya, namun di balik keteraturan itu, ia merasakan lapisan lain yang mulai terbentuk—seperti udara yang sedikit lebih padat, membuat setiap tarikan napas terasa disadari. Tidak ada perubahan aturan. Tidak ada perintah baru. Tidak ada pengumuman yang memancing perhatian. Namun, cara orang-orang menahan pandangannya telah berubah. Bukan menghindar. Bukan menilai terang-terangan. Lebih seperti kehati-hatian yang baru dipelajari. Ia melewati ruang-ruang kerja dengan langkah terukur. Setiap sapaan dibalas secukupnya, setiap tugas diselesaikan tanpa tambahan. Ia tidak ingin terlihat mencolok, dan untuk sementara, istana seolah membalas keinginannya itu—membiarkannya berada di tengah tanpa diseret ke tepi mana pun. Namun, ketenangan semacam itu jarang bertahan lama. Di ruang persiapan, kepala pelayan mengatur ulang jadwal sore. Su

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 4 - Nama yang Tidak Pernah Di Panggil

    Di rumah bangsawan itu, nama bukan sesuatu yang penting bagi semua orang.Beberapa dipanggil dengan gelar, beberapa dengan jabatan, dan sisanya—seperti dirinya—cukup dikenali lewat tugas. Ia menyadari itu sejak hari-hari awal bekerja. Tak seorang pun bertanya namanya kecuali saat pertama kali menca

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 3 - Aturan yang Tidak Tertulis

    Aturan tidak selalu diumumkan.Sebagian besar hidup di sela tatapan, jeda bicara, dan siapa yang berani menatap mata siapa. Di rumah bangsawan ini, aturan semacam itu lebih banyak jumlahnya dibandingkan perintah resmi.Ia memahaminya perlahan, dari pagi yang terlalu sunyi hingga siang yang terasa b

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 2 - Perempuan yang Tahu Jarak

    Dapur adalah tempat paling jujur di rumah bangsawan.Di sana, suara tidak perlu disaring, wajah tidak perlu dirapikan, dan kebenaran sering muncul di sela asap tungku. Ia kembali ke sana setelah pertemuan singkat di pendapa, menggulung lengan bajunya, lalu mengambil alih tugas yang ditinggalkan pel

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 1 - Tempat untuk Bertahan

    Ia belajar satu hal sejak kecil:perempuan sepertinya tidak boleh berharap terlalu tinggi.Bukan karena ia bodoh, melainkan karena hidup telah mengajarinya untuk membaca batas—batas yang tidak tertulis, tapi selalu terasa. Batas antara mereka yang memiliki nama dan mereka yang hanya memiliki tenaga

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status