MasukSamudera tidak menyadari perubahan atmosfer dari sang istri. Pria itu menundukkan wajahnya, berniat untuk menempelkan bibir tebalnya ke atas bibir Seraphine untuk memulai ciuman panas mereka. Namun, sebelum bibir mereka bertemu, Seraphine dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, membuat kecupan Samudera hanya mendarat di pipi kirinya. Samudera menghentikan gerakannya. Ia menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Seraphine dengan dahi berkerut bingung. "Sayang? Kenapa, hm? Kamu capek?" Seraphine tidak langsung menjawab. Ia menolehkan kembali wajahnya, menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan tatapan yang terasa dingin dan menyelidik. Samudera mengerjap menatap kedua manik istrinya. "Aku udah wangi, udah bersih. Sekarang... waktunya aku minta amunisi sebelum besok pagi-pagi banget harus ke bandara," bisik Samudera parau, menundukkan wajahnya hendak menyesap ceruk leher Seraphine yang selalu menjadi favoritnya. Namun, gerakan Samudera terhenti ketika kedua tangan Seraphine yang bi
Hari berlalu begitu cepat. Seminggu libur pasca tur Amerika Motion13 kini telah berada di penghujung hari. Besok pagi, tepat pukul 06.00 WIB, mobil jemputan dari agensi akan menjemput suaminya untuk langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Tur Asia yang merupakan rute selanjutnya dari world tour Motion13 sudah menanti di depan mata. Sore itu, koper-koper besar milik Samudera sudah kembali berjejer di walk in closet mereka. Sebagian pakaian hangat untuk musim gugur sudah disediakan oleh Seraphine. Seperti biasa, wanita itu tidak ingin melewatkan satu pun kebutuhan suaminya. Seraphine berdiri di dekat jendela besar kamar tidur mereka, menatap ke arah hakaman belakang sambil menyesap teh chamomile yang dibuatkan oleh suaminya. Ia sudah mandi dan mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hitam. Pintu kamar terbuka, Samudera masuk ke dalam kamar setelah membereskan sisa makan mereka di dapur tadi. Pria itu lantas mendekat tanpa suara, melingkarkan kedua lengannya dari belakang tubuh Seraphi
Ketika sesi sarapan mereka selesai, Samudera dengan cekatan membereskan piring-piring kotor di atas kitchen island. Pria itu menolak mentah-mentah saat Seraphine berniat membantunya membilas mangkuk.“Kamu langsung naik ke atas aja, Sayang. Mandi air hangat dulu biar badan kamu segeran,” titah Samudera sembari menyalakan keran wastafel. “Nanti aku bisa mandi di kamar mandi bawah setelah semua piring ini beres.”Seraphine tidak membantah. Dengan langkah santai, ia kembali ke kamar utama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dalamnya. Setelah memanjakan tubuhnya di bawah pancuran air hangat selama hampir dua puluh menit, ia memilih mengenakan salah satu kaos oblong milik Samudera yang berukuran jauh lebih besar dari tubuhnya—sebuah kaos hitam polos oversized merchandise Motion13 yang menutupi hingga setengah pahanya—dipadukan dengan celana pendek santai. Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas, masih sedikit lembap namun menguapkan aroma esensial yang menenangkan.Ketika Sera
Seraphine bangun saat matahari sudah mulai merangkak naik. Ia mengerjap beberapa kali, kemudian melirik ke samping kanannya yang sudah kosong—pertanda kalau Samudera sudah bangun lebih dulu. “Sam…?” panggil Seraphine lirih sambil mendudukkan badannya di atas kasur. Tidak ada sahutan. Bahkan dari kamar mandi sekalipun. Kamar itu sudah kosong. Seraphine melirik kompres elektrik yang semalam melilit perutnya kini sudah tertata rapi di atas nakas dalam keadaan rapi. Membuat Seraphine tersenyum tipis, menyadari itu adalah perlakuan Samudera yang memastikan dirinya nyaman tertidur sebelum dirinya pergi entah kemana. Seraphine menghela napas sebelum menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengikat rambut panjangnya menjadi cepolan asal. Ia berjalan keluar kamar, menyusuri koridor lantai dua yang sepi. Sebuah kebiasaan Samudera setiap kali baru menyelesaikan world tour adalah selalu meminta seluruh asisten rumah tangga, termasuk Bi Inah dan Pak Nanang, u
Seraphine masih nyaman di dada bidang suaminya. Perlahan jemari besar Samudera mulai mengusap punggung polos Seraphine yang terekspos karena bagian atas gaun tidurnya yang terlepas. “Capek banget, hm?” bisik Samudera dengan suaranya yang serak dan dalam. Pria itu menundukkan kepala, memberikan kecupan-kecupan menenangkan pada puncak kepala istrinya. Seraphine mendengus menatap wajah suaminya. "Menurut kamu? Kamu itu... bener-bener kayak orang kesetanan, Sam. Dada aku... ngilu banget, sumpah. Kayaknya besok bakal lebam-lebam gara-gara kamu remas sama kamu gigit terus." Samudera terkekeh rendah. Ia kembali mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan-kecupan ringan di kening, hidung, dan berakhir di bibir bengkak Seraphine. "Maaf ya, Sayang. Habisnya aku gak bisa nahan diri. Salah kamu sendiri kenapa rasanya selalu secandu ini," gumam Samudera, sama sekali tidak merasa bersalah. “Tapi seenggaknya aku pinter, kan? Gak melanggar peraturan bendera merah kamu,” goda Samudera memberik
"Sam... udah, ahh... aku bisa gila kalau kamu terus-terusan kayak gini," rintih Seraphine dengan suara yang terputus-putus.Samudera terkekeh rendah, suara baritone-nya bergetar di dalam dadanya yang bidang. "Gila? Bagus kalau gitu, Sayang. Biar kita gila bareng-bareng malam ini. Aku gak mau gila sendirian di Amerika kemarin gara-gara mikirin kamu."Laki-laki itu kembali menunduk. Kali ini, ia tidak langsung mengulum, melainkan menggunakan ujung hidung dan bibir tebalnya untuk menggesek, mengendus, dan mengecup area di sekitar belahan dada Seraphine yang sintal."Nghhh... Samudera, hnghh... kamu mau ngapain lagi? Ahhh!" Seraphine melenguh keras saat Samudera tiba-tiba menggigit kecil bagian bawah payudara kanannya, tepat di atas jalur otot rusuknya."Mau hapus tatonya sampai bener-bener bersih, Sayang. Kan tadi baru huruf pertama," bisik Samudera dengan nada serak yang teramat seksi.Pria itu memutar posisi kepalanya, kembali mengarahkan fokusnya pada tulisan kursif Que Sera Sera. Lid
Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samuder
Paris, pukul sepuluh pagi. Sinar matahari musim semi yang tipis mulai menerangi jalanan berbatu di sekitar hotel mewah tempat Motion13 menginap. Bagi Samudera, ini adalah pagi pertama setelah insiden rinitis yang cukup menghebohkan semalam. Sesuai janjinya pada Seraphine, ia benar-benar tidur cukup
Paris, pukul 22.15 malam. Udara di luar Accor Arena menusuk hingga ke tulang, mencapai titik di bawah 5°C. Di dalam gedung, energi ribuan orang baru saja meledak dan menyisakan keheningan yang mendengung di telinga para member Motion13. Samudera baru saja menyelesaikan lagu penutup, encore yang pe
Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel







