MasukSamudera terbiasa memimpin, terbiasa menang, terbiasa memegang kendali. Dia adalah Leader Motion13, hidupnya berjalan sempurna dengan kesuksesan yang luar biasa. Tapi tidak ada yang tahu, sepuluh tahun yang lalu ia pernah membuat janji pada orang tuanya—janji yang kini datang untuk ditagih. Di usia tiga puluh tahun, ia diminta menikah. Bukan karena cinta. Bukan karena siap. Tapi karena kesepakatan dua keluarga besar. Dengan Seraphine Swarna Kirana. Pernikahan ini seharusnya hanya soal bisnis. Soal citra. Soal stabilitas. Tapi masalahnya, Samudera bukan tipe pria yang mau hidupnya diatur begitu saja. Dan Seraphine bukan wanita yang bisa dikendalikan. Ketika dua orang yang sama-sama keras kepala dipaksa berjalan berdampingan, yang lahir mungkin bukan cinta. Tapi juga bukan sekadar kontrak.
Lihat lebih banyakAkhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.
Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.
Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.
Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin selama atas kemenangan daesang tadi, kan?” tanya Samudera. Dia masih mengenakan pakaian panggungnya, jaket kulit custom dengan kristal yang berat.
Ardhaka mendongak. Matanya tajam, lebih tajam dari milik Samudera. Dia tersenyum tipis, mempersilakan putra tunggalnya untuk duduk. “Selamat, Sam. Kamu membuktikan kalau investasi Papa tidak sia-sia. Tapi kita berdua sama-sama tahu, Motion13 cuma satu fase dalam hidup kamu. Sekarang, waktunya membayar janji.”
Samudera tertawa hambar, menyisir rambutnya yang dicat cokelat dengan jemarinya. “Janji? Janji apa, Pa? Janji membawa agensi ini ke pasar internasional? Sudah ku lakukan. Motion13 konser hingga ke Amerika sejak tiga tahun yang lalu,” ujar Samudera menyebutkan kebanggannya. “Atau janji untuk tidak terlibat skandal? Aku bersih. Tidak ada skandal apapun dalam grupku.”
“Bukan itu,” Ardhaka menggeser map cokelat tersebut ke tengah meja. “Jani sepuluh tahun yang lalu. Saat kamu bersujud memohon ke Papa dan Mama untuk mengizinkanmu menjadi trainee ketimbang masuk sekolah bisnis di London. Kamu waktu itu bilang, ‘Beri Sam waktu sampai usiaku 30 tahun untuk menguasai panggung dan membawa Motion13 ke puncak tertinggi, setelah itu Samudera janji akan mengikuti rencana yang Papa tentuin.’”
Ardhaka menyebutkan ucapan Samudera dengan mantap, seolah masih mengingat malam dimana Samudera memohon sambil menangis di depan orang tuanya.
Dan Samudera juga masih mengingat jelas momen itu. Wajahnya mengeras. “Itu janji anak remaja yang sedang putus asa, Pa! Aku baru dua puluh tahun waktu itu!”
Ardhaka menyeringai. “Dua puluh atau lima puluh tahun, keturunan Wicaksana tidak pernah menjilat ludahnya sendiri, Samudera,” suara Ardhaka tidak meninggi, namun semakin berat. “Tahun ini kamu memasuki usia tiga puluh tahun. Kontrakmu dengan kebebasan yang kamu setujui, sudah habis. Kamu akan menikah dengan perempuan dari rekan bisnis kita.”
Samudera meradang, dia menggebrak meja. “MENIKAH?! Fans mencintaiku karena aku milik mereka! Papa gila minta aku menikah sekarang? Disaat Motion13 bulan depan mau world tour? Papa mau ngehancurin saham perusahaan sendiri?”
Ardhaka berdiri, postur tubuhnya masih tegak meski usianya tidak lagi muda. “Saham bisa naik turun kapan saja, Sam. Tapi integritas keluarga adalah prioritas. Kamu pikir kenapa Papa membiarkanmu menjadi idola di atas panggung selama sepuluh tahun? Supaya kamu punya modal sosial, dikenal banyak orang.”
Ardhaka menghela napas, mengusap pelan pundak Samudera. “Sekarang, gunakan modal itu untuk memperkuat dinasti kita. Menikahlah, atau Papa akan membekukan seluruh promosi Motion13, membatalkan world tour kalian.”
Samudera tertegun. Darahnya berdesir hebat, tangannya sedikit bergetar dan berkeringat. Dia sangat mengenal Papanya. Ardhaka adalah orang paling penting di industri ini, ancamannya tidak pernah main-main. Samudera tahu bahwa Papanya akan dengan mudah menghancurkan orang-orang yang tidak mau menuruti kendalinya, semudah membalikkan telapak tangan.
“Papa egois,” bisik Samudera, suaranya bergetar menahan amarah. “Papa menggunakan impianku sebagai perjanjian dan sandera. Papa gak pernah sekalipun menyempatkan waktu untuk sekadar bertanya, apa aku bahagia?”
Ardhaka tersenyum. “Kebahagiaan adalah harapan bagi orang biasa, Sam. Tapi kita adalah penguasa. Penguasa tidak mencari kebahagiaan, mereka mencari stabilitas,” jawab Ardhaka dingin.
“Papa udah gila! Aku tetap gak mau menikah,” Samudera berbalik menuju pintu. “Batalkan saja tur dunianya. Hancurkan saja karirku. Aku tidak peduli.”
“Samudera!” suara Ardhaka menggelegar, menghentikan langkah anaknya di ambang pintu. “Jika kamu pergi sekarang, besok pagi akan ada berita bubarnya Motion13. Papa akan menghancurkan juga karir kedua belas membermu dengan memastikan tidak ada lagi agensi yang mau menerima kalian di negeri ini. Kamu mau membermu berhenti dari mimpi-mimpinya?”
Samudera membeku. Tangannya mengepal di gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar perdebatan tentang pernikahan, ini adalah perang antara martabat seorang artis dan realitas seorang ahli waris.
Samudera masih mematung di ambang pintu. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen. “Siapa?” suara Samudera terdengar serak.
Langkahnya berbalik menuju meja sang Papa. “Siapa wanita malang yang Papa pilih untuk masuk ke dalam neraka kontrak ini?”
Ardhaka Wicaksana tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, menyesap sisa kopi hitam yang sudah mendingin. Ia menikmati momen ini, momen dimana sang anak kembali dan dia memegang kendali sepenuhnya.
Ardhaka mendongak. “Dia bukan wanita malang, Sam. Dia adalah satu-satunya orang yang levelnya layak untuk bersanding denganmu tanpa terlihat seperti pajangan yang numpang tenar pada nama besarmu sebagai idola,” Ardhaka meletakkan cangkirnya. “Kamu sudah pernah bertemu dengannya. Papa yakin kamu tahu siapa dia. Bahkan, grup kalian pernah menjadi brand ambassador untuk produknya tahun lalu.”
Samudera mengerutkan kening. Pikirannya berlari cepat, memindai puluhan brand yang pernah bekerja sama dengan Motion13 tahun lalu. Namun, hanya ada satu nama yang muncul cepat di otaknya, membuat jantungnya memberikan reaksi tidak terduga.
“Jangan bilang…”
“Seraphine Swarna Kirana,” Ardhaka menyebutkan nama itu dengan nada bicara yang tenang dan artikulasi yang sempurna. “Pemilik Seraphine Aesthetic Group. Papanya, Handoko Kirana adalah teman lama Papa. Papa sudah bertemu dengannya.”
“Seraphine?” Samudera mengulang nama itu, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil. “Dia tidak mungkin setuju dengan kegilaan ini. Dia wanita pekerja keras dan punya segalanya. Kenapa dia mau terikat dengan kehidupan seorang idol yang penuh dengan sorotan dan hidupnya diatur oleh agensi?”
Ardhaka tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan di mata anaknya. “Seraphine adalah wanita cerdas dan visioner, Sam. Dia tahu keuntungan dari menggabungkan pengaruh lifestyle brand-nya dengan fans Motion13 adalah strategi bisnis yang jenius. Dia juga menghormati pekerjaanmu. Dia bilang padaku bahwa kamu dan Motion13 adalah sedikit dari idol yang punya ‘isi kepala’ dan prinsip teguh di industri ini.”
Samudera memalingkan wajah, tak ingin Papanya melihat kilat aneh di matanya. Menghormatiku? batinnya. Selama kerja sama tahun lalu, mereka hampir tidak pernah bicara secara pribadi. Hanya pertukaran sapaan formal dan diskusi professional.
“Kenapa kamu diam saja, Sam?” tanya Ardhaka membuat Samudera mendongak. “Dengan sifat keras kepalamu, Papa tahu kamu mungkin akan memaki nama lain yang Papa sebutkan jika itu artis ataupun idol dari industri yang sama. Tapi Seraphine tidak.”
Ardhaka menatap tepat kedua mata Samudera. “Apa karena dia Seraphine? Apa karena kamu sadar bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang tidak bisa kamu tolak dengan alasan ‘dia tidak selevel denganku’?”
Samuder terdiam. Bayangan Seraphine yang sedang memeriksa foto di lokasi pemotretan di pinggiran kota Paris untuk kampanye parfum terbaru Seraphine kembali terlintas.
“Dia udah setuju?” tanya Samudera lagi, memastikan.
“Kamu bisa memastikannya sendiri. Temui dia besok malam,” Ardhaka memberikan kartu nama Seraphine, ia tersenyum simpul dan menepuk bahu Samudera dengan keras. “Jangan mempermalukan nama Wicaksana. Bersikaplah seperti ‘pria’ saat bertemu dengannya, bukan sebagai idol papan atas.”
Samudera menepis tangan ayahnya. "Papa menang kali ini. Bukan karena Papa mengancamku dengan kontrak sepuluh tahun itu."
Ardhaka menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus karena apa?"
Samudera menatap ayahnya dengan keberanian yang baru muncul, sebuah jenis keberanian yang dicampur dengan keputusasaan. "Karena aku ingin mendengar langsung dari Seraphine. Aku ingin tahu alasan apa yang membuat wanita sepertinya sudi masuk ke dalam permainan kotor Papa. Jika dia memang setuju hanya karena bisnis, maka aku akan menikahinya, menjadi boneka Papa, dan memastikan Papa mendapatkan semua keuntungan saham yang Papa mau."
"Tapi?" Ardhaka memancing.
"Tapi jika dia dipaksa, seperti aku..." Samudera menjeda, suaranya bergetar oleh emosi yang sulit didefinisikan. "Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rencana ini, bahkan jika aku harus membakar gedung World Entertainment ini bersamaku."
Ardhaka tidak marah. Ia justru tertawa kecil. "Itu baru anakku. Ambisi, kemarahan, dan sedikit drama. Pergilah. Temui dia.”
***
Beberapa menit berlalu, namun Samudera masih enggan menyingkirkan tubuhnya dari atas Seraphine. Kejantatannya yang masih berada di dalam perlahan-lahan mulai melunak, namun belum sepenuhnya mengecil. Pria itu menyandarkan kepalanya di ceruk leher Seraphine, menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan aroma keringat dan gairah yang khas. Seraphine terkulai lemas di atas kasur yang berantakan. Sprei mahal yang semula rapi kini telah kusut masai di beberapa bagian akibat cengkeraman tangannya. Dadanya masih naik turun secara ekstrem, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Mata sayunya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang masih setengah kosong. "Kamu... bener-bener... brutal, Sam..." bisik Seraphine akhirnya dengan suara yang teramat serak, nyaris kehilangan suaranya akibat terlalu banyak menjerit tadi. Samudera terkekeh rendah. Suara tawa maskulinnya bergetar di leher Seraphine, memberikan sensasi geli yang membuat wanita itu sedikit merinding. Ia men
"AAAHHH! S-SAMUDERA!" Jeritan Seraphine pecah seketika, menggema di seluruh penjuru kamar mewah bernuansa temaram itu. Kedua matanya membelalak lebar, pupilnya melebar sempurna saat merasakan hujaman masif yang dilepaskan Samudera tanpa ragu sedikit pun. Tubuh mungilnya terdorong ke atas, punggungnya melengkung indah dari atas kasur seiring dengan rasa penuh yang teramat sangat, merenggangkan dinding-dinding intimnya yang semula begitu rapat dan sempit. "Nghhh... aaah... S-Sam... k-kamu... terlalu dalam... hnggh..." Seraphine terengah-engah, tangannya yang gemetar langsung mencengkeram erat bahu kokoh Samudera. Kuku-kukunya yang terawat rapi menancap di kulit pria itu, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang tiba-tiba melanda seluruh saraf tubuhnya. Samudera tidak langsung bergerak. Pria itu mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menegang keras. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam melalui hidung demi menahan diri agar ti
Tanpa mengulur waktu, Samudera langsung memajukan wajahnya, membenamkan mulut dan hidungnya sepenuhnya di liang sensitivitas Seraphine. "AAAHHH!" Seraphine berteriak histeris, tangannya langsung mencengkeram sprei tempat tidur hingga kukunya nyaris merobek kain mahal tersebut. Pria itu menjilat dengan sapuan lebar dari bawah ke atas, memutari area klitoris yang menegang, lalu menusukkan lidahnya dalam-dalam ke dalam liang yang sempit dan panas tersebut, menghisap cairan keintiman yang keluar dari sana dengan suara sesapan yang sangat intim dan kotor di keheningan kamar. Sementara mulutnya sibuk memanjakan area bawah, kedua tangan besar Samudera bergerak kembali ke atas, meremas, meraup, dan mencengkeram kedua payudara Seraphine dengan kasar, memberikan stimulasi ganda yang benar-benar menghancurkan seluruh sisa kewarasan Seraphine. "Sam... ohhh, mhh, gila... ahhh! Kamu... kamu ngapain... mhh, geli banget, Samh! Please, stop... ahh, aku bisa gila..." Seraphine terus mendesah parau,
Begitu pintu kayu jati tebal Vila Cempaka tertutup rapat, Samudera tidak memberikan jeda sedetik pun. Sebelum Seraphine sempat bersuara, tangan besar Samudera sudah mencengkeram pinggang ramping Seraphine, mengangkat tubuh wanita itu sedikit sebelum akhirnya memojokkannya ke dinding lorong yang dingin.Tanpa memberikan kesempatan untuk istrinya, Samudera sudah menundukkan kepalanya, membungkam mulut ranum istrinya dengan ciuman yang begitu panas dan agresif. Lidah Samudera langsung menerobos masuk tanpa permisi, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Seraphine dengan sangat memburu dan posesif."Mmph..." Seraphine melenguh pelan di dalam ciuman itu. Jemari lentik Seraphine yang semula meremas kemeja linen suaminya, kini berpindah ke tengkuk Samudera, mengusap tengkuk Samudera yang membuat pria itu menjadi semakin gila.Samudera menggerakkan kepalanya, mengubah sudut ciumannya menjadi lebih dalam. Suara kecupan yang basah dan intim terdengar memenuhi lorong,
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.