Share

Bab 2

Author: yourayas
last update publish date: 2026-02-25 22:46:08

Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.

“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, Bang? Bokap lo ngasih bonus apa buat kemenangan tadi? Saham tambahan? Atau mobil sport baru?”

Samudera tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya dan melemparnya dengan asal. Samudera mengambil posisi duduk di tengah, bersandar pada sofa.

“Gue harus ngomong,” suara Samudera memecah keheningan. Wajahnya nampak lebih serius kali ini, bahkan serratus kali lebih serius daripada speech di panggung setelah mendapatkan daesang beberapa jam yang lalu.

Jauzan, sang main vocal sekaligus salah satu member tertua dibawah Samudera, mengerutkan kening. “Kenapa, Sam? Muka lo kayak habis lihat hantu, pucet banget. Bokap lo bilang apa? Saham perusahaan turun? Atau ada masalah sama sponsor?”

Jauzan bertanya banyak, namun dijawab Samudera dengan gelengan pelan. Ia menatap satu persatu wajah kedua belas saudara seperjuangannya. Ada Sekala yang sibuk dengan botol minumnya, Junian yang masih mengatur napas, hingga si bungsu Danendra yang menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.

“Kalian inget nggak dulu pas kita mau debut? Pas gue bilang gue hampir nggak bisa debut karena harus masuk sekolah bisnis?” Samudera memulai dengan suaranya yang berat. “Gue bikin perjanjian sama Papa. Gue bilang, kasih gue waktu sampai umur tiga puluh tahun untuk menguasai panggung dan membawa grup kita ke puncak. Kalau gue berhasil, gue bakal ikutin apa pun kemauan dia setelah itu. Dan sekarang... gue hampir tiga puluh tahun.”

“Emang kenapa?” pertanyaan Daksa lolos begitu saja.

Samudera menarik napas panjang, menunduk dalam. "Bokap minta gue bayar janji itu sekarang. Gue... gue disuruh nikah. Bulan depan."

Keheningan yang terjadi setelah Samudera berbicara bukanlah keheningan yang dia bayangkan. Harsa dan Daksa saling lirik. Zian, sang produser utama justru menghela napas panjang, seolah beban yang selama ini dia simpan akhirnya terungkap.

“Kalian kenapa diem aja?” Samudera mendongak, menatap mereka satu persatu dengan bingung. “Gue baru aja bilang kalau gue bakalan nikah bulan depan, di tengah puncak karir kita! Kalian bisa kebayang kan kalau fans bakalan ngamuk, saham bakalan anjlok, karir kalian juga bisa terancam! Kenapa kalian nggak maki-maki gue?”

Mahesa berdehem pelan, ia menggeser posisi duduk. “Bang… lo beneran nggak tahu?”

“Tahu apa?” tanya Samudera balik, dia benar-benar kebingungan.

Verrel yang biasanya diam, angka bicara dengan aksen amerikanya yang khas. “Kita semua udah tahu soal itu sejak hari pertama kita tanda tangan kontrak debut, Bang.”

Samudera semakin mengerutkan kening. “Maksud lo?”

“Anjir, jadi lo beneran gak tahu, Bang?” Daksa tertawa pendek, meski terdengar agak canggung. “Gue pikir lo selama ini pura-pura amnesia atau gimana. Karena lo gak pernah bahas ini sama sekali.”

“Tunggu, tunggu. Apa yang lo semua tahu tapi gue nggak tahu?” Samudera mulai merasa ada yang tidak beres.

Wira menghela napas. Membuka salah satu dokumen yang dia simpan dengan rapi di ponselnya. Dokumen perjanjian kontrak debut mereka sepuluh tahun yang lalu.

Wira memberikannya kepada Samudera. “Baca, Bang,” kata Wira singkat.

Samudera menerimanya. Matanya membelalak melihat poin 14. B yang isinya adalah:

“Pihak Pertama (Agensi) berhak mengatur narasi publik terkait status pernikahan Leader Motion13 (Samudera Adikara Wicaksana) yang dijadwalkan pada tahun ke-10 atau usia 30 tahun, sebagai bagian dari penyerahan asset keluarga Wicaksana, Seluruh Pihak Kedua (Member Motion13) sepakat menyetujui dan memahami risiko perubahan citra grup akibat hal tersebut.”

“Kalian… kalian tahu soal ini dari awal?” Samudera meletakkan handphone Wira dengan lesu, masih tidak percaya. “Dan kalian tanda tangan?”

“Ya iyalah, bego,” Jauzan menyahut santai. “Kita semua waktu itu mau debut. Dan kita tahu lo itu anaknya bos, yang punya gedung. Kita pikir itu cuma perjanjian formalitas yang nggak bakalan beneran kejadian. Tapi ya, kita semua udah tahu dan siap kalau lo bakal jadi ‘Tumbal Proyek’ perusahaan keluarga lo di umur tiga puluh tahun.”

“Kenapa nggak ada yang bilang ke gue?” Samudera mulai mengacak rambut emosi.

“Kita pikir lo yang bikin aturannya sendiri, Bang!” Mahesa menyambar cepat. “Kita pikir lo emang pengen nikah muda biar bisa pensiun kapan aja terus jadi CEO! Makanya kita nggak pernah bahas ini. Kita cuma kayak, ‘Oh, Bang Sam mah bebas, dia yang punya gedung’.”

“Gue beneran nggak tahu…” bisik Samudera. “Gue pikir itu cuma obrolan waktu gue sujud mohon-mohon di depan bokap sama nyokap demi bisa debut. Ternyata dia jadiin itu klausul bisnis buat kalian juga.”

Yosua dengan wajah teduhnya, menepuk bahu Samudera. “Udahlah, Sam. Kita nggak marah. Kita udah siap dari lama kalau lo bener-bener mau nikah. Lagian, kalau dipikir secara logis, langkah lo ini bagus juga buat keberlangsungan tim.”

Yosua memandang membernya satu persatu. “Kita semua disini manusia, suatu saat kita juga bakalan nikah. Setidaknya, kita bisa mulai meredam kemarahan fans dan membawa mereka ke realita kalau idolnya juga perlu berumah tangga.”

“Jadi…” Dion memecah keheningan. “Siapa ceweknya, Bang? Bokap lo jodohin lo sama siapa?”

“Anak gubernur, Bang? Atau anak menteri?” tanya Junian.

“Atau anak pemilik stasiun TV?” sambar Sekala, antusias.

Samudera memejamkan mata. Bayangan wanita dengan aroma parfum sandalwood dan terkadang berganti dengan aroma vanilla itu kembali muncul. “Bukan.”

Nada bicara Samudera sedikit lebih pelan, helaan napasnya terdengar berat namun penuh arti. “Dia… Seraphine Swarna Kirana.”

Seketika, suasana apartemen itu berubah. Bukan lagi tegang karena masalah kontrak, melainkan sesuatu yang lebih canggung,

Junian langsung tersedak air minumnya. Wira menaikkan alisnya tinggi-tinggi, sementara Daksa dan Harsa saling berpandangan penuh arti.

“Hah?” Jauzan memastikan. “Seraphine? Seraphine yang itu? Pemilik Seraphine Aesthetic yang tahun lalu kolaborasi sama kita?”

Samudera mengangguk pelan. “Iya. Dia. Anak Handoko Kirana, direktur utama Kirana Group.”

“Anjir lah…” Mahesa berbisik heboh, pria paling tinggi di grup itu menatap Samudera dengan kagum. “Lo serius, Bang? Seraphine?”

Samudera hanya mengangguk lemah, tidak berani menatap mata teman-temannya.

Harsa tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang membuat telinga Samudera memerah. "Wah... gila. Pak Ardhaka bener-bener pinter milih target."

“Kenapa? Ada yang salah sama dia?” Samudera menatap mereka curiga.

Yosua berdehem, mencoba menetralkan suasana. “Nggak ada yang salah sama dia. Dia… hebat. Mandiri. Cantik banget. Pinter. Tapi lo inget nggak pas kita syuting di Paris tahun lalu?”

“Inget,” jawab Samudera pendek.

“Inget nggak pas Danendra nggak sengaja numpahin kopi ke lantai?” tanya Yosua membuat mereka semua kembali ke momen itu tahun lalu. “Dia nggak mau kita bersihin sendiri, tapi langsung manggil timnya pakai suara tegas dan tatapan matanya yang… dingin banget sampai asistennya gemeteran?”

“Dia itu Ice Queen, Bang. Berwibawa banget, tapi auranya ngeri,” sambung Sekala.

“Makanya dia cocok sama Bang Sam,” Mahesa kembali menimpali dengan heboh membuat Samudera mendelik.

Mahesa menepuk bahu Samudera. “Dia itu sejajar levelnya sama lo, Bang. Lo butuh cewek setegas dan segalak dia buat marahin lo kalau lo salah. Selama ini lo ngatur dan marahin kita, sekarang giliran dia yang ngatur dan ngarahin hidup lo biar lebih tertata,”

Mahesa menatap sungguh-sungguh ke mata Samudera dengan senyuman manisnya. “Kita semua tahu, selama ini selera lo setinggi langit dan gue yakin cuma dia yang bakalan bisa bikin lo jinak.”

“Gue nggak jinak,” protes Samudera, meski suaranya melemah. Membuat Daksa dan Sekala tertawa bersamaan namun langsung ditoyor oleh Harsa.

“Tapi masalahnya…” Danendra menyela, wajahnya masih cemas. “Kak Seraphine itu kan… gimana ya… dia beda banget sama dunia kita. Dia kelihatan pinter, mandiri, dan kayaknya nggak bakal mau kalau cuma dijadiin alat bisnis. Kenapa dia setuju nikah sama Bang Sam?”

Pertanyaan si bungsu itu menghantam telak, membuat abang-abangnya kompak menutup mulut tak bersuara. “Itu yang mau gue cari tahu besok,” kata Samudera. “Gue bakal ketemu dia buat makan malam.”

Ruangan kembali hening setelah kalimat itu keluar dari mulut Samudera.

Ia memperhatikan mereka satu persatu. Dua belas orang yang mengorbankan masa muda dan tumbuh bersamanya demi sebuah mimpi yang berusaha diwujudkan sama-sama. Dua belas orang yang pernah latihan sampai muntah, pernah menangis di ruang tengah asrama jelek mereka dulu karena komentar jahat netizen, pernah saling maki-maki di belakang panggung karena kelelahan.

Ternyata mereka semua sudah tahu. Dari awal.

Dan dia… justru yang paling tidak tahu.

“Bang,” Zian yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya angkat suara. “Lo jangan mikir sendirian terus. Selama ini lo yang selalu jadi tameng kita. Sekali-kali biarin kita yang berdiri di belakang lo.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup bikin dada Samudera terasa sesak.

Ia mengangguk pelan. “Gue nggak takut nikahnya,” gumamnya jujur. “Gue takut kalau ini ngerusak apa yang kita bangun.”

“Kalau cuma berita nikah doang bisa ngerusak kita,” jawab Jauzan santai sambil menggigit pizza, “berarti kita emang lemah dari awal.”

Hening sesaat.

Samudera menghela napas, kembali memandang membernya satu persatu. “Lo semua beneran gapapa kalau gue nikah?” Samudera memastikan lagi. “Grup kita gimana?”

Jauzan merangkul Samudera. “Yaelah, Sam. Kan tadi udah dijelasin sama Yosua. Kita nggak masalah, kita udah siap-siap dari lama. Kita ini Motion13. Fans kita udah pada dewasa. Lagian, dapet istri kayak Seraphine? Itu malah naikin nilai grup kita. Kita bakalan jadi grup pertama yang leadernya nikah sama salah satu wanita paling berpengaruh di negara ini. Lo tenang aja, kita bakalan dukung lo habis-habisan.”

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa seperti permainan berisiko tinggi.

Karena perempuan yang akan ia temui besok bukan tipe yang bisa diajak main-main. Seraphine bukan idol yang bisa diatur manajemen. Dia pemilik kerajaan sendiri.

“Eh Bang,” Danendra mendekat sedikit, suaranya lebih pelan. “Lo… suka sama dia?”

Semua langsung berhenti bergerak.

Samudera mendelik. “Lo kepo banget sih.”

“Tanya aja,” Danendra nyengir polos. “Kan lo tadi ngomongnya beda.”

Samudera terdiam.

Ia teringat tatapan tajam itu di Paris. Cara Seraphine berdiri tanpa perlu meninggikan suara untuk membuat satu ruangan diam. Aroma parfum sandalwood yang samar tapi melekat di ingatannya lebih lama dari yang seharusnya.

“Gue cuma penasaran,” jawabnya akhirnya. “Kenapa dia mau.”

“Wah,” Daksa bersiul pelan. “Kalau udah penasaran sama cewek, bahaya tuh.”

“Lo diem,” Samudera melempar bantal ke arahnya.

Tawa kembali pecah, memecah ketegangan yang sempat menggantung.

Samudera hanya bisa tersenyum tipis. “Yaudah, makan lagi pizza-nya,” Samudera mencoba mengalihkan pembicaraan dan berhasil. Mahesa sudah mengambil botol alkohol dan menuangkannya ke dalam gelas sloki.

Samudera tertawa bersama mereka. Meskipun pikirannya sudah terbang ke makan malam besok.

Itu adalah awal dari permainan paling berbahaya yang akan Samudera jalani. Dan entah kenapa, dia tidak sabar untuk menang di dalamnya.

***

Hiii let's meet with our member Motion13

1. Samudera Adikara Wicaksana (Scoups Seventeen)

2. Jauzan Shaka Aradhana (Jeonghan Seventeen)

3. Yosua Caleb Pramudya (Joshua Seventeen)

4. Junian Chandra Dirgantara (Jun Seventeen)

5. Harsa Nayaka Bakti (Hoshi Seventeen)

6. Wira Satya Madhava (Wonwoo Seventeen)

7. Zian Arkana Maestro (Woozi Seventeen)

8. Dion Kenzie Abimanyu (The8 Seventeen)

9. Mahesa Galendra Putra (Mingyu Seventeen)

10. Daksa Ar-Rayi (DK Seventeen)

11. Sekala Damar Mukti (Seungkwan Seventeen)

12. Verrel Cassian Joseph (Vernon Seventeen)

13. Danendra Rizky Pratama (Dino Seventeen)

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 145

    Siang itu, reherseal untuk konser hari pertama di Osaka baru saja diselesaikan. Selama hampir tiga jam di atas panggung, Samudera Adikara berdiri tegak bagaikan karang di tengah badai. Otoritasnya sebagai leader Motion13 tidak bergeser satu milimeter pun. Suaranya yang berat dan bertenaga menggelegar melalui mikrofon, koreografinya presisi, dan instruksinya kepada tim teknis mengenai pencahayaan serta tata suara terdengar sangat tajam.Namun, begitu sesi latihan selesai dan lampu panggung dipadamkan, seluruh atmosfer seolah ikut berubah.“Lampu midsage kurang lambat setengah detik pas drop kedua, tolong catat—”Kalimat Samudera terputus. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga panggung belakang mendadak limbung. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin menggelap."Bang Sam!" Mahesa yang berjalan tepat di belakang Samudera refleks memburu maju. Tangan besarnya merengkuh dada sang leader sebelum tubuh tinggi itu roboh menghantam anak tangga besi."Sam! Samudera!" Jauzan berter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 144

    Sementara itu…Kota Osaka sedang diselimuti rintik hujan gerimis. Di dalam bus eksekutif yang membawa seluruh member Motion13 dari stasiun Shinkansen menuju hotel di Osaka, suasana terasa sangat sunyi dan tegang.Di baris kursi paling belakang, Samudera menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Wajahnya semakin tirus, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah kehitaman akibat dehidrasi serta kekeringan nutrisi yang parah.Meskipun di konser day 2 Tokyo Dome kemarin malam ia berhasil tampil sangat sangar dan ganas di atas panggung, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik profesionalisme leader yang legendaris, begitu lampu panggung padam, tubuhnya langsung ambruk total.Danendra, member termuda yang ditugaskan oleh Jauzan dan Zian untuk memantau pola makan Samudera selama di Osaka, duduk persis di sebelah sang leader. Di pangkuan Danendra, terdapat sebuah kotak bekal berisi hidangan nasi tim ayam yang dimasak khusus oleh koki pribadi agensi agar mudah dicerna.

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 143

    Sudah lima hari berlalu sejak penerbangan darurat dari Jakarta menuju Swiss malam itu. Namun, kehancuran di dalam dada Seraphine tidak kunjung reda. Siang itu, Seraphine berdiri membisu di hotel mewah bintang lima di Kawasan Paradeplatz.Tangannya memegang cangkir berisih teh chamomile hangat, namun minuman itu tidak sedikit pun menyentuh bibirnya. Wajahnya yang terbiasa tampil cantik dan menawan, kini tampak pusat pasi. Lingkaran hitam nampak jelas di bawah matanya, pertanda bahwa sejak malam menyakitkan itu, Seraphine benar-benar kesulitan menutup mata.“Sera…” suara lembut Bianca memecah kesunyian. Bianca melangkah mendekat membawa nampan kecil berisi piring dengan potongan buah segar dan roti croissant hangat. “Cobain crossaint­-nya dikit, ya? Ini freshly baked dari toko roti bawah. Lo dari pagi cuma minum teh dua teguk.”Seraphine tidak menoleh dari jendela. “Gue gak laper, Bi. Makasih ya.”“Sera, lo gak bisa gini terus!” Karin melangkah masuk, menatap Seraphine dengan dahi berke

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 142

    "Apa...?" Sekala menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar tak percaya. "Kak Sera... tahu soal itu?""Bang..." Mahesa menatap Samudera dengan nada tidak percaya. "Beneran? Kak Sera tahu soal apartemen itu?"Airmata yang sejak tiga hari lalu ditahan mati-matian oleh Samudera akhirnya pecah begitu saja. Pria bertubuh tinggi besar itu menungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Pundaknya yang bidang naik-turun hebat seiring dengan suara isak tangis yang begitu pilu dan meremukkan hati."I-iya..." racau Samudera dengan suara yang pecah dan tercekik. "Dia... dia tahu semuanya. Dia tahu gue pernah tinggal bareng... dia tahu gue berbagi hidup sama perempuan lain di masa lalu...""Bangsat!" teriak Harsa frustrasi, mengacak rambutnya kasar sambil berjalan bolak-balik di tengah ruangan. "Gimana bisa dia tahu?! Siapa yang bocorin?! Media?! Atau perempuan itu?!""Nggak ada yang bocorin!" bentak Samudera di sela tangisnya, mendongak dengan wajah yang sudah merah padam dan dibasah

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 141

    Sudah tiga hari sejak insiden pertengkaran hebat antara Seraphine dan Samudera. Malam itu waktu Tokyo, Motion13 baru saja menyelesaikan konser Day 1 mereka di Tokyo Dome. Lebih dari lima puluh ribu pasang mata bersorak riuh pada penampilan idol mereka yang tanpa celah.Dan Samudera sebagai leader dan rapper dalam grup, benar-benar tidak menunjukkan cela kesedihan dalam wajahnya. Dia tersenyum lebar seperti yang bisa ditampilkan, gerakannya saat melakukan tarian tetap sempurna, dan bagaimana cara dia menyapa fans yang bergemuruh memanggil namanya benar-benar sangat natural. Seolah Samudera memang disetting seperti itu di atas panggung.Namun, kenyataan di belakang panggung adalah sebuah mimpi buruk yang mengerikan.Para member Motion13 tahu persis bagaimana Samudera menyiksa dirinya sendiri sejak mereka mendarat di Tokyo dua hari yang lalu. Pria itu sama sekali tidak menyentuh makanan padat. Bekal catering kelas atas, bento premium, hingga daging sapi Hida yang disediakan pihak penyele

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 140

    Sementara itu, ribuan kaki di mesin jet pribadi Bombardier Global 7500 milik keluarga Hartono. Seraphine duduk menyandar di dekat jendela jet pribadi. Tatapan matanya kosong dengan tubuhnya yang meringkuk dibalut selimut tebal yang diselimutkan oleh Bianca.Jaket milik Samudera yang semalam dibawanya kini tergeletak mengenaskan di lantai kabin, sengaja dilempar jauh oleh Seraphine karena aroma parfum suaminya yang tertinggal disana terus memicu rasa mual dan sakit di dadanya.Di atas meja lipat di hadapannya, sepiring waffle hangat dengan buah beri segar dan segelas jus jeruk yang disiapkan oleh pramugari jet sama sekali tidak disentuh. Seraphine benar-benar menolak untuk memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya sejak mereka lepas landas dari Halim Perdanakusuma.“Sera,” panggil Anya lembut, duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Seraphine. “Lo harus makan sesuatu. Lo udah hampir enam jam nggak kemasukan makanan sama sekali. Nanti lambung lo kena, Sera.”Seraphine t

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 43

    Paris, pukul sepuluh pagi. Sinar matahari musim semi yang tipis mulai menerangi jalanan berbatu di sekitar hotel mewah tempat Motion13 menginap. Bagi Samudera, ini adalah pagi pertama setelah insiden rinitis yang cukup menghebohkan semalam. Sesuai janjinya pada Seraphine, ia benar-benar tidur cukup

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 41

    Paris, pukul 22.15 malam. Udara di luar Accor Arena menusuk hingga ke tulang, mencapai titik di bawah 5°C. Di dalam gedung, energi ribuan orang baru saja meledak dan menyisakan keheningan yang mendengung di telinga para member Motion13. Samudera baru saja menyelesaikan lagu penutup, encore yang pe

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 36

    Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 35

    Pagi di Singapura disambut dengan aroma kopi premium dan udara tropis yang segar dari balkon suite hotel tempat mereka menginap. Seraphine sudah bangun sejak pukul tujuh pagi, kebiasaan sebagai CEO tidak membiarkannya tidur terlalu lama meskipun ia sedang berada di masa "liburan paksa". Ia baru saj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status