مشاركة

Bab 7

مؤلف: yourayas
last update تاريخ النشر: 2026-03-18 10:58:10

Samudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.

Pintu terbuka bahkan sebelum Samudera sempat mengetuk. Seraphine berdiri di sana, tidak lagi mengenakan gaun beludru hitam, melainkan setelan rumah berupa kemeja sutra longgar berwarna gading dan celana kain senada. Wajahnya polos tanpa riasan, namun justru itu yang membuat Samudera terpaku sesaat. Tanpa eyeliner tajamnya, Seraphine tampak sedikit lebih manusiawi, meski tatapannya tetap sedingin es.

“Masuk, Sam,” ujar Seraphine mempersilahkan tanpa basa-basi.

Samudera melangkah masuk, memandang interior apartemen Seraphine yang adalah cerminan sempurna dari pemiliknya: minimal, elegan, dan sangat berkelas. Di dominasi oleh earth tone yang kuat dengan sentuhan marmer abu-abu dan kayu gelap.

“Apartemen lo… it’s so you,” gumam Samudera sambil meletakkan tas makananya di atas meja makan berbahan granit yang mengkilap. “Rapi, dingin, tapi entah kenapa kayaknya bikin gue betah disini.

Seraphine menaikkan sebelah alisnya. “Pujian atau sindiran?”

“Pujian,” jawab Samudera singkat sambil mengeluarkan kotak-kotak makanan. "Gue bawa makan malam. Gue tebak lo belum makan karena sibuk ngurusin saham yang lagi naik gara-gara berita tadi pagi."

Samudera membuka kotak-kotak kayu tersebut yang berisi sashimi dan nigiri kualitas premium. “Gue beli sashimi dari Omakase langganan gue. Lo boleh minta kompensasi kalau rasanya gak enak.”

Seraphine mendekat. “Oke,” jawabnya singkat seolah mengiyakan tantangan Samudera. Ia menarik kursi tinggi dan duduk, sementara Samudera dengan telaten menata peralatan makan di depannya.

“Jadi,” Seraphine menopang dagunya, matanya yang tajam menatap Samudera yang masih sibuk. “Lo kesini mau bahas draft kontrak internal yang gue janjiin atau lo niatnya cuma makan disini?”

Samudera terkekeh, ia mengambil tempat duduk di depan Seraphine. “Dua-duanya. Tapi gue cukup yakin kalau otak lo nggak akan bisa mikir jernih pas perut lo kosong.”

Ia balas menatap Seraphine dengan senyuman yang biasanya bisa membuat Nation gempar satu stadion. “Lagipula, gue gak mau calon istri gue pingsan karena telat makan.”

Seraphine mendengus. Memilih untuk tidak menjawab dan mulai mengambil beberapa potong sashimi menggunakan sumpit dengan anggun. Keheningan sempat menyelimuti, hanya terdengar suara denting sumpit dan gesekan kotak kayu.

Tanpa sadar, setiap kali Samudera melihat potongan Otoro atau Uni yang paling segar di dalam kotak, ia secara otomatis menjepitnya dengan sumpit dan meletakkannya di piring Seraphine.

"Makan yang ini, ini bagian perut ikan yang paling lembut," ujar Samudera pelan, melakukan gerakan itu untuk ketiga kalinya.

Tak lama kemudian, saat ia menemukan potongan Hamachi yang segar, Samudera kembali melakukan hal yang sama. Ia memindahkan bagian paling premium ke piring Seraphine, lagi dan lagi. Kebiasaan sebagai seorang leader yang selalu mendahulukan kebutuhan anggotanya—seperti saat ia memastikan Danendra makan dengan benar di Paris—kini muncul secara otomatis saat ia berada di dekat Seraphine.

Seraphine meletakkan sumpitnya, matanya menyipit menatap Samudera yang masih sibuk mengunyah dengan tenang. "Lo selalu gini ya, Sam?"

"Gini gimana?" Samudera mendongak, ada sedikit butiran wasabi di sudut bibirnya yang membuatnya tampak kurang seperti bintang dunia dan lebih seperti pria biasa.

"Ngasih bagian terbaik buat orang lain. Lo itu leader Motion13, orang yang harusnya paling dilayani, bukan yang melayani," suara Seraphine melunak, sebuah nada yang jarang sekali ia tunjukkan.

Samudera terdiam sejenak. Ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. “Mungkin karena gue udah terbiasa ngeliat dua belas kepala tiap hari. Gue terbiasa memastikan member gue dapet yang terbaik,” jawabnya dengan tenang kemudian kembali mengunyah sashimi sambil terus menatap Seraphine.

“Tapi kalau buat lo… anggap aja ini bagian dari gentleman behavior yang gue bilang waktu itu,” Samudera kembali tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang khas. “Dan gue rasa, lo harus mulai terbiasa dengan itu, calon istri.”

Seraphine tidak membalas, namun sudut bibirnya berkedut tipis, sebuah ekspresi yang hampir menyerupai senyuman.

Seraphine berdehem pelan. “Lo sadar gak sih,” ucapnya tiba-tiba dengan suara yang lebih datar dari sebelumnya, “kalau sikap lo ini bisa disalahartikan?”

Samudera menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Seraphine santai. “Disalahartikan gimana?”

“Kayak lo peduli,” jawab Seraphine singkat, matanya turun ke piringnya, menghindari tatapan Samudera.

Ada jeda beberapa detik. Samudera tidak langsung menjawab.

“Dan itu masalah?” tanyanya akhirnya, suaranya lebih rendah.

Seraphine terkekeh pelan. “Lo gak takut baper?” tanya Seraphine.

Pertanyaan itu cukup tajam untuk membuat Samudera berhenti bergerak.

Ia mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata Seraphine. Kali ini senyumnya kembali muncul, tapi lebih tipis. Lebih berbahaya. “Lo berharap gue baper?”

Seraphine menatap balik tanpa goyah. “Gue cuma gak mau ribet.”

Samudera mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. “Tenang aja,” katanya ringan. “Gue tau posisi.”

“Tapi satu hal yang harus lo tahu, Sera,” tambahnya, nada suaranya sedikit menurun. “Gue gak pernah setengah-setengah kalau lagi ngejalanin sesuatu. Bahkan kalau itu cuma… kontrak.”

Tatapan Seraphine berubah sepersekian detik—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk disadari.

Kemudian ia mengambil kembali sumpitnya, seolah menutup percakapan. “Berarti gue harus siap,” gumamnya pelan.

Samudera tersenyum.

"Oke, sekarang keluarin kontraknya," ujar Samudera setelah kotak makanan itu hampir kosong. "Gue siap liat seberapa 'kejam' peraturan yang lo bikin buat hidup gue di bawah satu atap sama lo."

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 145

    Siang itu, reherseal untuk konser hari pertama di Osaka baru saja diselesaikan. Selama hampir tiga jam di atas panggung, Samudera Adikara berdiri tegak bagaikan karang di tengah badai. Otoritasnya sebagai leader Motion13 tidak bergeser satu milimeter pun. Suaranya yang berat dan bertenaga menggelegar melalui mikrofon, koreografinya presisi, dan instruksinya kepada tim teknis mengenai pencahayaan serta tata suara terdengar sangat tajam.Namun, begitu sesi latihan selesai dan lampu panggung dipadamkan, seluruh atmosfer seolah ikut berubah.“Lampu midsage kurang lambat setengah detik pas drop kedua, tolong catat—”Kalimat Samudera terputus. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga panggung belakang mendadak limbung. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin menggelap."Bang Sam!" Mahesa yang berjalan tepat di belakang Samudera refleks memburu maju. Tangan besarnya merengkuh dada sang leader sebelum tubuh tinggi itu roboh menghantam anak tangga besi."Sam! Samudera!" Jauzan berter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 144

    Sementara itu…Kota Osaka sedang diselimuti rintik hujan gerimis. Di dalam bus eksekutif yang membawa seluruh member Motion13 dari stasiun Shinkansen menuju hotel di Osaka, suasana terasa sangat sunyi dan tegang.Di baris kursi paling belakang, Samudera menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Wajahnya semakin tirus, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah kehitaman akibat dehidrasi serta kekeringan nutrisi yang parah.Meskipun di konser day 2 Tokyo Dome kemarin malam ia berhasil tampil sangat sangar dan ganas di atas panggung, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik profesionalisme leader yang legendaris, begitu lampu panggung padam, tubuhnya langsung ambruk total.Danendra, member termuda yang ditugaskan oleh Jauzan dan Zian untuk memantau pola makan Samudera selama di Osaka, duduk persis di sebelah sang leader. Di pangkuan Danendra, terdapat sebuah kotak bekal berisi hidangan nasi tim ayam yang dimasak khusus oleh koki pribadi agensi agar mudah dicerna.

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 143

    Sudah lima hari berlalu sejak penerbangan darurat dari Jakarta menuju Swiss malam itu. Namun, kehancuran di dalam dada Seraphine tidak kunjung reda. Siang itu, Seraphine berdiri membisu di hotel mewah bintang lima di Kawasan Paradeplatz.Tangannya memegang cangkir berisih teh chamomile hangat, namun minuman itu tidak sedikit pun menyentuh bibirnya. Wajahnya yang terbiasa tampil cantik dan menawan, kini tampak pusat pasi. Lingkaran hitam nampak jelas di bawah matanya, pertanda bahwa sejak malam menyakitkan itu, Seraphine benar-benar kesulitan menutup mata.“Sera…” suara lembut Bianca memecah kesunyian. Bianca melangkah mendekat membawa nampan kecil berisi piring dengan potongan buah segar dan roti croissant hangat. “Cobain crossaint­-nya dikit, ya? Ini freshly baked dari toko roti bawah. Lo dari pagi cuma minum teh dua teguk.”Seraphine tidak menoleh dari jendela. “Gue gak laper, Bi. Makasih ya.”“Sera, lo gak bisa gini terus!” Karin melangkah masuk, menatap Seraphine dengan dahi berke

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 142

    "Apa...?" Sekala menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar tak percaya. "Kak Sera... tahu soal itu?""Bang..." Mahesa menatap Samudera dengan nada tidak percaya. "Beneran? Kak Sera tahu soal apartemen itu?"Airmata yang sejak tiga hari lalu ditahan mati-matian oleh Samudera akhirnya pecah begitu saja. Pria bertubuh tinggi besar itu menungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Pundaknya yang bidang naik-turun hebat seiring dengan suara isak tangis yang begitu pilu dan meremukkan hati."I-iya..." racau Samudera dengan suara yang pecah dan tercekik. "Dia... dia tahu semuanya. Dia tahu gue pernah tinggal bareng... dia tahu gue berbagi hidup sama perempuan lain di masa lalu...""Bangsat!" teriak Harsa frustrasi, mengacak rambutnya kasar sambil berjalan bolak-balik di tengah ruangan. "Gimana bisa dia tahu?! Siapa yang bocorin?! Media?! Atau perempuan itu?!""Nggak ada yang bocorin!" bentak Samudera di sela tangisnya, mendongak dengan wajah yang sudah merah padam dan dibasah

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 141

    Sudah tiga hari sejak insiden pertengkaran hebat antara Seraphine dan Samudera. Malam itu waktu Tokyo, Motion13 baru saja menyelesaikan konser Day 1 mereka di Tokyo Dome. Lebih dari lima puluh ribu pasang mata bersorak riuh pada penampilan idol mereka yang tanpa celah.Dan Samudera sebagai leader dan rapper dalam grup, benar-benar tidak menunjukkan cela kesedihan dalam wajahnya. Dia tersenyum lebar seperti yang bisa ditampilkan, gerakannya saat melakukan tarian tetap sempurna, dan bagaimana cara dia menyapa fans yang bergemuruh memanggil namanya benar-benar sangat natural. Seolah Samudera memang disetting seperti itu di atas panggung.Namun, kenyataan di belakang panggung adalah sebuah mimpi buruk yang mengerikan.Para member Motion13 tahu persis bagaimana Samudera menyiksa dirinya sendiri sejak mereka mendarat di Tokyo dua hari yang lalu. Pria itu sama sekali tidak menyentuh makanan padat. Bekal catering kelas atas, bento premium, hingga daging sapi Hida yang disediakan pihak penyele

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 140

    Sementara itu, ribuan kaki di mesin jet pribadi Bombardier Global 7500 milik keluarga Hartono. Seraphine duduk menyandar di dekat jendela jet pribadi. Tatapan matanya kosong dengan tubuhnya yang meringkuk dibalut selimut tebal yang diselimutkan oleh Bianca.Jaket milik Samudera yang semalam dibawanya kini tergeletak mengenaskan di lantai kabin, sengaja dilempar jauh oleh Seraphine karena aroma parfum suaminya yang tertinggal disana terus memicu rasa mual dan sakit di dadanya.Di atas meja lipat di hadapannya, sepiring waffle hangat dengan buah beri segar dan segelas jus jeruk yang disiapkan oleh pramugari jet sama sekali tidak disentuh. Seraphine benar-benar menolak untuk memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya sejak mereka lepas landas dari Halim Perdanakusuma.“Sera,” panggil Anya lembut, duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Seraphine. “Lo harus makan sesuatu. Lo udah hampir enam jam nggak kemasukan makanan sama sekali. Nanti lambung lo kena, Sera.”Seraphine t

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 63

    Di bawah guyuran hujan yang masih turun, kedua manusia iu masih berdiri mematung. Seraphine akhirnya berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Samudera, mendengar detak jantung pria itu yang berpacu sama liarnya dengan detaknya sendiri.Samudera membenamkan wajahnya di ceruk leher Seraphi

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 58

    Setelah liburan singkat bersama Adrian dan keluarganya. Seraphine jauh lebih stabil dalam melakukan pekerjaannya. Wanita cantik itu kembali memimpin rapat dengan tenang dan berhasil membuat suatu keputusan yang menguntungkan banyak pihak. Sore itu, di sebuah studio pilates privat di Kawasan Senopat

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 55

    Pagi itu, saat langit Jakarta masih berwarna biru gelap, tepat pukul 04.30 pagi, Seraphine sudah terjaga. Ia sudah duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil yang sudah ia siapkan semalam. Ada rasa lega yang luar biasa setelah beban proyek Malang diangkat dari pundaknya—semua berkat diplomasi "beri

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 51

    Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samuder

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status