Share

57. Satu Koper

Penulis: Lystania
last update Tanggal publikasi: 2026-07-27 23:04:05
Setelah kemarin menikmati pertunjukan di Pura Uluwatu, hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke sentra oleh-oleh. Membeli beberapa makanan khas serta beberapa barang untuk oleh-oleh.

“Ini kayaknya enak,” kata Riana melihat pie susu bertabur keju.

Tak tanggung-tanggung ia mengambil sepuluh kotak untuk satu varian.

“Gak kebanyakan, Mbak?” tanya Niken melongo melihat keranjang Riana yang sudah penuh.

“Nanti kan mau dibagi-bagi. Buat di rumah, ke klinik, sama kalau Mas Dante mau bawa ke rum
Lystania

Mulai dari satu koper dulu nih guys siap dapat oleh-oleh dari dokter Dante gak nihh xixixi

| 6
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
Riana ada aja gebrakannya utk ngedeketin dok Dante Ama Niken. hihihi. slowly but sure ya dok. udah halalin sudah biar gak panas lg ngeliat sesuatu dikantong kecil itu. hihihi. mksh updatenya kakak syng :*
goodnovel comment avatar
Admini Aryanto
Evan tahu aja bikin papa nya salting hihihi
goodnovel comment avatar
carsun18106
mau ih pie susu sama kacang bali nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    61. Nginap

    Kepala Dante yang masih terasa pusing, semakin bertambah pusing saat melihat siapa yang masuk. Lebih tepatnya, saat melihat siapa yang mengantar mereka masuk. “Tadi aku ketemu mereka di bawah … jadi aku antar aja sekalian ke sini,” ucap Wira mengikuti Niken berjalan mendekati Dante yang terbaring dengan infus di tangannya. Niken menatap Dante dengan senyum tertahan. Melihat ekspresi tak biasa Dante, Azka tak berani bertanya macam-macam. Namun netranya tetap mengawasi mereka semua. “Gimana sekarang?” Wira berdiri di samping Niken, bertanya keadi Dante. “Sudah mendingan,” sahut Dante singkat tanpa ekspresi. Reflek mereka semua menoleh ke arah pintu– seseorang mengetuknya kemudian masuk. “Rame banget?” Akbar masuk ke dalam kamar lalu berdiri di antara Niken dan Wira. Otomatis Niken bergeser, semakin dekat dengan Dante. Wira melirik jam di tangannya, lantas mengatakan kalau ia harus bersiap karena ada janji dengan pasien. Pria itu berjalan mundur lantas mengatur posisinya lebih dek

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    59. Pingsan

    [Missed call] [Dok, operasi pukul dua siang ini.] Layar ponsel Dante kembali menyala. Sejak pulang dari Bali kemarin entah kenapa badannya terasa sakit semua. Ia baru bangun saat alarm yang dipasangnya di pukul sebelas siang, berbunyi nyaring. Menyandarkan punggungnya di dipan, Dante memijat kepalanya. Beberapa saat ia terdiam– mengumpulkan kesadarannya, lalu meraih ponselnya. Wajahnya tak bersemangat membaca pesan-pesan yang masuk. Cepat ia membalas pesan dari salah satu perawat rumah sakit dan bersiap-siap. “Pak, koper kemarin masih sama Bapak kan?” tanya Niken saat melihat Dante keluar dari kamar. Pria itu hanya mengangguk lantas berlalu. Namun belum ada satu menit, ia kembali lagi dan menghampiri Niken dan Evan di ruang tengah. Pandangan Evan beralih ke arah Dante yang berdiri di ujung playmate. Bayi itu merangkak ke arah Dante dengan mulut bergumam dua huruf– p a. Senyum mengambang di bibir Dante menatap anaknya itu. Ia berjongkok kemudian menggendong Evan– mencium dan memb

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    58. Turbulensi

    Dengan diantar mobil dari Villa, mereka tiba di bandara sekitar pukul lima sore. Tiket yang Lisa pesankan adalah kelas bisnis dengan tempat duduk dua-dua. Tak lupa Lisa juga sudah check-in online agar mereka semua tidak perlu terlalu lama menunggu di sana. Setelah semua bagasi masuk, mereka menuju lounge untuk menunggu keberangkatan. “Saya boleh masuk, Mbak?” tanya Niken berbisik. “Boleh lah … tenang aja,” kata Riana menunjukan kartunya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dante. Petugas berbaju hitam itu kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk. Iseng Riana mengambil tiket yang Dante letakkan di atas meja. Ia ingin melihat duduk di kursi nomor berapa. “Loh kok Mas Dante sama Niken duduknya bareng? Lalu aku sama siapa?” protes Riana melipat tangan di depan dada. Riana tidak terima, sementara Niken mendadak gusar karena tahu harus satu tempat duduk dengan Dante. “Gak tahu. Lisa yang ngurusin semua tiket sama check-in nya,” sahut Dante minum kopinya. Niken lalu menggeser

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    57. Satu Koper

    Setelah kemarin menikmati pertunjukan di Pura Uluwatu, hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke sentra oleh-oleh. Membeli beberapa makanan khas serta beberapa barang untuk oleh-oleh. “Ini kayaknya enak,” kata Riana melihat pie susu bertabur keju. Tak tanggung-tanggung ia mengambil sepuluh kotak untuk satu varian. “Gak kebanyakan, Mbak?” tanya Niken melongo melihat keranjang Riana yang sudah penuh. “Nanti kan mau dibagi-bagi. Buat di rumah, ke klinik, sama kalau Mas Dante mau bawa ke rumah sakit,” kata Riana melirik ke arah Dante yang serius melihat pernak pernik. “Kamu mau yang mana? Pilih aja,” kata Riana lagi sembari menyusuri etalase. Sambil menggendong Evan, ia mengikuti Riana berjalan. Melihat mereka berjalan menjauh, buru-buru Dante menyusul. “Aduh ada Dea juga lagi,” gumam Riana yang tidak bisa mengelak untuk menyapa temannya itu. Dante lantas menarik tangan Niken sebelum ia semakin dekat Riana. Untung ia bisa menyeimbangkan diri, kalau tidak ia bisa jatuh. “Ada

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    56. Dalam Dekapan

    Niken reflek terbangun karena rengekan Evan yang mencari susu. Membuka beberapa kancing bajunya, Evan cepat menyusu dan kembali tenang. Hampir tiga puluh menit menyusu, bayi itu kembali lelap dalam tidurnya. Ia lalu menyusun guling di sekeliling Evan agar bayi itu tetap aman, sementara Riana masih nyenyak tidur. Netranya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima subuh. “Pasti masih tidur,” gumamnya perlahan turun dari atas tempat tidur. Ia melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Sekeluarnya dari dalam kamar, Niken meregangkan badannya kemudian berjalan ke arah samping tempat kursi malas berada. Sejak tiba di villa kemarin ia tahu kalau tempat itu adalah spot yang paling oke dari tempat mereka menginap ini. Selain ada kolam renang, dari villa itu mereka bisa melihat ke pantai. Ruangan tampak sepi dengan cahaya lampu yang minim. Niken lalu berjalan ke arah pintu kaca yang tertutup gorden. “Gak ke kunci,” gumamnya s

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    55. Dilirik Bule

    Niken bersantai sejenak di kursi, menikmati semilir angin sambil tetap menatap lurus ke depan– memperhatikan Evan dan Riana. Sesekali ia menatap langit dan tersenyum bahagia. Dari tempatnya duduk, jelas terlihat kalau Riana dan Evan begitu seru bermain air– membuatnya ingin ikut bergabung. Baru saja ingin beranjak dari kursinya. Seorang pria tinggi putih bertelanjang dada, menghampirinya dan duduk di kursi pantai lain.“Halo,” sapa pria asing itu sembari tersenyum, “you look gorgeous, what your name?” tangan pria asing itu terulur menunggu Niken menerimanya.Niken yang tadinya santai, tiba-tiba saja kelihatan gugup karena kedatangan pria asing itu. Ia duduk dan memperbaiki kain bali– menutupi kakinya. Kebingungan tergambar jelas di wajah.“Sorry … this is my wife. Can i help you?”Secara tiba-tiba Dante datang dan duduk di samping Niken– sangat dekat. Satu tangannya merangkul pundak Niken, sementara satu tangannya membalas ukuran tangan bule itu.“Sorry,” katanya sambil tertawa, “your

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status