Masuk*You want me to fuck you, i know you do* PRETEND YOU MINE. "I'm not your girl, Ethan." I snapped instantly. "You were during that kiss, Brynne." Eyes flickering, he read me, and then he inhaled. I was a damp mess between my legs, and I wondered if he could smell me. "You smell so good... and fucking sexy." Sweet Jesus! His thumb rubbed over my collarbone where his hand still rested on my neck. And I did absolutely nothing to stop him. I was enjoying the view too much. I'd tousled his hair from the mauling with my hands. He still looked gorgeous and probably did even when he crawled out of bed in the mornings. Bed. Was there a bed in our immediate future? It would take next to nothing on my part to get this man into bed. I didn't have to be a genius to know he wanted sex. The real question here was did I want it? "Ethan." I pushed against the wall of steel that was his body and got nowhere. "Why are you doing this? Why are you acting this way to me?" "Don't know. I can't stay away and I'm not acting. I tried to leave you alone but I can't do it." He feathered his other hand over my hair and down until it was resting on the other side of my neck. "I don't want to stay away from you." He rubbed slow erotic circles with his thumbs meeting at the middle of my throat. "You want me too, Brynne, I know you do."
Lihat lebih banyakHappy Reading
***** Setelan rok cokelat tua dan juga blazer dengan warna lebih muda dipadu dengan jilbab senada membuat perempuan pemilik nama Kirani Aina Apsarini mantap memasuki kantor baru. Sudah lama si gadis mengajukan perpindahan pada sang atasan agar bisa berkumpul satu kantor dengan sahabatnya yang bernama Fitriya. Sebelum turun dari motor, Kiran melirik arloji yang terpasang pada tangan sebelah kiri. "Alhamdulillah, aku enggak telat karena musibah tadi," katanya sendirian. Harusnya, gadis itu bisa datang lebih awal jika tidak ada tragedi ban bocor. Melangkah dengan mantap disertai bacaan basmalah, dia masuk ke kantor baru. Sampai di depan meja resepsionis, terdengar suara menggelegar oleh inderanya. "Kalian niat kerja apa nggak? Gimana perusahaan mau maju jika karyawan bekerja seenak udelnya. Dengar, ya! Disiplin itu kunci sukses. Jangan sepelekan!" ucap seorang lelaki dengan kemeja warna kuning gading. Keras disertai sorot tajam dan wajah menyeramkan. Kiran berdiri mematung mendengar semua, kakinya mulai gemetaran. Kedua tangan meremas-remas ujung jilbab yang menjuntai ke depan. Buliran air mulai turun membasahi seluruh wajah. Tubuhnya mulai menggigil. Lelaki yang berkata keras tadi melihat kedatangan Kiran dengan tatapan tajam, penuh pertanyaan dan mengintimidasi. "He! Siapa kamu?" tanya si lelaki masih dengan nada terkesan emosi. Tanpa peduli panggilan lelaki itu, Kiran lari sekuat tenaga seolah ada hantu yang mengejar. Napasnya tersengal-sengal. Setelah cukup jauh dengan keadaan masih gemetaran, gadis itu mengambil botol air dari tas dan meneguknya dengan cepat. Suara keras si lelaki tadi bak petir di tengah kebahagiaan bisa bertemu dan satu kantor dengan sahabatnya. Kiran mengembuskan napas panjang berkali-kali. Mendadak banyak keraguan muncul, sanggupkah bekerja di tempat baru dengan baik jika di hari pertama masuk suasana sudah tidak kondusif, menurut pemikirannya. Beberapa menit menunggu, Kiran mendengar suara dering ponselnya. Menyipitkan mata saat melihat layar yang menampilkan deretan angka tanpa nama. Si perempuan sengaja membiarkan panggilan tersebut, malas menanggapi orang iseng. Sering kali, telepon-telepon yang masuk tanpa nama tersimpan di kontaknya adalah penipuan dan Kiran tak akan pernah menanggapinya. Berkali-kali ponsel itu berbunyi hingga mati sendiri. Beberapa detik kemudian, Kiran melihat notifikasi chat masuk. "Selamat Pagi. Perkenalkan saya Syaif, kepala bagian HRD cabang Genteng. Benar dengan saudara Kirani?" tulis lelaki yang mengaku bernama Syaif. Tangan Kiran masih gemetaran, tetapi berusaha membalas. "Benar, Pak. Saya Kirani, staf baru bagian produksi pindahan dari kantor pusat." "Posisi Anda di mana sekarang? Ini sudah jam kantor. Kebetulan owner perusahaan sedang melakukan briefing karyawan hari ini dan kedatangan Anda sudah ditunggu-tunggu sejak tadi." Balasan chat selanjutnya sungguh membuat jantung Kiran mau copot. Membayangkan suara keras nan menggelegar seperti yang didengar tadi. Otaknya merespon cepat, tak ingin merasakan sesak berkepanjangan. Gadis berusia 27 tahun itu segera mengirimkan balasan. "Maaf, Pak. Hari ini saya enggak bisa masuk kerja karena kurang enak badan." "Jangan bohong. Saya lihat kamu lari ketika Pak Amir ngasih brifieng karyawan tadi," balas sang manajer HRD dengan cepat. Tangan kanan Kiran ditempelkan pada kening. Kebohongannya diketahui oleh bagian HRD. Bagaimana bisa mengelak dan beralasan jika sudah begini. Satu chat masuk kembali. "Dari CCTV juga terlihat, saat ini Anda sedang berada di parkiran. Cepat masuk sebelum Pak Amir bertanya macam-macam," tulis Syaif. Perempuan itu menghentakkan kaki, berjalan ke arah lobi. Suara sepatu berhak tinggi yang dikenakan Kiran memenuhi ruangan tersebut. Seorang lelaki yang sedang berdiri di depan meja resepsionis menoleh. Lirikan tajam diberikan pada si perempuan yang tengah berjalan. "Siapa kamu?" tanya lelaki itu yang tak lain Lintang Amir Wijananto. Kiran mengangkat wajahnya yang semula menunduk saat berjalan. Ketika mendapati wajah lelaki yang sama dengan suara keras tadi, dia berbalik arah hendak menjauh. Namun, langkahnya terhenti ketika Amir menggeluarkan suaranya. "Apa kamu salah satu karyawan di sini?" tanya Amir dengan nada keras. Si perempuan masih berdiri dengan kaki gemetaran. Ingin menjawab pertanyaan, tetapi mulutnya seperti tertempel lem, susah untuk bersuara. Kiran, hanya mampu mengembuskan napas dan berdoa semoga lelaki itu tak lagi mengeluarkan suara kerasnya. Jika tidak, mungkin dia akan pingsan. Derap kaki Amir mendekat, terdengar keras oleh indera Kiran. Semakin cepat jantung si perempuan berdetak. Ketika tangan Amir hendak menyentuh pundak gadis itu. Suara panggilan namanya terdengar. "Mir, dia karyawan pusat yang dipindahkan ke sini oleh papamu," seru seseorang yang belum dikenali oleh Kiran. Pikiran gadis dengan tinggi 157 cm itu mulai berputar, hanya bagian HRD saja yang tahu keberadaannya. Artinya, lelaki yang memanggil tadi adalah Syaif. Apes, memang apes hari ini bagi Kiran. "Oh, bagus kalau gitu. Kamu keluar dari pintu itu dan mulailah berjalan. Masuk tanpa terdengar suara sepatumu. Sangat mengganggu sekali!" tatap Amir tajam pada Kiran. Berat langkah Kiran menuruti perintah si bos. Gadis itu keluar dan berjalan dengan hati-hati, tetapi bunyi sepatunya tetap saja terdengar nyaring. Tangan kanan Amir terlihat mengusir saat bunyi itu masih didengarnya. Sekitar empat kali, si gadis melakukan pengulangan hingga langkah kakinya benar-benar nyaris tak terdengar. Amir menatap tajam, lalu menyuruh Kiran mengikutinya. Malas menimbulkan masalah kembali, si karyawan baru mencopot sepatu, menenteng hingga masuk ruangan si bos. Memasuki ruangan Amir, tubuh Kiran makin gemetaran. Aura menakutkan mulai terasa olehnya. "Apa nggak salah Pak Wijananto kasih predikat karyawan teladan sepertimu? Datang terlambat dengan penampilan awut-awutan, apalagi sepatu yang letaknya di kaki malah kamu tenteng. Memangnya ada banjir di kantor ini?" kata Amir keras. Kiran memundurkan langkah, menurunkan sepatu dari tangan. Jemarinya meremas-remas paha, menyalurkan ketakutan. Butiran keringat mulai mengaliri wajah padahal ruangan itu dilengkapi pendingin. "Katakan! Apa alasan datang terlambat di hari pertamamu kerja di sini?" Lagi-lagi suara Amir menggelegar semakin menyiutkan Kiran untuk menjawab semua pertanyaan. Beberapa saat menunggu, si bos tak juga mendapat jawaban bahkan terlihat jelas gadis di depannya kini mengeluarkan banyak keringat dengan wajah memucat. Menurut lelaki itu tidak ada yang salah dengan pertanyaannya tadi, tetapi mengapa reaksi Kiran sangat berlebihan. "Tolong ke ruanganku sebentar!" kata Amir meminta seseorang dari interkom. Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan. Setelah dipersilakan masuk oleh si empunya, tampak wajah Syaif yang kebingungan. "Tangani dia! Aku nggak ada waktu menginterogasi karyawan sepertinya. Jika nggak niat kerja suruh pulang saja," perintah si bos tegas dan menakutkan. Lelaki itu berdiri dan meninggalkan ruangannya sendiri. Syaif yang tidak mengerti ada apa sebelumnya, hanya melongo. Namun, dia segera menguasai keadaan dan bertanya pada pada Kiran. "Saya belum tahu apa yang ditanyakan Pak Amir. Sebagai kepala HRD di sini, saya wajib tahu alasan kamu datang dan langsung pergi lagi saat ada briefing tadi?" tanya Syaif lembut. Lelaki itu kini sudah duduk di kursi Amir. Kiran masih terdiam, bingung harus mengungkapkan kejadian sebenarnya atau menyimpan ketakutannya. "Maaf, Pak. Saya memang salah. Lain kali, enggak akan saya ulangi kejadian hari ini. Bapak boleh ngasih saya SP karena memang melanggar peraturan perusahaan." Syaif, hanya tersenyum dengan jawaban Kiran. Ada sesuatu yang coba disembunyikan gadis itu tentang Amir. Selama pengamatan tadi, tiap kali si bos mengatakan sesuatu, maka ada reaksi berlebih darinya. Ada hubungan apa sebenarnya di antara kalian. Pikir Syaif dalam hati. ****A Gift for the ReaderA Christmas Story-Ethan and Brynne's Very First Meeting24 December 2023LondonThe street was remarkably sparse considering it was Christmas Eve. Probably because it was so damn freezing cold outside people were smart enough to stay in. It was totally clichéd to be shopping for a gift at this late minute, but here I was pushing my way through the doors of Harrods in hopes of something really perfect for my aunt Marie. I knew I'd better get my ass in gear too, because I would be spending the day with her tomorrow and had nothing to show up with!Marie was hard to buy for because she was so unique and unconventional; it was ridiculously difficult to top her lifestyle. She also had money enough to get anything she desired. She reminded me of Auntie Mame from the movie in a lot of ways. From the exotic travels to the rich dead husbands to the fantastic dresses in her wardrobe.After three quarters of an hour I gave up and started to head outside, stop- ping for a mo
"Keep your eyes closed until I tell you to open them, okay?" I parked the car and went over to Brynne's side to help her out. "No peeking, Mrs. Blackstone, I want to do this right.""Eyes are closed. Mr. Blackstone," she said, standing before me. "My package. Give it to me, please."I retrieved it from the seat and placed it carefully in her hands. It was light, just a flat black box tied with a silver ribbon. "Ready?""I am." she said."Okay, keep them closed, and I'm going to pick you up and carry you.""Sounds very traditional," she said."I like to think of myself as a traditional guy, baby." I scooped her up, careful to arrange her dress so it wouldn't drag, and started walking up the gravel drive of Stonewell Court. The rocks crunched under my feet and you could hear the sound of the waves on the rocks far below us. It looked amazing and I hoped she liked it. The whole place was lit with torches in old urns and candles glowing inside glass luminaria on the ground. Even the upper
Strong arms wrapped around me from behind and familiar whiskers brushed at my neck. "Mrs. Blackstone, are you hiding in the garden at your own wedding party?" "Pretty much," I said leaning back into him in deep contentment."Awww, Christ in heaven! Not my mum too!" Ben growled at the dance floor where Simon was now doing a very lewd rumba with Mrs. Clarkson for a cheering crowd."Go get 'em. Ben." Ethan and I laughed at Ben's retreating back as he went off to rescue his mother from Simon's undulating hips.. "As insane as Simon looks right now, that crazy boy can dance," I said, still laughing. "I am not quite over the fact that you hired him to do our photos."Ethan smuggled into me a little deeper. "Don't remind me, please. He black- mailed me, you know. Said he would forgive the whole mess if he could secure the wedding photography for us. I figured that would be okay, so I agreed. Then he sent me the contract. Trust me when I say that your friend Simon has been well compensated for
Brynne had mentioned how the whole place was eerily quiet and that she'd never seen another person at the hotel, which made no sense with the Games happening. So that pretty much confirmed there were people involved at the highest levels. U.S. Secret Service, most likely. Westman was a dead man before he ever took Brynne from the flat. The senator had protectors in high places apparently. Westman had overstepped in his attempt at blackmail, and paid the ultimate price.Disaster averted, but still, far too fucking close for my comfort. This whole mess had happened for a reason. Very strange, but true. If Westman hadn't started stalking her, we wouldn't have met, or ever gotten together, or be about to marry and have a baby. It was all just a bit much to rationalize sometimes, even if it was our reality. I tried not to think about that part. Brynne was free to live a regular life now, with nobody out there plotting to take her away, or harm her, or bother with any aspect of her, and thi
He left the bed and started dressing throwing on some sweatpants and a shirt."What are you doing?""I have to go outside now," he said weakly."Outside? But it's cold out there. Ethan, stay here with me and talk about this. You have to talk to me!" I begged him.He acted like he didn't even hear me, bu
Jonathan was quiet in the car while driving me to my studio shoot. He seemed to be thinking and I wondered... How did he feel about the nude modeling? What had Ethan told him about it? Had he ever seen any of my pic tures? I guess I wouldn't know if I didn't ask him, and that was something I didn't
Lance had been away at college, and I had been young and stupid. A long life- time ago. Another world ago. Did Karl know he was the reason Lance became angry enough to drug me, and then film his buddies using me on a pool table? If I'd never gone out with Karl, maybe Lance and his friends wouldn't h
The shopping expedition proved my theory that this would be an exercise in lunacy."What do you mean you're not wearing these shoes?" Benny held up what had to be at least a six-inch Louboutin stiletto encrusted with crystals. "They're hot. You can pull it off, luv. Will make your legs miles long." I












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan