LOGINTary tidak bermaksud membuat anak sekecil itu tumbuh besar dengan kenangan buruk yang ia ciptakan. Hari itu Tary terlalu sembrono. Dia nekat menghampiri Dito yang sedang sendirian di rumah. Dia kira Widya dan anak lelakinya yang masih berumur lima tahun yakni Alan, akan tiba dua hari lagi untuk menikmati trip mereka di Bali.
Setelah bergoyang seirama di ruang tamu hingga lutut Dito terbentur sofa. Tanpa melepas persatuan mereka, Dito membalik tubuh Tary, mengendongnya melewati tangga sembari bibir mereka masih saling melumat. Tanpa mengunci pintu kamar. Dito mengajak Tary lanjut bermain di atas ranjang yang biasa digunakannya bersama Widya. Tary beralih di atas menunjukan kebolehannya. Memutar perlahan hingga terasa memenuhi pusara nafsunya. Dito yang belum puas mendorong kedua kaki Tary hingga memutari tubuhnya. Kembali memegang kendali, ia telungkupkan badan Tary dan memasukinya dari belakang. Tangannya tidak tinggal diam, bertengger untuk terus meremas dada Tary yang ujungnya makin mengeras. Hari itu teriakan disertai isak tangis anak kecil yang terdengar menghentikan irama Dito di tubuh Tary. Menyadarkan mereka jika pintu kamar di belakang mereka telah terbuka lebar. Disana terlihat Alan menguncang tubuh Widya yang telah tergeletak di depan pintu. Dito buru - buru memakai celana dan meraih ponselnya untuk menghubungi nomer darurat 911, sedang Tary berusaha menutupi tubuh polosnya dengan selimut sembari matanya tidak lepas mengamati tubuh Widya yang tergolek tak berdaya. Ketika Tary beralih ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya kembali. Matanya tidak sengaja bertemu dengan mata kecil Alan. Saat itu tiba saja air mata Tary meluruh dengan sendirinya. Apapun alasannya, apa yang telah diperbuat mereka pasti tidak akan termaafkan. **** Mutia mengamati punggung Dito dan Tary yang perlahan menghilang masuk mobil. Dari awal menikah hanya dia sendiri yang menjamu hingga mengantar kepulangan kedua mertuanya itu. Alan pasti beraktivitas seperti biasa. Kehadiran mereka seperti tidak pernah ada baginya. Setelah kepergian kedua mertuanya, Mutia segera menyusul Alan ke lokasi syuting. Disana ia meng-take down beberapa baju dan menatanya ke dalam koper sembari menunggu Alan yang belum selesai di-makeup. Menjadi asisten pribadi Alan seperti ini merupakan pekerjaan sambilan Mutia setelah menjadi istri Alan. Hal ini sering ia lakukan ketika Farel—manager Alan— sedang berhalangan. "Kalau Alan sudah siap, suruh cepetan kesini," teriak Doni Damara yang menjadi sutradara dalam project iklan terbaru Alan dengan Myeon Green Food kali ini. Penata rias yang mendengar teriakan tersebut buru-buru melapisi sedikit blush on di wajah Alan. Setelah memakai syal tipis berwarna cokelat, dengan gontai Alan berjalan menuju lokasi take. "Udah lima belas menit aku nunggu. Gak hanya kamu aja yang sibuk disini, lain kali datang tepat waktu." tegur Kirana Larasati yang didapuk sebagai pemeran utama wanita. Alan dengan ekspresi datarnya hanya mengatakan, "hmb." sebagai balasan. Kirana Larasati nyengir dibuatnya. Dia sudah menduga tidak akan pernah ada ucapan maaf yang keluar dari mulut Alan. "Yah.." bentak Kirana Larasati yang membuat Alan menatapnya, "Apa?" Mata Kirana Larasati menelusuri hidung mancung dengan kulit seputih porselin milik Alan. Rambut Alan yang disugar keatas membuat Kirana Larasati ingin menjatuhkan jemarinya disana. Pesona ketampanan Alan seketika berhasil membungkamnya. Seluruh rekan selebriti yang pernah beradu akting dengan Alan, sudah banyak bergosip tentang tidak sopannya sikap Alan. Jika saja wajah Alan tidak setampan Cha Eun Woo, mungkin Kirana Larasati dan para selebriti lain yang pernah cekcok dengan Alan tidak akan memaafkannya dan mencari cara untuk mendepaknya dari dunia entertainment. "Kamera, rolling action!" teriak Doni Damara. Kamera bergerak fokus pada Alan yang duduk termenung di dekat jendela mengamati hujan yang enggan reda. Secangkir White Coffee rasa gula aren disajikan untuk menemani dinginnya udara sore itu. Alan menyesapnya perlahan, aromanya mengepul hingga terhirup hidungnya. "Cut, Oke." Doni Damara tersenyum puas pada Alan. Kemudian para kru bergegas mengeser semua peralatan ke depan kafe. Salah satu kru segera naik ke rooftop kafe untuk mengatur volume aliran air dari selang agar memastikan air hujan gerimis buatan telah siap. "Siap," ujar kru tadi kemudian. "lanjut adengan berikutnya," seru Doni Damara. "Kamera, rolling action!" Alan yang tidak membawa payung menanti dengan gelisah di depan pintu kafe. Padahal hujan yang deras sudah berganti dengan gerimis. Kirana Larasati yang baru saja keluar dari kafe membuka payungnya di sisi Alan. Gadis itu perlahan menerobos hujan dengan payung yang ada dalam genggaman tangan kirinya sembari memegang White Coffee rasa original dalam kemasan cup. Kamera meng-shoot ekspresi Alan yang terpaku pada kemasan baru White Coffee dalam cup yang dibawa Kirana Larasati sembari menerobos hujan dengan payung berwarna coklat. Alan bergegas menyamai langkah gadis itu. Satu tangan Alan meraih gagang payung dan satunya lagi terpaut untuk menggenggam kemasan baru White Coffee dalam cup yang dibawa Kirana Larasati. Keduanya pun saling bertatapan di bawah naungan payung coklat. Tawa ceria pun mengembang menyusul kemudian. "Oke, Cut." Kirana Larasati menghela nafas, buru-buru pergi digandeng manager dan asisten pribadinya. Sedangkan Alan yang tengah memegang payung coklat dan secup White Coffee masih berdiri di tempat, mengamati guyuran hujan gerimis buatan yang terus meluruh dihadapannya. Hari itu masih Alan ingat jelas. Bagaimana ia duduk santai dengan novel Laskar Pelangi dan secangkir Americano di Cafe Oliver. Ketika pulang, rintik hujan tiba saja turun. Menghentikan langkah Alan begitu lama di depan pintu Cafe Oliver. Seorang wanita mungil berkulit eksotis dengan seragam pegawai Cafe Oliver tiba saja muncul dan berdiri disamping Alan untuk membuka payung berwarna coklat yang tengah dibawahnya. Aroma sitrus pada tubuh wanita itu berpadu aroma kopi yang dibawahnya entah mengapa membuat jantung Alan berdetak kencang. Alan tidak tau ada apa dengan dirinya. Namun yang dilakukan Alan kemudian malah menerobos hujan untuk menyusul langkah wanita itu. Genggaman tangan Alan dilengannya membuat wanita itu terkejut dan otomatis menoleh kearahnya. Mata Alan langsung turun pada name-tag di dada pria itu. Disana tertulis dengan huruf abjad, KAREN. Nama yang unik, pikir Alan. "Ada yang bisa dibantu, tuan?" tanya wanita dengan name-tag Karen itu. Sebelum Alan menjawab, rintik hujan makin menderas. Reflek Karen menarik tubuh Alan untuk berteduh di bawah payung yang sama dengannya. Debaran jantung Alan kian berpacu, apalagi saat mata Karen lekat menatapnya. Mereka lanjut berjalan beriringan dan langkah demi langkah seirama melewati jalan basah menuju halte bus terdekat. Sore itu, di bangku halte bus yang sepi. Alan dan Karen yang menunggu bus datang memilih duduk berbincang ditemani suara gemuruh hujan yang terus membising. Pertemuan itu membawa Alan kedalam dunia baru yang belum pernah ia arungi. Waktu seperti tidak berjalan. Disana Alan rasa hanya ada dirinya dan Karen. Dan seumur hidupnya, Alan tidak pernah berbuat lancang. Namun senyum Karen sore itu membuat Alan memberanikan diri. Tidak ada penolakan saat Alan menyesapnya. Awalnya Karen hanya terdiam, tapi kemudian dengan pelan ia ikut mengimbangi bibir Alan. Kupu-kupu tiba saja melesak memenuhi dada Alan menerima sambutan itu. "Sayang, kamu gak apa - apa?" tanya Mutia sembari mengoncang bahu Alan. Para kru terpaku di tempat mengamati Alan yang malah melamun. Setelah tersadar, Alan buru - buru pergi dengan menyodorkan payung dan secup White Coffee yang ada dalam genggamannya pada Mutia.Entah harus mulai dari mana, Alan tak mampu bercerita maupun menjelaskan apapun ketika Farel menyudutkannya tentang kebenaran video berdurasi 15 menit yang menampilkan wanita mirip Karen terekam CCTV melakukan bunuh diri dengan menabrakan diri ke sebuah truk viral di sosial media. Video itu tiba saja tersebar tepat keesokan hari setelah foto - foto mesra Alan bersama Karen terekspos di ajang bergensi Indonesia Entertaiment Award 2022. Mutia yang tengah memonitor jutaan hate komen di halaman website fansbase Alanisme juga memilih bungkam ketika Farel berganti menanyainya. "Kalian menganggap aku patung, hah! Jika kalian tetap diam tentang video sinting editan itu, maaf aku angkat tangan dan kita berhenti sampai disini!" bentak Farel. Sebagai manajer Alan, ia merasa dikorbankan atas semua hal gila ini. Dimana sudah dua hari Alan dan Mutia mengurung diri di rumah dan tidak memberikan klarifikasi apapun terhadap media, padahal spekulasi media kian memanas. Banyak job pemotretan majalah h
Malam ini berbeda dengan malam kemarin dan bahkan sebelumnya belum pernah terjadi, dimana Alan tiba-tiba berinisiatif memasakan makan malam untuk Mutia. Walau Mutia heran dengan perilaku tidak biasa suaminya, ia lahap sampai habis capcay sosis yang disajikan. "Ada yang ingin aku bicaran..." mulut Mutia yang masih sibuk mengunyah membentuk seulas senyum tipis mendengar ucapan Alan barusan. Sudah ia duga, pasti Alan ada maunya. "...ini tentang Tika, aku..." Alan nampak ragu ingin mengucapkan kalimat dalam otaknya, "kamu mau ngajak dia dan Kevin tinggal bareng kita disini, gitu?" lanjut Mutia yang mudah menebak alur berpikir suaminya itu. Mata Alan membulat sempurna, didetik berikutnya ia hanya mampu memohon pada Mutia, "Boleh ya Tia, ku mohon! Tidak ada maksud lain, ini ku lakukan murni untuk kompensasi atas apa yang sudah ku perbuat sampai foto Tika tersebar dimana-mana. Kamu juga tau penghasilan Kevin tidak seberapa, dan rumah mereka masih kredit. Meski mereka punya pembantu tap
Teringat jelas saat Kevin mengucapkan, "Selamat malam, nona. Terima kasih sudah mau menunggu." sebagai kalimat pembuka obrolan dengan Mutia. Setelan seragam Cafe Oliver yang biasa saja terlihat sangat stylish di tubuh kekar Kevin. Senyum tipisnya mempertegas garis rahang yang menawan. Mutia akui, dengan tampang seperti ini keberadaan Kevin sulit untuk diabaikan. "Perkenalkan, saya—" "Berita pernikahan Alan ada dimana - mana. Mustahil saya tidak tahu siapa nama nona." sergahnya cepat, menghentikan Mutia memperkenalkan diri. "Langsung pada intinya. Apa yang nona ingin sampaikan sampai menemuiku kemari?" "Saya turut berduka cita atas meninggalnya Karen, tapi saya mohon mulai sekarang tolong anda jauhi Alan dan jauhkan pula seluruh kenangan tentang Karen dari hidupnya." Dan sebelum Kevin berhasil membalas apa yang Mutia ucapkan. Mutia meraih ponsel Kevin, mengetikan nomer ponselnya disana dan melakukan sekali panggilan agar nomer pria itu ada dalam radarnya yang ia lakukan. Setelah
Seulas senyum di bibir Alan terbit menatap wajah teduh Karen yang masih terlelap disampingnya. Sebuah kecupan Alan layangkan tepat disana, di bibir Karen yang tipis dan menggoda. Karen tarik tubuh Alan dalam dekapannya, menyadarkan Alan bahwa ia itu telah bangun dari tadi dan hanya pura-pura tidur. Matahari kian merangkak keatas. Debaran jantung kian berpacu. Terpaut dengan cumbu yang sangat candu. Baik Alan maupun Karen enggan untuk beranjak, aktivitas malam mereka rasa belum tuntas. Sayangnya Kevin tiba saja hadir diantara mereka dan menggeret tubuh Alan keluar kamar. Teriakan frustasi Karen yang melerainya pun tidak Kevin hiraukan."Jauhi Karen!" bentak Kevin singkat dan saat Alan akan bertanya apa alasannya, pintu apartemen dihadapannya langsung tertutup rapat dan tidak pernah terbuka lagi untuknya.Jalinan kasih sesaat antara Alan dan Karen yang ditentang berbagai pihak itu namun mampu mengoyak hidup Alan. Dirinya sempat memakai narkoba untuk bisa melupakan Karen. Jika saja Farel
BREAKING NEWSAktor berinisial AR diam - diam menemui seorang wanita yang sedang hamil. AR merupakan anak tunggal dari salah satu pengusaha tambang timah. Belum lama ini AR mempersunting seorang wanita non seleb berinisial MK yang merupakan salah satu staf di agensi managementnya. Lalu siapakah wanita non seleb lain yang sedang hamil yang ditemuinya secara diam - diam itu?07.00 AMMutia menghela nafas panjang setelah melihat postingan terbaru akun gosip Instagram @lambe_lamis. Beberapa menit kemudian, #AlanRedflag mengema, menduduki peringkat 1 di aplikasi X. Foto istri Kevin berhadapan dengan Alan yang terlihat memakai hodie hitam dan muka ditutupi masker di bawah tiang lampu merkuri dua hari lalu sukses mengemparkan dunia maya pagi ini.Ponsel Mutia di atas nakas terlihat terus bergetar. Notifikasi sosial media hingga telepon dan chat bermunculan tanpa henti. Mutia matikan ponselnya, kemudian TV ia nyalakan, dan langsung dia matikan kembali karena isinya sama saja.Di depan cermin
Tary tidak bermaksud membuat anak sekecil itu tumbuh besar dengan kenangan buruk yang ia ciptakan. Hari itu Tary terlalu sembrono. Dia nekat menghampiri Dito yang sedang sendirian di rumah. Dia kira Widya dan anak lelakinya yang masih berumur lima tahun yakni Alan, akan tiba dua hari lagi untuk menikmati trip mereka di Bali. Setelah bergoyang seirama di ruang tamu hingga lutut Dito terbentur sofa. Tanpa melepas persatuan mereka, Dito membalik tubuh Tary, mengendongnya melewati tangga sembari bibir mereka masih saling melumat. Tanpa mengunci pintu kamar. Dito mengajak Tary lanjut bermain di atas ranjang yang biasa digunakannya bersama Widya. Tary beralih di atas menunjukan kebolehannya. Memutar perlahan hingga terasa memenuhi pusara nafsunya. Dito yang belum puas mendorong kedua kaki Tary hingga memutari tubuhnya. Kembali memegang kendali, ia telungkupkan badan Tary dan memasukinya dari belakang. Tangannya tidak tinggal diam, bertengger untuk terus meremas dada Tary yang ujungnya m







