Share

Bab 3

Author: Yunita
Ruangan itu langsung hening. Mereka saling berpandangan dan suasana mendadak jadi canggung.

Dion mengangkat tangan dan menahan bahuku. Dengan suara pelan, dia berkata, "Vivian yang buang itu. Katanya sudah mengandung bakteri. Dia lakukan itu juga demi kebaikanmu."

Demi kebaikanku? Padahal dia tahu betul itu peninggalan terakhir dari ibuku.

Aku juga tidak berniat memakannya. Aku tidak pernah minta Vivian memakannya. Jadi atas dasar apa dia membuangnya tanpa izin?

Benar juga. Dion memang selalu pandai mengajariku bagaimana harus bersikap. Namun dia tidak pernah benar-benar menghormatiku seperti yang seharusnya.

Apalagi selama ini, dia tidak pernah peduli pada hal-hal yang kuanggap penting.

Air mataku terus menetes. Dion tampak tertegun. Saat dia mengangkat tangan dan hendak menyentuh wajahku, aku langsung menepisnya sekuat tenaga.

Saat itulah terdengar teriakan Vivian dari dalam ruangan.

Dia segera berdiri di depan Dion, seolah melindungi pria itu, lalu menatapku dengan marah.

"Jessica, aku yang buang acar itu. Kalau kamu keberatan, hadapi aku."

Kak Yoga juga ikut tidak senang. "Cuma sebotol acar lama. Apa perlu dibesar-besarkan sampai kayak begini? Sekarang semua orang jadi nggak enak hati."

Sandy pun mengernyit tidak sabar. "Vivian itu lulusan biologi. Dia jelas lebih paham soal ini. Masa niat baik orang malah nggak dihargai?"

Dari nada bicara mereka, jelas sekali semuanya berpihak pada Vivian. Seolah-olah akulah orang yang tidak masuk akal.

Tatapan mereka kepada Dion bahkan dipenuhi simpati, seakan sedang bertanya bagaimana dia bisa menikahi wanita seperti diriku.

Tapi aku tidak peduli. Aku sama sekali tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya acar yang dibuat Ibu untukku.

Air mataku jatuh ke lantai, lalu aku berlutut di depan tempat sampah dan mulai mengambil acar itu satu per satu.

Dion langsung panik dan berusaha menarikku agar berdiri. "Ngapain sih kamu? Kamu 'kan sedang hamil!"

Mata Vivian berkilat sesaat. Dia segera menghampiri dan ikut berjongkok di sampingku.

"Ini memang salahku. Biar aku bantu ambil."

Ucapannya terdengar tulus. Namun saat tangannya mendekat, ujung jarinya sengaja menusuk punggung tanganku dengan keras.

Aku tersentak kesakitan dan hampir secara refleks, aku mendorongnya.

Vivian langsung terjatuh ke lantai. Dia menatapku dengan wajah pucat dan matanya dipenuhi air mata.

Dalam sekejap, semua orang di ruang tamu berdiri dan berkumpul di depannya. Mereka melindunginya sambil memandangku dengan tatapan penuh permusuhan.

"Jessica!" bentak Dion marah. "Kamu ngapain sih?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya terus mengambil acar itu satu per satu dari dalam tempat sampah.

Wajah Dion langsung berubah suram. Dia mencengkeram lenganku erat-erat, seolah hendak menuntut keadilan untuk Vivian.

"Jessica, minta maaf!"

Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan tenang, tanpa sedikit pun berniat mengalah.

Ini bukan pertama kalinya Dion memutarbalikkan fakta. Dulu, aku selalu memilih mengalah karena tidak ingin membuat ibuku khawatir. Apa pun yang terjadi, aku menahan semuanya sendiri.

Namun sekarang, satu-satunya keluarga yang kumiliki sudah tiada. Aku juga tidak ingin terus bersabar lagi.

"Dion, kita cerai saja."

Begitu kata-kata itu keluar, ekspresi Dion langsung berubah.

Selama dua tahun pernikahan kami, pertengkaran dan perselisihan memang bukan hal yang jarang terjadi. Namun aku tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cerai.

Saat Dion hendak mengatakan sesuatu, Vivian lebih dulu berbicara, "Jessica, sebagai sesama perempuan, aku saranin jangan main tarik-ulur kayak begini. Kandunganmu sudah sebesar itu. Mana mungkin kamu benar-benar mau cerai? Apa jangan-jangan kamu memang punya niat gugurin anak itu?"

Ucapan itu langsung membuat suasana menjadi gempar. Dion paling tidak suka diancam.

Dia menatapku lekat-lekat, sementara kekecewaan terlihat jelas di matanya.

"Jessica, kamu benar-benar sudah terlalu dimanja," katanya dingin. "Diam di rumah dan renungkan sikapmu baik-baik."

Setelah mengatakan itu, dia langsung menarik Vivian pergi.

Hanya dalam hitungan detik, rumah yang tadi ramai kembali sunyi. Hanya tersisa diriku seorang.

Aku memungut acar itu dengan hati-hati lalu menyimpannya kembali dengan rapi. Tak lama kemudian, ponselku bergetar.

Ada pesan pengingat dari rumah sakit, bahwa tindakan akan dilakukan lima hari lagi.

Aku kembali ke kamar, menyiapkan semua dokumen dan kebutuhan penting, lalu menunggu hari itu datang dengan tenang.

Namun keesokan harinya, seorang teman menelepon dengan tergesa-gesa.

"Jessica, cepat lihat berita."

Aku segera membuka aplikasi berita. Di posisi paling atas terpampang foto Dion yang diam-diam diambil paparazi.

Dalam foto itu, Dion dan Vivian sedang berjalan bergandengan tangan di tepi pantai. Wajah Vivian dipenuhi kebahagiaan, dan di pinggangnya bahkan terlihat tato nama Dion.

Media juga menemukan bahwa cincin pernikahan yang selama dua tahun tidak pernah lepas dari jari Dion kini telah menghilang.

Karena itulah, berbagai spekulasi mengenai kondisi rumah tangga kami mulai bermunculan.

Mereka bahkan mengarang kisah cinta penuh drama antara Dion dan Vivian.

Tak lama kemudian, para penggemar pasangan mereka di masa lalu kembali bermunculan dan berbondong-bondong menyerbu akun pribadiku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 9

    Aku berkata terbata-bata, "Tunggu aku ... tunggu sampai urusanku di sana selesai, baru kita bicarain lagi."Mata Harvey langsung berbinar. Seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, dia memelukku lalu mengangkat tubuhku ke udara.Aku senang sekaligus ketakutan. Di tengah malam yang sunyi, teriakanku terus terdengar tanpa henti.Sampai sebuah bentakan tiba-tiba terdengar dari bawah lampu jalan, barulah aku tersadar dan menoleh.Ternyata itu Dion.Wajahnya tampak suram dan menyeramkan, seperti seseorang yang bisa kehilangan kendali kapan saja.Aku menatapnya dengan tenang. "Sudah siap? Kapan kita mau mengurus perceraian?"Mata Dion langsung berkaca-kaca. Rahangnya mengeras saat dia memaksa mengeluarkan kata-kata dari sela giginya."Jadi kamu benar-benar nggak percaya sama aku?"Aku tertawa pelan. Semua orang di sekelilingnya selalu lebih penting daripada diriku. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku masih bisa percaya padanya?Tatapan Dion beralih kepada Harvey, dipenuhi per

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 8

    "Memang pantas! Siapa suruh kamu bocorkan? Kamu benar-benar bikin aku muak!"Ekspresi sedih di wajah Vivian langsung membeku. Dia menatap Dion dengan tatapan tak percaya, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dia tidak mengerti bagaimana pria yang dulu begitu mencintainya bisa berubah sedrastis ini. Dalam benaknya, semua ini pasti karena Jessica. Padahal, menurutnya, dalam segala hal, Jessica masih kalah darinya.Semakin memikirkannya, semakin dia tidak terima. "Semua ini aku lakuin demi siapa? Bukankah karena aku peduli sama kamu? Aku tahu betapa besar keinginanmu menjadi seorang ayah, tapi kamu …."Sebelum Vivian sempat menyelesaikan ucapannya, Dion sudah memotong dengan bentakan keras, "Diam!"Dia menatap Vivian dengan dingin, lalu menggeleng pelan."Sampai sekarang kamu masih saja berbohong. Yang kamu pikirin cuma dirimu sendiri. Tiga tahun lalu begitu, tiga tahun kemudian tetap nggak berubah. Aku benar-benar nyesal pernah punya hubungan sama orang kayak kamu."Se

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 7

    Wajah ibu mertua menjadi sedingin es. Dengan bentakan keras, dia menghentikan Dion dan berkata dengan penuh amarah, "Jangan salahin Vivian, aku yang ingin tahu kebenarannya!"Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku. "Besok juga ceraikan perempuan jalang ini! Dulu kamu sudah kehilangan akal sampai bersikeras nikahin dia. Lihat sekarang, dia bahkan membunuh anakmu!"Makin banyak berbicara, dia makin emosional. Ibu mertua langsung mengangkat bangku dan melemparkannya ke arahku. Dion dengan sigap segera berdiri di depanku. Dia menangkap bangku itu dan berteriak histeris, "Nggak perlu campuri urusan kami! Ayah sampai bercerai karena dipaksa sama Ibu, dan sekarang Ibu mau maksa aku juga! Berapa banyak kebahagiaan orang yang ingin Ibu hancurkan!"Suara penuh kemarahan Dion menggema seperti petir di ruang tamu yang luas. Wajah ibu mertua seketika memucat seperti kertas. Jari telunjuknya yang runcing gemetar saat menunjuk ke arahnya."Apa kamu bilang? Demi perempuan jalang itu, kamu b

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 6

    Ekspresi Dion langsung membeku.Dengan nada lebih tegas, dia mengulanginya sekali lagi, "Jessica sedang menjalani operasi?"Perawat itu mengangguk, lalu menjawab dengan tidak sabar, "Benar. Beliau sedang menjalani operasi aborsi. Sebentar lagi juga keluar."Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang operasi perlahan terbuka.Aku yang masih tertidur didorong keluar oleh perawat.Wajah Dion seketika memucat. Dengan langkah yang terasa goyah, dia berjalan menghampiriku.Tatapannya jatuh pada perutku yang kini telah kembali rata. Dalam sekejap, hatinya seperti disayat oleh pisau.Kepalanya berdengung. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Seolah seluruh tubuhnya dilempar ke ruang hampa tanpa pijakan.Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari seorang perawat. Dion ambruk dengan keras ke lantai....Tidur kali ini terasa sangat nyenyak. Namun saat terbangun, tubuhku masih terasa lemas dan berat.Aku mengulurkan tangan hendak mengambil segelas air di atas meja, tetapi Dion yang duduk

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 5

    Sementara itu, setibanya di rumah Vivian, untuk pertama kalinya Dion benar-benar marah.Dia tidak percaya Vivian sampai berpura-pura bunuh diri demi menipunya.Perasaan dipermainkan itu seketika membawanya kembali ke masa lalu.Meski mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun, Vivian terlalu mementingkan diri sendiri dan sering bertindak sesuka hatinya. Begitu menemukan seseorang yang menurutnya lebih menarik, dia akan bersikap ambigu. Bahkan saat memutuskan pergi ke luar negeri demi mengejar kariernya, dia langsung mengakhiri hubungan mereka tanpa ragu.Dulu, saat masih muda, Dion masih bisa memaklumi semua itu. Namun sekarang usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Dia tidak punya waktu lagi untuk terus memainkan drama cinta yang melelahkan seperti ini.Melihat Dion berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vivian tersenyum manis lalu memeluknya dari belakang."Siapa suruh kamu cuekin aku? Aku telepon berkali-kali, nggak sekali pun kamu angkat. Mataku sampai bengkak kar

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 4

    "Kudengar mereka putus karena kamu, orang ketiga. Nggak tahu malu, dasar perebut suami orang!""Kamu hamil, 'kan? Cepat gugurin saja. Jangan sampai dilahirkan, nanti Vivian sedih.""Hati pria itu nggak pernah ada padamu. Seberapa keras pun kamu maksa, tetap nggak akan ada gunanya. Lepaskan saja pasangan yang saling mencintai itu."Kontroversi itu makin membesar dan terus bertahan di puncak berita selama tiga hari penuh.Tidak mungkin Dion tidak tahu apa yang sedang kuhadapi, tetapi dia sama sekali tidak melakukan apa pun.Aku tahu dia sedang menunggu aku mengalah. Dalam hubungan ini, dia memang selalu menjadi pihak yang memegang kendali.Dia mengatur cara berpakaianku, mengatur pola makanku, bahkan memantau setiap tempat yang kudatangi.Seluruh kelembutan dan toleransinya hanya diberikan pada Vivian, sementara yang tersisa untukku hanyalah ketegasan dan sikap dingin.Dia ingin membuktikan bahwa tanpa diriku, hidupnya tetap berjalan dengan baik.Sedangkan tanpa dirinya, aku bukan siapa-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status